[Trilogy of SS] Cold Summer (Chapter 4)

Cold Summer

#1 Trilogy of “Strange Season” – Cold Summer

Dear,
Kwon Yuri , Oh Sehun
Nam Yuri , Kim Taehyung

Little,
Xi Luhan , Kim Seokjin , Chou Tzuyu

Cover,
InaGaemGyu Art @ Poster Fanfiction Art

Story,
pure mine

Sequel of “Too Late (Vignette)”

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4

HAPPY READING

“Musim panasku, dingin.”

Nam Yuri memerlukan setidaknya hari yang mampu mengembalikan suasana hatinya lebih baik. Setelah Seokjin mengantar gadis itu pulang, Seokjin bergegas pergi. Dan kini yang pada mulanya gadis itu berada di apartemen‒hanya mampu menatap tontonan yang diiringi senandung ria. Demi Tuhan, Yuri bosan setengah mati. Dan gadis itu baru saja ingat, bahwa kedua orang tuanya akan berkunjung ke apartemennya pukul sebelas nanti.

Yuri memandang ke sekitar, suasana apartemen yang kacau balau. Lebih baik disebut sebagai gudang kecil daripada apartemen elit yang berada di tengah-tengah kota. Barangkali tidak suka, maka menjadikan apartemen lebih buruk dari kapal pecah merupakan sebuah kemewahan tesendiri baginya. Dan satu hal yang harus gadis itu lakukan di hari rabu, antara lain pergi mencari kerja.

Gadis itu mendegus kesal, membayangkan betapa beratnya hari yang akan dilaluinya. “Apa ada butik di sini yang bersedia menerimaku? Astaga, penampilanku saja tidak menyakinkan sama sekali. Baiklah, aku harus menunda jadwal berkunjungku ke museum nanti. Mungkin pergi lain kali bersama Seokjin oppa akan lebih baik.”

­-

“Dia parasit, kau tahu itu ‘kan?”

Secercah senyuman yang lalunya nampak kini memudar. Seiring berlanjutnya sebuah percakapan ringan menjadi lebih berat dengan segala akal licik. Kepalan tangan pria itu menjanjikan sesuatu yang didengar memberi sebuah pengaruh buruk bagi pendengarannya.

Cocktail kesayangan yang hendak disentuhpun berubah hingga tidak terjamah sama sekali. Membiarkan utuh dalam gelas berkaki glamour yang menandakan ke-elitan tempatnya berada saat ini.

“Kau tahu apa yang harus kita lakukan bukan?”

Luhan mengangguk lemas, “Cukup tahu, dan jangan membuang-buang waktu mulai saat ini.”

Gadis Chou bersenandung ria, mengamati pergerakan jemari lentik dengan tunik hijau pada kuku sedangnya. Sementara pria dengan mata indah menghayutkan dihadapannya memandang wajah rupawan Tzuyu dengan tatapan aneh.

“Apa terjadi sesuatu, Chou?”

Tzuyu menarik gelas berkaki berisi cairan merah samar. Gadis itu menarik sebuah senyuman. Meninggalkan benak tersendiri dalam benak Luhan. Yang diam-diam merasa bahwa gadis itu sedang bermain-main dengannya.

“Aku tidak bisa mengatakannya, Lu. Barangkali kau ingat? Semua yang kau lakukan harus sesuai dengan perintahku, seharusnya kau sadar akan hal itu. Tuan Xi Luhan.” Luhan mendesah jengah, sesaat setelah gadis itu berlalu dengan tas mahal miliknya. Luhan tidak tahu. Bagaimana bisa ia terlibat dalam sesatnya kehidupan seorang Chou Tzuyu yang ternyata lebih rumit daripada miliknya.

Pada mulanya Luhan mampu menoleransi, sekali dua kali saja. Seterusnya, pria itu begitu bodoh. Menyadari lubang neraka yang perlahan dimasukinya tanpa ragu. Menyesali tidak ada gunanya, lebih baik melaju dan mencari jalan keluar tanpa mengganggu kehidupan orang lain.

Inginnya begitu.

Namun takdir berkata lain terhadapnya. Membiarkan pria itu berada dalam kungkungan neraka dan rengkuhan kematian. Meski bersama dengan gadis Taiwan itu mengandung sebagian salah atas dirinya.

Luhan hendak melempar gelas berisi Blue Moon kesukaan seseorang yang masih terpatri dalam hatinya. Sampai saat ini, detik ini. Luhan begitu menginginkan kehadirannya. Tetapi, roda takdir tidak berjalan dengan baik lagi. Seolah berada di bawah dan tidak berani bergerak seinci pun barangkali Tuhan akan mematahkan dunia sekali jentik.

Tidak peduli dengan isinya yang berserakan serta serpihan kaca pecah. Selama bukan ia yang membersihkan, Luhan tidak peduli. Ia hanya perlu, peduli tentang keselamatan orang yang dicintainya. Untuk saat ini, dan seterusnya.

Kwon Yuri tidak tahu. Apa yang membuat hari-harinya begitu buruk belakangan ini. Banyak sekali pekerjaan yang mendatanginya. Mengingat bahwa status gadis itu hanya sebagai pekerja biasa. Yuri saja tidak mengenal sebagian besar pekerja baru yang telah resmi bekerja pekan lalu. Saat pesta penyambutanpun, Yuri dalam keadaan sakit parah. Sehingga tidak memungkinkan untuk bersenang-senang dalam pesta seperti itu.

Kali ini, dengan sebuah jaket dan tisu yang sedikit berserakan, Yuri melanjutkan pekerjaannya. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang memandang jijik. Ia hanya ingin melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Apa itu salah?

Datanglah Yoona dengan secangkir teh hangat. Barangkali mampu memperbaiki kondisi tubuh Yuri. Bahkan Yoona tidak tahu, apa yang diperbuat temannya itu hingga demam dan flu datang secara bergiliran. Yuri menerima minuman hangat tersebut. Meminumnya perlahan, kemudian tertunduk lemas. Rasanya lelah sekali. Sampai-sampai tidak ingin berjalan maupun duduk tegap.

“Aku harus mengerjakan sesuatu dari presdir Oh, aku pergi dulu Yul.” Yuri mengangguk. Membiarkan Yoona berlalu. Dalam hatipun ia sangat berterima-kasih karena Yoona benar-benar membantu dirinya dalam memulihkan diri beberapa hari ini.

Gadis itu baru menutup kelopak matanya selama dua detik, namun kehadiran seseorang yang mengesalkan mulai bersua lagi. Menganggu dirinya yang tidak cukup baik untuk saat ini.

“Hai Yul, kau kenapa? Kenapa meja kerjamu sangat kacau seperti ini?”

Yuri bergumam pelan. Mendengar suara Kim Seokjin memanggilnya dengan nama panggilan khusus seperti itu membuatnya mual.

“Yul? Kau baik-baik saja ‘kan? Bagaimana dengan membeli makanan di kedai bibi Yoon selepas bekerja?” Seokjin menatap Yuri yang kepalanya diletakkan di atas meja dengan lemas. “Tapi, aku harus memperkenalkanmu dengan seseorang.”

Tidak ada tanggapan. Sungguh, Yuri tidak ingin menanggapi semua hal yang Seokjin katakan saat ini. Persetan dengan pandangan seseorang yang akan dipekenalkan dengannya. Ia membutuhkan istirahat setelah selesai dengan beberapa berkasnya.

“Yul? Apa kau sakit?”

Dan bodohnya, suara Kim Seokjin senantiasa mengisi rungu.

“Tidak bisa ya, kau meninggalkanku sebentar saja? Aku lelah tuan, apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lihat saat ini? Ijinkanlah aku untuk beristirahat, sekali ini saja.” Yuri rasa, emosinya pecah. Tidak peduli dengan tatapan beberapa pekerja lainnya. Gadis itu hanya tidak suka dengan sikap Seokjin yang berlebihan.

“Yu-Yuri?”

“Ya? Apa kau mengenalku?” Yuri menyingkirkan dua helai tisu yang sempat ia gunakan, “Sayangnya aku tidak mengenalmu, tuan.”

Mungkin demam dan flu yang menyerangnya hari ini membuat gadis itu terlambat menyadari bahwa terdapat seorang pria tampan yang menatapnya penuh arti. Hanya mampu menatap keduanya secara bergantian, Seokjin tidak mengerti situasi apa yang melanda ini. Dan Yuri, gadis itu mengamati ketampanan pria di samping Kim Seokjin yang cukup menarik.

Seokjin tertawa hambar. Berusaha menyingkup kecanggungan yang melanda. Yuri masih menatap saudaranya, sementara pria bersurai kecoklatan itu berjengit heran.

“Yuri, kau tahu pekerja yang membantuku di bidang tata usaha? Perkenalkan, dia Kim Taehyung. Saudaraku yang kemarin pergi ke Montmare.” Yuri mengendikkan bahu kesal. Sepertinya, membunuh sosok Kim Seokjin untuk saat ini sangat diperbolehkan.

“Yuri, Kwon Yuri.”

Yuri mengulurkan tangannya, sepuluh detik kemudian tangan keduanya berhasil menjabat.

“Taehyung, Kim Taehyung.”

Seokjin tersenyum senang setelah keduanya saling berjabat tangan. “Jadi bagaimana? Setuju dengan tawaranku selepas bekerja nanti?” Yuri mendegus mendengar perkataan Seokjin.

“Kau‒”

“Maaf, tapi aku harus mengantarnya pulang.”

Sebuah suara yang berhasil menghasilkan debuman hebat. Sebuah suara yang acap kali terpikirkan kala mata hampir tertutup di malam hari. Astaga, itu suara yang selama ini mengisi pikiran Yuri dengan fantasi aneh mengenai masa depan.

Sehun memungut semua tisu yang berserakan di meja Yuri. Kemudian membuangnya di tempat sampah tanpa ragu. Yuri menatap pria itu tidak percaya. Oh Sehun, yang terkenal dengan sikap dinginnya berubah seperti ini? Mimpi apa gadis itu semalam? Apa Tuhan sedang berbaik hati padanya.

Setelah membereskan tisu-tisu terpakai itu, Sehun menata meja kerja Yuri beserta dokumen yang berada di atasnya. Memasukkan beberapa barang asal yang sekiranya penting ke dalam tas gadis itu. Dan yang paling membuat hati gadis itu meletus, ketika sampiran jaket merah mudanya terganti oleh jas hitam kebesaran milik Sehun.

“Presdir…”

“Kudengar kondisimu tidak cukup baik, ayo! Aku akan membawamu ke rumah sakit dan memberimu waktu istirahat.”

Tanpa menunggu jawaban dari gadis Kwon itu, Sehun menarik pergelangan tangan Yuri. Membiarkan beberapa pasang mata mulai berbisik. Kim bersaudara terdiam. Kim Seokjin memegang dadanya, bertingkah seolah merasa sakit dengan pemandangan langka yang dilakukan oleh Oh Sehun dengan Kwon Yuri dihadapannya.

Sementara itu, Taehyung diam sembari memikirkan paras rupawan gadis Kwon tersebut.

“Apa mereka kembar?”

Tidak ada yang mampu mendeskripsikan bagaimana raut muka gadis Chou tersebut. Ketika tatapannya bersitohok dengan tatapan seorang gadis yang membayar minuman di sampingnya. Pergi ke kafe setelah seharian berkutat menjadi sekertaris Perusahaan Oh cukup menguras tenaga. Belum lagi jika ia harus berpikir mengenai cara terbaik dalam misinya kali ini. Tidak, Tzuyu tidak ingin lengah. Ia harus berada dalam kondisi sehat dan stabil. Dengan begitu, kesehariannya bukanlah sebuah masalah besar.

Dan kali ini? Mengapa objek bergerak yang berada di hadapannya ini sangat mirip dengan sosok yang baru saja melangkah pergi dari kantor bersama Oh Sehun? Mengenakan earphone biru dan hoodie biru muda, serta celana selutut yang terkesan biasa saja.

Kini gadis itu sama terherannya dengan Tzuyu, gadis itu menatap Tzuyu dari atas hingga bawah. Tidak ada yang hendak memulai percakapan atau bahkan berlalu setelah membayar. Tzuyu yang terlalu konsen mengamati, dan gadis di hadapannya yang terlalu sibuk berpikir.

“Anda siapa?” gadis itu menyingkirkan earphone-nya sejenak. Menciptakan konversasi yang sedikit layak untuk dirinya dan gadis berpakaian formal dihadapannya.

“Kwon Yuri?”

“Ye?”

Gadis itu semakin dibuat heran. Setelah tatapan yang tidak kunjung beralih, Tzuyu pun berujar mengenai sebuah nama yang terdengar salah.

“Kau… Kwon Yuri ‘kan?” Tzuyu kembali memastikan. Sementara gadis itu tersenyum aneh.

“Sepertinya kita pernah bertemu dan kau salah mengingat namaku, tapi tidak… Aku bukan Kwon Yuri.” Menyeruput kembali minuman dinginnya. Gadis itu tetap menatap Tzuyu, dan bersikap biasa. Namun beda halnya dengan Tzuyu yang menganggap semua ini, sebuah keanehan.

“Bukan, kau… Kwon Yuri…”

Gadis itu mengerjap aneh, dengan senyum hambar yang terhenti. Sedetik kemudian, gadis itu tertawa cukup nyaring, sedikit pasang mata melirik sekilas karenanya.

“Astaga, margaku Nam. Bukan Kwon.”

Tzuyu mengerjap, menyadari kekeliruan. “Ta-Tapi…”

“Kalau begitu, saya permisi dulu nona. Ada beberapa hal yang harus saya lakukan, sampai jumpa.”

Gadis itu berlalu, meninggalkan Tzuyu yang larut dalam pemikiran anehnya sendiri. Tentang sosok sebenarnya dari gadis yang ia kenal dengan segala benda berwarna biru tersebut.

“Apa mereka kembar?”

Kwon Yuri tidak pernah merasa sebahagia ini. Sehun baru saja membawanya ke klinik terdekat. Beberapa obat yang sekiranya menyembuhkan pun telah berada di dalam tasnya. Perhatian Sehun hari ini, membuat gadis itu lupa dengan caranya tersenyum di saat yang benar‒kendati Yuri ingin sekali tersenyum.

“Apa yang membuatmu tidak bisa berhenti tersenyum, nona Kwon?”

Yuri mengutuk dalam hati. Sehun baru saja memergoki dirinya yang selalu tersenyum seperti orang gila. Astaga, Yuri butuh pertolongan. Yuri menggeleng, berdeham kemudian menatap keluar.

“Jangan terlalu berlebihan, kau harus menjaga kondisi tubuhmu agar tetap sehat. Hanya karena kau berada dalam bidang yang cukup penting, jangan sampai kesehatanmu kau anggap tidak penting.”

Yuri bisa saja berteriak sangat lancang kepada siapa saja saat ini. Hanya saja, ia harus tahu keadaan sekitar. Tidak mungkin juga gadis itu berteriak selantang mungkin di hadapan Sehun hanya karena ucapan pria itu barusan bukan?

“Ba-baiklah, presdir…”

“Sudah kukatakan untuk memanggilku Sehun di saat kita hanya berdua, apa kau lupa itu nona Kwon?” wajah rupawan pria itu berada dalam jarak yang sangat dekat. Yuri memperingati hatinya untuk tidak meloncat terlalu sering, karena bisa membahayakan perasaan senangnya saat ini.

“Ah, maaf Sehun. Aku lupa, kalau begitu aku turun dulu. Terima kasih tumpangan dan ajakan pergi ke klinik hari ini, Oh Sehun.”

Dan malam itu menjadi begitu bersejarah hanya karena perilaku hangat Sehun.

Dari kejauhan, mobil Sehun kian menjauh dari gedung apartemen Yuri. Dan gadis bermarga Kwon tersebut telah hilang di balik pintu gedung. Asap cerutu yang dibawa kian mengepul menjadi satu, kemudian menyebar seiring berlalunya angin dingin malam hari.

Mengamati dibalik kacamata hitam yang sedari tadi bertengger. Tidak luput dengan senyuman aneh yang mampu membunuh setiap orang hanya dengan tatapan. Tidak lama kemudian, seorang gadis berpakaian kasual datang. Membisikkan sesuatu pada telinga pria itu dengan seksama.

Keduanya tersenyum. Setelah bisikan singkat mampu memutar-balikkan emosi yang kian memuncak. Gadis itu menyimpan sesuatu dari balik saku jaket tipisnya, sehingga tidak ingin yang lain mengetahui lebih tentang benda tersebut.

Sementara itu, pria yang kini melepas kacamatanya menampilkan bulu mata sedikit lentik dengan sorot penuh amarah yang telah tertanam.

“Kau yakin tentang itu, tuan?” gadis itu kembali bertanya, setelah menghabiskan waktu untuk berbicara dalam bisikan-bisikan singkat.

Pria itu mengangguk mantap, “Kau ragu?”

“Tapi tunggu…” gadis itu menggenggam sebuah topi rajut yang entah sejak kapan telah berada dalam genggaman. “Sebuah pelampiasan?”

“Ya, apalagi jika bukan itu?”

Tidak ada yang tahu tentang misteri hari esok. Berpikir yang terbaik selagi mengharapkan sejuta dambaan bunga tidur acap kali dilakukan. Tetapi tidak ada yang tahu kapan sebuah misteri yang menyerang hidup akan segera berakhir selagi masih hidup.

TBC

Agak pendek kah? :v
Lagi kena writerblock dalam menyusun kalimat soalnya,
tapi beneran udah ada kerangka ceritanya kok.

Kayaknya ff ini bakal lebih panjang dari Dynamite deh.
Karena ku sedang mencoba mencampur banyak konflik yang barangkali berhubungan.

Sekian, semoga siders pada tobat Ya Allah~ T.T

Advertisements

10 thoughts on “[Trilogy of SS] Cold Summer (Chapter 4)

  1. Sehun perhatian banget sama yuri, tumbenan banget ..

    Yang lagi di rwncanin tzuyu sama luhan itu apa ?? Kenapa luhan sampe harus nurutin kata-kata tzuyu

    Taehyung udah kenalan sama “kwon” yuri dan dia langsung mikir apakah “kwon” yuri dan “nam” yuri itu kembar ??
    Tzuyu juga mikir yang sama kayak taehyung tentang perempuan yang dia temuin di cafe si “nam” yuri .. apa mereka beneran kembar ???

    Di tunggu nextpartnya eonni 🙂

    Liked by 1 person

  2. Ohh jadi taehyun uda kembali kesan pertama ketemu yuri ternyata dia berpikiran klo apakh “mereka” kembar??
    Sehun dia perhatian bnget sama yuri ada apa??

    Liked by 1 person

  3. Uwahh taehyung bisa langsung berpikur kalo mereka itu kembar 😯 tapi apakah mereka benar” kembar 🤔🤔
    Lalu, sebenernya tzuyu itu masih suka sama sehun ya kenapa dia keliatan ga suka bgt kalo sehun dekat ama kwon yuri 🤔
    Tunggu tunggu kenapa sehun jadi benar” peduli+perhatian ama kwon yuri, apa ada maksud dibalik kebaikan sehun itu 🤔🤔
    Lalu, siapa dua orang yg lagi berbisik” itu apa mereka mempunyai niat jahat pada kwon yuri 🤔🤔

    Makin seru+penasaran ditunggu next chapter nya eonni 😁😁 fighting 💪💪

    Liked by 1 person

  4. Sebenernya nam yuri sama kwon yuri kembar apa ? Bisa mirip banget.sehun tumben perhatian sama yul.btw apa yng direncanain Luhan sama rusty.kenapa Luhan nurut banget sama tzuyu next eoni

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s