[Trilogy of SS] Cold Summer (Chapter 2)

Cold Summer

#1 Trilogy of “Strange Season” – Cold Summer

Dear,
Kwon Yuri , Oh Sehun
Nam Yuri , Kim Taehyung

Little,
Kim Seokjin , Chou Tzuyu

Cover,
InaGaemGyu Art @ Poster Fanfiction Art

Story,
pure mine

Sequel of “Too Late (Vignette)”

Note : dikarenakan di sini Yuri-nya ada dua, Kwon Yuri aku panggil dengan nama ‘Yuri’, terus kalo yang Nam Yuri aku panggil dengan nama ‘Nam’.

Chapter 1 || Chapter 2

HAPPY READING

“Musim panasku, dingin.”

Yuri memutus kontak mata. Tidak ingin berlama-lama terjatuh dalam perangkap sepasang obsidian itu. Pikiran tentang masa lalunya kembali terlintas. Tujuh tahun yang lalu, serta lima tahun yang lalu. Ketika pertama kali Yuri berhadapan dengan pria itu dan memberinya luka luar biasa‒yang anehnya menjadikan Yuri lebih dewasa kedepannya.

Kemudian, di saat lima tahun yang lalu ia kembali menginjakkan kaki di Seoul. Bertemu dengan pria itu dan hal yang tidak terduga terjadi. Yuri mengulum bibir bawahnya. Ciuman pertamaku, Tuhan.

Yoona menatap Yuri aneh. Sementara Seokjin yang berada di samping Yuripun tak ambil pusing. Pria itu lahap dengan makan siang istimewanya. Yoona tahu betul, siapa pria dan gadis yang baru saja menjadi pusat perhatian.

Sedangkan Sehun, pria itu mendegus kesal. Namun, kekesalannya menurun sedikit berkat keberadaan seseorang yang baru saja membuat kontak mata dengannya. Meski sepenuhnya ia masih meletakkan emosi yang membara pada kenyataan barunya. Chou Tzuyu memutuskan untuk mengakhiri hubungan keduanya. Hubungan yang telah terjalin lima tahun lamanya.

Sehun menyambar jaketnya, kemudian memilih untuk pulang. Berada di tempat tersebut membuat pikirannya kacau. Sebelum pria itu benar-benar keluar dari restoran, dwimaniknya mengarah pada sosok bersurai kecoklatan di sudut restoran.

“Gadis itu…”

Kwon Yuri meletakkan kepalanya lemas. Terlalu malas untuk bekerja setelah apa yang dilihatnya siang ini. Sosok tampan itu, hadir lagi. Lima tahun yang lalu, ia memutuskan untuk menganggap keberadaan pria itu biasa saja. Sampai halnya dengan tiga tahun kemudian, ia lulus sarjana. Kemudian, menempuh pendidikan ringan di China. Ia tidak tahu bila kembali ke Seoul akan membuatnya dapat bertemu dengan Sehun‒lagi.

Lalu kabar siapa yang mengatakan bahwa Sehun berada di Perancis? Hal tersebutlah yang mendorong Yuri untuk kembali ke tanah kelahirannya. Dekat dengan kedua orang tua pastinya lebih baik daripada sendiri di luar negeri. Meski ia mendapat jutaan pengalaman, gadis itu lebih memilih untuk menghabiskan satu pengalaman dengan kedua orang tuanya.

Dan kini, lihat apa yang baru saja terjadi. Sehun baru saja menjadi pusat perhatian di salah restoran. Tebak siapa si gadis? Jika bukan Chou Tzuyu, lalu siapa lagi?

Pasangan sempurna itu, bertengkar di saat ia sendiri mengetahuinya. Baru kali itu pula, Yuri melihat kekecewaan dalam diri Sehun. Ia tidak pernah menduga bahwa sosok Oh Sehun mampu merasakan kecewa.

Yuri menilik ke arah jam dinding. Waktunya pulang! Dengan cepat, gadis itu mengemasi barang-barangnya. Ini yang paling ia senangi. Namun kesenangannya sirna ketika sosok menyebalkan Kim Seokjin datang lagi.

“Pulang bersama Yul?”

Yuri membulatkan matanya, “Ya! Kau tidak pantas memanggilku begitu, hanya Yoona yang boleh.” Kim Seokjin mengangkat kedua tangannya sedang, seolah sedang menyerah pada aparat kepolisian.

“Baiklah, Yuri?” Gadis itu tidak menyahut. “Pulang bersama? Aku akan mengantarmu,”

“Tidak terima kasih, aku akan pulang bersama Yoona.” Tungkai gadis itu bergerak cukup cepat. Sebuah panggilan terpaksa menghentikkan laju sedangnya.

“Presdir yang baru akan datang menggantikan Nyonya Oh besok. Jadi, berpakaian yang rapi dan bersih besok.” Yuri membalikkan tubuhnya sejenak. Ia mendapati sosok Seokjin tersenyum ke arahnya. Tidak dapat Yuri tepis, bahwa Seokjin memang tampan. Sangat tampan bahkan. Wajar jika pria itu mengandalkan ketampanannya.

Sayangnya, terlalu percaya diri.

Membuat Yuri ingin melemparkan tong sampah tepat ke wajah‒yang dikatakan sangat tampan itu. Tidak perlu berlama-lama untuk menyadari ketampanan Seokjin, Yuri kembali melangkah. Ia tidak ingin terjerumus dalam sesatnya permainan konyol Kim Seokjin.

Banyak yang mengatakan jikalau Seokjin tertarik dengan Yuri saat interview dulu. Pula, ia mendengar bahwa Seokjin sangat senang karena ia diterima bekerja di kantor ini. Yuri tersenyum tipis, lama-lama Seokjin menarik juga.

Sehun murka. Memporak-porandakan kamarnya sendiri. Tidak peduli dengan sahutan bibi Chae yang nampak khawatir. Sehun tidak bisa menahan emosinya. Setelah sekian lama menjalin hubungan dengan Chou Tzuyu, hubungan tersebut berakhir dalam beberapa menit. Sehun enggan untuk mempercayai hal tersebut.

“Argh!!”

Kamarnya saat ini tidak lebih dari sebuah gudang terbengkalai. Sehun merubahnya dalam sekejap. Hanya karena kecewa yang hinggap dalam hitungan detik. Hari ini, Chou Tzuyu benar-benar merusak suasana hatinya.

Sehun merebahkan tubuhnya. Mencoba mencari sebuah ketenangan. Meski rasanya mustahil dalam keadaan seperti ini. Sehun hendak memejamkan mata, tidak hingga sesuatu menyadarkan kembali. Hal yang baru saja ia lihat siang ini. Dengan segenap kesadaran, ia teringat akan masa lalunya.

Seorang gadis ceroboh yang pernah menyatakan perasaan padanya. Dan bodohnya, pria itu menolak. Dengan kalimat yang luar biasa menyakitkan. Tidak sampai itu, justru pertemuannya pada lima tahun sebelumnya, pria itu merebut ciuman kecil dari sang gadis.

“Yuri…”

Nam Yuri kehilangan akal. Dompet berharganya hilang. Demi Tuhan, dompet biru kesayangannya hilang dalam sekejap. Nam Yuri telah meneroka isi tas serta beberapa pasang saku dalam pakaiannya. Hasilnya nihil. Keberadaan dompetnya tidak ditemukan. Gadis itu mendegus gundah. Bagaimana bisa ia kembali ke Seoul jika ia tidak membawa uang sepeserpun? Nam Yuri tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga gadis itu hanya mampu termenung di atas tempat tidurnya.

Ia harus pergi ke bandara dengan beberapa kendaraan umum‒yang tentu saja menggunakan biaya yang tidak sedikit. Nam Yuri mengeluh untuk yang kesekian kalinya. Nampaknya, hari ini merupakan hari tersialnya. Nam Yuri tidak tahu, mengapa dalam suasana hati yang senang‒sebelumnya, justru timbul masalah yang lebih rumit lagi.

Nam Yuri kembali membuka kelopak mata, ketika bel motel-nya berbunyi. Keningnya berkerut. Siapa yang datang ke kamarnya di saat gadis itu tidak mengenal satupun orang di sini? Yang benar saja, ini bukan Seoul‒ia mengenal dan memiliki banyak teman. Sementara Montmare, berkenalan dengan penjual cideramatapun tidak.

Lalu siapa?

Huh? Si-Siapa?”

Pria bersurai coklat dengan bibir tebal tersenyum manis. Berdiri tepat di depan kamar Nam Yuri. “Kau Nam Yuri?”

“Eh? Korea ya? Iya itu aku.”

Pria itu senantiasa tersenyum. Kemudian mencari sesuatu dalam saku jaketnya. Jaket kulit hitam yang pantas dikenakan oleh pria tampan seperti yang berada di hadapan Nam Yuri saat ini. “Kalau begitu ini, dompetmu terjatuh saat berada di restoran.”

“Oh? Benarkah? Terima kasih… Emm..”

“Taehyung, Kim Taehyung.”

“Ah iya, terima kasih Kim Taehyung.”

Pria itu mengangguk mantap. Nam Yuri mengamati ketampanan seorang Kim Taehyung. Apa ini merupakan sebuah kebetulan? Mengapa ia harus bertemu dengan pria setampan Taehyung di Montmare? Dan bodohnya, kenapa di saat ia hendak kembali ke Seoul? Gadis itu merutuki estimasi berliburnya.

“Ta-Tapi, dari mana kau tahu bahwa aku berada di sini?”

Taehyung menggaruk tengkuknya, “Kau orang asing, dan aku sering melihatmu keluar dari tempat ini. Lagipula, motel-ku berada di seberang tempat ini.”

“Ahh, begitu rupanya.” Nam Yuri mengangguk mengerti.

“Kalau begitu, aku akan kembali. Aku harus mengemasi barang-barangku,”

“Tunggu‒” Langkah Taehyung terhenti ketika Nam Yuri mencegahnya.

“Ada apa?”

Nam Yuri nampak ragu, beberapa kali mengembuskan napas serta mengerucutkan bibirnya. “Apa kau akan kembali ke Korea besok?”

“Hmm,” Taehyung mengangguk. “Seoul tepatnya.”

“Kalau begitu,” Nam Yuri nampak bersemangat. “Bagaimana jika kita kembali bersama? Aku akan kembali besok pagi, bukankah lebih baik jika memiliki teman dalam perjalanan?”

Taehyung nampak menimbang‒atau lebih tepatnya mencerna perkataan Nam Yuri.

“Baiklah.”

“Be-Benar‒”

“Aku akan menunggumu di depan besok pagi, Nam Yuri.”

Barangkali Yuri akan terhindar dari tatapan Sehun sejenak, maka Yuri memutuskan untuk berpura-pura sakit. Dan pilihannya salah, jutru pria itu semakin mengamatinya. Yuri bertingkah sedikit, dwimanik Sehun akan mengikuti dengan lincah. Namun, dibalik kebingungan Yuri saat ini,

Siapa sangka bahwa Oh Sehun akan menggantikan Nyonya Oh sebagai presdir dalam kantor yang Yuri tempati?

Yuri rasanya hendak mengundurkn diri. Kembali ke rumah, menghabiskan waktu dengan makan dan tidur. Nampaknya, hal tersebut serasa lebih baik daripada menghabiskan waktu di kantor. Tidak hanya Yuri, bahkan Yoona pun terkejut dengan kehadiran Oh Sehun. Secara tidak terduga.

Sehun melangkah pergi, setelah memperkenalkan diri dengan sangat singkat. Yah, pasti mengerti dengan cara berbicara Sehun yang terkesan datar dan apa adanya. Selain kehadiran Oh Sehun yang mengguncang batin seorang Kwon Yuri, terdapat hal yang lebih mengguncangkan lagi.

“Chou?”

Chou Tzuyu tersenyum sarkastik. Oh Sehun berhadapan dengan sosok gadis yang semalam telah merasuki pikirannya. Bahkan gadis itu merupakan seorang yang telah menghancurkan dunianya. Mantan kekasihnya itu. Tetap menjadi seorang sekertaris bagi sosok Oh Sehun. Betapa terkejutnya Oh Sehun saat ini. Berhadapan dengan cinta yang pernah ia miliki.

“Selamat pagi, Presdir.”

Tzuyu menunduk hormat. Dalam situasi presdir-sekertaris. Sehun berdeham. Pria itu tidak berniat untuk membalas sapaan Tzuyu. Yang jelas, hati pria itu masih tidak percaya dengan kenyataan baru yang ia hadapi. Chou Tzuyu tetap menjadi sekertarisnya dalam keadaan bagaimanapun.

Sehun memilih untuk memasuki ruang pribadinya. Melonggarkan dasi, kemudian bersandar dengan mata terpejam. “Tenangkan pikiranmu, Oh Sehun…” pria itu memilih untuk bermonolog. Sekiranya mampu menenangkan diri meski sedikit.

“Chou…”

Saat istirahat makan siang tiba, Sehun memilih untuk datang ke restoran milik keluarganya. Yang tempo hari menjadi tempat perpisahannya dengan Tzuyu. Sehun menghentikan langkah sejenak, mata elangnya menangkap presepsi seorang gadis yang berkumpul dengan tiga orang lain di tempat yang sama‒persis ketika Sehun melihat gadis itu untuk pertama kali dalam lima tahun terakhir.

Merasa teramati, sang gadis menoleh. Sehun berdeham, menepis kemungkinan bahwa ia baru saja melihat gadis tersebut. Sementara yang diamati, tidak berani menatap lebih. Dengan cepat gadis itu kembali berbicara dengan teman-temannya. Rasanya, eksistensi Sehun laksana kabar buruk.

Sehun mengambil tempat yang berada tidak jauh dari keberadaan seorang Kwon Yuri saat ini. Terdapat sesuatu dalam diri Sehun yang mengatakan bahwa ia harus duduk sejauh dua tempat dari sosok Kwon Yuri.

Sementara itu, Yuri kembali memusatkan pandangannya pada sosok Kim Seokjin yang berbicara mengenai adik kandungnya yang sedang berpergian ke luar negeri. Dalam hati, Yuri mencibir. Pria itu mengada-ngada. Jika adiknya mampu berpergian ke luar negeri, lantas mengapa sang kakak harus menetap di kantor yang menurutnya tidak terlalu baik ini?

Yuri tidak menutupi kenyataan bahwa kantor yang ditempatinya merupakan kantor biasa. Meski atas nama perusahaan terkenal keluarga Oh, tetap saja. Keadaannya sama seperti kantor lain. Hanya nama serta materi yang membuat para pekerja terlihat berbeda. Setidaknya, jika dilihat dari sisi saham serta perkembangan bisnis, perusahaan Oh merupakan yang terbaik.

Kim Seokjin bisa saja menjadi seorang artis, pengacara bahkan jaksa. Dilihat dari caranya berbicara, beberapa pekerjaan tersebut sangatlah pantas bagi sosok pria tampan yang menyimpan hati padanya. Sudah rahasia umum, bahwa Kim Seokjin menyukai sosok Kwon Yuri. Sejak pertama kali Yuri menginjakkan kaki di kantor, gadis itupun menyadari tatapan aneh Seokjin yang selalu mengarah padanya.

Mengingat hal tersebut, Yuri hendak menendang wajah tampan Seokjin yang kini tersenyum padanya. Demi Tuhan, Yuri mengagumi ketampanan pria itu, tapi tidak dengan sifat yang dimilikinya. Akan tetapi tanpa gadis itu sadari, terpeta sebuah senyum tipis pada wajah manisnya. Saat Seokjin baru saja tersenyum padanya‒dengan sangat lebar dan antusias.

Melihat senyum Yuri yang ditujukan padanya, Seokjin senang.

“Kau tersenyum padaku nona Kwon?”

Menyadari hal tersebut, Yuri meletakkan kembali wajah kesalnya. Seokjin tersenyum penuh arti, meski Yuri nampak tidak sadar dengan apa yang baru saja gadis itu lakukan. Yoona dan salah satu teman kerja Seokjin terkekeh melihat tingkah keduanya.

Sedang sosok Oh Sehun, pria itu tersungut kesal. Tidak tahu pasti dengan apa yang membuat dirinya berubah cukup aneh. Mulanya Sehun ingin bertanya lebih lanjut pada diri sendiri, hanya saja hal tersebut diurungkan hanya karena kehadiran seorang gadis dan pria berpakaian formal memasuki restoran.

Lantas, Sehun memusatkan pandangannya pada seorang Chou Tzuyu dan sang pria yang sangat dikenalnya.

“Lu‒”

“‒han?”

Sehun menilik ke arah gadis yang kini sama terpakunya. Gadis itu mengepalkan tangan kuat-kuat berharap saja, emosinya bisa teratasi. Berharap pula, sosok tersebut akan menghilang secepat mungkin. Hanya saja, kehadiran keduanya membuat kejanggalan dalam hidup semakin menjadi-jadi.

Kwon Yuri menatap Yoona yang saat ini menatap dirinya. Berusaha memastikan bahwa sahabatnya tersebut dalam kondisi baik-baik saja.

“Yul,”

Yuri menoleh. Dengan ekspresi yang tidak mudah untuk diartikan.

“Iblismu, dia datang.”

Kim Taehyung merasa, dunianya runtuh ketika sosok Nam Yuri bertemu dengannya. Sosok yang sama dengan sosok yang akan dinikahinya mungkin? Barangkali demikian, perjodohan konyol antara Kim Taehyung dengan Nam Yuri bukanlah perkara yang buruk. Meski begitu, tujuan pria itu jauh-jauh datang ke Montmare hanya untuk mengamati bagaimana sosok Nam Yuri yang‒katanya merupakan gadis cantik jelmaan malaikat. Senyum manis, serta tatapan yang mempesona, membuat Taehyung sadar bahwa kedua orang tuanya cukup pandai.

Berawal dari kejadian mengembalikan-dompet-yang-terjatuh semalam, Taehyung yakin bahwa Nam Yuri merupakan takdirnya. Pertemuan keduanya, terkesan klise namun memiliki arti tersendiri dalam benak Taehyung. Akan tetapi, sesuatu yang tidak pasti menggoyahkan kesenangannya.

Pria itu datang ke Montmare untuk menemukan calon istrinya kelak yang bernama Yuri. Hanya saja, kedua orang tuanya tidak berbicara mengenai marga gadis itu. Sekilas Taehyung menepis kebingungan tersebut, lalu Taehyung memutuskan untuk mempercayai sosok Nam Yuri. Mana mungkin ia salah menemukan? Tidak mungkin terdapat dua Yuri dalam kota Montmare ‘kan?

Taehyung tersenyum tipis. Ia menatap gadis yang duduk diseberang. Gadis itu terlelap.

“Semoga kau memang takdirku, Yuri.”

TBC

Kumohon, jangan bingung dengan dua karakter Yuri yang bisa saja kupanggil Yuri semua.
Untuk kebutuhan cerita, kok aku malah nganggep Nam Yuri itu OC yak? :’v

Konflik? Next Chap yaaa

Di tunggu RCL ya,

Bye~ ©Firda©

Advertisements

8 thoughts on “[Trilogy of SS] Cold Summer (Chapter 2)

  1. Sehun gak terima di putusin sama si chou tapi pas dia gak sengaja ketemu yuri di tempat makan keluarganya secara tiba-tiba juga dia keinget yuri .. labil nya oh sehun -_-

    Seokjin bener-bener suka sama yuri wkwk yuri nya malah gak suka sama sifatnya seokjin 😀

    Si tzuyu kenapa bisa sama luhan ??

    Nam yuri ini siapa ? Masih bingung wkwk

    Taehyung mau di jodohin sama seorang cewek yang namanya yuri tapi orang tuanya gak ngasih tau marga calon nya taehyung .. apa bener yang mau di jodohin sama taehyung itu “nam” yuri ??

    Like

  2. Ouhh ayolah Hun jangan labil deh jangan bilang setelah kau ketemu yuri kau jadi menyukainya 😁 tapi ga apa sih wkwk gua suka hihi 😂
    Luhan datang? Ap dia juga sadar kalau disitu juga ada Yuri? Gimana sama yuleon? Tapi kenapa luhan bisa sama tzuyu? 😱
    Setuju sama author aku kesan nya si Nam Yuri di ff ini kek OC hahaha 😁
    Jangann” yg dimaksud yuri itu bukan Nam Yuri tapi Kwon Yuri 😮 plisss jangan biarkan Kwon Yuri buat Oh Sehun saja Kim Taehyung silahkan sama Nam Yuri saja hahaha ✌
    Seokjin sifatnya disini ga jauh beda sama aslinya deh wkwkwk 😂
    Fighting thor buat next chap + ff laennya 💪

    Like

  3. Btw sehun kesal deh kayaknya liat yul sama seokjin.apa mungkin dia cemburu atau pelampiasan aja gara2 putus sama tzuyu.luhan kok bisa sama tzuyu .liat nggak ya dia yul ada disitu.Jangan2 taehyung mau dijodohinnya sama kwon yuri bukan nam yuri next eonni

    Like

  4. Em. Yuri adalah sosok 5 tahun yg lalu di tolak oh sehun
    dan, sbnernya yuri masih cinta kah sma sehun ?
    Dan juga, chou sma sehun udah berakhir dg hbungan yg lama. 5 taun loh
    dan dg pongahnya chou dtang sma luhan. Da yoona bilang ke yuri, iblismu ? Ini sbernya apa sih
    dan taehyung ? Nam yuri ?? Apa mungkin nam yuri adik seokjin yg katanya lagi liburan di luar negri ? Ah entahlah

    Like

  5. Ohh jadi kim taehyun itu sdg mncri tau sosok pendmping ny kelak…ohh…jangan yg dimksd yuri yg satu ny….hemmm apkah stlah kmbli k seoul dia akn ktemu dg kwon yuri??

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s