[Special Sehun’s Birthday] Start & Reset (Oneshoot)

Start & Reset

Dear,
Kwon Yuri , Oh Sehun , Jung Chaeyeon

Cover,
Tzeastkiya art @ Facebook

Story,
pure mine

HAPPY READING

“Bisa kita memulainya?”

Pemuda itu tidak henti-hentinya tersenyum. Menatap indahnya ciptaan Tuhan yang mampu memperdaya pikirannya. Bukan hanya pikiran, namun tentu saja hatinya. Pemuda itu tidak ingin menuntut lebih. Sekalipun ia bisa memiliki gadis di hadapannya saat ini juga. Namun demikian, sesuatu membuatnya harus mengesampingkan hal tersebut.

Pemuda itu, Oh Sehun. Ia telah dijodohkan dengan anak dari rekan kerja ayahnya. Bukannya seumuran, justru gadis yang akan menjadi masa depannya telah berstatus sarjana.

“Hun, tolong jangan terima pernikahan itu. Demi aku Hun, demi aku.” Sehun tersenyum kecut. Ia tidak ingin bersedih di hadapan sang terkasih‒anggap saja. Sehun membelai pipi gadis itu. Gadis Jung yang selama dua tahun ini berhasil merangkai hatinya dalam lengkungan kasih sayang.

“Kau tahu, Chae? Kita masih bisa berhubungan meski aku sudah menikah,” seraut kekhawatiran muncul ketika Sehun mengatakan hal tersenyum. Beberapa hari yang lalu Jung Chaeyeon tahu, mengapa sedari dulu Sehun tidak pernah menjadikan gadis itu sebagai kekasih.

Sehun telah dijodohkan, jika Sehun memiliki seorang kekasih, maka kedua orang pemuda itu tidak segan untuk menghancurkan hidup seorang yang berstatus kekasih tersebut. Kejam memang, untuk itulah Sehun bersikukuh menjadikan Chaeyeon sebagai teman dekat.

“Maafkan aku dan keluargaku, Chae.”

Chaeyeon bungkam. Gadis itu hanya menerima pelukan hangat Sehun. Yang dikira, akan menjadi pelukan terakhir baginya. “Aku mencintaimu, Oh Sehun.”

“Aku juga, Jung Chaeyeon.”

“Jangan kekanak-kanakan, Sehun! Kau hanya perlu menikah dengan guru itu.” Sehun mengepalkan tangannya. Pemuda secara baik meminta agar sang ayah memberikan kesempatan baginya untuk bertemu dengan Jung Chaeyeon terakhir kali. Beberapa jam lagi, pernikahannya akan dimulai. Ia akan menikah dengan guru muda. Yang baru saja lulus sarjana dan sekarang menjadi salah satu guru di taman kanak-kanak.

Betapa malunya Sehun, bila teman-teman di universitas menyaksikan pernikahan hari ini. Dan untuk yang Tuan Oh katakan, ‘hanya perlu menikah?’ rasanya Sehun hendak melemparkan sesuatu kepada ayah kandungnya itu.

“Sudahlah, fokus saja dengan pernikahanmu.” Kemudian Tuan Oh berlalu. Meninggalkan Sehun dan sejuta perasaan bersalahnya. Demi Tuhan, mengapa ia tidak bisa bertemu dengan Jung Chaeyeon? Pemuda itu telah berjanji untuk bertemu dengan Chaeyeon sebelum resmi menikah. Dan sekerang apa? Kedua orang tuanya membatasinya dalam sebuah keterpaksaan.

Bila Chaeyeon menjawab panggilan masuknya, Sehun tidak akan merasa sebersalah ini. Pasalnya, Chaeyeon biasanya langsung menjawab‒kini tidak. Sehun hanya ingin mendengar suara gadisnya. Suara yang sangat dirindukannya.

“Sekarang, apa kita bisa berteman?”Sehun berdecih. Sosok gadis dewasa yang berada di hadapannya dalam setelan jas formal biasa. Gadis Kwon yang hendak pergi kerja. Semalam, mereka memang tidur di tempat yang sama, namun tidak terjadi apapun. Begitu pula dengan guling pembatas yang tertata rapi‒bahkan tidak bergeser dari batasnya.

Dan sekarang, hari pertama mereka resmi menikah, gadis itu hendak menekuni pekerjaannya lagi. Seolah tidak terjadi apapun kemarin. “Kita baru saja menikah, nona Kwon.”

Gadis Kwon di hadapannya terdiam. Mendengar perkataan Sehun, membuat gadis itu tidak tahu harus berkata apa. Jujur saja, ia mengakui ketampanan serta pesona pemuda yang lebih muda darinya itu. “Aku tahu.”

Sehun mengangguk, “Terserahmu saja. Asal kau tahu, ajakanmu untuk berteman itu rasanya mustahil. Tidak mungkin juga kita berteman dalam keadaan seperti ini. Jadi, coba pikirkan ajakan yang menurutmu lebih baik.”

Pemuda itu berlalu, mengambil tas serta kunci mobil. Hendak pergi ke universitas. Jika istrinya saja bisa kembali bekerja, maka pemuda itu bisa kembali menemui gadisnya.

Tanpa Sehun sadari, gadis itu meletakkan sendoknya. Menatap kepergian Sehun dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Gadis itu tersenyum lembut. Pandangannya tidak luput dari keberadaan Sehun yang saat ini menuju mobilnya.

“Satu bulan lagi.” Gadis itu beranjak. Hendak melambaikan tangan namun enggan. “Aku istrimu, Oh Sehun.”

“Se-Sehun? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau‒”

“Aku merindukanmu.”

Belum genap dengan perkataannya, tubuh kecil Chaeyeon telah berada dalam pelukan hangat Sehun. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Sehun nampak menikmati pelukan tersebut. Chaeyeon senang. Tentu saja. Oh Sehun‒miliknya, memeluknya dengan penuh kasih sayang. Dengan segenap rindu yang mengakar lebih dari apapun. Tiba-tiba saja, Chaeyeon sadar akan suatu hal. Dengan cepat gadis itu melepas pelukan Sehun. Yang mengundang gurat keheranan dalam wajah tampan pemuda Oh tersebut.

“Chae‒”

“Kita tidak bisa bersama lagi, Hun. Untuk apa kau pergi ke universitas? Kau baru saja menikah, dan sekarang kau memelukku? Hun, tolonglah! Jauhi aku! Aku tidak ingin orang-orang menganggapku sebagai orang ketiga dalam kehidupan kalian.” Sehun membulatkan matanya tidak percaya.

Jung Chaeyeon meminta pemuda itu menjauh? Belahan jiwa Sehun, hanyalah gadis itu. Tanpa Jung Chaeyeon, dunianya runtuh. “Kenapa kau berubah pikiran Chae? Sebelum aku menikah, kau bersikeras agar aku menolak pernikahan itu. Tapi sekarang, setelah aku menikah, kenapa kau memilih pilihan lain, Chae?”

Chaeyeon diam. Menatap pohon mapel yang berada di taman. Gadis itu cukup malu. Beberapa pasang mata mengarah padanya. Membuat beberapa persepsipun muncul.

“Wah, apa dia ingin menghancurkan rumah tangga Sehun?”

“Gadis itu berani sekali?”

“Aku saja yang dari dulu menyukai Sehun tidak berani mendekati Sehun, apalagi Sehun sudah menikah.”

“Iya benar, kenapa dia berani sekali?”

“Sepertinya dia tidak bisa melepaskan Sehun.”

Gadis itu memejamkan mata. Menahan perih yang diam-diam menjalar. Menjadi talak‒ukur apabila gadis itu belum siap dengan sebuah pernyataan baru. Sehun memang sudah menikah. Dan pada akhirnya Chaeyeon berhasil mengungkapkan keluh-kesahnya. Meski sakit. Sangat sakit hingga gadis itu merasa tidak memiliki hati lagi untuk melihat seseorang yang dicintai.

Sehun mengerti. Apa yang Chaeyeon rasakan. Walaupun pemuda itu ingin mengenyahkan beberapa orang yang baru saja melukai hati gadisnya. Tidak. Sehun menggeleng. Bukan hanya mereka yang melukai Chaeyeon. Iapun sama. Lebih buruk, bahkan.

“Chae…”

“Pergi, Oh Sehun.”

Sehun sadar. Betapa sakitnya gadis itu menahan tangis. Bahkan setetes telah keluar dengan sendirinya.

“Chae,” Sehun hanya ingin mengucapkan beberapa kata terakhirnya. “Asal kau tahu, aku masih mencintaimu Chae. Maafkan aku bila selama ini kau menderita, maafkan semua perilaku-ku selama ini. Aku pergi, Jung Chaeyeon.”

Mulai saat itu, Chaeyeon sadar akan perpisahan terakhirnya.

Kwon Yuri. Gadis berusia dua puluh tujuh tahun dengan segala hal yang menyenangkan. Senyuman, paras, serta kepandaiannya membuat siapapun senang. Alih-alih, senang nampaknya kebanyakan orang menyimpan cinta tersendiri atas gadis itu. Menjadi seorang guru di salah satu taman kanak-kanak.

Banyak sekali anak kecil yang menyukai gadis itu. Caranya berbaur, membuat semua orang seringkali melontarkan pujian. Bahkan pagi ini, banyak sekali orang yang menyapa sembari mengucapkan selamat. Dan tentu saja bertanya-tanya.

“Yuri, kau baru saja menikah kemarin. Dan sekarang kau kembali bekerja? Kau terlalu rajin,” Yuri tersenyum manis. Dilihatnya Yoona yang kepayahan membawa nampan dari pantry. Tanpa komando, Yuri membantu Yoona membawakan nampan. Melihat keadaan Yoona beserta perut buncitnya, membuat Yuri cukup prihatin dengan keseharian Yoona.

“Lalu kenapa kau masih bekerja? Apa Joonmyeon tidak memberimu uang?” Yoona tersenyum penuh arti.

“Aku masih ingin bekerja, Joonmyeon memang memberiku uang. Bahkan dia telah memperingati beberapa kali agar beristirahat di rumah. Tapi aku tidak mau,”

Yuri meletakkan gelasnya. “Kenapa?”

“Entahlah,” Yoona menguap pelan. “Melihat anak kecil di sini, membuat hatiku tenang. Bahkan aku ingin sekali memiliki anak seperti Joya. Kau tahu anak itu ‘kan?”

“Ah iya aku tahu.” Yuri mengangguk mengiyakan. Kemudian melanjutkan kegiatan makan siangnya.

“Bagaimana?”

Kegiatan Yuri kembali terhenti. Gadis itu mendongak. Menatap Yoona dengan penuh tanda tanya. “Apanya yang bagaimana, Yoong?” Yoona mendekat. Dengan seringai aneh yang menyebalkan‒bagi Yuri.

“Malam pertamamu.”

Yuri menyemburkan air yang baru saja diminumnya. Untungnya, tidak mengenai wajah cantik Yoona. Yoona terkejut. Jangan Yoona, Yuri saja terkejut. “Ya! Kau hampir mengenaiku!” gerutu Yoona.

Ya! Bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu di sekolah? Kalau ada anak kecil yang mendengar, aku malu Yoong.” Yoona meringis pelan.

“Untuk apa malu? Lagipula kau itu pengantin baru, Yul.”

Yuri mendesah pelan. Sesuatu dalam perkataan Yoona mengganggunya. “Walaupun kami pengantin baru, tapi tidak terasa seperti itu. Kau tahu Yoong? Kami dijodohkan, seingatku aku sudah memberitahumu jauh-jauh hari.”

“Hmm, kalau begitu setidaknya kalian bisa berteman. Kau bisa mengajaknya dengan alasan seperti it‒”

“Sudah.” Yuri menatap Yoona aneh. “Bahkan sebelum aku pergi ke sini, Yoong.”

Yoona terdiam. Menatap sahabatnya tidak mengerti. “Buatlah ajakan yang lebih menarik, seperti timbal-balik atau apapun itu. Ah! Sudahlah Yul, aku harus pulang. Joonmyeon sudah menungguku.”

Yuri menatap keluar jendela. Ia melihat sedan mewah Joonmyeon terparkir rapi di lahan parkir. Kim Joonmyeon berasal dari kalangan atas. Tidak heran bila banyak orang yang telah mendengar namanya di berbagai situasi. Dan beruntung pula sosok Yoona yang mampu menamatkan dirinya dalam hati Joonmyeon. Siapapun akan sangat senang bila menjadi sosok Yoona saat ini.

Ketika Yoona dan Joonmyeon melambai, Yuri membalasnya. Dengan seutas senyum tipis, serta sebuah pemikiran aneh. Inginnya gadis itu memiliki keluarga kecil yang bahagia seperti Yoona dan Joonmyeon. Namun, sepertinya keinginannya tidak terkabul dengan baik. Ia menikah dengan seorang pemuda asing. Tidak pernah mengetahui, bahkan mengenal.

Akan tetapi, sejak hari pernikahannya, gadis itu memutuskan suatu hal baru.

“Aku tahu ajakan baru yang akan berhasil.”

Sehun berada di rumah‒barunya. Waktu istirahat makan siang, biasanya pemuda itu akan sangat senang. Untuk kali ini‒bahkan seterusnya, Sehun tidak mampu meletakkan kesenangannya lagi. Jung Chaeyeon. Nama itu akan selalu melekat dalam benak Sehun. Makan siang bersama Sehun. Hal yang paling bermakna serta menyenangkan. Tidak dapat dipungkiri, Sehun begitu mencintai Chaeyeon.

Pemuda itu tidak tahu harus berbuat apa, maka Sehun memutuskan untuk berkeliling rumah sejenak. Semalam, pemuda itu langsung terlelap karena kelelahan. Resepsi pernikahannya dengan guru muda itu cukup menguras tenaga.

Sehun menilik ke arah nakas di samping tempat tidur. Terdapat sebuah buku agenda berukuran sedang dengan sampul merah muda dan stiker Mickey Mouse. Diam-diam Sehun tersenyum. Menyadari betapa kekanakannya istrinya itu. Istri? Entahlah, lidah Sehun kelu mengatakan hal tersebut.

Ia tertarik untuk melihat buku agenda tersebut. Pada halaman awal, tertuliskan biodata singkat gadis itu. Dimulai dari nama, tanggal lahir, alamat, cita-cita, dan yang terakhir‒beberapa hal yang disukai.

Latte, pink-mouse-addicted!
Yulk.
Dancing till the end
BTS-VKookMinJinYoonHopeMon
ARMY & Starlight!

Sehun berdecih. “Dia fangirl, menarik.” Halaman kedua, berupa halaman yang berisikan jadwal mengajarnya di taman kanak-kanak. Pemuda itu mengamati jadwal tersebut dengan seksama.

“Senin?” Sehun berjengit. “Satu lebih lima belas?” Netranya beralih pada jam dinding yang suara detikannya mendominasi ruangan. Sehun memejamkan mata perlahan, kemudian mengambil jaket beserta kunci mobil.

Tidak salah bila sang suami hendak menjemput sang istri bukan?

Yuri menuai langkah keluar sekolah. Saat berada di luar pintu, gadis itu berpapasan dengan pemilik sekolah. Yuri menunduk hormat. Ia mendapat ucapan selamat lagi dari Yong Hyorin‒pemilik sekolah yang usianya lebih tua dari Yuri tujuh tahun.

“Seharusnya kau tidak bekerja, Yul.”

Yuri tersenyum tipis. “Tidak eonnie, aku senang sekali bisa kembali bekerja. Lagipula suamiku mengijinkanku.”

“Kenapa aku tidak merasa seperti itu ya?” Hyorin menatap Yuri dengan seringai aneh.

“Maksud eonnie?”

Hyorin mengarahkan dagunya ke area lahan parkir. Mengerti bahwa wanita itu menunjuk ke suatu hal, Yuri menoleh.

Deg

Ada suatu hal yang membuat Yuri senang kali ini. Ribuan kupu-kupu telah bertebrangan dengan indahnya dalam benak gadis itu. Darahnya berdesir pelan. Menciptakan sebuah perasaan yang luar biasa indah. Baru kali ini pula, gadis itu mendapatkan hal seperti ini.

Sehun.

Dengan mobil hitamnya, pemuda itu bersandar. Mengenakan kacamata hitam. Tidak lupa dengan headset yang bertengger manis pada daun telinganya. Pemuda itu tertunduk sejenak. Mungkin sadar akan betapa lamanya sang istri yang akan keluar.

(Pict 1)

Setelah berpamitan dengan Hyorin, Yuri menghampiri suaminya. “Sehun,”

Pemuda itu melepas headset-nya sesegera mungkin. Yuri tersenyum manis. Yang sedikitnya mampu membius Sehun selama beberapa detik. Sehun berdeham. Membukakan pintu kursi di samping kemudi. Yuri tidak kunjung berjalan. Gadis itu menatap Sehun dengan gurat keheranan.

“Masuklah!”

“Huh‒Oh iya,”

Yuri menatap seraut tampan di hadapannya cukup senang. Kendati melupakn makan siangnya yang masih utuh. Sikap Sehun yang cukup mengejutkan di hari pertama mereka menjalani hidup sebagai sepasang suami-istri. Di luar dugaan gadis itu, tentunya. Sehun nampak menikmati makan siangnya. Berbeda dengan Yuri yang lebih menikmati wajah tampan Sehun.

“Kau tidak makan?”

“Eh?” Yuri tersadar, Sehun mendapatinya sedang melamun. “Aku akan makan sedikit, aku baru saja makan bersama dengan temanku.” Sehun mengangguk menanggapi. Sementara Yuri mulai melahap makanannya perlahan. Ketahuilah bahwa perutnya sudah terisi penuh.

“Kalau begitu, kita bungkus saja nanti.”

“Eh‒iya.”

Yuri meneguk jus jeruknya. Di tatap kembali Sehun yang kini hendak memasang headset-nya. Sebelum itu, Yuri teringat dengan suatu hal yang harus ia katakan kepada Sehun.

“Tunggu, Hun!”

Sehun terdiam. Panggilan singkatnya. Kini kembali terdengar. Panggilan yang biasanya diucapkan dari bibir Jung Chaeyeon. Namun tidak untuk kali ini. Melainkan dari bibir istrinya sendiri. Raut wajah pemuda itu berubah. Seolah tidak tertarik lagi dengan hidup.

“Apa?!” Sehun kesal. Suasana hatinya menurun drastis. Sedangkan Yuri terheran dengan raut wajah Sehun saat ini.

“Hmm‒tentang ajakan yang tepat, bagaimana kalau kita bekerja sama? Bukankah itu lebih baik? Kita bekerja sama di depan orang tua kita, setelahnya kita berteman seperti biasa.” Sehun meletakkan garpu yang telah dililit oleh spageti pesanannya. Kernyitan pada dahinya menunjukkan sesuatu yang baru saja terdengar aneh.

“Kau yakin, maksudku‒sepertinya itu juga bukan ajakan yang baik. Kau dan aku, status kita berbeda. Melakukan sesuatu yang terdengar aneh bagi pasutri, sepertinya kau tidak memikirkan status kita saat ini, nona Kwon.”

Yuri terdiam. Ia tidak salah mendengar, dan yakin bahwa pendengarannya dalam keadaan sangat baik. Oh Sehun. Si dingin yang awalnya menolak perjodohan justru menyinggung masalah status sebagai pasutri? Sepertinya hari ini, arwah Sehun berada di ambang-ambang.

“Hun kau‒”

“Jangan panggil aku seperti itu!”

Yuri tersentak. Nampaknya suasana hati Sehun akan menurun bila terpanggil dengan nama tersebut. Dan Yuri, ia percaya bahwa panggilan tersebut memiliki kesan tersendiri dalam benak Sehun.

“Baiklah, tapi…” Yuri terdengar ragu.

“…apa kau tidak berencana untuk menceraikanku setelah ini?”

­-

Sehun hanyalah seorang pemuda yang tidak mengerti apa arti pernikahan sesungguhnya. Meski begitu, ia pernah berjanji bahwa tidak akan bercerai ketika telah terikat dengan yang namanya pernikahan. Mendengar pertanyaan Yuri siang tadi, Sehun merenung. Kemungkinan besar, bila ia menceraikan Yuri, ia akan bersama dengan Chaeyeon lagi. Merajut kasih dan bahagia tanpa adanya masalah.

Akan tetapi, ia tidak tahu bagaimana reaksi kedua orang tuanya. Bercerai? Sungguh Sehun tidak berniat untuk melakukan hal tersebut. Sebuah perjodohan memang mengerikan, membuat siapapun ingin mengakhiri pernikahan tersebut dalam sebuah perceraian.

Pintu kamar terbuka, menampakkan Yuri dalam balutan baju tidur. Sehun tersenyum tipis, mengamati Yuri yang kini mengeringkan rambut. Yuri memang cantik, pintar dan ramah. Hanya saja, usia mereka terpaut cukup jauh. Membuat Sehun cukup gusar dalam hal mencintai. Terebih dengan status mereka saat ini.

“Yul‒” Meski semalam keduanya berusaha mendekatkan diri dengan panggilan yang lebih nyaman. Tetap saja Sehun merasa asing. Begitu juga dengan Yuri. “Untuk pertanyaanmu tadi, kita lihat saja perkembangannya.”

Dan Yuri dibuat bingung oleh jawaban Sehun yang sama sekali diluar dugaan.

Hari demi hari kian berlalu. Bahkan bulan keempat dalam satu tahun telah menyapa. Yuri tersenyum manis, selagi menunggu suaminya menjemput. Sesekali berbincang dengan satu atau dua murid taman kanak-kanak yang menunggu.

Akhir-akhir ini, Yuri merasa bahwa perhatian Sehun kian lama kian aneh. Pemuda itu menjadi lebih dingin, lebih tidak peduli. Rasanya, gadis itupun hendak kembali pada saat mereka baru saja menikah. Di saat Sehun masih bisa tersenyum dan menyapanya. Bahkan mengingatkan tentang makan siang di kantor.

Tetapi, sekarang?

Bagaikan kutub utara.

Meski begitu, Yuri akan tetap melakukan hal yang satu bulan lalu telah ia pikir sebaik mungkin. Dan yang ditunggu-tunggu, hari ini.

“Kenapa aku harus membuat janji dengan suamiku sendiri? Ya Tuhan, cobaan apa ini?” Yuri menggerutu setelah mendapatkan penuturan Sehun mengenai ajakan pergi ke suatu tempat malam ini. Suaminya itu memang sibuk, sangat bahkan. Menjadi seorang presdir baru bukanlah hal yang muda. Belum pula dengan wawasannya mengenai bisnis. Seharusnya pemuda itupun akan sempurna dalam bidang wawasan apabila tidak terjadi sebuah perjodohan. Dan mengingat hal tersebut, Yuri merasa bersalah. Sedikit‒tapi.

Sehun menerima telepon‒entah dari siapa. Yuri tidak peduli. Ia merasa kesal karena sikap suaminya yang terlalu dingin dan kaku. Sehun memang tidak menyukai Yuri, hanya saja tidakkah pemuda itu ingin menghargai Yuri meski sedikit? Yuri manusia, perempuan. Memiliki hati yang rapuh merupakan ciri-ciri perempuan yang paling umum. Tidakkah Sehun sadar bahwa perbuatannya bisa menghancurkan hidup gadis itu seketika?

“Sepertinya aku bisa pergi malam ini,”

Mendengar hal tersebut Yuri melebarkan matanya. Senang. Tentu saja ia sangat senang. Pada akhirnya Sehun menerima ajakan gadis itu untuk pergi.

“Baiklah, pukul tujuh nanti. Kita pergi, Hun.”

Yuri telah bersiap dengan dress merah mudanya. Sedangkan Sehun hanya mengenakan kemeja biru dan celana hitam. Yuri merutuki ketampanan Sehun dalam perjalanan. Demi Tuhan, Yuri berani bertaruh demi apapun bahwa Sehun sangat tampan. Suami tampan. Suami idaman Yuri.

“Kenapa kita ke sini?”

Sehun meneroka melalui pandangan. Interior dari restoran berbintang yang mereka datangi sangatlah menakjubkan. Dan yang paling mengherankan, mengapa Yuri bersikeras untuk mengajak pemuda itu datang ke tempat ini?

“Yul, aku tidak menyuruhmu untuk menghambur-hamburkan uang.”

“Aku tahu.” Sehun diam. Mengikuti Yuri yang beranjak ke lantai dua. Yuri tidak mampu menahan senyumnya sedari tadi. Meski sesuatu yang menyedihkan akan terjadi. Sorot matanya menunjukkan sisi senang dan sedih secara bersamaan.

“Apa yang‒astaga, bahkan kau memesan meja ini dengan namaku.”

Yuri mengerucut kesal. “Sudahlah, aku hanya meminjam namamu sebentar saja. Suamiku,”

Sehun terdiam. Panggilan yang tidak pernah ia dengar dari bibir seorang Kwon Yuri. Tiba-tiba saja, seseorang berbisik di telinga Yuri dan membuat senyum gadis itu merekah. Senyum manis yang tidak pernah Sehun lihat.

Sehun tertegun. Meski gadis itu tersenyum manis, namun sesuatu nampak berbeda.

“Tunggu di sini saja, Hun.”

Pemuda itu menurut. Membiarkan Yuri menuai langkah ke panggung kecil yang berada di dtengah-tengah taman kecil. Yuri tersenyum penuh arti. Sementara Sehun masih menerka-nerka apa yang akan Yuri lakukan.

Gadis itu mengambil gitar yang telah disediakan. Ia duduk. Dengan sebuah mikrofon, gadis itu nampak menahan sesuatu.

“Untuk, suamiku. Oh Sehun. Yang berulang tahun hari ini.”

Sehun terhenyak. Hari ini. Ulang tahun? Kenapa gadis itu tahu?

 

‘I feel like i’m losing you, it’s driving me crazy
Please hold on to me, please find me now
I don’t want to be trapped inside scattered memories
Don’t leave me alone, i want to find me that is yours only’

 

Yuri menjeda sejenak. Membiarkan gadis itu bernapas dengan baik. Entah mengapa, air mata gadis itu perlahan jatuh. Yang membuat Sehun tidak tega melihat istrinya menangis.

 

‘I went breathless, the moment i saw you
You stole my heart, take everything in my heart
Things became clear as soon as i saw you
Light filled my heart, let me show you from my heart’

 

Yuri terisak pelan. Menyeka air mata. Menatap Sehun penuh arti.

“Happy birthday, Oh Sehun.”

Sehun tersenyum. Senyum yang tidak pernah dilihat oleh orang lain. Termasuk Jung Chaeyeon dulu. Yuri terperangah. Baru kali ini ia mendapatkan senyum seperti itu dari Oh Sehun. Hati Yuri bergetar. Mengapa di saat perpisahan akan datang, gadis itu mendapatkan hal sebaik ini.

“Selamat‒”

Sehun memeluknya. Membawa gadis itu kedalam pelukan hangat seorang Oh Sehun. Yuri tersenyum. Membalas pelukan Sehun.

“Mari bercerai, Hun.”

“Apa?”

Yuri menepis air matanya. “Perkembangan yang kau maksud itu, tidak ada Hun. Lebih baik kita bercerai saja, bahkan sikapmu kepadaku selama ini menunjukkan yang sebenarnya.”

“Apa? Tidak Yul, kau salah paham.”

“Salah paham apa? Sikapmu selama ini membuatku lelah, Hun. Dan sekarang aku tahu, kau masih mencintai gadis itu ‘kan? Jung Chaeyeon? Benar ‘kan? Daripada pernikahan ini terasa hambar, lebih baik kita bercerai. Aku ingin kita bercerai, Oh Sehun. Tidakkah kau sadar bah‒”

Yuri membulatkan kedua matanya. Sebuah kejadian yang tidak ia duga.

Sehun menciumnya. Menciumnya tepat di bibir dengan lumatan kecil yang memabukkan. Yuri tidak membalas. Pikirannya tidak berjalan dengan baik. Bahkan ia berpikir, apakah ini nyata atau tidak.

Merasa cukup, Sehun melepaskan ciumannya.

Yuri tertunduk. Cukup malu dengan perkataan sebelumnya.

“Masih ingin bercerai, Yul?”

Yuri mendongak. Menatap seraut tampan suaminya yang sangat mempesona. Yuri mengulum bibirnya pelan. “Kau, kenapa kau membuatku seperti ini? Hun,” Sehun tersenyum penuh arti, selagi menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya.

“Maafkan sikap dinginku selama ini, Yul. Aku memiliki maksud tertentu.” Yuri menyerngit dalam rengkuhan Sehun. “Kupikir, ketika aku jauh darimu, maka aku tidak akan menyukaimu dan kembali menyukai Chaeyeon. Tapi, kau tahu?”

Pelukan terlepas, membuat Yuri sedikit kecewa namun penasaran dengan perkataan Sehun.

“Semakin aku jauh, aku sadar bahwa aku semakin merindukanmu. Aku akan menghapus semua rasa suka yang masih tersisa pada Jung Chaeyeon, dan aku akan memulai semuanya. Bersamamu. Istriku, Oh Yuri.”

Wajah manis Kwon Yuri telah memerah. Andai siang hari, Sehun akan mendapati rona merah luar biasa tersebut. Yuri menunduk, melayangkan beberapa pukulan ringan pada dada bidangnya.

“Lucunya, istriku ini. Malu huh?

Yuri tersenyum. Menatap suaminya lamat.

“Aku mencintaimu, Kwon Yuri.”

“Aku juga mencintaimu, Oh Sehun.”

Dan malam itu, menjadi malam terindah dari rumah tangga mereka. Yang bertepatan pada ulang tahun Sehun.

END

Ultahnya kapan, postnya kapan? :v
ya maaf, nggak tahunya bulan april dan mei menjadi bulan yang paling sibuk dalam tahun ini,

Semoga suka,

Bye~ ©Firda©

Advertisements

9 thoughts on “[Special Sehun’s Birthday] Start & Reset (Oneshoot)

  1. Aku kira sehun bakalan iya-in ajakan yuri buat cerai ternyata jeng jengggg 😀 kabar baiknya sehun gak bakal cerai-in yuri karena udah mulai punya perasaan ke yuri

    Liked by 1 person

  2. Suka bgt thorrrrrr 😘😘😘 pliss thor butuh sequel 🙏🙏🙏🙏
    Keren bgt ff nya coba kalo dibuat chapter pasti makin gimana gtu hahaha 😂😂
    Sehun sweet bgt sih tapi yuleon juga ga kalah sweet sih hahaha 😂
    Pokok nya suka bgt ama ff ini meskipun awalnya yg agak dingin” gimana gtu tapi ending nya toppp abisss dah
    Sequel ya pliissss 🙏🙏🙏🙏🙏
    Ditunggu next ff ya thor
    Fighting 💪💪💪

    Like

  3. Aku pikir sehun bakal balik sama chayeon .Tpi akhirnya sehun mulai sadar jga kalau dia nggak bisa jauh dari yul please sequel eonni

    Like

  4. Iniiii. Suka suka sukaaa
    akhirnya sehun luluh dg sejuta keistimewaan yuri hihi
    dan, trima kasih loh jung , karena kamu jadi bhan percobaan. Emm mksdnya
    tjuan sehun apakah dia akan menyukai nona jung lagi atau… Dan yah, jawabannya, inces kwon dong yg menang wkwk

    Like

  5. Ohhh jadi kejadian ini yg yuri tunggu selama 1bulan js dia mau bercerai sama sehun…tpi syukur deh g jadi..diblik sikap dingin sehun ternyata diam” dia sudah merasakan cinta mulai tumbuh …ohhh yuri sweet juga y…heheh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s