I Just Wanna Make You Love Me (Chapter 3)

I Just Wanna Make You Love Me

Dear,
Kwon Yuri , Oh Sehun , Kim Jongin

Little,
HelloVenus’s Lee Yooyoung, OC’s Park Cheonsa

Cover,
Carissa Art @ High School Graphics

Story,
pure mine

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

HAPPY READING

“Aku bersungguh-sungguh,”

Sepandai-pandainya Yuri berpikir, baru kali ini gadis itu tidak baik dalam berpikir. Mengadakan double date bersama dengan Jongin, salah satu harapan Yuri yang terpenuhi. Namun siapa sangka bahwa Sehun adalah kekasih dari sosok Park Cheonsa. Hal tersebut mengingatkan Yuri pada kejadian tempo hari. Di saat ia mengetahui bahwa Sehun merupakan tetangganya.

Yuri menatap Cheonsa dari atas hingga bawah. Berbeda dengan yang dipikirkannya, Park Cheonsa jelas berbeda dengan mantan kekasih Sehun yang bernama Yong Hyorin. Cheonsa terlihat elegan, berpakaian selayaknya seorang gadis dan senyum manisnya mampu menghipnotis setiap orang. Tidak salah jika Sehun mendapatkan gadis seperti Cheonsa.

Tersadar dengan siapa ia di sini, Yuri melirik ke arah Jongin. Yuri terdiam. Ia mendapati suatu hal yang cukup aneh. Tidak, bahkan bagi Yuri yang dilihatnya sudah lebih dari aneh. Kehadiran Sehun secara tidak terduga dan,

Tatapan Jongin kepada Cheonsa.

Yuri membasuh wajahnya kasar. Bercermin diiringi gerutuan membahana merupakan hal selanjutnya. Double date yang ia bayangkan berubah total. Namanya bukan double date lagi, tetapi date. Hanya date saja. Ia pikir, Jongin benar-benar merencanakan double date yang romantis seperti perkiraan. Namun, ia salah.

Justru yang nampak, tatapan Jongin seutuhnya tertuju pada sosok Park Cheonsa. Begitu juga dengan sosok Cheonsa. Satu hal lagi yang Yuri ketahui dari bahasa isyarat Sehun saat itu, Cheonsa merupakan mantan kekasih Jongin. Yuri berasumsi, keduanya akan kembali menjalin hubungan setelah ini.

“Jongin sialan! Seharusnya aku tidak menyukaimu dari dulu,”

Yuri kembali membasuh wajahnya. Ia tidak peduli dengan riasan tipis yang telah ia atur sedemikian cantik hanya untuk malam ini. Ia membenci Kim Jongin. Mulai detik ini, ia membenci sosok Kim Jongin melebihi apapun.

Setelah Yuri mengeringkan tangannya dengan tisu, gadis itu melangkah keluar. Betapa terkejutnya ketika seorang pemuda tinggi berada tepat di samping pintu toilet perempuan. Pemuda itu bersandar dengan tangan terlipat.

“Se-Sehun?”

Sehun menoleh. Mendapati Yuri dengan raut bingungnya. “Aku melihatmu jenuh, sama denganku. Kau pikir, siapa yang akan bertahan lama dalam keadaan seperti itu?” Yuri tertunduk pelan. Yang Sehun katakan memang benar. Sepertinya hanya orang bodoh yang akan senantiasa bertahan dengan semua itu.

“Bisa kita pergi ke suatu tempat? Aku bosan,”

Yuri mendongak, “Ye?”

Acap kali gadis itu berpikir, maka fantasi aneh akan mendatanginya. Seperti halnya, ketika gadis itu berpikir mengenai ajakan Sehun. Yuri berfantasi, Sehun akan membawanya ke suatu tempat yang cukup romantis. Nyatanya, justru ia terdampar di taman hiburan bersama dengan si dingin Sehun. Yuri melempar pandang, tidak tertarik untuk saat ini.

“Apa tidak ada tempat yang lebih baik di pikiranmu selain ini?”

Yuri mencibir pelan. Sehun tersenyum timpang, “Tidak, bagiku ini lebih baik.” Yuri tidak ragu untuk mengucapkan sumpah serapahnya jika diperbolehkan. Namun, gadis itu tahu tempat.

“Oiya, sebenarnya kita belum cukup saling mengenal. Perkenalkan, namaku Kwon Yuri. Kau bisa memanggilku Yuri, dan catatan! Aku bukan kekasih dari seorang Kim Jongin,” Yuri menekankan kalimat terakhir. Tangan kanannya terulur untuk menjabat tangan Sehun. Yang barangkali pula Sehun akan membalas uluran tangannya.

Sehun menatap tangan kanan Yuri dengan satu alis meliuk. Melihat reaksi Sehun‒yang nampaknya enggan untuk berjabat, Yuri menurunkan tangannya. Malu.

“Aku Sehun, Oh Sehun.”

“Iya aku tahu.”

Sehun mengembuskan napasnya. “Nampaknya aku cukup terkenal,”

“Iya, mungkin saja.” Ucap Yuri malas. Kemudian, ia teringat akan sesuatu. Yuri menghentikan langkahnya. Dengan telunjuk yang menyentuh bibirnya gemas, Yuri menyusun kata-kata.

Menyadari teman barunya‒Yuri tidak kunjung berjalan, Sehun menoleh. Mendapati Yuri dengan wajah anehnya. Pada kening pemuda itu tercipta guratan-guratan halus. “Ada apa, Yuri? Lebih baik kau melamun di toko gulali daripada berada di tengah kerumunan,”

Yuri tersentak. Terlalu larut dalam pemikirannya, Yuri melupakan fakta bahwa ia sedang berada di tengah kerumunan orang. Yuri meringis pelan.

Hmm, boleh aku bertanya?”

Sehun mengendikkan bahunya, “Sesukamu saja,” Yuri tersenyum aneh. Kedua telapak tangannya saling bergosokan. Ragu sejenak.

“Jadi, apa kau ingat saat aku melihatmu di depan pintu apartemenmu itu?”

Sehun mengangguk, “Tentu saja.”

“Sebenarnya, aku baru saja mengetahuimu berada di gedung yang sama denganku dan di lantai yang sama. Itupun karena…” Yuri menggigit bibir bawahnya.

“Karena…???” Sehun menanti kelanjutannya.

“Itu karena aku,” Yuri melanjutkan. “Aku mengikuti mantan kekasihmu yang bernama Yong Hyorin itu.”

Sehun berjengit, “Kau mengikuti Yong Hyorin?”

“Iya, maaf karena aku kurang sopan. Tapi, hanya kalian yang menjadi hiburanku satu-satunya saat itu. Jadi ketika kalian pergi, aku mengikuti Hyorin yang sedang mengikutimu. Tapi, ada yang aneh dari kata-kata gadis itu saat aku mengikutinya,” Yuri tahu, apa yang berada di pikirannya nampak keterlaluan. Gadis itu hanya ingin berkata jujur.

Seperti yang diperkirakan, Sehun akan sangat penasaran dengan kelanjutan dari perkataan Yuri. “Apa yang dia katakan? Apa dia, mengatakan hal-hal aneh atau sebagainya?”

Kali ini, ijinkan Yuri untuk meneruskannya. Yuri mengangguk. “Iya. Ia berkata bahwa kau telah‒maafkan aku yang tidak sopan ini. Maafkan aku!” Yuri membungkuk meminta maaf. Membuat Sehun semakin bingung, dan tatapan beberapa pasang mata mengarah sejenak ke arahnya.

“Iya aku memaafkanmu, tapi apa yang dikatakannya?”

Yuri kembali tegap, “Dia berkata bahwa kau telah memperkosanya…” Yuri memelankan suaranya di akhir kalimat. Sehun membulatkan kedua netranya. Terkejut mendengar perkataan Yuri.

Hh, sepertinya aku tidak perlu memberitahumu mengenai itu.” Ketegangan yang muncul pada wajah gadis itupun sirna. Tergantikan oleh wajah kecewa‒yang entah mengapa tercipta dengan sendirinya. Si tampan Oh Sehun yang menjadi idola banyak orang, memperkosa‒bukan! Meniduri gadis di pub.

“Lalu, apa hubunganmu dengan Jongin?”

Yuri tersadar, “Ah itu, tidak… Kami hanya berteman, dia menawariku double date. Pasti sebagai alasan agar ia bisa bertemu dengan mantan kekasihnya lagi.” Sesungguhnya Yuri meletakkan murkanya pada sosok Kim Jongin sekarang ini. Sekalipun gadis itu mendengar sebuah pernyataan yang cukup aneh dari Oh Sehun, namun murka gadis itu senantiasa tertuju kepada Kim Jongin.

“Kau? Apa hubunganmu dengan Cheonsa? Kau tahu? Dia cantik dan ramah, dari dulu aku ingin sekali menjadi orang seperti itu.” Yuri bertanya seraya menilik ke angan-angannya dulu.

Sehun lagi-lagi tersenyum timpang. Sembari mengedar pandang, pemuda itu memikirkan pertemuannya dengan Cheonsa tempo hari. “Kami juga berteman. Aku, Jongin dan Cheonsa. Kami teman bermain basket sedari dulu. Janji mengenai tape baru, aku menyetujui ajakannya.”

“Kau menyetujui ajakan teman bermainmu hanya karena tape baru? Yang benar saja, teman macam apa yang berani bersikap seperti itu.” Yuri mencibir.

“Buktinya, aku menerima imbalannya dengan senang hati sore tadi.” Sehun tidak peduli dengan penilaian Yuri terhadapnya. Ia hanya peduli mengenai imbalan yang baru saja ia terima. Tape terbaru, yang mampu membantunya dalam menari.

Yuri mendegus kesal. Ia lelah. Sedari tadi gadis itu hanya berjalan dan memperhatikan wahana-wahana unik tanpa minat. Menyadari tatapan Yuri yang kini meneroka, terlintas sebuah pertanyaan.

“Apa taman hiburan sangat membosankan?”

Yuri menoleh, “Hmm? Begitulah,”

“Kenapa?”

“Aku memiliki masa kecil yang menyedihkan di sini. Ketika kedua orang tuaku meninggal saat menaiki roller coaster. Saat itu aku bersama dengan Yoona. Kami menunggu di bawah, setelah kejadian tragis itu terjadi, seorang anak laki-laki datang menghampiriku. Menenangkanku dari kesedihan, tapi nyatanya, aku tidak bisa tenang hanya dengan elusan halus dan kata-kata penenang seperti itu. Sampai saat ini, aku masih mengingatnya dengan baik.” Sehun menghentikan langkahnya. Ia mendapati Yuri menatap wahana yang berada di depannya dengan setetes air mata yang terjatuh.

Sehun menatap ke arah roller coaster. Antrian panjang, serta histeria para penumpang. “Maaf, kenapa aku harus menceritakan ini kepadamu? Aku keterlaluan ya? Maafkan aku, aku hanya teringat dengan masa laluku.”

“Tidak masalah.” Sehun menenggelamkan kedua tangannya pada saku celana. “Semua orang patut bersedih. Tidak ada orang yang benar-benar merasakan kebahagiaan pada masa lalunya.”

Yuri menepis air matanya.

“Ayo pulang!”

Hh?

Sekiranya Yuri hanya mampu bermimpi. Maka, benarkah semalam ia hanya bermimpi atau merupakan sebuah kenyataan? Ia pulang bersama dengan Oh Sehun. Bodohnya, Yuri menceritakan masa lalu kelamnya kepada Sehun. Sehun hanyalah orang asing yang baru saja ia ketahui melalui nama. Kendati demikian, emosi Yuri mengalir saat itu juga. Seolah membiarkan sosok Oh Sehun mengetahui masa lalu Yuri. Perihal kebencian Yuri mengenai taman hiburan dan seluk beluknya.

Begitu juga dengan sikap arrogant Sehun yang berubah. Menurutnya, Sehun menjadi pendengar yang baik dan tidak salah bila dijadikan tempat mencurahkan hati. Semalam, baginya Sehun sudah lebih dari Yoona. Sehun yang diyakini sebagai pemuda arrogant berubah dalam sekejap. Semalam.

Hari libur. Maka Yuri memutuskan untuk berdiam diri di atas tempat tidur sembari melihat-lihat video dance terbaru dari sang idola. Yuri baru saja terjaga, lima belas menit melewati pukul delapan pagi. Bangun di waktu yang lambat merupakan kegiatan utama Yuri di hari libur.

Merasa aroma tubuhnya cukup buruk, gadis itu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Membersihkan badan terasa lebih baik bila dilakukan. Bel apartemennya berbunyi, menunda rajutan langkah yang mengarah ke kamar mandi. Yuri berdecak kesal, haruskah seseorang bertamu disaat seperti ini?

Tanpa melihat dari interkom, Yuri membuka pintu. Kedua netranya memalas ketika mendapati keberadaan Kim Jongin. Jongin membawa setangkai mawar merah. Ekspresi wajahnya pun tidak lebih baik dari semalam.

“Ada apa?” tanya gadis itu.

Jongin tersenyum manis, berusaha menarik minat Yuri kembali‒mungkin. Yuri berupaya untuk memperkokoh dinding pertahanannya. Setelah yang Kim Jongin lakukan semalam, membuat hati kecilnya tersadar. Kim Jongin bukanlah sosok yang pantas menjadi cintanya untuk saat ini maupun seterusnya.

“Maaf…” Yuri menarik satu alisnya. Tidak tahu-menahu mengenai kata ‘maaf’ yang Kim Jongin katakan. “Maaf karena membuatmu kecewa semalam, aku hanya terlalu larut dalam percakapan yang Cheonsa ciptakan. Maaf membuatmu harus pulang bersama dengan Sehun.”

Well‒Yuri ingin sekali melempari Jongin dengan kaus kaki miliknya. Kim Jongin terlalu pandai dalam memalsukan raut wajah. Jangan heran bila Yuri hampir luluh dengan wajah tampan Jongin yang melembut saat ini. Namun sekali membenci, Yuri tidak akan menepis kebencian tersebut secara percuma. Ia memutuskan, ia membenci sosok Jongin.

“Aku juga minta maaf Jongin,” Jongin menatap ragu. Yuri memejamkan mata sejenak, lalu melanjutkan perkataannya. “Maaf karena aku telah membencimu.”

“Maaf Yuri, aku berani bersumpah bahwa aku tidak mengetahui siapa mantan kekasih Jongin. Dan baiklah, mulai sekarang aku tidak akan mempertemukanmu dengan Jongin lagi. Tapi, siapa yang saat ini kau sukai?” Yuri menatap Yoona tidak percaya. Yoona bertanya seolah gadis itu menyukai semua orang tanpa henti.

Yuri meletakkan yoghurt-nya, menghunuskan tatapan tidak suka kepada Yoona. “Kau pikir aku ini apa? Menyukai semua orang begitu? Kenapa pertanyaanmu seperti itu? Baiklah, aku menyukai Joonmyeon, apa yang ingin kau lakukan huh?

Ya! Yuri!” Yoona memprotes. “Aku akan menghancurkanmu jika kau menyukai Joonmyeon.”

“Baiklah Yoona, tidak mungkin aku menyukai kekasih temanku sendiri. Tapi kenapa kau bertanya seperti itu?”

Yoona tahu, Yuri berada di ambang keputus-asaan. Double date yang gadis itu harapkan tidak berjalan sesuai ekspetasi. Yoona tidak mengerti, sebenarnya gerangan apa yang berada pada diri seorang Kwon Yuri.

Yuri merasa, dunianya hampir runtuh ketika sosok Jongin tiba di ambang kantin. Dengan senyum merekah serta gaya berjalannya yang kharismatik membuat sebagian gadis menilik ke arah pemuda tersebut. Tidak terkecuali Yuri. Gadis itu teringat mengenai kejadian minggu pagi. Ketika Jongin bertamu ke apartemennya hanya untuk meminta maaf. Yuri tahu, permintamaafan yang Jongin ucapakan tidak sepenuhnya berasal dari hati.

Suatu hal membuat Yuri hampir terlonjak dari tempatnya, yakni Jongin berjalan ke arahnya. Dengan senyum merekah yang pernah Yuri dambakan. Tidak! Yuri harus menyakinkan dirinya bahwa ia membenci Jongin. Bukankah kemarin ia telah mengatakan bahwa ia telah membenci Jongin? Lantas untuk apa Yuri terlihat bingung ketika Jongin berjalan ke arahnya?

Yuri berdeham. Yoona mendapati iris kecoklatan Yuri yang bergeser ke kanan. Yoona mengedar. Mencari objek yang sukses membuat Yuri salah tingkah. Yoona mendegus kesal. Ia mendapati objek yang mampu membuat Yuri bertingkah seperti ini. Kim Jongin. Objek tersebut ialah Kim Jongin.

“Yoona, kau harus mengajakku berbicara.” Yuri berseru dengan nada pelan.

“Kita sudah berbicara Yuri,” Yoona hanya mampu mengikuti alur yang Yuri inginkan.

Ketika sosok Jongin semakin dekat, Yuri berusaha menciptakan sebuah konversasi kecil antara dirinya dengan Yoona. Kim Jongin melangkah pasti, tepat dari arah belakang Yoona.

Dan kemudian,

“Hai Kinan!”

Bahu Yuri melemas. Menoleh ke arah yang Jongin tuju. Namanya Im Kinan, blasteran ala asia. Pemilik suara merdu, dan tentu saja salah satu primadona selain Yoona. Yoona menatap Yuri kalut. Yuri membalasnya diiringi umpatan. Benar bila ia memutuskan untuk membenci sosok Kim Jongin.

Setelah akhir pekan mengecewakan bersama Park Cheonsa, kini senin pagi menyebalkan bersama Im Kinan. Dapat Yuri jelaskan, Kim Jongin lebih pandai dari yang ia pikir. Pandai dalam menemukan gadis baru disegala situasi. Dan bodohnya, ia hampir terlibat di dalam sisi pandai Jongin tersebut.

“Benarkan? Jongin memang pantas untuk dibenci,”

Yuri tidak peduli dengan ajakan Yoona. Berpulang ke apartemen justru lebih baik bagi raga Yuri yang kelelahan, namun gadis itu enggan untuk menapakkan kaki keluar dari lapangan basket. Ia melampiaskan emosinya secara menyeluruh. Dengan bantuan bola basket kesayangan serta skor yang dicapai. Bila ini sebuah turnamen, Yuri yakin bahwa ia akan memenangkan turnamen tersebut. Sayangnya, tidak.

Bara api emosi telah mengakar. Memberinya desakan lebih kuat untuk mempermainkan bola basket tanpa ragu. Tidak peduli dengan pakaian sekolah yang akan ia kenakan lagi esok hari, yang terpenting emosinya mulai‒sedikit berkurang. Peluh kian menetes, membanjiri tubuhnya pada sore hari ini.

Pukul lima. Sepi. Hanya terdapat beberapa anggota ekstra mading di aula utama. Yoona yang senantiasa menemani kini merasa jenuh. Terlebih, ia memiliki janji untuk bertemu dengan Joonmyeon seusai senja menyising. “Yuri! Aku harus pulang, setelah ini aku harus bertemu dengan Joonmyeon. Kuharap setelah ini, kau akan pulang.”

Deru napas Yuri tidak beraturan. Lebih dari sekedar berlari mengelilingi lapangan. Yuri mendengar derap langkah Yoona yang kian menjauh. Gema lorong sore hari ini membuatnya tersadar. Hatinya yang lelah telah memberikan pengaruh yang lebih terhadap raganya. Yuri menjatuhkan bola basket. Kemudian tubuhnya terduduk pelan. Dedaunan mulai berguguran. Menimbulkan kesan musim gugur menyedihkan yang sedang gadis itu alami.

“Sendiri?”

Yuri terdiam. Ia mengenal pemilik suara yang baru saja menyambangi indera pendengarannya. Gadis itu mendongak. Mengamati sosok pemuda bersurai pirang yang tersenyum timpang.

“Sehun?”

Sehun mengulurkan tangannya. Membantu Yuri berdiri. “Ternyata kau masih mengenaliku,” Yuri menatap uluran tangan Sehun. Tidak lama kemudian, setelah ia menimbang, ia menerima uluran tangan pemuda itu.

“Kau mengganti warna rambutmu?” Sehun mengendikkan bahu pelan.

“Aku tahu ini aneh‒”

“Tampan!” entah karena emosi Yuri yang memuncak atau karena sebuah kepolosan, Yuri berseru cukup lantang. Sukses membuat Sehun terdiam. Yuri menutup mulutnya. Terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan.

Sehun menenggelamkan kedua tangan pada kedua saku celana. Berdeham, seolah memberi penekanan dalam diri Yuri untuk melihat ke arahnya. “Aku tidak suka dipuji nona,”

“Maaf…” Yuri tertunduk pelan, lima detik terlintas sebuah pertanyaan. “Kenapa kau berada di sini?”

“Aku mencari Jongin. Ketika aku tiba di rumahnya, dia tidak ada. Jadi, kupikir ia berada di sekolah. Justru aku menemukanmu di sini,” Yuri mengangguk. Lalu ia kembali menatap Sehun.

“Setelah ini aku akan pulang,”

Sehun terdiam sejenak. “Bersama saja,”

“Jadi begitu, kau pernah menyukai Jongin? Pantas saja kau menerima tawarannya untuk mengikuti double date. Tidak mengherankan, Jongin itu tampan. Dia sahabatku yang paling tampan,” Sehun kembali menyedot bubble tea-nya. Yuri melirik Sehun sekilas. Entah mengapa ia merasa kesal dengan tanggapan Sehun. Melihat Sehun menyedot bubble tea, Yuri melakukan hal yang serupa.

Kini keduanya berjalan dengan bubuhan bubble tea pada salah satu tangan. Senja telah kembali ke peraduannya sekitar lima menit sebelum keduanya membeli bubble tea. Lampu penghias jalan yang indah menyala terang. Membuat malam ini cukup nyaman hanya dengan berjalan kaki.

“Sejak malam itu, aku sangat membenci Jongin. Dia menyebalkan, sangat menyebalkan.” Sehun tidak menampakkan ekspresi lebih. “Dan sekarang aku tidak bisa membuka kotak kedua itu,”

“Apa yang kau katakan?”

Yuri menepis, “Tidak, aku mengingatkan diriku sendiri agar tidak lupa untuk membeli lampu tidur.”

Ah, kau perlu lampu tidur? Tapi kita sudah melewati toko-nya,” Sehun membuang gelas plastik bubble tea. Yuri mengangguk mengiyakan, pada dasarnya ia sama sekali tidak berminat untuk membeli lampu tidur. “Oleh karena itu aku baru saja mengingatnya,”

“Apa kita perlu memutar arah?”

Yuri menggeleng, “Tidak, tidak perlu. Aku akan membelinya besok sepulang sekolah,”

“Baiklah, terserahmu saja.”

Oh? Itu‒”

Yuri menghentikan langkahnya. Menatap sepasang insan yang tegah bermesraan di taman. Duduk di bangku taman seraya menatap langit bertabur bintang yang indah. Namun bagi Yuri terasa menyesakkan. Kim Jongin dan gadis baru lagi.

“Gadis itu berada di sekolah yang sama denganku,” Yuri menoleh. Sehun mengembuskan napas perlahan. Beralih pandang. Tidak berniat untuk menatap kearah keduanya. Yuri menangkap adanya kesedihan dalam sorot mata Sehun saat ini. Berbeda dengan sebelumnya. Seolah terjadi sesuatu antara Sehun dengan gadis yang bersama Jongin.

“Yooyoung.”

Yuri menatap kotak hadiah berukuran sedang dengan wajah tertekuk. Ingin sekali membukanya dan berterima kasih kepada seseorang yang telah memberinya. Yuri memikirkan sosok gadis cantik yang bersama Jongin tadi. Namanya Yooyoung. Berada di sekolah yang sama dengan Sehun.

Yuri tidak tahu, mengapa Sehun terlihat sedih saat itu. Nampaknya sosok Yooyoung pernah bermuara dalam kehidupan seorang Oh Sehun. Belakangan ini, gadis itu tertarik dengan sosok Oh Sehun. Dari cara pemuda itu berkata serta menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya.

Untuk saat ini, Yuri berasumsi cukup aneh. Tiba-tiba saja ia mencoba menyakini bahwa Sehun merupakan seorang yang memberinya tiga kotak hadiah tersebut. Yang tertulis, ia hanya perlu menyakini seseorang. Maka, perbolehkan dirinya untuk menyakini siapapun saat ini. Karena sesungguhnya, hatinya mulai melibatkan nama Sehun. Ia hanya mencobanya dengan nama Sehun. Tidak berniat untuk menyakini pemuda tersebut lebih dalam.

“Tidak masalah jika aku membukanya sekarang ‘kan?”

Yuri melepas simpul pada kotak berukuran sedang. Perlahan, ia membuka penutup kotak dan menilik ke dalam. Matanya mengerling. Sekumpulan fotonya dalam berbagai situasi. Ketika menunggu di halte, berjalan, membaca di beranda apartemen, tertawa dengan Yoona di beranda apartemen dan menangis di beranda apartemen.

Gadis itu menurunkan lengannya. Sorot matanya penuh dengan keterkejutan. Bimbang. Tidak salah bila gadis itu membuka kotak kedua sekarang. Dengan begini, ia mampu mencari tahu mengenai si pengirim kotak tersebut secepatnya.

Dilihat dari yang paling banyak diambil, latar yang dominan ialah beranda apartemennya. Lantai tujuh. Hanya orang bodoh yang berniat untuk mengambil foto dalam berbagai situasi seperti yang dilihatnya. Mungkin hanya orang nekat saja yang berani melakukan semua ini. Yuri menilik ke arah pita yang berada tepat di sampingnya. Ia menemukan sebuah pernyataan.

‘Aku tidak tahu apa yang kau yakini ketika membuka kotak ini, tapi aku akan sangat bersyukur jika kau menyadari diriku yang sebenarnya. Aku, pengagum rahasiamu.’

Siapa yang harus gadis itu pikirkan saat ini?

Yuri keluar dari apartemennya. Wajah tertekuk serta kerapian pakainya menurun satu tingkat. Semalam, mengerjakan tugas menumpuk setelah selesai dengan fantasinya mengundang waktu untuk berjalan lebih cepat. Sehingga tidak tersadar bahwa ia baru saja memejamkan mata sekitar tiga jam.

Buruk.

Dengan begini, yakin bahwa ia akan terlelap di saat pelajaran berlangsung. Yuri membenarkan tas miliknya sembari memeriksa kembali apa yang akan dibawa. Saat itu pula, sesuatu yang baru menyapa sekilas pada indera penglihatan serta pendengarannya.

Seorang yang berada tepat di depan pintu apartemen Sehun. Gadis cantik yang pernah dilihatnya di suatu tempat. Tidak. Ia baru saja melihatnya. Kemarin. Ketika perjalanan pulang bersama dengan Sehun. Yooyoung. Gadis yang bersama dengan Jongin.

Setelah menekan bel berulang kali‒masih dengan wajah sabarnya, pada akhirnya Sehun membuka pintu apartemennya. Sehun terkejut dan heran di saat yang bersamaan. Yooyoung tersenyum manis. Senyum yang benar-benar manis dan mampu memikat segalanya.

Seakan waktu berhenti, Sehun tidak menyadari bahwa ia menepis sedikit jarak. Sehingga pemuda itu menyembul keluar dari pintu apartemen.

“Hun? Pergi bersama?”

“K-Kau?”

Yooyoung menawarkan kegiatan pergi bersama ke sekolah. Yuri masih terpaku pada tempatnya. Mengetahui lebih lanjut mengenai percakapan yang mereka ciptakan. Sehun terpaku. Sepertinya pemuda itu tidak pernah menduga mengenai ajakan Yooyoung yang datang secara tiba-tiba.

Setelah berdiam diri selama dua menit, Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali. Yooyoung senantiasa menanti. Senyum hangatnya mampu menggetarkan batin Sehun. Begitu juga dengan Yuri yang terkagum dengan sosok Yooyoung.

“A-Aku…”

Sehun mengedar pandang perlahan. Dwimaniknya terhenti pada satu objek. Menyadarkan dirinya akan situasi yang tengah dihadapi. Kwon Yuri melihatnya bersama dengan Yooyoung. Bertemu pandang dengan Sehun bukanlah perkara yang baik. Di saat seperti ini, kehadirannya benar-benar mengganggu. Tetapi, Yuri merasa senang ketika Sehun menyadarinya lebih cepat dari perkiraan.

“Maaf Yooyoung,” dengan pandangan yang tertuju pada Yuri. “Tapi aku harus pergi bersama dengan orang lain.”

Yooyoung mengernyit. Tolehannya mengarah pada Yuri. Giliran Yuri yang mematung di tempat dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun melihat senyum Sehun, membuatnya tenang. Seakan pemuda itu berkata bahwa ia berada dipihaknya.

“Terima kasih,”

Yuri tersenyum tipis. Bukan atas dasar yang diharapkannya. Sehun berulang kali mengucapkan kalimat tersebut. Yuripun tahu. Bahwa Sehun menganggapnya bagaikan pahlawan dalam situasi tertentu. “Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Yooyoung?” Setelah cukup lama berdiam diri, Yuri memberanikan diri untuk bertanya.

Sehun terdiam. Napasnya terdengar berat. Nampaknya pemuda itu enggan untuk memberitahu Yuri. Melalui jeda panjangnya, Yuri mengerti. “Baikl‒”

“Dia mantan kekasihku.”

“Lagi?”

Sehun menatap Yuri bingung. “Apa maksudmu?”

“Sebenarnya ada berapa banyak mantan kekasihmu?”

Sehun terdiam. Sesuatu dalam hatinya tertohok. Pertanyaan Yuri menyadarkan dirinya. Muncul guratan-guratan halus pada kening Yuri. Sehun tidak kunjung menjawabnya. Justru memberikan ekspresi enggan‒yang tidak pernah Yuri lihat.

“Aku tidak bisa memberitahumu, sekarang turunlah! Sekolahmu,”

Hmm,

Yuri menggerakkan tungkainya pelan. Masih terpikirkan jawaban Sehun. Baginya, Sehun penuh dengan berbagai hal tersembunyi. Ketika bus yang membawa sosok Sehun melaju, Yuri menangkap bayang-bayang Sehun sekilas.

Akan tetapi, Sehun tidak sendiri.

Seorang gadis.

“Yooyoung…”

TBC

Next chap : END
Mohon maaf bila ff ini memang aneh dan penuh dengan kekurangan,
Ini juga lagi kacau karena persiapan dance
Alurnya menjadi seperti ini dikarenakan kondisi tubuh yang sangat lelah,

Semangatin aku dong~

Cheer up! ©Firda©

Advertisements

12 thoughts on “I Just Wanna Make You Love Me (Chapter 3)

  1. Jongin si playboy -_-
    Ngajak ngedate yuri tapi dianya gak perhatiin yuri malahan perhatiin si cheonsa ckck dasar playboy .. dan sebenernya dia tu suka gak sih sama yuri ??

    Yuri udah bertekad bulat buat benci sama jongin gara-gara peristiwa double date

    Dari cheonsa terus ke yooyoung -_- mereka adalah mantan kekasih dri pria-pria yg dekat dengan yuri (jongin – sehun) .. duh yah sabar aja jadi yuri tuh

    Di tunggu nextpartnya eonni 🙂

    Like

  2. Aishh… Ternyata si JongIn playboy.
    Makin yakin kalau Sehun yg ngirim kotak itu ^^
    Ditunggu bgt klnjtnnya chingu…
    Keep writing 😉

    Like

  3. Bagus banget unnie alur ceritanya ditunggu next patnya jangan lama lama unnie. Semangat buat Firda Unnie. alurnya bikin penasaran 😹😹#Fighting 😍

    Like

  4. anjir banget si jongin -_- minta digampar sumpah ternyata dia playboy banget..
    jujur, aku binung sama kehidupannya sehun sevenernya dia gimana sih orangnya, tapi justru itu yg bikin menarik. aku juga penasaran bangey sama orang yg udah ngirimin kotak kado itu. kalo nanti ternyata joonmyeon yg ngasih pasti yuri kena damprat yoona 😂 just kidding
    ini endingnya bakalan yulhun kan? apa malah enggak -_- tau ah gelap
    part depan udah end? yah sayang banget

    Like

  5. Jinjja jongin playboy bnget ,setelah cuekin yul waktu double date ,sekrng dia dpet yng baru lagi.Bagu yuleon udh mulai membencinya .Btw siapa si secret admirernya yul nihh ? Yooyoung udh sama jongin sekarang malah ngejar2 sehun lgi ,..next eonni 🙂

    Like

  6. Yang membingung kan nya adalah .. Siapa pengagum rahasia yuri? Kai kayanya bukan si play boy sibuk ama ceweknya yang bejibun .. Klo sehun?? Kayanya gak bisa move on dari yooyoung ..
    Kai sehun jahat ..

    Like

  7. Kaya nya ff ini sempit sekali:’v
    Yooyoung mantan Sehun sekarang jadi cewe nya Jongin. Nah si Jongin sama Sehun dekat sama Yuri yaampun:’v
    Ini bikin penasaran thor sebenernya nanti ending nya Yuri sama siapa?
    Next ending ya? Ditunggu update nya deh thor.
    Fighting

    Like

  8. Yooyoung ikut di bus mereka gitu???
    Iya ya pacarnya Sehun oppa semua deket sm Kai oppa semua… terus Sehun oppa ya gak marah tuh sama Kai oppa..
    Ditunggu part selanjutnyaa..

    Like

  9. Kalau nanti Sehun kembali sama mantannya itu, udah kelar hidupmu Yul. Suka sana Kai tapi bertepuk sebelah tangan. Masak nanti dia gak sama Sehun juga. Gila….
    Ngomong” mantannya si sehun itu berapa sih? Banyak amet
    Thor… Keep spirit…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s