After The Storm (Oneshoot)

After The Storm

Dear,
Kwon Yuri , Cho Kyuhyun

Cover,
Ahnki Art @ Facebook

Story,
pure mine

HAPPY READING

“Bencana itu yang memulainya,”

Malam berangin, hujan deras membasahi sebagian besar kota Seoul. Petir kian terlihat. Gemuruh yang tidak kunjung berakhir. Serta jangan lupakan dinginnya suhu yang menyerang semua orang kali ini. Tanpa mampu dilihat oleh banyak orang, badai topan mulai beraksi. Membelah salah satu daerah tanpa ragu. Tepat di sebuah ladang gandum, topan yang mengerikan terlihat. Gelap dan mengerikan. Mampu menggetarkan jiwa setiap orang yang menatapnya. Serasa kiamat.

Gubuk kecil yang berada di samping ladang dalam keadaan meragukan. Kayunya mulai terombang-ambing akibat pusaran topan yang mengikat. Beberapa gubuk yang berada di belakang gubuk tersebut telah sirna. Kayunya terikat dengan pusaran topan. Barang berharga mulai berterbangan. Menuju ke pusat pusaran topan.

Tidak hanya barang-barang, beberapa orang yang melelapkan diri di gubuk pun terbang ke arah pusaran. Anehnya, mereka masih dalam keadaa terlelap. Nyenyak. Nampaknya sangat nyenyak hingga tidak mampu merasakan hal yang mereka alami saat ini.

Petir dan gemuruh yang paling menggelengar terdengar. Setelahnya, suatu kejadian paling janggal sepanjang masa terjadi. Orang-orang serta barang-barang yang semula mengarah ke pusaran kini kembali ke tempatnya. Begitu juga dengan gubuk kayu yang tadinya hancur.

Topan perlahan sirna. Hujan yang tadinya deras kini muncul dalam rintikan saja. Terjadi laksana baru saja menekan tombol pada mesin waktu. Distorsi waktu selayaknya baru saja terjadi. Jika saja seseorang menyaksikan kejadian dari mulanya, yakin bahwa yang menyaksikan mungkin tidak akan percaya.

Nyatanya, topan mengerikan itu hilang dalam sekejap. Mengembalikan daerah tersebut dari cengkraman kiamat.

Yuri tidak merasa baik dengan adanya berita mengenai kekeliruan badan pemerhati cuaca pagi ini. Dalam grafik yang dijelaskan, terjadi topan berbahaya yang melanda salah satu kawasan di perbatasan kota. Sekiranya, topan tersebut mampu melenyapkan apapun dan mungkin keadaan di sekitar akan hancur lebur.

Sayangnya, kawasan tersebut dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan mereka mengatakan bahwa mereka hanya mengetahui adanya hujan deras saja semalam. Kendati grafik yang ditunjukkan tidak hanya menunjukkan adanya hujan deras. Kilatan petir yang menakutkan serta topan mengerikan terjadi saat itu juga.

Aneh lagi, ketika grafik yang saat itu menunjukkan dalam situasi siaga tiba-tiba berubah normal dalam beberapa detik saja. Sekiranya hal tersebut benar-benar aneh. Apakah hal tersebut termasuk salah satu mukjizat Tuhan? Mungkin saja, Tuhan tidak pernah tidur dan senantiasa membantu hamba-Nya yang kesusahan.

Yuri mematikan televisi. Terlalu malas untuk mendengarkan berita selanjutnya. Pagi ini, ia harus pergi ke salah satu pemukiman warga yang berada di perbatasan kota. Mengatas-namakan wakil dari universitasnya, Yuri harus menunjukkan simpatinya kali ini.

Gadis itu mengedar pandang. Menatap lelah ke apartemennya. Kau sekali. Layaknya kapal pecah. Bahkan bisa dibilang, mungkin yang terkena topan semalam yaitu apartemennya sendiri. Yuri mengesampingkan kerapian apartemennya. Lagipula setelah ini ia tidak akan membiarkan siapapun memasuki apartemennya.

Yuri menarik tas sampingnya, menuai langkah keluar dari apartemen sederhananya. Gadis itu cukup ragu mengenai keadaan apartemennya sekarang ini. Namun tidak ada waktu lagi hingga petang nanti. Setidaknya, ia akan membereskan barang-barangnya nanti malam atau bahkan besok. Yakin, Yuri akan sangat kelelahan untuk malam ini.

Tiba di lokasi amal merupakan hal yang Yuri lakukan selepas meninggalkan apartemen dalam keadaan menyedihkan‒terkadang Yuri menyebutnya seperti itu. Di sampingnya, sosok Yoona terikat dengan senyum cantik dan beberapa flash kamera mengarah padanya. Kali ini Yuri mengabsen satu persatu orang yang tergabung dalam acara amal.

Suatu kebetulan, mereka berada di sebuah desa yang semalam‒katanya merupakan tempat terjadinya topan tranparan yang mengerikan tersebut. Yuri tidak percaya dengan hal tersebut. Buktinya keadaan desa yang didatanginya sangat baik. Terlalu baik bahkan.

Pastikan untuk tidak mengacau selagi gadis itu mampu. Gadis itu tidak mungkin berdiam diri saja sembari memeriksa daftar nama secara berulang. Biasanya, Yuri akan bertingkah aneh dengan berbagai macam gerakan yang dihafalkannya. Yuri berada pada jurusan tari. Jangan bertanya lebih mengenai hal tersebut.

Setengah hari, Yuri memutuskan untuk rehat. Melihat-lihat seisi desa yang nampak asri. Menyejukkan, suasana damainya mampu menenangkan batin setiap orang. Begitu juga dengan Yuri.

Yuri menyusuri ladang gandum di tengah teriknya siang hari. Tidak peduli bahwa suhu disekitar cukup panas, yang gadis itu pikirkan hanyalah sebuah kedamaian yang kini dirasakan.

“Siapa kau?”

Yuri membuka kembali sepasang kelopak matanya‒yang sebelumnya tertutup. Suara berat seseorang menginterupsi dengan baik. Nampaknya sang pemilik suara berada tepat di belakang Yuri. Tidak juga, sepertinya tidak terlalu dekat.

Gadis itu berbalik. Kedua netranya membulat sempurna. Mendapati seorang pria dengan baju zirah kuno yang seringkali ia lihat ketika menelaah peradaban Yunani atau Romawi kuno. Tanpa perlu berpikir panjang, gadis itu membiarkan tawanya meledak. Tontonan baru untuknya. Cukup menghibur‒setidaknya.

Ekspresi pria tersebut tidak lebih dari seseorang yang baru saja mendapatkan jadwal membuang sampah. Datar. Tidak tertarik. Sinis juga. Yuri berusaha menghentikan tawanya. Tawa anehnya yang terkesan memaksa. Namun percayalah bahwasanya gadis itu benar-benar terhibur dengan penampilan pria yang berada di hadapannya.

“Siapa kau?”

Dengan sangat terpaksa, gadis itu menghentikkan tawanya. Kali ini benar-benar terhenti. “Baiklah, sepertinya kau tidak suka melihatku tertawa. Ah, maaf apa anda pemilik ladang ini? Tapi, kenapa penampilan anda… Seperti… Ini?” Rasanya gadis itu ingin tertawa lagi. Namun, niat tersebut diurungkannya. Kendati ekspresi yang ditunjukkan pria aneh tersebut sangatlah tidak mendukung.

Merasa tidak kunjung mendapatkan jawaban, Yuri mengulum senyum pahit. “Baiklah, sepertinya anda tidak suka dengan basa-basi yang saya miliki. Kalau begitu, saya permisi.”

Yuri hendak melangkah, namun sekumpulan serdadu aneh dengan pakaian yang sama‒baju zirah beserta tameng dan pedang mengitari keberadaannya. Gadis itu terkejut bukan main. Lantas, gadis itu menoleh ke arah pria yang sedari tadi masih terdiam.

“I-Ini apa maksudnya? Kau ingin menculikku?”

Pria itu melangkah maju. Menepis sedikit jarak yang tercipta antara keduanya. Melalu tatapan tajam dan senyum timpang, Yuri menduga bahwa pria yang berada di hadapannya cukup mengerikan. “Aku tidak sekeji itu nona,”

Pada akhirnya pria itu mampu berkata. Sedikit membuat Yuri mengerti bahwa pria aneh tersebut dapat mengutarakan kata lain selain ‘Siapa kau?’‒nya tadi. “Lalu untuk apa prajurit-prajurit aneh sebanyak ini berada di sekelilingku? Jangan-jangan mereka ingin membunuhku? Kumohon jangan bunuh aku! Aku masih belum memiliki kekasih selama lebih dari lima belas tahun. Aku tidak bisa mati begitu saja tuan, aku harus mencari jodohku terlebih dahulu.”

Layaknya benar-benar akan tiada, Yuri mengutarakan segalanya. Meski terdengar konyol.

“Aku tidak akan membunuhmu,”

Yuri menatap pria itu bingung, “Lalu, mengapa mereka menatapku seolah ingin membunuhku?” Yuri melirik ngeri ke salah satu prajurit dengan tatapan tajam dari balik helm perangnya. Cukup mengerikan.

“Aku membutuhkan bantuanmu.”

Gadis itu terperanjat, “Bantuan? Bantuan apa yang membuatmu harus memintanya dariku?”

“Kau demi-god.”

“Apa? De-mi apa?”

“Intinya aku membutuhkan bantuanmu nona,”

Yuri ingin mencakar tampang pria di hadapannya gemas, “Iya bantuan apa tuan aneh? Melihatmu menggunakan baju zirah seperti itu mengingatkanku pada novel kesukaanku, wah setelah ini aku akan membacanya lagi. Mungkin saja terlewati satu adegan mengenai kehadiran sosok aneh dengan baju zirah di sebuah ladang gandum.”

“Bantu aku untuk menemukan batu amber biru milik Poseidon.”

Lagi-lagi Yuri terperanjat. “Batu amber biru? Apalagi itu? Astaga tuan, aku tidak tahu apa itu. Milik Poseidon? Dewa laut yang memiliki anak bernama Percy dan Tyson itu? Tidak, maaf untuk kali ini aku tidak bisa membantumu.”

“Percy? Tyson? Tidak, anaknya bernama Taerin dan Hansol.”

“Bahkan namanya hampir sama tuan, aku tidak peduli siapa anak dewa itu. Yang terpenting tuan, untuk kali ini aku tidak bisa membantu. Maaf sekali, sekarang aku permisi…”

Tidak mengijinkan. Tentu saja. Sekitar dua lusin prajurit berpakaian tempur ala Yunani kuno senantiasa berada pada tempatnya. Bahkan yang lebih menakutkan, mereka menodongkan pedang tanpa ragu kepada Yuri.

“Turunkan pedang kalian, angkat kembali jika gadis ini enggan membantu. Bahkan aku mengijinkan kalian untuk melempar anak panah juga,”

Wajah gadis itu memucat. Temperatur tubuhnya menurun. Yuri kembali menatap pria tersebut. “Kumohon jangan bunuh aku tuan, tapi tidak adakah bantuan lain yang bisa kulakukan? Sungguh aku tidak mengerti dengan yang kau katakan tadi.”

“Sayangnya tidak ada pilihan lain, aku membutuhkan bantuanmu untuk mendapatkan batu amber biru itupun bukan tanpa sebab. Hera mengutusku agar Olympus kembali ke keadaan semula. Bangsa Titan mulai menyerang dengan kembali merebut lima batu amber yang sangat berharga. Lima unsur kehidupan yang membuat dunia ini damai. Tapi tidak lagi jika bangsa Titan memilikinya. Dunia akan hancur. Kata lain yang lebih tepat, Kiamat.” Yuri hanya mengetahui nama Bangsa Titan hanya dari novel kesayangannya. Selebihnya, dunia nyata tidak pernah mengungkit-ngungkit mengenai hal tersebut.

Mana ada keberadaan bangsa Titan terutuk itu di dunia nyata? Namun untuk kali ini, Yuri harus berpikir dua kali lipat. Melihat keberadaan pria aneh dan para prajurit dengan pakaian tempur menambah seperempat aspek yang hendak dipercayainya. Tapi, entahlah. Selagi ia belum melihat kekuatan yang dimiliki orang-orang aneh di hadapannya, masih meragukan.

Dan satu lagi yang membuat perutnya serasa menari-nari. Pria aneh itu berkata bahwa dirinya merupakan seorang demi-god? Yang benar saja, mana ada demi-god pemalas yang tidak pernah bertemu dengan satupun monster selama ia hidup. Setiap demi-god pasti bertemu dengan makhluk-makhluk mitos yang rupanya luar biasa aneh.

Bila ia memang keturunan demi-god, dewa atau dewi mana yang ingin memiliki anak seceroboh dirinya? Bahkan ia tidak pernah berlatih perang atau sebagainya. Sejauh ini, judo menjadi keahlian tersendiri baginya. Dan satu lagi. Menyusup.

“Katakan bahwa kau berbohong tuan,”

Pria itu menggeleng, “Sayangnya tidak nona, dunia tergantung pada keberadaan lima batu itu.”

Lututnya melemas bagaikan jeli. Demi gunung Orthys, jangankan membantu pria dari budaya Yunani kuno, memikirkan bertemu dengan mereka saja tidak pernah. Bahkan setelah Yuri mengangguk menyetujui, rasanya gadis itu telah menandatangi sebuah persetujuan.

Dengan Thanatos. Sang dewa maut.

Sebuah pertanda bahwa gadis itu siap untuk bertemu dengan sosok Thanatos tidak lama lagi.

Kyuhyun‒pria aneh dengan baju zirah berkata, bahwa Yuri merupakan salah satu yang terpilih. Dan gadis itu hendak menenggelamkan kepalanya ke air danau karena lagi-lagi tidak mengerti dengan yang diucapkan oleh pria itu. Persetan dengan isstilah baru yang terdapat dalam dirinya, demi-god apalah! Atau bahkan bisa-bisa ia katakan sebagai salah satu anak keturunan dewa langit. Tidak. Rasanya sangat tidak masuk akal.

Yuri menelaah cerita-cerita kuno yang dimilikinya. Tidak ada cerita yang mengancung pertemuan seaneh hari ini. Kendati demikian, ia telh berjanji pada sosok Kyuhyun untuk membantunya mulai besok. Estimasi yang ditentukan hanya dua hari. Dan rasanya mustahil Yuri bis membantu Kyuhyun seperti yang diharapkan.

Yuri tidak memiliki kemampuan apapun yang menarik selayaknya demi-god. Sungguh, berpikiran menjadi demi-god saja enggan bagi Yuri. Bila setiap harinya harus bertemu dengan makhluk-makhluk aneh, lebih baik tidak sama sekali. Dan Yuri memutuskan untuk bertandang ke alam mimpi selagi bisa. Siapa tahu saja ia tidak akan berkunjung ke dunia indah itu lagi setelah esok.

Pagi-pagi buta gadis itu telah dikejutkan oleh kehadiran Kyuhyun di depan pintu apartemennya. Seingatnya, ia tidak pernah memberitahu Kyuhyun mengenai tempat tinggal. Bahkan nampaknya pria itu masih tidak mengenal sosok Yuri. Mengingat namanya saja mungkin tidak. Ah! Yuri lupa. Kyuhyun memiliki kekuatan fantastis yang luar biasa anehnya. Wajar saja jika Kyuhyun berada di depan pintu apartemennya, tiba-tiba.

Yuri tidak berniat lebih untuk berpenampilan baik. Meski pria yang berada di hadapannya telah merombak penampilan lebih baik dari yang dipikir. Tidak ada lagi pedang, helm tempur serta baju zirah eksentrik yang sangat menarik perhatian. Cukup dengan kemeja kotak-kotak dan jeans hitam, keanehan pria tersebut sedikit berkurang.

“Kita pergi ke mana?” tanya Yuri ketika dengan tiba-tiba Kyuhyun menarik tangannya. Membawanya keluar gedung apartemen dan tiba di hadapan mobil keluaran terbaru. Yang lebih serunya, berwarna kelabu. Elegan dan luar biasa mahal.

“Masuklah!”titah Kyuhyun.

Tanpa ragu sedikitpun, Yuri masuk. Yah‒kapan lagi ia bisa menaiki mobil semahal ini? Selagi ia mampu, maka dengan cepat ia menuruti. Berada di samping kemudi tidaklah buruk. Namun ada satu yang mengganjal. Apakah Kyuhyun bisa mengemudi? Pria aneh itu, bisakah ia mengemudi dengan baik?

Dan mood-nya berubah dalam sekajap. Siapa tahu saja, sesaat setelah ia menaiki mobil mewah ini, beberapa monster akan menyerbunya. Atau mungkin, ketika perjalanan, Kyuhyun menghantam sesuatu. Well‒itu sangat mengerikan.

Kyuhyun masuk. Seraya membawa sebuah busur panas yang datangnya entah dari mana. Tidak lama kemudian, mobil melaju dengan semestinya. Cukup santai dan membuat Yuri menikmati hasil mengemudi pria itu.

Ah, bisa tidak kau menjelaskan sesuatu kepadaku?”

Kyuhyun melirik Yuri sekilas. Fokusnya tetap kepada jalanan. “Apa?”

“Mengapa harus aku yang membantumu? Dan mengapa kita hanya akan mencari satu batu saja?” tanda tanya Yuri kini tercurahkan. Ia hanya perlu mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Kyuhyun.

“Sudah kukatakan, kau itu demi-god.” Nampaknya Kyuhyun tidak ingin menanggapi lebih.

“Darimana kau mengetahuinya?”

Kyuhyun menghentikan mobil sejenak ketika rambu lalu lintas berubah menjadi warna merah. “Ayahku memberitahuku kemarin.”

“Ayahmu? Siapa ayahmu?”

“Zeus.”

Yuri tergelak. “Jangan bercanda tuan,”

“Aku tidak sedang bercanda nona, kau bisa pergi menemuinya jika tidak mempercayaiku.” Yuri bungkam. Dilihat dari raut wajah Kyuhyun, pria itu tidak main-main dengan perkataannya.

“Baiklah, aku percaya. Tapi bisakah kau menjelaskan secara rinci mengenai misi konyol yang memerlukan bantuanku ini?” Yuri tidak mampu menahannya lagi. Semalam ia telah memikirkan berjuta deduksi aneh mengenai hal yang harus dibantunya.

“Intinya kita harus menemukan batu amber biru milik Poseidon sebelum anak buah sang Titan memilikinya. Keempat batu telah diamankan, jika sang Titan berhasil merenggut batu ini, maka tiada lagi air di muka bumi. Sekalipun ia hanya memiliki satu batu, maka dunia akan hancur.” Kyuhyun tetap memfokuskan pandangannya pada jalanan. Tidak peduli dengan ekspresi konyol Yuri saat ini.

Please Kyu, bahkan aku tidak tahu apa itu batu amber.”

“Karena itu kau harus mengetahuinya, kau tidak ingin dunia ini musnah bukan?”

Yuri memilih untuk bungkam. Selagi berpikir. Percuma saja, bila pemusnahan dunia terbatalkan namun dirinya yang musnah. Sama saja membunuh harapan terbesarnya dengan hal yang paling ia senangi. Kemudian, Yuri kembali bertanya mengenai hal yang paling Yuri bingungkan.

“Satu lagi,” ia berdeham. “Bagaimana bisa kau muncul di ladang gandum begitu saja? Saat aku melangkah ke sana, aku tidak melihat siapapun. Dan orang-orang sepertinya tidak menyadari keberadaanmu bersama para prajuritmu itu, ah berbicara tentang mereka, di mana para prajurit anehmu itu?”

“Kabut.”

Eh? Kabut?”

“Orang-orang tidak bisa melihatku dikarenakan kabut yang mendistorsi penglihatan mereka, hanya demi-god yang mampu melihat keberadaan prajuritku. Mereka bisa melihatku, tapi tidak dengan baju zirahku saat itu.” Yuri serasa menjadi tokoh utama sebuah novel fantasi terlaris sepanjang masa. Sayangnya ini bukan fiksi belaka. Melainkan kenyataan yang sangat sulit diterima menggunakan akal sehat.

“Baiklah itu mengerikan,” Yuri berpikir bahwa orang-orang hanya melihat Kyuhyun dalam balutan baju kasualnya kemarin. Tidak dengan baju zirah, pedang serta helm yang luar biasa menggelikan untuk ia gunakan. “Dan hey‒kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama!” protesnya.

“Kau pikir mengapa badan peneliti cuaca salah mengartikan keadaan?”

Pikiran Yuri kembali pada pagi kemarin. Berita mengenai topan yang seharusnya terjadi justru tidak terjadi akibat sesuatu yang sangat aneh. “Jangan katakan kalau ka‒”

“Iya, itu ulah sang Titan. Kemudian aku menghentikannya. Bagaimana, heroik ‘kan?” Dan Yuri baru tahu bahwa Kyuhyun mampu berkata demikian.

“Tapi, kenapa harus ladang gandum? Mengapa tidak mengambil tempat yang lebih bagus? Misalnya gedung apartemenku begitu?”

Tanpa disangka Yuri mendapatkan jitakan dari Kyuhyun, tepat pada keningnya. “Dasar aneh!” Yuri mengelus bekas jitakan sembari meringis pelan. “Topan itu bisa membunuh nyawa setiap orang, dan kau ingin topan itu berputar di gedung apartemenmu itu? Yang benar saja, nampaknya kau mau mati.”

“Bukan mau! Tapi sebentar lagi! Sejak aku bertemu denganmu, nyawaku seakan pergi dari ragaku secara perlahan. Terima kasih atas perhatianmu itu tuan,” Yuri mengerucut. Bersidekap dengan pandangan mengarah keluar jendela. Tidak tahu pula, mengapa pria aneh yang baru ditemuinya kemarin itu sangatlah menyebalkan.

“Tahu begini aku tidak pergi ke ladang gandum kemarin.”

Biarkan sosok raksasa berkeliling ladang gandum dengan damai. Kendati sesuatu telah menarik perhatiannya. Maka Yuri akan menjadi sasarannya pula. Demi segala yang dimilikinya, Yuri enggan meninggalkan tempat bersembunyinya‒di balik batu besar yang entah mengapa terdapat batu sebesar sofa di apartemennya.

Kyuhyun membidik salah satu raksasa yang jaraknya cukup jauh dari keberadaan mereka saat ini. Yuri menggigit bibir bawahnya gelisah. Sedari tadi, ia menggumamkan kata-kata aneh mengenai keberadaannya dalam misi aneh milik Kyuhyun.

“Kyuhyun, bisa tidak kau mengantarku pulang? Sepertinya aku tidak akan berguna dalam misi batu-mu itu,” Yuri hendak berdiri. Namun erangan salah satu raksasa mencegah pergerakannya. Rupanya Kyuhyun telah menembakkan anak panahnya ke salah satu raksasa dengan kalung rantai berwarna hitam kekuningan‒berkarat.

“Kyu? Kau? Ya! Bagaimana jika mereka mengetahui keberadaan kita di sini? Apa kau sudah gila?” pekiknya bingung. Sangat bingung hingga gadis itu hampir membenturkan kepalanya ke arah batu besar yang menutupi dirinya saat ini.

“Ini.”

Yuri menoleh sedikit. Mendatapi tangan kanan Kyuhyun yang mengulurkan sebuah belati dengan sulur tanaman yang berada pada penggenggamnya. Yuri menatap belati tersebut cukup takjub. Seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat belati paling indah seperti itu.

Kyuhyun melirik ke arah gadis itu sejenak. Kemudian berdecak, “Bisa tidak kau menerimanya? Tanganku hampir mati rasa hanya karena menunggumu untuk menerima ini.”

Dengan cepat Yuri menerimanya. Menatap belati tersebut takjub. “Itu belati ibumu,” Yuri terdiam. Mencerna perkataan singkat Kyuhyun. “Aku memberimu belati karena keturunan ibumu mahir menggunakan belati. Belati hanya diperuntukkan bagi mereka yang gesit dan lincah,”

“Ibuku?”

Kyuhyun hanya mengangguk, “Akan kuceritakan setelah misi ini berhasil.”

Tiba-tiba saja gadis itu tersenyum. Secercah harapan muncul begitu saja. Ibu. Selama ini, ia tidak pernah melihat bagaimana rupa sang ibu. Ia hanya hidup bersama dengan sang ayah. Saat inipun ayahnya bekerja di salah satu perusahaan terkenal yang menuntut waktu lebih banyak. Jarang pula gadis itu bertemu dengan kepala keluarga Kwon.

Sewaktu kecil, ayahnya hanya berkata bahwa sang ibu telh kembali ke pangkuan Tuhan dengan damai. Menatap keduanya dari surga. Tersenyum dan mengenakan pakaian putih yang sangat menawan. Sama seperti gaun pernikahan ayah dan ibunya dulu.

“Kalau begitu,”

Yuri berdiri. Mendapati empat raksasa menatap ke arahnya. Ganas. Seolah ingin menerkam gadis itu saat ini juga. Kyuhyun menatap Yuri tidak mengerti. Gadis yang tadinya ingin cepat-cepat pulang kini mengundang perhatian luar biasa yang membuat Kyuhyun mempersiapkan pedangnya.

“Mari kita cari batu itu,”

Yuri tidak tahu dari mana didapatkannya kemampuan menebas perut kedua raksasa dalam sekali berlari. Yang ia tahu, belati yang berada di tangannya seolah menciptakan sihir tersendiri. Dan Yuri akui, ia cukup senang. Dengan begini misi barunya untuk mencari batu amber milik Poseidon akan berjalan lebih cepat. Serta gadis itu bisa mengetahui perihal sang Ibu.

Tidak jauh, Kyuhyun berhasil mengalahkan dua raksasa dengan aroma khas telur busuk hanya dengan waktu beberapa menit saja. Tentu saja. Coba tebak, siapa ahli pedang di sini? Tentu saja Kyuhyun. Membantu Yuri, pria itu menembakkan anak panahnya. Sehingga kedua raksasa yang berada di hadapan Yuri berdenyar menjadi abu.

Yuri melayangkan senyumannya. “Terima kasih Kyu, sekarang apa yang harus kita lakukan? Dan… Kenapa kita kembali ke desa ini?”

“Kau pikir, mengapa sang Titan menciptakan topan mengerikan di sini?”

Ah, iya aku tahu.”

Kyuhyun menyimpan pedangnya. “Nampaknya, para raksasa menyadari bahwa keberadaan batu amber tersebut tidak jauh dari sini.”

“Bisa kau beritahu aku bagaimana bentuknya?”

Kyuhyun tidak berniat untuk beralih pandang. Pria itu meneroka pandangannya. Memastikan bahwa keberadaan batu amber berharga tersebut tidak jauh dari posisinya sekarang. “Bentuknya seperti batu.”

Yuri berdecak kesal. “Namanya juga batu, bisa beritahu ciri yang lebih spesifik?”

“Warnanya biru.”

“Ya aku sudah tahu, kau baru saja memberitahuku kemarin.” Yuri mengambil duduk di salah satu batu. Melihat Kyuhyun yang mengedar pandang sendiri seperti orang gila.

“Milik Poseidon.”

“Aku tahu itu.” Yuri ingin melempar Kyuhyun dengan sekumpulan batu yang kini digenggamnya. Namun niat tersebut diurungkannya kala muncul pendar aneh pada genggaman tangannya. Berpendar biru. Dan, ukurannya kecil. Setara seperti batu kecil. Hanya saja berwarna biru. Dan di dalamnya terdapat sesuatu.

“Apa terdapat simbol trisula di dalamnya?”

“Iya eh‒bagaimana kau…” Kyuhyun menoleh. “Batunya!”

Kyuhyun hendak menggapai batu tersebut. Namun Yuri menariknya kembali. “Sebelumnya, aku ingin tahu mengenai ibuku.”

Yuri mendapati ekspresi kesal terlihat dengan baik di wajah tampan Kyuhyun. Tampan? Bagi Yuri sama saja. Tidak ada tampan-tampannya untuk saat ini. “Berikan itu kepadaku! Aku akan membawamu ke Olympus. Ibumu berada di sana,”

“Benarkah?”

Kyuhyun mengangguk malas, “Sekarang berikan itu padaku!”

Tanpa berpikir panjang, Yuri menyerahkan batu biru indah tersebut. “Ayo cepat! Kita harus pergi ke Olympus, aku tidak sabar ingin bertemu dengan Ibuku. Ayo Kyu! Cepatlah!”

Kemudian, keduanya tenggelam dalam pendar keeman buatan Kyuhyun.

Yuri tidak pernah tahu benar mengenai situasi magis yang berada di Olympus. Yuri tidak pernah berhanti melayangkan pujian demi pujian kepada arsitek yang mampu mendesain kota Olympus sedemikian rupa. Indah. Bangunan-bangunan tinggi menjulang indah dihiasi patung-patung dewa-dewi mayor maupun minor.

“Cantik?”

Yuri tersadar bahwa ia bersama dengan Kyuhyun saat ini. Lantas gadis itu tersenyum dan menoleh. “Cantik sekali Kyu, apakah ibuku tinggal di sini?”

Kyuhyun mengangguk sebagai jawaban. “Semua dewa-dewi tinggal di sini Yul,”

Yuri menghentikan langkahnya. Panggilan yang hanya sang ayah tujukan padanya. Ayah yang kini berada di suatu tempat. Yang setiap malam selalu meneleponnya dengan panggilan lembut tersebut.

Merasa teramati, Kyuhyun menoleh. Menampilkan guratan kebingungan yang muncul. Kini pria itu tidak dilengkapi tempat anak panah serta sarung pedangnya. Mengenakan pakaian kasual serta senyuman manisnya yang terkesan aneh. Ya, lagipula selama beberapa jam belakangan ini Yuri tidak pernah melihat Kyuhyun tersenyum sedemikian rupa.

“Dari mana kau tahu panggilanku?”

Kyuhyun mengedar pandang gelisah. “Ibumu yang memberitahuku, dia mengatakan kau akan melunak bila aku memanggilmu seperti itu.”

Yuri berusaha membendung air matanya. “Bisa kita pergi sekarang? Aku ingin bertemu dengan ibuku.”

Cairan bening tersebut lolos begitu saja ketika Yuri mendapati dirinya berpelukan dengan seorang wanita berpakaian Yunani kuno dengan simbol burung hantu pada tempat duduknya. Athena. Sosok ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini. Sosok yang selama ini sangat dirindukannya. Gadis itu tidak percaya. Ia bertemu dengan sang ibu. Dengan cara yang luar biasa aneh dan fantastis.

Gadis itu tidak peduli dengan tatapan dewa-dewi lain. Begitu pula dengan Kyuhyun yang saat ini menyerahkan batu amber biru kepada sang pemilik. Poseidon. “Mereka tidak bisa diganggu ayah,” ujar Kyuhyun memperingati Zeus. Zeus hampir saja memanggil Athena.

“Kalian berhasil, apa kau akan melaksanakan perintah ibumu?” Kyuhyun mengendikkan bahu perlahan. Sembari mengembuskan napas beratnya.

“Ibu akan senang bila aku melakukannya.”

Zeus tersenyum kepada putranya, “Kalau begitu lakukanlah, atau kau akan berada di bawah tanah bersama Hades.”

“Tidak yah,” Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak akan bersama dengan paman Hades, yang ada aku harus mendata barisan para arwah di sana. Aku akan melakukannya, aku sudah berjanji dan bersumpah demi Sungai Styx waktu itu.”

“Aku yakin tidak ada orang tua dewa yang lebih bahagia selain diriku. Memiliki putra pemberani dan penuh tanggung jawab sepertimu, aku sangat bangga Kyuhyun.” Zeus kembali ke wujud aslinya. Tinggi sekitar enam meter dengan pakaian zirah lengkap serta simbol petir pada tengah bajunya.

“Maaf mengganggu dewi,” Kyuhyun berujar. Membuat Athena melepaskan pelukannya. Begitu pula dengan Yuri. Mengerti dengan apa yang hendak Kyuhyun lakukan, Athena mempersilahkan.

“Yul, aku sangat senang melihatmu berhasil menemukan batu ini. Jika tidak, pasukan Titan pasti akan menghancurkan dunia. Sekarang, kau harus mengikuti Kyuhyun. Dia akan membimbingmu ke suatu tempat yang harus kau datangi. Dan‒jangan lupa beritahu ayahmu bahwa aku sangat merindukannya.” Yuri berusaha untuk tidak menangis. Cukup sudah. Bertemu dengan sang ibu dalam kurun waktu yang cukup mengesalkan.

“Jika kau merindukanku, kau bisa bertukar pesan Iris. Aku akan meminta Kyuhyun untuk mengirimkanmu beberapa drachma-uang Yunani berupa koin.” Yuri hanya mampu mengangguk. Ia tidak akan melupakan iris kelabu sang ibu. Yang anehnya mengapa tidak menurun kepadanya.

Sekiranya selesai, Yuri memilih untuk mengikuti Kyuhyun. Yuri akan sangat merindukan ibunya setelah ini. “Jadi, kenapa aku harus mengikutimu?”

“Kita harus pergi ke pondok Apollo. Sebagian ramalan Oracle miliknya merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa ditepis. Kau harus mendengarkan sesuatu darinya,” Yuri hanya mampu terdiam. Sekiranya untuk saat ini ia masih memikirkan Athena.

“Dewi Kebijaksanaan. Mana bisa mempunyai anak seceroboh aku? Aku masih tidak mempercayainya,”

“Akupun tidak.” Yuri berhenti. Melayangkan tatapan tajamnya ke arah Kyuhyun.

“Terserahmu saja.”

Keduanya kembali menuai langkah. Menuju ke pondok Apollo yang letaknya tidak begitu jauh dari singgahsana para dewa. “Jangan terkejut melihat cahaya pada kereta perangnya, dan eits‒jangan sentuh!”

Oh? Maaf,” Yuri menarik kembali lengannya. Sungguh ia tertarik dengan kereta perang berpendar emas yang terpampang di samping patung besar Apollo.

“Kau akan meleleh karena kekuatan solar-nya, dan bisa jadi penghuni pondok Apollo akan menjadikanmu bahan bakar pembentuk cairan solar mereka.” Yuri bergidik ngeri. Mendengarkannya saja membuat Yuri merinding. Jangan dengan membayangkannya pula.

Daun pintu terbuka pelan. Menampakkan pemandangan anak-anak yang tengah berlatih perang dengan berbagai alat yang mereka miliki. Yuri tidak tahu, sihir apa yang bekerja setelah ia memasuki pondok Apollo. Luas yang ia dapati tidak seperti menatap gedung dari luar. “Mantra perluasan Yul,”

Lagi-lagi, darah gadis itu berdesir. Cara Kyuhyun memanggilnya jelas-jelas berbeda. Membuat Yuri lupa akan dimana ia berada. “Di mana konselor kalian?” Kyuhyun bertanya kepada salah seorang pria berpakaian kasual dengan kaus kuning. Sejenak, pria tersebut melirik ke arah Yuri. Kemudian kembali mengamati Kyuhyun dengan tatapan aneh.

“Apakah ini orangnya Kyu?”

Kyuhyun mendegus kesal, “Kau tidak perlu tahu Minho.”

“Baiklah, tapi sampai kapan kau akan memanggil konselorku dengan nama aslinya?” Minho mulai melangkah. Tidak jarang, beberapa pasang mata mengarah diiringi gumaman aneh.

“Sampai kapan ya? Entahlah, sejujurnya aku sangat malas untuk berkunjung ke sini. Tapi, jika bukan karena permintaan terakhir ibuku, aku benar-benar tidak akan melakukan ini.” Yuri mengedar pandang sembari mendengarkan percakapan Kyuhyun dengan Minho. Dan Yuri akui, ia sama sekali tidak mengerti.

“Terserahmu saja Kyu, bagaimana dengan misimu?”

“Jauh lebih baik dari perkiraan, belum genap satu hari, kami menemukannya.” Kyuhyun menoleh. Membuat kedua pipi Yuri serasa memanas. Ia mendapati adanya sosok yang berbeda dalam diri Kyuhyun saat ini.

“Aku tidak yakin, dia masih mau bertemu denganmu semenjak hari itu. Coba saja berbicara dengannya, pasti ia akan menunjukkan citra yang kau butuhkan.” Penuturan Minho sangat membantu. Setidaknya Kyuhyun menyadari bahwa ia memiliki perselihan tersendiri dengan konselor pondok Apollo.

“Terima kasih, aku berjanji akan memberimu beberapa drachma dan tentu saja nektar.”

Senyum pria itu mengembang, “Wah, itu baru temanku!”

Kala itu, pertempuran antara bangsa Titan dan Olympia berlangsung. Di tengah-tengah pertempuran, seorang wanita cantik menghentikan waktu layaknya seorang dewi. Kendati begitu, wanita tersebut hanyalah manusia fana yang mampu membus kabut dan menghentikan waktu dengan caranya sendiri. Namun, terdapat seseorang yang tidak berpengaruh oleh sihirnya.

Yaitu Kyuhyun.

“Kyu, anakku? Kau tidak terpengaruh oleh kekuatan ibu?”

Kyuhyun tersengal, dengan darah yang keluar dari salah satu sudut bibirnya. “Ibu? Apa yang ibu lakukan?”

Wanita yang diduga ibu dari Kyuhyun tersenyum miris. Menatap sekeliling dengan perasaan bercampur aduk. Getir. Tidak sanggup melihat perang tiada akhir. Kyuhyun yang berusia tujuh belas jatuh ke pelukan sang ibu.

“Ibu, kenapa ibu menghentikan waktu?”

Wanita itu tersenyum getir. Menahan sakit yang dirasakannya. Darah yang keluar dari pergelangan kakinya semakin banyak. Membuat Kyuhyun yang menyadari hal tersebut berubah sendu.

“Ibu? Ibu terluka!”

“Husshh, ibu baik-baik saja Kyu. Dengan begini, ibu bisa menghabiskan waktu bersamamu.” Kyuhyun menangis, dipeluknya sang ibu. “Sekarang, ibu memiliki satu permintaan untuk kau lakukan sewaktu menjalani misi sendiri kelak.”

“Apa bu?”

“Kau mengenal putri Athena yang selama ini dicari-cari itu? Dia bisa membantumu dalam misi itu, dan tolong jadikan dia pendampingmu. Karena hanya dia yang bisa membantumu mengalahkan pasukan Titan. Dia memiliki sebuah kekuatan yang tidak terduga, namun ia belum menyadarinya. Kuharap kau akan mencarinya Kyu, hanya dia yang bisa membantumu. Ingat itu‒ekhh Kyu…”

Citr tersebut berdenyar seiring nyawa wanita itu direnggut perlahan oleh Thanatos. Yuri duduk seorang diri. Menyaksikan citra mengerikan yang telah di tampilkan oleh konselor pondok Apollo. Kekuatan yang tidak terduga? Perkataan macam apa itu? Bahkan Yuri tidak mampu melakukan apapun selain mengomeli dirinya sendiri.

Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Kyuhyun dan Minho. Sementara konselor pondok Apollo senantiasa pada tempatnya. Menatap Yuri dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Kyuhyun menatap pria berjubah emas tersebut dengan tidak suka. Tentu saja, Kyuhyun dan pria itu memiliki hubungan yang tak terbantahkan sebagai musuh kekal.

Yuri menatap Kyuhyun. Siratnya tidak lebih baik daripada pertama kali ia bertemu dengan Kyuhyun dan batalionnya di ladang kandum kemarin. “Kyu, jangan katakan bahwa‒”

“Takdir telah ditentukan, sehingga oracle sendiri memutuskan untuk menyimpan citra tersebut.” Pria berjubah emas sukses menyita atensi ketiga pasang mata dalam ruangan tersebut.

Kyuhyun berdeham. Membuat seluruh atensi mengarah padanya lagi. “Aku benci menyetujuinya, tapi yang dikatakannya memang benar. Yul, kita harus kembali ke singgahsana dan melakukan ritual seperti yang telah diterapkan.”

“Ta-Tapi‒”

“Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini,” pria berjubah emas berujar. “Jika tidak, kau mungkin akan menjadi hal yang paling berbahaya suatu saat nanti.”

Dan gadis itu tidak mampu menolak. Sekalipun hati kecilnya bergetar takut.

Yuri mengucapkan sumpah serapah kuno yang artinya tidak ia mengerti sama sekali. Balutan gaun kelabu yang sangat indah menambah kecantikannya pada saat ini. Dan betapa ia lupa bahwa seharian ini ia berada di Olympus. Tak perlu menanti berapa banyaknya waktu yang ditempuh untuk melakukan ritual, kini gadis itu terlelap di atas tempat tidur perak.

Istilah lainnya, untuk ritual ini, secara tidak langsung ia‒

Bahkan Yuri ragu untuk mengatakannya sedarti tadi ‒menikah.

Dan tanpa ia sadari, sesuatu di luar sana menunggunya. Menunggunya untuk menjamah setiap memori dengan kekuatan maha dasyat yang selama ini ia pendam.

END

Nantikan kelanjutannya pada FF yang berjudulkan ‘Risk Of Loving’

Dan yess, di sini fantasinya agak nggak kelihatan, soalnya aku mau fokus ke permasalahan yang bakal mengacu ke sequel dari ff ini.
Gaje kah? Duh ku emang jagonya buat yang gaje dan garing kayak gini /what?/

Terima kasih bagi penunggu setia blog ini yang lebih kelihatan kayak rumah angker :v

Kalau kalian beneran mau lanjutannya, silahkan komen pendapat kamu mengenai ff ini.

See you~ ©Firda©

Advertisements

10 thoughts on “After The Storm (Oneshoot)

  1. Wuahh daebakk yuri .. wanita yang bisanya cuma ngomel ternyata anak dari dewi athena

    Sekalinya ketemu langsung di nikahin sama kyuhyun wuah wuah

    Di tunggu sequel nya eonni 🙂

    Liked by 1 person

  2. Setahuku mestinya anaknya Poseidon yg deket sm anaknya Athena.. dan anaknya Zeus itu cewek..
    Tapi ini cerita milik author sendiri jadi aq nikmati aja..
    Penasara cerita selanjutnya.. mereka beneran nikah??

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s