I Just Wanna Make You Love Me (Chapter 2)

i-just-wanna-make-you-love-me

Dear,
Kwon Yuri , Oh Sehun , Kim Jongin

Cover,
Carissa Art @ High School Graphics

Story,
pure mine

Chapter 1 || Chapter 2

HAPPY READING

“Aku bersungguh-sungguh,”

“Jadi, Sehun yang menemukan ponselmu saat itu?” Yuri terdiam. Berbicara dengan Yoona dalam telepon nampaknya cukup buruk. Dari seberang, Yoona bersama dengan Kim Joonmyeon. Keduanya melakukan makan malam bersama. Jika bukan Yuri yang meneleponnya di saat penting seperti ini, Yoona tidak akan bersedia untuk menjawab. Sayangnya ini Kwon Yuri, sahabatnya.

“Aku sudah mengatakannya hampir tiga kali dan kau masih terus bertanya? Ah iya, aku lupa. Kau pasti bersama dengan Joonmyeon saat ini, benar bukan? Maaf mengganggu makan malammu, kututup dulu, akan kulanjutkan besok.” Yuri menutup sambungan telepon. Yoona mendegus lega.

Joonmyeon menatap Yoona, “Sepertinya dia tahu bahwa kita sedang tidak ingin diganggu sayang~” Yoona tersenyum manis, mengangguk manis dan kembali menguyah.

Yuri menggeliat pelan. Ia terbaring di atas tempat tidurnya pasrah. Tidak ada hal yang dapat ia lakukan untuk saat ini. Mengerjakan pekerjaan sekolah? Ia sudah menyelesaikannya sore tadi. Menonton televisi? Semuanya membosankan. Inginnya menelepon Yoona dan mencurahkan isi hatinya. Akan tetapi, Yuri tidak ingin mengganggu Yoona dan Joonmyeon untuk saat ini.

“Se…hun…” Yuri bergumam. Terlintas wajah tampan pemuda itu saat ini. Dengan cepat Yuri menggeleng. “Tidak! Tidak! Aku tidak boleh memikirkan Sehun, walaupun dia yang menemukan ponselku dan mengembalikannya. Tapi dia mempermalukanku di hadapan Kim Jongin. Jongin berpikiran bahwa aku ini gadis ceroboh, aishh aku tidak menyukainya. Bahkan caranya bermain basket tidak lebih baik daripada Jongin. Dia ingin mengalahkan Jongin, tapi tidak akan bisa. Dia berbeda dengan Jongin,”

Yuri terdiam. Setelah ia mencerna kembali perkataannya, ada sesuatu yang cukup aneh untuk dikatakan. Kwon Yuri memang gadis ceroboh. Siapapun tidak akan bisa mengelak kenyataan tersebut. Serajin-rajinnya seorang Kwon Yuri, gadis itu tetap saja. Yuri memang ceroboh. Sifat yang telah melekat sejak lahir.

Yuri memukul keningnya pelan. Hembusan napasnya terdengar berat. Ia benci untuk mengatakan bahwa ia merupakan gadis yang sangat ceroboh. Ia melirik ke arah jam dinding. Pukul tujuh lebih duapuluh menit. Malam yang tidak bermanfaat. Yuri menganggap malam ini mempunyai julukan resmi tersebut.

Ahh, apa yang harus kulakukan?” Bila diperbolehkan, Yuri ingin berkunjung ke alam mimpi dengan penuh kedamaian. Namun otaknya tidak memperbolehkan hal tersebut. Disinyalir, Yuri membutuhkan asupan lebih‒mungkin. “Apa aku harus keluar?”

Yuri menatap pintu kamarnya ragu, “Tapi ke mana?”

Yuri menyusuri taman tanpa minat. Sendiri. Masalahnya ia hanya sendiri. Dari sekian banyaknya pengunjung taman, harus Yuri yang sendiri. Semuanya berpasangan, merajut kasih sayang di taman dengan keheningan malam yang romantis. Persetan dengan kata-kata rayuan yang ia dengar dari beberapa pasangan, begini akhirnya lebih baik berada di rumah. Pilihan menonton televisi jauh lebih baik daripada pergi ke taman‒sendiri.

Tidak terduga, justru visi seorang Kim Jongin melintas. Gadis itu mendudukkan diri di salah satu bangku taman. Senyum terukir jelas untuk saat ini. Membayangkan dirinya duduk bersama dengan Jongin membuat senyumnya kian merekah. Rasa sukanya kepada Kim Jongin tidak pernah berkurang. Justru ia semakin menyukai Kim Jongin.

Hh, kenapa aku harus sendiri? Tidak ada seorangpun yang bisa menjadi teman berbicaraku malam ini.” Yuri menyandarkan punggungnya. Kedua matanya terpejam. Sekiranya, mampu menghilangkan sedikit beban. Bukan beban juga, sebenarnya. Hanya saja permasalahan hati gadis itu menambah kesan tersendiri yang mengakar.

Ya! Oh Sehun! Jangan pergi!”

Yuri meliukkan alisnya dalam keadaan mata tertutup. Diambil sebuah celah bagi dwimaniknya untuk menilik kejadian yang tengah terjadi. Suatu nama membuatnya tersadar. Kini kedua matanya terbuka seperti biasa. Mengamati sosok pemuda kurus dengan rambut sedikit keperakan, serta sosok gadis berpakaian minim dengan riasan luar biasa menghebohkan. Sempat-sempat berpikir pula, dengan pakaian seperti itu akan memperhemat pengeluaran uang. Tapi itu pemikiran gila seorang Kwon Yuri.

Seberapa gilanya seorang Kwon Yuri, jelas-jelas mampu membuat setiap orang membenturkan kepalanya ke dinding. Kwon Yuri itu makhluk empat dimensi berwujud manusia yang tidak ragu dalam mengatakan berbagai hal. Beruntungnya, gadis itu dianugerahi sebuah kecantikan yang cukup memikat. Setidaknya hanya empat orang‒yang diketahuinya. Ayah, Ibu, Kakak laki-lakinya, dan Yoona. Siapa lagi jika bukan mereka?

Yuri menajamkan pandangannya. Seolah meneruskan citra seorang Wonder Woman. Mengabaikan Yuri memang tidak baik, maka biarkan Yuri membayangkan sesuai dengan kehendaknya.

“Eherm,”

Baiklah. Kali ini Yuri tidak akan bergurau dengan pengamatannya. Dehaman kepastiannya, mampu mengembalikan konsentrasinya. Pemandangan yang berada di hadapannya memang Sehun, dengan seorang gadis seksi‒entah siapa namanya. Yuri tidak peduli. Setidaknya ia mendapatkan hiburan di malam yang ia lewati sendirian ini.

“Kau pikir kau bisa meninggalkanku begitu saja, Oh Sehun?”

Yuri memiringkan kepalanya. Teliganya mendegung aneh. Bukan efek dari getaran bumi, justru perkataan gadis itulah yang mengganggu. Memprotes seolah Sehun sang belahan jiwa. Terdengar berlebihan. Tapi permikiran itulah yang terlintas di benak seorang Kwon Yuri.

Sehun terlihat tidak senang. Pemuda itu melenggang, terbatalkan oleh cengkraman sang gadis. Yuri mengamati wajah Sehun perlahan. Tepatnya, pemuda itu tampan. Ya, setidaknya Yuri tidak berbohong. Pantaslah bagi pemuda itu bila hendak mendapatkan kekasih baru. Kekasih? Entahlah. Yuri ragu, gadis berpakaian minim itu kekasih Sehun. Atau lebih tepatnya‒mantan.

Di titik ini, Sehun menepis cengkraman mantan gadisnya. Yuri tidak mempercayai dirinya, namun ia nampak senang dengan perlakuan Sehun. Seolah Yuri melihat sesi pemutusan hubungan antara kedua insan yang saling mencintai‒mungkin saja.

“Aku tidak menyukaimu, Yong Hyorin.”

Sebuah kisah cinta tragis. Menurut Yuri‒lagi. Kisah cinta yang berakhir di taman. Di saat yang lain saling melengkapi di bawah langit malam bertabur bintang, justru pasangan tersebut berpisah. Satu pengecualian, Yuri sendiri. Ia hanya menatap pasangan yang berada di ambang keputusan. Yuri benci mengingatnya.

Gadis berpakaian minim‒yang diyakini bernama Yong Hyorin terkejut bukan main. Ekspresi membuka mulut luar biasa serta seruan ketidak-percayaannya membuat kedua mata Sehun terpejam menahan malu. Setiap pasang mata menatap keduanya. Begitu juga dengan Yuri yang tiba-tiba saja menikmati hiburan dengan segelas kopi hangat. Dilihat dari peluhnya, Yuri baru saja berlari secepat kilat. Yah, barangkali gadis itu baru saja meminjam jaring laba-laba milik Spiderman untuk mengambilkan segelas kopi.

Dikiranya, Sehun akan melontarkan pernyataan lain yang menyesakkan. Kendati demikian, Sehun melenggang pergi. Menyisakan sosok Yong Hyorin dengan wajah terkejut. Yuri mengerjapkan matanya. Ia baru saja menikmati pertunjukkan. Namun, pertunjukkan terhenti karena Oh Sehun. Dan tidak! Ini hiburan satu-satunya di malam hari yang mampu mengembalikan mood gadis itu kembali seperti semula.

Sebenarnya, siapa yang benar-benar putus hubungan? Yong Hyorin dengan Oh Sehun, atau Kwon Yuri dengan Oh Sehun? Yuri mulai gila. Beragumen sendiri dengan segala pemikirannya. Yong Hyorin menghentakkan pantofel-nya kesal. Sejemang berpikir, Hyorin berlari kecil ke arah Sehun pergi.

Tidak! Hiburannya benar-benar hilang.

Lekas, gadis itu memilih untuk mengekori sosok Yong Hyorin. Gadis bermarga Yong itu berulang kali mengeluarkan kata kasar dan berbagai sumpah serapahnya kepada Oh Sehun. Bahkan, ada satu yang membuat Yuri terkejut.

“Dia baru saja memperkosaku semalam, dan dia bilang dia tidak menyukaiku? Yang benar saja, awas kau Oh Sehun. Aku akan membuatmu kembali tidur bersamaku,”

Penuh amarah. Rasa kesal. Kebencian. Tidak terima. Yuri mendapati berbagai hal tersebut dalam perkataan Hyorin. Akan tetapi, satu dari kalimat yang Hyorin katakan membuat Yuri merinding. Bahkan tidak percaya. Jarak yang tercipta cukup jauh, berbeda dari sebelumnya. Di saat Yuri berada tepat di belakang Hyorin dan berpura-pura menciptakan konversasi kecil dari ponselnya.

‘Memperkosa’.

Adakah kata yang lebih santun dibandingkan kata tersebut? Seorang Oh Sehun yang baru saja bertemu dengannya sore tadi, memperkosa seorang gadis semalam. Jadi, Oh Sehun si tampan itu memiliki kehidupan liar? Bersama dengan para gadis di pub. Memperk‒bukan! Meniduri mereka satu-persatu dan mengakhiri hubungan dengan cara seperti yang Yuri lihat.

Yuri bergidik ngeri. Itu cukup menyeramkan. Untuk gadis seukurannya, tindakan Oh Sehun cukup menyeramkan. Lantas, bagaimana dengan reputasi Sehun? Tidakkah pemuda itu akan merasa seperti yang terbuangkan? Tapi tunggu!

Untuk apa gadis itu sibuk memikirkan reputasi Sehun. Jika saja reputasinya lebih baik daripada Sehun, terkenal‒misalnya. Pasti gadis itu akan memberi Sehun sejuta penuturan mengenai perilaku Sehun di luar lingkungan sekolah.

Eh?

Irisnya menatap bangunan senderhana bertingkat delapan di hadapannya. Dengan salah satu penjaga yang berkeliaran di tempat parkir. Yuri mengenal tempat ini. Lantas mengapa Yong Hyorin berhasil membawa tungkainya ke sini? Bukankah gadis seksi itu ingin melakukan komplain lebih lanjut kepada Oh Sehun pasal hubungan keduanya? Lalu, mengapa…

“Jangan-jangan…”

Yuri menggeleng. Menepis setidaknya satu dari dua pikiran yang terlintas. Satu, Hyorin berkunjung ke apartemen temannya. Dua, Sehun tinggal di apartemen yang sama dengannya. Bukankah semua ini cukup membingungkan?

Sehun hanyalah sosok pemuda arrogant yang penuh dengan pesona terpendamnya. Yuri tidak tahu bila pemuda itu akan mengunci sosok Yong Hyorin dalam apartemennya. Saat itulah Yuri mematung di tempat. Sisi baiknya, tidak terlihat bahwa Yuri sedang menguntit. Menguntit sepertinya cukup buruk. Mengikuti justru lebih baik.

Sisi buruknya, Yuri benci mengatakan ini. Sehun bertemu tatap dengan iris kecoklatan Yuri. Membuat Yuri tersenyum kikuk. Ini benar-benar sulit dipercaya. Sesungguhnya gerangan apa yang membuat apartemennya berada di lantai yang sama dengan Oh Sehun? Lantai tujuh. Tujuh diyakini sebagai angka keberuntungan. Tidak bagi Yuri dalam menanggapi hal tersebut. Buktinya ia tidak pernah beruntung. Terlepas dari semua itu, Yuri merasa cukup nyaman berada di lantai tujuh.

Mendapatkan tatapan tajam dari seorang Oh Sehun bukan salah satu keinginannya. Inginnya, lebih baik gadis itu terlelap saja semalaman ini. Bukankah hari esok akan lebih rumit? Tapi, tatapan Sehun seolah mengunci pergerakannya pula. Semakin berusaha gadis itu untuk bergerak, semakin sulit pula gadis itu meninggalkan sosok Oh Sehun.

Kurang lebih, seperti terperangkap dalam jaring laba-laba. Jangan katakan itu, Yuri membenci laba-laba. Sejengkal saja ia ingin melangkah, maka kedua kakinya tertempeli oleh perekat luar biasa yang berada di dunia. Yuri tidak mampu berkutik. Dalam hal ini, Yuri merasa cukup aman karena gadis itu tidak menumpahkan kopinya ke arah Sehun. Kopinya baru saja meluncur dengan baik melewati kerongkongan lima menit lalu.

“K-Kau…”

Yuri membungkuk. “Maaf mengganggu jalanmu, aku akan pergi.” Yuri berlari kecil ke arah apartemennya yang berjarak satu apartemen dengan milik Sehun. Yuri melesat. Tidak mempedulikan tatapan Sehun yang benar-benar menghunusnya. Dan betapa beruntungnya ketika ia berhasil menutup pintu apartemen dengan baik.

“Sehun? Dia tetanggaku?”

Pagi ini, Yuri ingin cepat-cepat pergi ke sekolah tanpa sepengetahuan Sehun. Manakali saja, Sehun tiba-tiba bertanya perihal perilaku Yuri semalam. Tontonannya semalam berubah total hanya karena Sehun. Sehun berada di gedung apartemen yang sama dengannya. Berada di lantai yang sama. Berjarak satu apartemen saja. Rasanya Yuri seperti orang gila setelah mengetahui hal tersebut.

“Kau tahu si tampan berambut perak dari sekolah Shinhwa?” Yuri menghentikkan langkahnya. Sesuatu mencuri atensinya. Percakapan antara dua gadis yang berada di koridor. Keduanya berjalan di belakang Yuri. Yuri berdeham sejenak. Menyesuaikan langkah sepelan mungkin agar dapat mendengar percakapan mereka.

Sekolah Shinhwa. Si Rambut perak. Yuri yakin seratus persen. Siapa lagi jika bukan Oh Sehun? Pemuda yang benar-benar menarik minat para gadis saat pertama kali bertemu.

“Yang bernomor punggung sembilan puluh empat itu? Dia tampan sekali Sejin,”

Teman satu kelas Yuri yang bahkan tidak pernah menyapa Yuri maupun sebagainya. Sejin dan Nara. Si aneh yang selalu menyebarkan gosip terbaru.

“Setelah kudengar-dengar dari beberapa anggota ekstra basket, sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa si rambut perak itu akan melatih ekstra basket di sini. Bukankah itu menyenangkan? Tidakkah kau ingin mendaftar menjadi salah satu anggota ekstra basket?”

Kedua gadis itu nampak antusias. Yuri menyerngit. Yang benar saja, Oh Sehun melatih ekstra basket di sini. Sementara ia sendiri mengikuti ekstra basket. Tidakkah hal tersebut justru semakin membuatnya menderita? Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Sehun semalam.

Yuri terhenyak. Ia melupakan suatu hal yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan Sehun. “Aku lupa mengatakan terima kasih kepadanya, dia yang mengembalikan ponselku. Ah, sore ini ada ekstra basket. Ada baiknya jika aku mengikuti ekstra sore ini dan mengucapkan terima kasih. Baiklah… Itu rencanaku,”

Yuri yang pada mulanya ingin cepat-cepat berterima kasih kepada Sehun, justru mendapatkan sesuatu yang tidak terduga. Kedatangannya terhambat disebabkan oleh beberapa kotak hadiah yang berada pada lokernya. Tiga kotak berwarna merah muda dengan pita bersimpul di atasnya. Yang Yuri ingat, hari ini bukan hari ulang tahunnya. Lantas, untuk apa gadis mendapatkan kotak hadiah sebanyak ini?

Ekstra basket tengah berlangsung. Parahnya, gadis itu tidak berniat untuk datang. Kendati, niat utamanya untuk berterima kasih gagal. Memang benar, Sehun menjadi salah satu pembimbing pada kegiatan ekstra basket. Tentu saja, semakin banyak gadis yang berdatangan untuk sekedar melihat Sehun.

Yuri memutuskan untuk mengesampingkan rasa terima kasihnya. Lagipula, pemuda itu berada di gedung yang sama dengannya. Hal yang membuat Yuri bertanya-tanya saat ini, yakni mengenai tiga kotak hadiah yang berada di lokernya.

“Aku sudah mengunci lokerku, aku yakin itu.”

Yuri mengedar pandang. Memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang berada di sekitarnya. Ia ragu untuk membuka kotak pertama. Kotak pertama merupakan kotak terkecil yang memiliki sedikit corak polkadot merah muda terang. Apapun, dimulai dari yang terkecil ‘kan?

Ketika ia menarik pita tersebut, dengan cepat muncul-lah sebuah boneka mickey mouse kesukaannya. Yuri terlonjak. Terkejut dan senang di saat yang bersamaan. Boneka kesukaannya. Yang benar saja, ia ingin sekali memiliki boneka seperti ini. Yuri tidak mampu menyembunyikan senyumnya. Ia benar-benar senang.

Kendati setelahnya, ia mendapati sebuah catatan kecil pada pita yang digenggamnya.

‘Ini kotak pertama. Kau hanya boleh membuka yang berukuran sedang jika kau sudah menyakini seseorang,’

Guratan-guratan halus nampak pada kening gadis itu. Sesungguhnya gadis itu membenci teka-teki. Namun, demi seorang yang telah memberinya boneka, Yuri akan melakukannya. Maka mulai detik ini, gadis itu akan mencari siapa pengirim tiga kotak hadiah tersebut.

Yuri menghentikan langkahnya. Seingatnya, Sehun menjadi salah satu pembimbing ekstra basket di sekolah. Ekstra basket selesai pukul enam sore. Namun, mengapa ia mendapati kehadiran Oh Sehun yang berada satu lift dengannya saat ini?

Yuri mengembuskan napas cukup sulit. Canggung. Yuri merasakannya. Hanya keduanya yang mendominasi lift pada saat ini. Tujuan yang sama, membuat Yuri harus menahan degupan jantungnya. Yuri yakin, degupan jantungnya yang aneh ini disebabkan oleh keberadaan orang asing yang berada di sampingnya. Selagi gadis itu tidak pernah bersama dengan orang lain.

Pintu lift terbuka. Bukannya keluar, justru yang keduanya lakukan hanya berdiam diri. Mencoba mempersilahkan salah satu untuk keluar terlebih dahulu. Hanya berdiam, kemudian keduanya menoleh. Membuat Yuri bertatapan langsung dengan Sehun. Iris kecoklatannya yang menarik, menjadi kunci utama pandangan gadis itu saat ini.

“K-Kau bisa lewat dulu, Sehun.”

Sehun berdeham. Tanpa perlu mengulur waktu, Sehun melenggang. Meninggalkan Yuri yang mengembuskan napas lega. Atmosfir yang menimpanya tadi benar-benar buruk. Sehun memang tampan. Tetapi ada satu hal yang membuat Yuri terhanyut dengan Oh Sehun beberapa menit yang lalu.

Yaitu, tatapannya.

Tatapan Sehun benar-benar berbeda dari kebanyakan pemuda di luar sana. Intinya, Yuri tidak bisa berbohong bila Sehun memiliki daya tarik tersendiri. Meski begitu, Yuri memutuskan bahwa hanya ada satu nama yang saat ini senantiasa mengisi pikirannya. Kim Jongin.

Hanya pemuda itulah yang mampu menarik minat Yuri ke dunia tari dan basket lebih dalam. Dua hal tersebut, merupakan hal yang paling Jongin sukai. Berupaya sebaik mungkin agar mampu mendapatkan lirikan Jongin, Yuri menaungi dua hal tersebut tanpa ragu.

Sedikit kemajuan‒berkat bantuan Yoona, Yuri sedikit demi sedikit berteman dengan Jongin. Suatu hal yang Yuri impikan sedari dulu. Setidaknya terwujud, meski hanya sedikit.

Yuri melangkah pelan. Ia mampu melihat bagaimana cara Sehun masuk ke apartemennya. Menekan tombol password, memeriksa sesuatu di bawah lubang pintu, kemudian cara masuknya yang sedikit aneh membuat Yuri mengerutkan kening. Cara masuk Sehun sama seperti seseorang yang ingin keluar dari ruangan. Jadi, tubuh pemuda itu berlainan arah dengan direksi yang dituju.

Setelah Sehun benar-benar menutup pintu, Yuri bergegas masuk ke apartemennya. Ia menggeleng bingung. Selain tampan, pemuda itu cukup aneh. Ketampannya benar-benar menunjang. Jika saja pemuda itu tidak tampan, maka Yuri akan mencibir pemuda itu tanpa ragu sedikitpun. Sayangnya tidak.

Yuri mendudukkan diri di tepi tempat tidur. Mengeluarkan tiga kotak hadiah yang didapatnya di loker. Sampai saat ini, Yuri tidak memiliki pilihan seseorang untuk dijadikan tersangka. Ia berharap, ia akan mengetahui siapa si pengirim dengan cepat. Maka, ia bisa membuka kotak kedua.

“Sebenarnya, siapa yang mengirimkan semua ini?”

“Double date?”

Persetan dengan tatapan satu kelas yang menghunusnya. Persetan pula dengan mereka yang mulai berbisik-bisik janggal di sekitarnya. Yang Yuri kejutkan saat ini, seorang Kim Jongin menawarinya menjadi rekan double date? Yuri yakin, telinganya berfungsi dengan baik. Lalu, mimpi apa Yuri semalam?

Jongin tersenyum manis. Membuat Yuri meleleh dalam sekejap. Saat itu pula, Yuri mendengar kekehan Yoona dari belakang. Yuri melayangkan tatapan tajamnya, namun hal tersebut tidak berfungsi terhadap Yoona.

“Jadi bagaimana? Kau mau?”

Yuri menggaruk tengkuknya. Salah tingkah. “K-Kapan?”

“Akhir pekan, aku akan membawamu ke restoran kesukaanku. Kita akan bertemu dengan pasangan yang satu lagi tentunya,” Kim Jongin mengatakan tanpa ragu. Seolah, tiada masalah yang akan terjadi bila ia mengatakannya. Namun, tidak tahukah bahwa Yuri sedang menahan detak jantungnya saat ini?

Hmm, baiklah. Pukul berapa?”

Jongin lagi-lagi tersenyum, “Pukul lima sore? Aku akan menjemputmu,”

Oh, benarkah? Kau akan menjemputku?”

“Tentu saja,” Jongin mengangguk. Yuri sedikit tidak percaya. Pasalnya, selama ini tidak ada seorang pemuda yang pernah menjemputnya. Sama sekali tidak pernah.

“Baiklah, aku akan lembali ke kelas. Persiapkan dirimu akhir pekan nanti,”

Dan Yuri mendapati dirinya yang bersemu merah.

Yuri berulang kali tidak mampu menyembunyikan senyumnya hari ini. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Melakukan double date dengan Kim Jongin. Meskipun double date, Yuri tidak mempermasalahkannya. Selagi ia bersama dengan Jongin, ia akan menerimanya dengan senang hati.

Ia menunggu di depan gedung apartemen. Dengan dress selutut berwarna peach, ia terlihat lebih manis dari biasanya. Saat itu pula, ia teringat dengan tiga kotak hadiah yang didapatinya tempo hari. Ia berpikir, mungkin saja si pengirim ialah Kim Jongin. Melihat senyum serta tatapan Jongin, Yuri berpikiran seperti itu.

“Sudah menunggu lama?”

Yuri tersadar akan fantasinya ketika Jongin tiba. Mengendarai mobil Porsche, ternyata Kim Jongin lebih dari yang dipikirkannya. Yuri menggeleng‒sebagai balasan mengenai pertanyaan Jongin. Lekas, Yuri duduk di samping kemudi. Tidak lupa menggunakan sabuk pengaman, lalu tersenyum ke arah Jongin.

Jongin membalas senyum. Lalu melajukan mobilnya.

Sesuai harapan, Kim Jongin membawanya ke restoran berbintang yang pernah Yuri impikan dulu. Yuri tidak mampu menyembunyikan rasa senangnya. Sedari tadi ia tersenyum. Kim Jongin terlihat biasa. Justru, pemuda itu tengah mengedar pandang. Yuri berasumsi bahwa yang Jongin sedang mencari pasangan lain double date yang telah direncanakan.

Ah! Jongin oppa! Sini!”

Mendengar nama Jongin disebut, Yuri menoleh. Seorang gadis bersurai hitam dengan seorang pemuda yang Yuri kenali. Tidak hanya Yuri, bahkan Yuri yakin jika Jongin juga terkejut mengenalnya. Sehun.

Itu Oh Sehun.

Bersama dengan seorang gadis yang menyerukan nama Kim Jongin dengan nada manisnya.

TBC

Yeay, Chapter dua clear!
Btw, aku tersanjung lo sama readers yang minat komen di chapter satu.
Aku harap, di chapter ini dan seterusnya bakalan lebih kayak yang pertama

Keep RCL

Bye~ ©Firda©

Advertisements

9 thoughts on “I Just Wanna Make You Love Me (Chapter 2)

  1. Sehun ternyata laki-laki malam wkwk yuri jadi kayak nonton bioskop 😀 nonton-in pasangan yg lagi diambang putus

    Siapa pengirim tiga kotak itu ?? Jongin kah ??

    Sehun ngedate lagi (?) Padahal kemaren baru putus -_-

    Like

  2. terus yg ngirim kotak itu siapa? perasaanku sih, sehun mungkin? kan bisa aja sebenarnya pengirim kotak itu sehun tp sehunnya keliatan cuek kaya nggak ngelakuin apa” biar nggak ketahuan

    Liked by 1 person

  3. Sehun bener itu? Ya ampun merkosa 😂
    Siapa yang ngirim kotak nya? Kaya nya Sehun kah? Atau Jongin? Tapi kayanya Sehun deh, ada gelagat aneh gitu kalau baca secara rinci(?)
    Heoh ditunggu buat next chap nya thor
    Fighting

    Liked by 1 person

  4. Kita sama yuri aku juga suka nonton drama putusan teman teman ku ..
    Itu ralat bukan sehun yg memperkosa hyori tapi dia yg memperkosa sehun haha 😄
    Yakin seratus persen itu yg ngirim tiga kotak hadiah si sehun . Double date nya di tunggu . Kayaknya sehub bakal ama yuri ..

    Like

  5. wah wah makin seru…..
    siapa ya yg ngirim koyak itu ke yuri…
    duh sehun bad bangeut…jdi anak baik aja nanti nyesel….

    Like

  6. Sehun ngedate? Sama siapa? Adih… udah ada penggantinya . Gila pesonanya si Sehun kuat banget. Masalah kotaknya mungkin aku menduga itu dari si Sehun. Bisa aja kan. dan kata-kata waktu si Sehun masuk aaprtemen itu? Aku sama sekali gak paham.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s