Numb (Chapter 3 – END)

Numb (1)

Dear,
Kwon Yuri , Cho Kyuhyun , Kim Myungsoo

Little,
Kim Dasom , Chou Tzuyu

Cover,
Choco Yeppeo’s Design @ Story Poster Zone

Story,
pure mine

Sequel of “Depend (Vignette)”

Recommended Song :
SISTAR & Giorgio Moroder – One More Day

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 – END

HAPPY READING

“Sekarang siapa yang salah?”

Untuk kali ini, rasanya sulit bagi seorang Kwon Yuri untuk melangkah. Di depannya, terdapat seorang Kim Dasom dengan seutas senyum cerah yang sangat menawan. Mobil merah Dasom telah terparkir di depan gedung universitas Seoul. Yuri mengulum senyum, ia tidak ingin terlihat mengerikan di depan Dasom. Wanita cantik itu rela menunggu Yuri hanya untuk menemani pergi memilih gaun pengantin.

“Di mana Kyuhyun? Dia tidak ikut?” Yuri mencoba untuk terlihat antusias. Pada kenyatannya, wanita itu sama sekali tidak ingin membahas seorang Cho Kyuhyun. Dasom menggeleng sayu. Senyum Dasom memudar kala nama calon suaminya disebut.

“Dia tidak bisa ikut, tapi dia ingin aku memilihkan tuxedo yang warnanya senada dan terlihat pantas ketika ia kenakan.” Yuri terdiam. Ada sesuatu dalam diri Yuri yang berseru lega ketika Kyuhyun tidak turut serta dalam pemilihan gaun pernikahan ini. Akan tetapi, mendengar kalimat terakhir Dasom, Yuri tidak tahu harus merasakan apa.

“Jadi, bagaimana?”

Yuri terhenyak, “Hmm? Apa?” Wanita itu baru saja melamunkan hal aneh. Dasom tersenyum manis.

“Kita berangkat sekarang? Memilih gaun,” Yuri tersadar. Kemudian ia tersenyum nanar seraya mengangguk. Yuri berada di samping kemudi. Dasom mengemudikan mobil dengan baik tanpa kendala sedikitpun. Berbeda dengan Yuri yang kemampuan menyetirnya tidak cukup baik. Setidaknya Yuri mampu mengemudiakan mobil, itu saja lebih dari cukup. Mengingat selama ini Myungsoo selalu mengantarnya.

“Yuri?”

Hmm,

Dasom menilik ke arah Yuri sejenak, kemudian ia mengembuskan napas. “Yang ku ketahui, kau dan Kyuhyun berteman sejak kecil. Apa itu benar?”

Yuri terdiam. Ia bungkam. Perlahan, ia menoleh untuk melihat bagaimana raut wajah cantik seorang Kim Dasom saat ini. Yuri tidak tahu. Mengapa ia harus terkejut di saat Dasom mengetahui sebuah kenyataan bahwa Yuri merupakan teman Kyuhyun sedari kecil.

“Dari mana, kau mengetahuinya?”

“Untuk saat ini, kau tidak perlu mengetahuinya Yuri.” Ujar Dasom tersenyum kecut. “Satu hal yang terpenting, sebentar lagi temanmu itu akan menikah denganku. Kuharap kau bersedia menjadi temanku. Teman Kyuhyun, temanku juga.”

Selantasnya, Yuri tidak mendengar serentetan kalimat itu dari bibir Dasom. Benih rasa sakit begitu terasa dalam hatinya. Dasom tetap tersenyum, sepertinya ia menanti reaksi apa yang akan Yuri tunjukkan. Menyadari ekspresi Dasom, Yuri mengangguk. Tidak lupa dengan sebuah senyuman yang mampu menegaskan pengertian anggukannya.

“Ada banyak hal yang ingin ku ketahui mengenai Cho Kyuhyun. Maukah kau memberitahuku? Bagaimanapun juga, sekarang aku temanmu.”

Tidak ada pilihan lain selain mengangguk dan tersenyum. “Tentu, apa yang ingin kau ketahui? Aku akan memberitahumu dengan senang hati.”

“Baguslah. Ah! Kuharap kau tahu apa jawaban dari pertanyaanku ini,”

“Memangnya apa pertanyaanmu?” Yuri menatap Dasom bingung. Ia bertanya dalam hati mengenai apa yang ingin Dasom tanyakan. Bahkan, raut wajah Dasom berubah cukup serius.

“Apa kau tahu siapa cinta pertama Cho Kyuhyun?”

Untuk kali ini, Yuri tidak mampu menjawabnya. Dari dulu, ia tidak pernah tahu siapa orang yang Kyuhyun sukai atau bahkan cinta pertama Kyuhyun. Kyuhyun sangat tertutup untuk masalah batin dan rahasia yang serius lainnya. Akan tetapi, untuk berteman dan bermain, Kyuhyun sangat ramah.

Cinta pertama Kyuhyun?

Jadi, pria seperti Cho Kyuhyun sudah memiliki cinta pertama?

Tapi, siapa?

“Kau… Tidak tahu jawabannya?” pertanyaan Dasom menginterupsi Yuri. Yuri menatap Dasom dengan tatapan bingung. Kemudian ia menggeleng. Ia benar-benar tidak tahu. Yuri berani bersumpah. Kyuhyun tidak pernah memberitahunya.

“Dia tidak pernah memberitahuku, dia sangat tertutup.” Ucapnya seraya menatap wajah Dasom. Dasom terlihat kecewa. Wanita itu tidak mendapatkan jawaban yang selama ini senantiasa dinantinya.

Hh, baiklah. Kurasa aku harus mencari tahu lagi,”

Sejenak, sesuatu mengusik pikiran Yuri. “Darimana kau tahu, jika Kyuhyun memiliki cinta pertama?”

“Kau tidak tahu? Padahal kau temannya dari kecil, bahkan bisa dikatakan sahabat.” Dasom menatap Yuri tidak percaya. Yuri menggeleng, mewakili rasa ketidaktahuan-nya atas hal tersebut.

“Sudah kukatakan, Kyuhyun itu tertutup. Bahkan, selama kami berada di sekolah yang sama selama berturut-turut, dia tidak pernah mengatakan jika dia menyukai seorang gadis.” Dasom meringis pelan. Pikirannya sedang tidak baik.

“Jangan katakan jika Kyuhyun itu…”

Yuri menyadari kemana arah perkataan Dasom, “Tidak! Kyuhyun masih normal, kujamin itu.”

“Iya iya, aku juga tahu. Melihat dia begitu menyayangi Tzuyu –adiknya, dia itu pria normal.

Awalnya Myungsoo ingin memuntahkan isi perutnya kala lambungnya tidak bisa berkompromi dengan baik. Akan tetapi, niat tersebut diurungkannya. Ia melihat bagaimana wajah cemas Yuri dengan beberapa obat yang tidak ia ketahui apa namanya. Dalam msi Myungsoo kali ini, ia masuk dalam perangkap sang tersangka.

Sup beracun? Atau entahlah apa itu, Myungsoo baru saja melahapnya. Untungnya, dosis racun tersebut tidaklah tinggi. Setidaknya mampu membuat Myungsoo hampir memuntahkan seluruh makanannya hari ini.

“Aku tidak menyangka kau seceroboh ini Myung,” Yuri menggeleng kesal. Myungsoo memijat pelipisnya pelan. Untuk kali ini, ia enggan untuk mendengar ocehan Yuri. Tidak seperti biasanya yang senantiasa mendengar ocehan Yuri tanpa henti. Sebelumnya, Myungsoo tidak pernah bosan untuk mendengarnya. Namun untuk kali ini, ia merasa bosan. Sangat bosan dan sangat tidak menyukainya. Dan kali ini, Myungsoo memberanikan diri untuk melangkah ke kamar dengan perasaan mual yang masih melanda.

Yuri terdiam dalam tempatnya, ia tidak tahu mengapa seorang Kim Myungsoo berubah sedemikian terhadapnya. Yang ia ketahui, Myungsoo senantiasa sanggup berlama-lama mendengar ocehannya. Bukan seperti ini. Myungsoo berubah. Ya, sifat pria itu berubah dalam beberapa hari.

Yuri menyandarkan tubuhnya. Seraya memejamkan mata, wanita itu berpikir mengenai kejadian beberapa hari yang lalu. Kala ia menemani Dasom untuk memilih gaun pengantin. Untuk Dasom, dan untuk Kyuhyun. Terlepas dari semua itu, besok merupakan hari pernikahan keduanya. Ia tersenyum getir mengingatnya. Ia tidak tahu, mengapa hatinya seakan memberontak. Kendati apa yang ia permasalahkan?

Apa ada yang kurang dari kehadiran Myungsoo di sisinya selama ini? Atau mungkin saja, semua ini perbuatan kehendak masa lalu-nya. Segalanya bergantung pada takdir. Sesuai dengan persepsi-nya selama ini. Tapi ia tidak tahu, ia benar-benar tidak tahu. Mengapa, hal yang selalu dituangkannya dalam materi pembelajaran berubah menjadi kenyataan dalam hidupnya.

Ini baru yang namanya tidak adil.

Wanita itu beranjak dari duduknya, ia menoleh ke arah ponselnya. Terlintas sebuah pemikiran sederhana. Ia ingin berjalan-jalan. Untuk menjernihkan pikirannya. “Apa aku harus menelepon Luhan?”

Myungsoo pandai. Tentu saja. Buktinya, tanpa sepengetahuan Yuri, pria itu berhasil pergi dari apartemen menuju ke suatu tempat. Dengan motor besarnya, Myungsoo melaju cukup cepat membelah jalanan ramai kota Seoul. Ia tidak peduli dengan teguran-teguran dari pengguna jalan lainnya, yang ia pedulikan mengenai destinasi utamanya saat ini dan seseorang yang akan ditemuinya.

Tibalah ia di sebuah restoran yang cukup ternama di pusat kota. Dengan pasti, ia memasuki restoran tersebut. Tanpa perlu mencari-cari, dengan cepat ia menemukan seorang yang akan ditemuinya. Orang tersebut menatap Myungsoo dengan tatapan oenuh tanda tanya. Myungsoo melepaskan jaket kulit hitamnya. Sembari menepis jarak, pria itu menyeringai.

“Sudah lama?” tanya Myungsoo kepada seorang pria berpakaian casual di hadapannya. Pria tersebut berdecih pelan, ia menyadari jika Myungsoo tidak benar-benar bertanya.

“Kurasa kau sudah tahu jawabannya,”

Myungsoo tersenyum sinis, “Kau pandai, aku salah menilaimu. Jika kau ingin bergabung dengan agen rahasia yang kupimpin, mungkin aku akan menerimamu secara percuma.”

“Tidak,” pria di hadapannya menggeleng. “Aku tidak pandai berbohong. Aku memang pandai, tapi tidak dalam hal berbohong atau menyembunyikan sesuatu.”

Secara tidak langsung, perkataan pria itu menyulut emosi Myungsoo. Sisi baiknya, Myungsoo mampu mengatur emosinya. Kepalan tangannya kini terlepas perlahan. Ia tidak ingin membuat keributan secara percuma. Terlepas dari semua itu, mual masih melandanya.

“Sekarang, ada masalah apa?” Myungsoo tersadar mendengar pertanyaan pria di hadapannya. Pria itu bersandar dengan santai. Berbeda dengan Myungsoo yang saat ini ingin melayangkan sejuta pertanyaan kepadanya.

“Kenapa kau tega membiarkan Yuri menemani Dasom memilih gaun pengantin?”

Kyuhyun terhenyak. Kyuhyun dari dulu tahu, berbicara dengan Myungsoo selalu membahas masalah penting.

“Dan satu lagi,” Myungsoo menatap Kyuhyun lekat. Seolah ia tidak ingin pelaku dari semua kejadian ini hilang begitu saja. “Undangan yang kau kirim di apartemen kami, bagaimana bisa kau mengetahui alamatnya? Yang kuingat, aku dan Yuri belum pernah memberitahumu di mana tempat tinggal kami.”

Kyuhyun tetap mengatur raut wajahnya. Ia tetap bersikap sesantai mungkin di hadapan Myungsoo. Yang pada dasarnya, iapun cukup bimbang dalam menjelaskan semuanya.

“Sepertinya, itu bukan urusanmu.” Ujar Kyuhyun seraya beralih pandang dan menyesap kopi-nya. Myungsoo meliukkan alisnya mendengar perkataan Kyuhyun yang sama sekali tidak diinginkannya.

“Kau tahu Kyu?”

Kyuhyun menoleh, “Persahabatan kita berubah karena kehadiran Yuri. Dulu sebelum Yuri datang, kita selalu menghabiskan waktu untuk bercerita tentang rahasia yang kita miliki. Bahkan, dulu kita seringkali bertemu. Kita sudah seperti saudara, tidakkah kau mengingatnya… Sahabatku, Kyuhyun?”

Rasanya, Kyuhyun seperti pelaku yang selama ini dimata-matai oleh Myungsoo. Ia berhadapan dengan seorang agen rahasia, dan efeknya berarus hingga di saat seperti ini.

“Tentu saja, aku mengingatnya dengan baik, sahabatku Myungsoo…”

“Dan kau masih ingat janji kita dulu?” Kyuhyun menautkan kedua alisnya. Myungsoo tengah mempermainkannya. Myungsoo berhasil membawa Kyuhyun jatuh ke sisi kelam Myungsoo yang selama ini bertanya-tanya. Kyuhyun mengangguk, “Tentu saja.”

“Baiklah,” Myungsoo menyeringai. Ia beranjak, kemudian mengenakan kembali jaket-nya. “Kuharap kau mengerti tentang apa yang kumaksud,”

“Kau tidak ingin memesan makanan?” tawar Kyuhyun menyadari Myungsoo akan pergi. Myungsoo menggeleng.

“Kau pikir uangku sebanyak yang kau miliki? Tidak Kyu, lagipula aku lebih suka membeli makanan instan di minimarket atau membeli buah-buahan.”

Kyuhyun berdecak pelan, ia tahu pertanda ini. “Aku yang akan membayarnya, tenang saja,”

Lagi-lagi Myungsoo menggeleng, pria itu berpegang teguh pada pendiriannya.

“Tidak, simpan saja untuk pernikahanmu. Menikah membutuhkan dana yang sangat besar, aku tidak ingin membuatmu miskin hanya karena membayar semua makanan yang akan kupesan.” Kyuhyun terdiam. Lagi-lagi ia tidak mampu membalas perkataan Myungsoo. Demi apapun yang ia miliki, untuk kali ini saja, ijinkan pria itu untuk membenci sahabatnya.

“Tidak masalah, lagipula…” Kyuhyun menjentikkan jemarinya. “Belum tentu pernikahanku berjalan lancar.”

Sayangnya, sosok Kim Myungsoo telah melangkah pergi dari hadapannya.

Myungsoo kira, semalam Yuri menghabiskan waktu bersama Yoona atau membeli keperluan makan di minimarket terdekat. Tapi perkiraan tersebut sirna begitu saja. Lantas, sejenis keperluan apa yang membuat Yuri tidak pulang semalaman? Bahkan, sosok wanita yang ia sayangi tidak nampak seperti biasa pada pagi hari. Biasanya, wanita itu akan menyiapkan sarapan atau paling tidak melakukan olahraga ringan di dalam ruangan.

Dengan panik, ia melajukan motor besarnya dengan kecepatan penuh. Ia tidak peduli dengan paras tampan atau kartu undangan pernikahan Kyuhyun dan Dasom yang dilaksanakan hari ini. Peluh mulai berjatuhan. Yang ia khawatirkan hanya Yuri.

Yuri.

Ya, hanya wanita itu yang berada di pikirannya saat ini.

“Yuri, di mana kau?”

Kyuhyun menatap pantulan dirinya di cermin dengan cemas. Sesuatu membayangi dirinya untuk pergi ke suatu tempat. Namun entah di mana itu. Semalam, ketika melihat orang-orang sibuk mendekorasi ruangan, masalah datang. Tangga yang digunakan untuk mendekorasi bagian atas ruangan jatuh dengan sendirinya. Begitu juga dengan jatuhnya rangkaian bunga di dinding. Seperti pertanda buruk, Kyuhyun ragu dengan pernikahannya hari ini. Sebelumnya ia tidak pernah ragu. Sama sekali tidak pernah. Tetapi berbeda dengan hari ini.

Pintu ruangan itu terbuka. Menampakkan kehadiran Tzuyu yang dibalut gaun putih selutut. Gadis itu terlihat cantik, tentu saja. “Oppa, kau tampan sekali!” puji Tzuyu seraya mendekat ke arah Kyuhyun. Gadis itu mengamati sosok Kyuhyun dari atas hingga bawah. Kemudian ia tersenyum simpul.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Tzuyu menggeleng, “Tidak, hanya saja sebentar lagi kau akan menikah. Kakakku yang aneh dan dingin ini akan menikah. Aku tidak percaya,”

Kyuhyun tidak tahu harus bersikap senang atau sedih. Ia bimbang. Berada di antara kedua perasaan tersebut tanpa ia ketahui apa penyebabnya. Sebentar lagi, beberapa menit lagi ia akan mengucapkan janji suci di hadapan semua orang dan menjadi suami dari seorang Kim Dasom. Haruskah ia merasa bimbang?

Bukankah ini yang diinginkan kedua orang tua-nya? Bukankah semua ini atas kehendaknya pula? Selama ini ia selalu memberikan yang terbaik kepada kedua orang tua-nya. Ia tidak tahu, perihal apa yang membuatnya gundah sedemikian ini. Ia terombang-ambing di antara deburan ombak lautan.

Oppa, kau kenapa?” Tzuyu menatap Kyuhyun heran. Kyuhyun menggeleng pelan, ia membelai surai hitam Tzuyu lembut. “Kau adikku yang paling kusayangi, terima kasih karena kau selalu menemaniku.”

Tzuyu mengangguk senang. Baru kali ini ia mendengarkan perkataan semacam itu dari mulut seorang Cho Kyuhyun. Kyuhyun mengembuskan napas perlahan. Ia tertunduk pelan. Sesuatu mengganggu pandangannya ketika mendapati sebuah kotak hadiah berwarna putih berada pada genggaman Tzuyu.

“Tzuyu, apa itu?”

Tzuyu mengulurkan kotak tersebut kepada Kyuhyun. “Oh, ini dari seseorang. Kurir mengantarnya tadi, dan katanya ini untukmu oppa. Sebenanya aku ke sini untuk mengantarakan kotak ini. Mungkin hadiah dari teman atau kerabat ayah dan ibu.”

Kyuhyun menerima kotak tersebut dengan enggan. Perlahan, ia membuka kotak tersebut. Terdapat sebuah kertas foto yang bertuliskan sesuatu. Tzuyu ingin mengikutsertakan diri melihat ketika ia mendapati raut wajah kakaknya yang begitu serius. Kyuhyun membalikkan kertas tersebut dan melihat sebuah objek yang sangat janggal atau bahkan mengerikan. Ketika Kyuhyun membalikkan kertas tersebut, Tzuyu ingin membaca tulisannya. Namun, dengan cepat Kyuhyun mengumpat dan berlalu meninggalkan Tzuyu dengan tergesa-gesa.

Eh? Oppa? Kau ingin pergi ke mana? Sebentar lagi kau harus pergi ke altar,” Tzuyu berlari kecil mengejar kakaknya. Ia tidak tahu mengapa kakaknya bergegas menyambar kunci mobil dan menggenggam erat gambar yang bertuliskan –entah apa itu.

“Katakan pada semua orang, aku membatalkan pernikahan ini.”

“Yuri!” Myungsoo memaksakan tungkainya untuk berlari dua kali lebih cepat. Pria itu mengedar pandang setibanya berada di sebuah gedung tua tepat di perbatasan Seoul. Berkat bantuan rekan agen rahasianya, ia dapat mengetahui di mana posisi Yuri. Setidaknya, lima menit yang lalu posisi wanita itu berada tepat di sini.

“Yuri!” berulang kali pria itu menyerukan nama Yuri. Pula hanya dengungan sunyi yang mewakili jawabannya. Ia menelusuri segala ruangan. Iapun tidak mendapati kehadiran Yuri. Berulang kali umpatan-demi-umpatan dilontarkannya. Yang berada di pikirannya saat ini hanya Yuri.

Kwon Yuri.

Ia harus menemukannya. Dalam keadaan apapun.

Myungsoo tiba di lantai teratas gedung tersebut. Tidak ada tanda-tanda akan adanya kehidupan. Namun, Myungsoo senantiasa akan mencari keberadaan Yuri. Ia yakin. Sangat yakin jika Yuri berada di sini.

Surprise! Myungsoo,” tungkai pria itu terhenti. Seseorang berada tepat di belakangnya. Ia mengenal siapa pemilik suara itu. Ia masih ragu, sehingga ia membalikkan badan perlahan.

“Kau?” Myungsoo memicingkan kedua matanya. Pria berjaket hitam di hadapannya kini mendekat. Dengan memutar revolver dan tersenyum sarkastik. Langkah pria itu lambat, namun tersirat sebuah aura negatif setiap ia melangkah. Sorot matanya menandakan sebuah kegelapan yang tiada berujung. Membuat siapa saja mungkin akan takhluk dan bertekuk lutut. Tapi tidak dengan Myungsoo.

Myungsoo memantapkan jejakannya. Ia tidak ingin membuat situasi menjadi lebih buruk hanya dengan lontaran masa lalunya. “Di mana kau menyembunyikannya?”

Pria itu menghentikkan langkahnya. Pria itu mengedikkan bahu acuh –seolah ia tidak mengetahui apapun perihal keberadaan Yuri. Meski pada dasarnya, Myungsoo yakin bahwa pria itu yang menyembunyikan Yuri.

“Kau orang yang penuh dengan ambisi, ah pantas saja kedua orang tua Yuri mempercayaimu. Irinya,” pria itu berujar dengan nada manja yang mengejek di akhir kalimat. Myungsoo tahu, ini hanya taktik pria itu saja.

Ah, sayangnya hati wanita itu bukan untukmu. Mengecewakan sekali, padahal selama ini kau selalu hadir dalam keadaan apapun. Kau sudah mengorbankan banyak hal tentang dirimu untuknya. Tetapi, justru hatinya bukan untukmu.” Myungsoo mengepalkan tangannya. Emosinya hampir tersulut. Beberapa detik kemudian, ia tersadar bahwa hampir berada dalam perangkap.

“Terima kasih atas perhatiannya, Luhan. Tapi aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk berbicara denganmu seperti ini.” Luhan menatap Myungsoo sarkastik.

“Sepertinya kau melihat hadiah-ku, ah aku juga memberitahu si pengantin baru itu. Kuharap ia tidak akan datang, sudah cukup saja bagiku bertemu denganmu.” Luhan bersidekap. Myungsoo menaikkan salah satu alisnya lantaran ada yang perlu ia tanyakan.

“Pengantin baru?”

Luhan mengangguk mantap, “Seharusnya kau menghadiri upacaranya saat ini, benar ‘kan?”

“Aku membatalkannya!”

Kedua pasang netra pria yang saling berhadapan tersebut memutar pandang. Cho Kyuhyun datang dengan balutan jas yang –seharusnya dikenakan saat pernikahan. Kedua netra Myungsoo membulat sempurna. Cho Kyuhyun membatalkan pernikahannya? Itu berarti? Ia datang ke tempat ini untuk…

“Aku tidak heran kau membatalkannya,” Luhan merajut langkah ke arah Kyuhyun.

“ Di mana Yuri?” Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya. Luhan tersenyum sarkastik. Oria itu nampaknya ingin bermain dengan keduanya terlebih dahulu. “Bebaskan dia, aku akan menuruti semua permintaanmu.”

“Tidak semudah itu, kawan. Kau harus berhadapan dengan orang-orangku dulu,” saat itulah beberapa pria berpakaian hitam datang. Tubuh besar, raut wajah menyeramkan beserta beberapa balok kayu sedang yang dijadikan senjata.

“Sepertinya, ini akan menyenangkan.” Luhan mundur. Menyisakan kedua pria dan sekutunya yang melingkari kedua pria tersebut. Perlahan, sekutu Luhan melangkah maju dengan wajah menantang mereka. Kyuhyun melepas jas bagian luarnya. Sekalipun tidak pandai berkelahi, Kyuhyun akan melakukan apapun demi menyelamatkan Yuri.

Myungsoo tahu betul apa yang harus ia lakukan. Agen rahasia yang paling sering diandalkan oleh pemerintah, Myungsoo tidak akan membiarkan kedudukannya berada di tangan orang lain hanya karena kejadian seperti ini. Ia akan membuktikan bahwa ia bisa mengatasi semua ini. Ia akan menyelamatkan Yuri, dengan cara apapun.

“Untuk kali ini, aku akan bekerjasama denganmu, tuan Cho.” Myungsoo menyiapkan kuda-kudanya. Beserta, sesuatu yang berada di balik saku jaketnya. Sudut mata Kyuhyun menilik pria itu.

“Ya, aku setuju untuk itu. Kita harus bekerjasama untuk menghadapi para sekutu lipas itu.”

Kemudian, perkelahian terjadi. Myungsoo dengan kemampuan bela diri tingkat tinggi, ia berhasil mengalahkan seorang pria yang membawa sebilah pisau. Merasa pria tersebut cukup linglung, Myungsoo mengambil alih senjata tersebut. Yang paling berbahaya, terdapat dua orang dari sembilan sekutu Luhan. Dua diantaranya membawa pisau. Myungsoo berhasil mengambil satu. Untuk saat ini, ia harus menghadapi lima pria berbadan besar yang sangat tertarik untuk bertempur dengannya.

Dengan kemampuannya yang tidak perlu diragukan, Myungsoo berhasil mengalahkan pria-pria tersebut. Melihat tersisa tiga orang, Luhan lekas pergi ke suatu tempat. Myungsoo menduga bahwa pria itu pergi ke tempat Yuri ditahan. Myungsoo membantu Kyuhyun yang nampak kesulitan menghadapi tiga pria berbadan besar.

Salah satunya menghantam punggung Kyuhyun, membuat pria itu terseungkur. “Kyuhyun,” Myungsoo hendak melayangkan tinjunya ke arah pria yang menghantam Kyuhyun. Tanpa di duga, seseorang menghantam punggungnya juga. Myungsoo tertatih, menahan sakit yang ia rasakan saat ini.

Baik Myungsoo maupun Kyuhyun, kedua pria itu terlihat menyedihkan hanya dengan satu pukulan. Balok kayu berukuran satu meter, yang entah mengapa hantamannya benar-benar keras dan meninggalkan sakit yang menjalar.

Tidak di sangka, akhirnya akan menjadi seperti ini. Perjuangan keduanya terputus di awal. Kyuhyun tersenyum nanar, percuma. Wanita yang selama ini dicintainya, yang selama ini diperjuangkannya, untuk kali ini ia harus merelakannya kepada orang lain. Kyuhyun, ia sangat mencintai Yuri demi apapun yang berada di dunia. Kyuhyun memejamkan matanya, menahan perih.

Myungsoo menyentuh ujung bibirnya. Ia menyeringai menatap darah yang berada di sana. Tuhan, tidak membelanya. Tuhan, sedang berkecil hati kepadanya untuk saat ini. Myungsoo memejamkan matanya, menahan nyeri.

Hey! Badak bercula tiga! Sini lawan aku!”

Kyuhyun dan Myungsoo membuka mata. Kedua pasang mata mereka membulat tidak percaya. Seorang wanita dengan gaun pernikahan serta riasan yang mempesona. Justru datang untuk melawan ketiga pria berbadan besar dengan tangan kosong.

“K-Kau?”

“Dasom?”

Kim Dasom melayangkan pukulannya ke arah salah satu pria yang membuat Myungsoo tersungkur. Kemudian, kedua pria lainnya menerjang dengan sebalok kayu yang siap menghantam Dasom saat itu juga. Satu hal yang kedua pria itu tidak tahu mengenai Kim Dasom, ia merupakan agen rahasia berjenis kelamin perempuan yang paling ditakuti oleh agen rahasia manapun.

“Oke! Selesai, tidak sulit. Tapi aku jarang menggunakan kekuatanku,” Dasom menilik ke arah Myungsoo dan Kyuhyun yang mencoba berdiri. Dasom menghampiri keduanya. Membantu kedua pria yang nampak menyedihkan sekarang ini.

Ya! Kim Myungsoo, kenapa kau lemah sekali? Kau hanya terkena satu kali pukulan dari balok kayu, dan kau terlihat seperti mayat hidup.” Dasom berpura-pura kesal ke arah Myungsoo. Kyuhyun terdiam. Ia merasa bersalah kepada Dasom.

“Dasom,” Myungsoo menatap gaun pengantin Dasom yang sobek. “Gaunmu?”

Dasom tersenyum, “Tidak masalah, lagipula aku tidak akan menggunakannya lagi.” Di akhir kalimat, Dasom menatap Kyuhyun. Kyuhyun menghembuskan napas. Ia benar-benar merasa bersalah.

“Maafkan aku Dasom, aku merusak pernikahan kita.” Kyuhyun tertunduk pelan.

Dasom berdecak, “Apa yang kau maksud? Pernikahan kita? Tidak Kyu, sebenarnya dari dulu aku tidak benar-benar mencintaimu. Aku hanya mengagumimu, ya hanya mengangumi. Eh? Apa yang kita lakukan? Bodoh, kita harus segera menyelamatkan Yuri sebelum Luhan membawanya pergi ke tempat lain.”

Ketiganya mulai berlari. Kyuhyun tersadar dengan perkataan Dasom. “Kau mengenal Luhan?” Dasom sedikit menarik bagian bawah gaunnya agar dapat berlari secepat mungkin. Dasom mendengar pertanyaan Kyuhyun, wanita itu mengangguk.

“Kalian tidak tahu? Kedutaan besar luar negeri percaya bahwa dia merupakan ketua organisasi gela yang seringkali melakukan pembunuhan dan penjualan organ manusia secara ilegal.” Lari kedua pria yang berada di sampingnya melambat.

“Apa? Luhan? Jadi dia yang selama ini kita cari?” Myungsoo terkejut. Teman satu sekolahnya dulu, sekarang menjadi seorang yang seperti itu? Seorang yang melakukan pekerja penuh dosa. Begitu juga dengan Kyuhyun yang tidak tahu harus mengatakan apa. Kyuhyun sama terkejutnya dengan Myungsoo. Xi Luhan, pria tampan idaman setiap orang. Kini menjadi lebih buruk daripada monster.

“AKHHHH!!!”

Sekarang yang lebih penting memikirkan keselamatan Yuri. Saat ini, Yuri menjadi tawanan seorang Xi Luhan. Tidak ada yang mampu berpikir jernih untuk saat ini. Ketiganya kembali berlari. Menuju ke sumber suara teriakan yang baru saja terdengar. Ketiganya yakin bahwa teriakan itu merupakan teriakan Yuri.

Atap.

Destinasi terakhir setelah mereka mencari dengan cepat ke segala ruangan di lantai sebelumnya. Pintu yang menuju ke atap terkunci dari luar. Luhan yang melakukannya. Mengumpulkan semua tenaga, ketiganya mulai mendobrak. Pintu kayu, pasti bisa.

Pintu terbuka. Dengan napas terengah, ketiganya kembali berlari. Sebuah helikopter dalam kondisi hidup siap diterbangkan. Yuri berada di dalamnya. Dengan Luhan yang mengunci pergerakan wanita itu beserta para anak buahnya. Helikopter siap diterbangkan.

Kyuhyun berlari, disusul dengan Myungsoo dan Dasom yang menerjang dari sisi samping. Kyuhyun meloncat, tangannya berhasil menggapai kaki helikopter. Begitu juga dengan Myungsoo dan Dasom yang bahkan berdiri. Kyuhyun tidak tahu, mengapa kedua orang itu pandai sekali dalam melakukan hal berbahaya.

Myungsoo memecahkan kaca jendela helikopter dengan sikunya. Darah menetes, Myungsoo tidak peduli. Yuri terlihat memberontak. Dengan mulut yang tertutupi oleh kain dan tangan terikat. Di sisi kanan, Dasom memecahkan kaca jendela pengemudi. Hal tersebut sukses membuat salah satu pengemui terganggu. Pecahan kaca mengenai tubuhnya, sebagian menggores.

Dasom mengambil alih pengemudi dari posisi berbahayanya. Diam-diam, Kyuhyun berhasil memecahkan kaca jendela pengemudi yang lain dengan balok kayu yang kebetulan ia bawa ketika berlari tadi. Setelah pecah, Kyuhyun menghantamkan balok kayu tersebut kepada pengemudi. Dasom segera membuat helikopter tersebut dalam keadaan mati.

Helikopter berada pada jarak seratus meter dari pijakan sebelumnya. Karena Dasom, helikopter tersebut jatuh ke lantai atap‒cukup buruk. Helikopter menghantam tanah cukup keras, sehingga menimbulkan dentuman keras. Helikopter dalam keadaan miring. Myungsoo segera menarik Kyuhyun untuk menghindar.

Yuri berteriak, ia berhasil melepas kain yang menutupi mulutnya. Yuri bergegas keluar dari helikopter, ia meninggalkan Luhan yang tidak sadarkan diri akibat dentuman. Yuri keluar, dengan wajah ketakutan ia memeluk Kyuhyun. Kyuhyun membalas pelukannya dengan napas terengah. Yuri menangis. Trauma atas hal yang baru saja ia lakukan.

“Kyu… Aku takut…” lirihnya. Air matanya membasahi kemeja putih Kyuhyun yang kusut dan terapat bercak darah. Myungsoo terdiam. Ia menatap Yuri nanar. Myungsoo tahu, ini akan terjadi. Keduanya berpelukan, mencurahkan kegelisahan yang mereka rasakan.

Myungsoo tersenyum pahit. Saat itu pula ia melihat kedatangan Dasom. Dengan gaun yang kini pajangnya hanya selutut. Dasom baru saja memotongnya. “Aku baru saja menghubungi polisi, mereka akan tiba sebentar lagi.” Myungsoo mengangguk. Ia menatap wanita di sampingnya. Riasannya yang mempesona telah hilang.

“Kau, benar-benar tidak akan menikah?” Dasom menoleh.

“Tidak, lagipula dengan siapa yang akan menikah denganku? Lebih baik kau bertanya pada pasangan itu! Mereka romantis sekali,” Dasom menunjuk Kyuhyun dan Yuri yang masih berpelukan. Myungsoo tersenyum getir.

“Apa kau? Ingin menikah denganku?” Dasom mengerjapkan matanya beberapa kali. Pertanyaan Myungsoo, membuat kinerja otaknya melambat. Wanita itu menoleh‒ragu.

“K-Kau? Apa kau baik-baik saja? Sepertinya otakmu sedikit bergeser dari tempatnya,” Dasom tertawa renyah. Myungsoo menatap wanita itu tajam. Dasom merutuki dirinya, sepertinya ia melayangkan pertanyaan yang salah. “Apa kau menganggapku sebagai pelampiasan?”

Myungsoo menggeleng, membuat Dasom membulatkan mata tidak percaya. “Jika tidak ingin, ya aku akan mengejar Yuri lagi.” Ketika Myungsoo hendak melangkah, Dasom mencegahnya.

Ya! Kau ingin mengganggu hubungan mereka huh?” Myungsoo menatapnya, Dasom salah tingkah. “Baiklah, aku akan menikah denganmu.” Myungsoo segera membawa Dasom ke dekapannya.

Yuri melepaskan pelukannya. Ia menatap Kyuhyun lamat. Tersirat sebuah kegembiraan tersendiri ketika melihat Kyuhyun datang untuk menyelamatkannya. Yuri tersenyum senang, begitu juga dengan Kyuhyun yang berusaha menghapus air mata Yuri. Sesuatu mengganggu penglihatan Yuri. Pakaian yang Kyuhyun kenakan saat ini.

“Kyu, kau…”

Kyuhyun menggeleng, “Aku tidak jadi menikah, aku membatalkannya demi dirimu. Begitu juga dengan Dasom,” Tidak ada hal yang membuat Yuri sebahagia ini. Mendengar perkataan Yuri membuat beban di hatinya terangkat. Pria yang dicintainya, membatalkan pernikahannya demi dirinya.

“Boleh aku mengatakan yang sebenarnya?”

Yuri berjengit, “Huh?

Kyuhyun tersenyum. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Benda persegi berludru merah. Kyuhyun membukanya. Menampakkan sebuah cincin dengan permata dan inisial salah satu huruf alphabet. ‘Y’.

“Aku selalu membawa ini kemanapun aku pergi, jadi jangan bingung jika aku membawanya saat ini.” Yuri tersenyum.

Kyuhyun menempatkan cincin tersebut pada telunjuk Yuri. Yuri menatap Kyuhyun tidak percaya. Ia bahagia. Benar-benar bahagia. Tuhan, gadis itu berterima kasih kepada-Nya saat ini. Kyuhyun menatapnya lamat. Yuri membalas tatapannya dengan senang hati.

“Aku, mencintaimu… Kwon Yuri.”

Yuri terkesiap. Perkataan yang selama ini diharapkan, impian yang selalu ia pendam. Menjadi kenyataan hanya dalam sekejap. Di hadapannya, seorang Cho Kyuhyun, pria yng selama ini tidak pernah ia lupakan. Pria yang diyakini sebagai sumber kebahagiaan. Pria yang selalu ia nanti. Pria yang selalu ia cintai.

“Aku juga Kyu, aku mencintaimu.”

Keduanya berpelukan. Menghangatkan diri masing-masing dengan pernyataan membahagiakan. Bagaikan mimpi, seolah tidak terjadi apapun yang baru saja menimpa Yuri. Yuri senang. Hingga ia menitihkan air mata kebahagiaan pada saat itu juga.

Myungsoo dan Dasom menatap pasangan tersebut dengan senyum aneh. Keduanya, mungkin telah membohongi hati masing-masing dengan cara yang sama.

Dasom mencintai Kyuhyun.

Myungsoo mencintai Yuri.

Namun, takdir tidak memihak dengan baik untuk saat ini. Sehingga mereka memutuskan untuk bersama dan rencananya akan menikah ‒entah kapan.

Terlalu larut dalam situasi, suatu pemandangan yang mengganjal berada di samping helikopter. Pistol teracung. Seseorang membulatkan matanya. Titik fokus pistol tersebut, ialah orang yang disayanginya.

“MATI KAU!”

Dor!

“YURI!!!”

Akh!

If I’m in love but I feel lonely
Something is wrong
I yell at the wall, I try by myself
But everything is the same

Terkejut bukan main, seluruh pasang mata yang berada di sana melebarkan mata. Yuri mengerjapkan matanya. Seorang baru saja memeluknya dari belakang. Yuri mendongakkan kepalanya. Ia menutup mulutnya, terlalu terkejut. “Myungsoo…”

Kim Myungsoo tersenyum, senyum menyedihkan yang baru Yuri lihat. Tidak. Bahkan Yuri tidak ingin melihat Myungsoo dalam keadaan seperti ini. Tubuh Myungsoo jatuh perlahan, Yuri membawa kepala pria itu ke pangkuannya. Lagi-lagi wanita itu harus menangis. Bukan tangis kebahagiaan, tetapi tangis kesedihan.

Kyuhyun berada di samping Yuri, berusaha menyemangati sosok Myungsoo. Bisa saja, tembakan yang Luhan perbuat tidak menjurus ke jantungnya. Dengan begitu, Myungsoo bisa diselamatkan. Dasom membeku. Ia tidak berniat untuk melangkah. Tidak berniat untuk bergerak dari tempatnya sedikitpun. Ia, ia terkejut. Ia tidak bisa mencerna apa yang baru saja ia lihat. Ketika seorang Kim Myungsoo berlari ke arah Yuri dan terkena tembakan.

It’s no one’s fault, there’s no need to do this
We’re just not right for each other
We just misunderstood for a moment, we had a bad dream
That’s how I’m going to think

Wajah Myungsoo pucat pasi, darahnya. Tembakan tersebut membuat darah Myungsoo keluar lebih banyak. Myungsoo tersenyum. “Yu-ri…” Yuri menatap Myungsoo cemas. Apabila yang berada dipikirannya saat ini menjadi kenyataan, maka wanita itu akan kehilangan seorang yang selama ini selalu menjaganya.

“Ka..u..ba…ik…ba…ik…sa..ja?…” Yuri menitihkan air matanya tanpa henti. “Bodoh!” Yuri mengumpat ke arah pria itu. Myungsoo membulatkan matanya, lalu tersenyum.

“Kau menanyakan keadaanku? Apa kau tidak melihat keadaanmu?” Myungsoo menitihkan air matanya. Air mata yang ditujukan hanya kepada Kwon Yuri. Yuri, tidak pernah melihat Myungsoo menangis. Tidak. Lebih baik Yuri tidak pernah melihat pria itu menangis, bila keadaannya seperti ini. Myungsoo sekarat.

Myungsoo terbatuk, mengeluarkan darah. Yuri menderai air mata. “Jangan! Jangan sekarang! Kau kuat Myungsoo, kau hebat dan kuat. Bukankah kau pernah mengatakannya?” Yuri menggenggam tangan pucat Myungsoo.

“Tidak,” suara serak Myungsoo menghantam indera pendengaran Yuri. “Tu-han, menginginkan ini da…ri…ku…”

Yuri menggeleng, ia tidak ingin Myungsoo pergi. Secepat ini? Kim Myungsoo pergi dalam waktu yang tidak terduga. “Tidak, jangan pergi Myungsoo…”

“A-ku, harus…pergi…” Myungsoo merasakan sakit yang luar biasa. Pria itu tidak dapat menahannya. Yuri menggeleng lagi. Dengan air mata yang kian berjatuhan.

“Se.. lamat, ting‒”

“TIDAK!!!!”

One More Day, if I let go of this hand
(One More Day), it will fly away
Love love love love love oh oh
One More Day, if this race stops
(One More Day), it will get far away
Love love love love love oh oh

Myungsoo pergi. Ucapan selamat tinggal yang belum terselesaikan. Begitu juga dengan pernyataan pria itu yang sebenarnya, masih berada dalam jiwanya. Kim Myungsoo, hanya sebuah nama dengan sejuta kenangan. Kim Myungsoo, telah tiada. Nampaknya, Kim Myungsoo memang tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya.

Myungsoo mencintai Yuri.

Tidak ada waktu baginya untuk mengatakan hal tersebut. Takdir, mengalahkan tekadnya. Nirwana menjadi pilihan untuk selamanya. Tidak ada lagi dunia, serta seluk beluk mengenai kehidupan. Jiwa pria itu, telah pergi. Hanya karena satu tembakan yang merenggut segalanya. Segalanya dalam dunia seorang Kim Myungsoo.

Bertepatan dengan saat itu, polisi datang. Luhan merupakan akar yang harus dituntaskan. Kyuhyun memeluk Yuri. Berusaha menenangkan wanita itu. Tidak hanya Yuri, bahkan Kyuhyun sempat menitihkan air mata melihat temannya berpulang ke alam sana. Dengan kata lain, Kim Myungsoo merelakan Yuri agar dapat bersamanya meski pria itu akan mati.

Kyuhyun menyesal tidak dapat membantu Myungsoo. Sebelumnya, pria itu selalu membantunya. Di saat seperti ini, ia tidak bisa membalas bantuan Myungsoo dengan semestinya. Yuri menangis dalam pelukannya. Kyuhyun memejamkan mata. Teman-tidak. Sahabatnya. Kim Myungsoo. Kyuhyun berharap, Myungsoo menatapnya dari atas dengan seutas senyuman.

Dasom lemas. Ia terisak. Yuri dan Kyuhyun segera menghampirinya setelah ambulan membawa tubuh Myungsoo ke rumah sakit. “Kenapa?” Dasom memeluk Yuri. Saat ini wanita itu membutuhkan tempat untuk mencurahkan kesedihannya.

“Dia baru saja mengatakan bahwa ia ingin menikahiku, kemudian…” Yuri menepuk pundaknya, Yuripun tidak mampu membendung air matanya. Bahkan ia sudah merindukan Myungsoo.

“Myungsoo…”

One More Day, my heart is too tired
(One More Day), today’s the last time
Love love love love love oh oh
One More Day, I’m waving toward you
(One More Day), this is it for me
Love love love love love oh oh

2 months later,

Yuri menatap pantulan dirinya. Senyum merekahnya, wajah manisnya, serta balutan gaun pernikahan yang ia dambakan. Sesuatu yang sangat membahagiakan Yuri. Hari ini, merupakan hari yang sangat ia nantikan. Selama bertahun-tahun menunggu, akhirnya terjadi. Hari ini adalah hari pernikahannya.

Cho Kyuhyun dan Kwon Yuri.

Hari ini mereka akan mengucapkan janji suci di hadapan semua orang. Pernikahan. Suatu hal yang sangat Yuri dambakan. Yuri tidak henti-hentinya tersenyum. Beberapa menit lagi, ia akan benar-benar menjadi istri dari seorang Cho Kyuhyun. Pria yang selama ini selalu berada di dalam hatinya.

Mengingat sesuatu, Yuri mengeluarkan secarik kertas usang yang tempo hari pernah ia sembunyikan. Di sana tertuliskan,

‘Kwon Yuri harus bersama dengan Cho Kyuhyun, Yuri dan Kyuhyun harus menikah.’.

Yuri terdiam sejenak. Kertas usang tersebut merupakan harapannya ketika Yuri, Kyuhyun dan Myungsoo bersahabat. Mereka membuat harapan, lalu memendamnya di tanah.

Eh? Ada lagi?” Yuri tidak mengira bahwa terdapat satu kertas lagi di baliknya. Kertas usang tersebut memiliki ukuran yang sama dengan milik Yuri. Warna sama, jadi pantas jika Yuri mengira tidak ada satu lagi. Karena nampaknya, tertempel. Perlahan, Yuri menarik kertas tersebut pelan. Terdapat dua kertas lagi. Yuri merutuki dirinya, terdapat dua kertas lagi setelah miliknya dan ia tidak sadar atas hal tersebut.

“Bukankah ini, milik Kyuhyun?” Yuri membacanya. Tertulis nama Kyuhyun pada bagian kanan atas kertas tersebut. Sebuah kalimat yang membuat Yuri tersenyum senang.

‘Kwon Yuri milik Cho Kyuhyun, tidak ada yang boleh memilikinya selain aku!’.

Yuri terkekeh. Ia tahu mengenai nada bicara Kyuhyun jika mengatakan hal tersebut. Kyuhyun benar-benar lucu, dulu.

Yuri membaca kertas selanjutnya, lembaran milik Myungsoo. Senyum wanita itu, memudar seiring kalimat milik Myungsoo yang ia baca. Air matanyapun tidak ragu untuk jatuh sekali lagi.

‘Asalkan Kwon Yuri bahagia, aku rela melakukan apapun untuknya. Meski aku harus mati dan tersiksa saat bersamanya.’

“Myungsoo…”

Yuri memalingkan wajahnya. Berusaha untuk menyeka air mata yang akan terjatuh lagi. Ia tidak ingin tampil buruk dalam hari pernikahannya. Yuri memejamkan matanya. Membayangkan sosok Myungsoo dengan senyum manisnya. Yuri seharusnya tahu, bahwa senyum terakhir Myungsoo ialah senyum yang Myungsoo ciptakan ketika berhasil menyelamatkannya dari tembakan Luhan. Dalam arti lain, ketika pria itu sekarat.

“Yuri? Ayolah nak! Kau harus keluar, apa kau tidak kasihan melihat calon suamimu menunggu di altar?” Yuri lekas menyimpan kembali kertas-kertas usang tersebut.

“Iya bu, aku akan keluar!”

Yuri merapikan kembali riasannya. Setelah yakin, wanita itu mulai melangkah dan mencoba untuk tersenyum anggun. Hampir meraih kenop pintu, pergerakannya terhenti. Yuri memejamkan matanya seraya mendongak. Ia berdo’a, kepada Tuhan. Berharap pernikahannya akan berjalan sesuai dengan rencana.

“Myungsoo, apa kau bahagia? Terima kasih juga untuk segala pengorbananmu, kau mendo’akanku dan Kyuhyun agar saling bersama ‘kan? Kau pernah mengatakannya dulu, terima kasih Myungsoo.”

EPILOG

2 years later,

Kyuhyun mengelilingi kediaman megahnya seraya mengedar pandang. Ia mencari sesuatu. Keberadaan dua orang yang selama ini selalu menebar tawa dan kasih sayang bersamanya. Ia mencari sosok Kwon Yuri, beserta dengan sang buah hati. Yuri menahan tawa dengan putri kesayangannya‒Cho Hyunri. Keduanya berada di beranda kamar Hyunri. Keduanya menahan tawa ketika Kyuhyun sibuk mencari di luar rumah dengan bingung.

“Lihat Hyunri, ayahmu terlihat bulat ya?” Yuri menunjuk Kyuhyun yang kini hendak kembali memasuki rumah. Hyunri mengangguk disertai senyum manisnya. “Tapi, ayah tida sebulat kakek.”

Yuri terkekeh, “Tentu saja Hyunri, ayahmu memang tidak sebulat itu. Hanya saja, belakangan ini berat badan ayahmu bertambah dua kilo.” Hyunri yang genap berumur empat tahun tidak cukup mengerti dengan perkataan Yuri.

“Kilo itu, apa bu?”

Yuri terdiam sejenak, “Ahh, maaf kau akan mengetahuinya saat berada di bangku sekolah nak. Baiklah, mari kita susul ayahmu itu. Dia pasti marah karena tidak berhasil menemukan kita.”

Hyunri mengangguk, selagi berada pada gendongan Yuri. “Kau semakin berat sayang~

Yuri dan Hyunri tersenyum, mereka melihat Kyuhyun duduk di sofa ruang tengah. Mereka hendak mengejutkan Kyuhyun. “1…2…‒”

“YAAAA!!!”

“AHHH!!!”

Justru Yuri dan Hyunri yang terkejut karena Kyuhyun mendahului keduanya. Kyuhyun tertawa senang, sementara Yuri dan Hyunri nampak kesal. “Kyu, kau menyebalkan!” Yuri mencibir suaminya.

“Aku menyebalkan, tapi tetap saja aku ini suamimu.” Kyuhyun berujar, tersenyum aneh pula. Kyuhyun membawa tubuh Hyunri dalam gendongannya. “Oiya, sebentar lagi Dasom, Tzuyu dan keluargamu akan datang. Kau tidak ingin membuatkan mereka makanan?”

Yuri yang sebelumnya menata rambut kini tersadar. “Aisshh, kenapa kau baru mengingatkannya sekarang? Kalau begitu aku akan membuatkan mereka makanan.”

“Ingat! Jangan kau beri mereka kimchi beracunmu itu, Cho Yuri.”

“Iya iya, Cho Kyuhyun. Awas saja, tidak ada bagian untuk malam ini.”

Kyuhyun dengan cepat melepaskan gendongannya kepada Hyunri. “Apa?”

“Ayah!!! Hwaaa!!! Ibu!!!”

Ya! Cho Kyuhyun, kau menjatuhkan Hyunri!”

END

Akhirnya selesai juga, maaf kepanjangan.
Semoga suka dengan ending yang seperti ini.
Maaf membuat Luhan menjadi toko antagonis.
Sumpah itu untuk kebutuhan cerita. Di bagian ending, aku lebih condong ke Myungsoo.
Karena bagaimanapun juga Myungsoo sebagai salah satu main cast di sini.
Please banget!
Tinggalin RCL kalian,
Aku udah mati-matian nyelesain ff ini karena katanya banyak yang nungguin,
Jadi please kasih aku komen berharga kalian. Komen nggak lebih dari lima belas? FF selanjutnya mengenai Kyuri aku password! Maaf ngancem :3

Thanks babe~ ©Firda©

Advertisements

16 thoughts on “Numb (Chapter 3 – END)

  1. Huwahh jadi selama ini luhan yang lagi di incer sama myungsoo dan dasom .. dan sesi penangkapan luhan gara-gara luhan culik yuri

    Huwee myungsoo meninggal .. pengorbanan myungsoo buat yuri bener-bener besar 😦 asalkan yuri bahagia walaupun myungsoo harus mati ataupun menderita .. lebih sedih lagi pas udah ngajak nikah dasom tapi akhirny dia malah kena tembakan luhan (buat nolongin yuri)

    Kyuhyun batalin pernikahan demi cintanya buat yuri .. harapan dia dari kecil akhirnya jadi kenyataan

    Yuri akhirnya bisa bersama kyuhyun yeeyyyy 😀 di tambah mereka udah nikah + punya anak perempuan .. harapan sejak kecil dan harapan yg di pendamnya akhirnya terwujud 🙂

    Dasom .. hiks hiks kasiannya .. ditinggal pria yg di cinta (kyuhyun) + di tinggal pria yg baru aja ngajak dia nikah (myungsoo)

    Liked by 1 person

  2. Yayy!! Akhirnya ini ff update juga. Tapi sayang udh end 😦
    Gomawo ya chingu udh dilanjut ^^

    Myungsoo-ya… kenapa km pergi T.T
    Akhirnya KyuRi bersatu. Ow, ternyata KyuRi udh punya anak. Hh… Senengnya liat KyuRi bahagia 🙂
    Ditunggu ff KyuRi brktnya…

    Liked by 1 person

  3. Akhir yang bahagia,sumpah nyesek bnget waktu myungsoo rela melindungi yuleon dari tembakan luhan dia rela melepaskan yuleon untuk kyuhyun .Dasom juga wanita yang baik dia sebenarnya mencintai kyuhyun tpi demi mereka berdua dia rela sakit

    Liked by 1 person

  4. Woah… happy ending tapi kenapa myung soo harus mati? Kenapa dia gak tetep hidup aja? Biar lebih bahagia gitu. Yasudah …
    Myung soo laki-laki yang hebat. Aku salut sama dia. Pengorbanan dan cintanya emang hebatn

    Like

  5. Selesai deh…myungsoo kirain dia bkal hdup bhgia brsama dasom
    Luhan ternyata dia yg slama ini mreka cari…ternyata jahat juga dia…
    Hahhh dan akhir ny kyuri hidup bahagia… 😁

    Like

  6. diawal part itu sgt sdih trus nyesek bgt lihat yul yg mlihin bju pngantin kyu,,,ditengah tegang*sneng krna lhat kyu nggak jdi nikah tpi yul dculik,,,diakhir lucu *sedih *bhagia,,,komplit bgt dah ksihan hyunri dijatuhin sma appa y yg sper duper hemmm,,,😊

    Liked by 1 person

  7. Sukanya pake banget malah, yg aku bingung. Kapan yuri di culik luhan ? Oh mungkin kurang teliti baca hehe
    oh iya, dasom udah nikah ga ya ? Hehe syedih kalo belum, dia kan bahagianya selalu tertunda mulu hihi

    perjuangan myungsoo. Tak bisa di jlaskn hiks, pkonya myungso terbaiiiik. Fighting ya ka firda

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s