[BangtanYul Series] Your Scent (Vignette)

Your Scent

Dear,
Kwon Yuri , Jeon Jungkook

Cover and story,
pure mine

HAPPY READING

“Bayangan itu,”

Sepulang dari bandara dan mengantarkan Kim Taehyung pulang ke rumahnya, Yuri melenggang dari kediaman keluarga Kim yang mewah itu ke suatu tempat. Ia tidak ingin turut andil dalam permasalahan yang Taehyung ciptakan –perihal adanya pemotretan yang gagal sewaktu di Jepang. Yuri memasuki salah satu cafe yang berada di ujung persimpangan dekat taman Yeouido. Entah gerangan apa yang membuat Yuri untuk memilih tempat ini sebagai destinasinya. Yang jelas, gadis itu memerlukan waktu untuk sendiri sebelum ia menghadiri les privat sekitar dua jam lagi. Lagipula, Yoona berjanji akan menjemputnya.

Yuri duduk di tempat kesukaannya. Dekat jendela dan berada di tempat paling pojok. Sejenak, ia terdiam. Ini tempat kesukaannya dengan Jungkook sewaktu mereka masih bersama. Yuri menggeleng pelan, ia berusaha untuk menepis memori yang dengan sendirinya berputar dalam otaknya itu. Ia yakin, belakangan ini telah mengisi isi otaknya dengan soal-soal dan materi tentang ujian akhir. Namun, mengapa pikiran tentang dirinya dan Jungkook masih saja melintas dengan sendirinya? Rasanya Yuri ingin membenturkan kepalanya itu ke dinding sekarang juga.

Yuri berterima-kasih kepada salah satu pelayan yang membawakan pesanannya. Secangkir latte hangat dan kentang goreng kesukaannya. Yuri menghirup aroma latte itu dengan khidmat. Ia menyukai aroma latte di cafe ini. Bahkan, baginya tidak ada latte di tempat lain yang rasanya lebih spesial daripada di tempat ini.

Setelah ia menyesap pelan latte-nya, ia menatap keluar jendela dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Pandangannya meneroka ke berbagai arah dengan damai. Sorot mata teduhnya kembali tercipta. Ia akui, menghabiskan waktu dengan diri sendiri terkadang lebih baik daripada bersama dengan orang lain.

Ia menatap ke arah toko boneka yang menyediakan berbagai macam boneka. Ia tersenyum ketika melihat sebuah boneka Mickey Mouse yang terpampang di etalase kaca yang bertujuan untuk dipamerkan. Itu boneka kesukaannya, ingin rasanya ia membeli boneka itu. Dan gadis itu memutuskan untuk membeli boneka itu setelah ia selesai dengan secangkir latte dan kentang goreng-nya.

Akan tetapi, raut wajah kecewanya muncul ketika pegawai dalam toko boneka mengambil boneka tersebut dari etalase. Yuri beranggapan jika seseorang telah membeli boneka itu. Yuri harus menelan rasa kecewanya saat ini. Boneka itu seharusnya menjadi miliknya, hanya saja ia kalah cepat dalam membeli.

“Sudahlah, mungkin lain kali akan ada boneka seperti itu lagi di toko lain.” Yuri bertopang dagu, pandangan matanya masih tertuju ke arah toko boneka itu. Matanya mengedar ke arah boneka lain yang berada di etalase. Semua lucu, tapi tidak ada yang menarik minat Yuri kecuali boneka Mickey Mouse tadi.

Pintu toko boneka itu terbuka, menampilkan sepasang kekasih yang saling tersenyum satu sama lain dengan sang pemuda yang membawakan kantung kertas berisikan boneka yang baru saja di beli. Yuri beranggapan jika mereka baru saja membeli boneka tokoh kartun kesukaannya itu. Melihat keduanya tersenyum, Yuri ikut tersenyum. Entahlah, hanya dengan melihat senyum sang gadis, ia seperti di hipnotis. Gadis itu terlihat polos dan cantik. Juga, terlihat lebih muda dari pasangannya.

Sedangkan sang pemuda membalas senyum yang pasangannya ciptakan. Senyum pemuda itu begitu teduh dan lebar. Sehingga menampakkan sepasang gigi kelinci lucunya.

Tunggu,

Yuri teringat akan sesuatu.

Sepasang gigi kelinci?

Pemuda itu, Yuri mengenalnya. Tidak salah, pemuda itu adalah pemuda yang saat ini tengah dirindukannya. Betapa bodoh dirinya ketika ia tidak menyadari pemuda itu.

“Jungkook?” ia tercengang, melihat Jungkook dengan gadis lain membuat hatinya teriris. Iapun merutuki dirinya yang tidak menyadari sosok Jeon Jungkook sedari tadi. Ia terhipnotis dengan senyum yang dimiliki sang gadis, hingga ia tidak menyadari jika gadis itu merupakan pasangan Jeon Jungkook –yang baru.

Yuri menatap pasangan yang terlihat benar-benar sempurna itu. Pandangannya tertuju ke arah keduanya tanpa jeda. Dan langkah keduanya mengarah ke cafe yang di tempatinya ini. Yuri membulatkan matanya, apa ia harus pergi? Atau berpura-pura tidak tahu? Yuri tidak tahu hal apa yang harus dilakukannya saat ini. Untuk memastikan, ia kembali menatap ke arah pasangan itu.

Akan tetapi, sesuatu yang buruk terjadi. Jeon Jungkook menatapnya. Dari seberang jalan, dengan sebuah tangan cantik yang bergelayut manja di lengannya. Jungkook menatapnya. Benar-benar menatapnya. Tatapan Yuri saat ini sepenuhnya terkunci oleh tatapan Jeon Jungkook. Para pejalan kaki mulai menyebrang, begitu juga dengan Jungkook dan gadis itu. Yuri berusaha untuk menghindari tatapan Jungkook yang benar-benar menusuk.

Setelah ia berhasil berpaling pandang, justru ia mendengar sesuatu yang keras di jalan. Ketika menoleh, yang ia lihat benar-benar sebuah petaka buruk. “Ju-Jungkook?” tangannya bergetar, kedua matanya berkaca-kaca. Batinnya bergetar hebat, dan dadanya benar-benar sesak.

Ia melihat seorang Jeon Jungkook tersungkur di jalanan dengan darah yang mengucur dari kepalanya. Beberapa orang mulai mengerumuni Jungkook dan gadis pemilik senyum indah itu. Sedangkan Yuri, ia ingin menghampiri Jungkook. Namun, kinerja tubuhnya tidak sesuai dengan apa yang otaknya perintahkan. Ia ingin menghampiri Jungkook dan membawanya ke rumah sakit dengan segera.

Dengan tangan bergetar, ia mengambil ponselnya dan menelepon ambulan untuk datang membawa Jungkook. Ia berharap, apa yang terjadi dengan Jungkook tidak begitu parah. Tapi, melihat darah yang kian keluar dari kepala Jungkook membuat Yuri cukup gusar dengan harapannya.

Tidak lama kemudian, sebuah van hitam dan mobil ambulan datang. Yuri tahu, van hitam yang berhenti tepat di hadapannya merupakan van milik kelompok Bangtan Boys. Satu persatu anggota dari kelompok tersebut turun dan membantu untuk membawa Jungkook ke mobil ambulan. Yoongi, Seokjin dan salah satu pertugas mobil ambulan membawa Jungkook masuk. Sedangkan Hoseok dan Namjoon membawa masuk gadis yang kini tenggelam dalam tangisannya. Serta, Yuri mendengar jika gadis itu menyerukan nama Jungkook berulang kali. Dan Jimin, ia terlihat sedang beragumen dengan pemilik mobil sedan hitam yang menabrak Jungkook.

Yuri menggigit bibir bawahnya, ia tidak dapat melakukan apapun demi menyelamatkan Jungkook. Yang ia lakukan hanya duduk di dalam cafe dan menyaksikan segalanya dengan kecemasan yang melanda. Setelah cukup lama beragumen, Jimin kembali ke van. Akan tetapi, sebelum pemuda itu benar-benar masuk, ia menatap seorang yang berada di dalam cafe dengan wajah tertunduk dan bahu bergetar.

“Yuri?”

Yuri tidak menyadari tatapan Jimin, ia tertunduk dan mulai terisak pelan. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya untuk menangis di tempat seperti ini. Ketika ia menatap ke arah luar jendela, kerumanan orang telah berpencar dan kembali ke kegiatan masing-masing. Mobil ambulan telah berlalu, dan van hitam milik Bangtan Boys berada di belakangnya.

Yuri menatap ke arah zebra cross –tempat di mana Jungkook jatuh tersungkur dengan keadaan yang sangat buruk. Yuri menatap ke arah darah Jungkook yang berada di jalanan dengan sendu. Darah Jeon Jungkook. Tiba-tiba terlintas bayangan Jungkook dan aroma tubuh Jungkook. Aroma mint yang disukainya. Namun, sedetik kemudian aroma mint segar tersebut berubah menjadi aroma anyir sebuah darah.

Yuri menitihkan air matanya, mengingat bagaimana kondisi Jungkook saat ini, rasanya ia ingin menangis. Yuri menenggelamkan ponsel ke saku jaketnya, ia ingin pergi ke rumah sakit. Ia ingin memastikan keadaan Jungkook saat ini. Meski ia tahu, keadaannya benar-benar buruk saat kecelakaan tadi.

“Halo Yoongi? Beri tahu aku, Jungkook ada di rumah sakit mana?”

Yuri berlari kecil di koridor rumah sakit yang tidak begitu ramai. Ia bergegas pergi ke tempat unit gawat darurat yang Yoongi katakan. Di depan ruangan itu, Yuri melihat teman-teman Jungkook dengan wajah sedih. Dan ia melihat Taehyung yang berada di samping Yoongi. Ia tidak menyangka, sepupunya itu mendahuluinya untuk datang ke sini.

“Yuri noona?” Hoseok berujar ketika Yuri baru saja datang dengan napas tersengal. Semua orang menoleh ke arahnya, begitu juga dengan gadis yang merupakan pasangan baru Jeon Jungkook.

“Bagaimana keadaannya?” tanyanya dengan pandangan mata mengedar. Yoongi menggeleng lemah, “Kami masih belum tahu, dokter belum keluar.”

Yuri menghembuskan napas perlahan, ia memilih untuk duduk di samping Taehyung dan berdiam diri. Taehyung menatap ke arah Yuri sendu. “Tenang noona, Jungkook akan baik-baik saja. Akan kupastikan itu,”

Yuri menatap ke arah Taehyung dengan tatapan yang tidak dapat dimengerti. “Seharusnya kau tidak mengatakan hal seperti itu kepadaku. Lebih baik kau mengatakannya kepada gadis itu,” Taehyung mengikuti arah pandang Yuri.

“Maksudmu Yeeun?” Yuri mengangguk, “Aku tidak tahu namanya tapi, ya… Gadis itu,”

“Dari mana noona tahu jika Yeeun kekasih Jungkook?” tanya Taehyung. Yuri mengendikkan bahu dengan lemas.

“Jangan tanya aku mengenai hal itu,” Yuri menimpali dengan wajah sedihnya. Sesaat setelah ia mengatakan hal tersebut, gadis bernama Jang Yeeun mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Yuri dengan tatapan tidak suka.

“Kau? Siapa kau?” Yuri menatap Yeeun dengan penuh tanda tanya. Begitu juga dengan yang lain. “Ini semua karena dirimu! Jika Jungkook tidak menatapmu terus saat menyebrang, dia tidak akan seperti ini…”

Yuri terhenyak, ia bungkam. Sedangkan keenam pemuda yang berada di sekelilingnya menatapnya dengan heran. Park Jimin yang berdiri di samping Hoseok teringat akan sesuatu. Ia melihat Yuri yang berada di cafe dekat tempat kecelakaan terjadi. Saat itu pula, ia mulai menyimpulkan kronologi kecelakaan Jeon Jungkook dengan adanya keberadaan Yuri saat itu dan perkataan Yeeun

Yeeun menatap Yuri dengan sorot mata kebenciannya, “Apa kau yang bernama Yuri?”. Yuri terdiam, ia menatap lurus ke arah iris kecoklatan Yeeun. Kemudian ia mengangguk, hal itu membuat emosi Yeeun melunjak.

Oh! Jadi, itu kau… Seperti yang dikatakan nyonya Jeon, kau merupakan sebuah masalah baginya. Dan benar, hari ini aku melihat salah satu masalah yang kau sebabkan pada Jungkook.” Yuri membulatkan matanya. Ia tidak percaya dengan perkataan Yeeun. Begitu juga dengan keenam pemuda yang menatap Yeeun dengan terkejut.

Ya! Yeeun, apa yang kau bicarakan?” Yoongi berseru dengan nada tidak terima. Yeeun terdiam, namun pandangan gadis itu masih diiringi sorot mata kebencian.

“Tanyakan saja pada gadis itu oppa! Dia di balik semua ini,” Yeeun bersidekap dan pergi entah ke mana. Tidak ada seorangpun yang berniat untuk mengejar Yeeun dan menenangkannya. Yang keenam pemuda lakukan itu, kini tengah menatap Yuri dengan perasaan yang bercampur menjadi satu.

Noona? Sebenarnya apa yang terjadi?” Jimin memilih untuk duduk di samping Yuri. Yuri melenguh pelan, mencoba mencari posisi senyaman mungkin untuk menceritakan yang sebenarnya.

“Seperti yang Yeeun katakan, hanya saja aku tidak merencanakan semua ini. Bahkan aku tidak tahu, kenapa di saat aku baru saja merasa tenang, justru hadir sebuah masalah baru lagi yang lebih parah. Aku hanya tidak tahu, mengapa kami bertemu dengan keadaan yang sangat buruk.” Yuri tidak mampu menahan tangisannya. Ia mulai terisak dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang bergetar.

Merasa tidak tega melihat keadaan gadis yang di cintai dalam keadaan seperti itu, lengan kanan Taehyung merangkul bahu sepupunya itu. Jimin terdiam, sebenarnya ia ingin melakukan apa yang Taehyung lakukan. Hanya saja, Jimin kalah cepat. Yoongi terdiam dalam tempatnya, ia menatap Yuri sendu. Melihat gadis polos seperti Yuri menangis, merupakan suatu kesedihan tersendiri baginya. Sementara itu, Seokjin hanya mampu berdiri di samping Hoseok dan Namjoon yang duduk dengan wajah sedih yang aneh. Ketahuilah, dari awal keduanya memang sudah aneh.

Noona, jangan menangis. Aku tidak suka melihat noona menangis seperti ini,” ujar Taehyung mencoba untuk meredakan tangisan Yuri.

Yuri terdiam, dengan sebuah kantong plastik putih berisikan buah-buahan. Gadis itu enggan untuk melangkah dan memilih untuk berada di depan pintu kamar rawat Jeon Jungkook. Ia melihat, kedua orang tua Jungkook tengah menunggu dan sesekali sang ibu menangis. Tidak hanya kedua orang tua Jungkook, namun seorang Jang Yeeun juga berada di sana. Yuri tertunduk pelan, ingin rasanya ia segera masuk dan menggenggam tangan Jungkook. Ini hampir sebulan pasca Jeon Jungkook dilarikan ke rumah sakit setelah kecelakaan. Yuri tidak tahu, mengapa takdir begitu kejam kepadanya.

Pertama, membuat hancur hubungannya dengan Jungkook. Kedua, selalu menangis setiap malam hanya karena mengingat kenangannya bersama dengan Jungkook. Ketiga, ia menjadi saksi sebuah kecelakaan yang menimpa Jeon Jungkook. Dan yang terakhir, ia merindukan pemuda itu demi apapun. Akan tetapi, ia tidak bisa merindukan Jeon Jungkook seperti dulu. Kini terdapat seorang Jang Yeeun yang senantiasa akan berada di samping Jungkook dan melakukan hal yang tidak bisa ia lakukan. Pada intinya, Jang Yeeun memang gadis yang sempurna. Yuri akui itu.

Noona? Kenapa tidak masuk?” Yuri menoleh mendengar suara itu. Park Jimin berada di sampingnya dengan sebuah kantong plastik hitam –yang entah apa isinya. Yuri menggeleng menanggapi pertanyaan Jimin, kemudian ia menatap ke dalam kamar rawat Jungkook melewati sebuah jendela kaca persegi di pintu. Jimin mengikuti arah pandang Yuri, pada saat itu juga ia mengerti.

“Baiklah, selagi mereka masih berada di sana, bagaimana jika kita pergi berjalan-jalan dulu?” Yuri menatap Jimin dengan tatapan aneh. Mungkin, Jimin cukup gila karena menawarkan hal yang sangat tidak masuk akal. Di saat Yuri sangat ingin masuk ke kamar rawat Jungkook, justru yang Jimin lakukan ialah menawarinya sesi berjalan-jalan.

Hmm, boleh juga. Setidaknya, sampai mereka pergi.” lantas dengan seutas senyuman, Jimin menarik tangan gadis itu menjauhi pintu kamar rawat Jungkook.

“Ini sudah satu bulan, apa dia bermimpi bertemu dengan malaikat di sana?” Yuri bergumam aneh setelah meneguk jus jeruknya. Jimin menautkan kedua alisnya, cukup bingung dengan perkataan Yuri. Seperti gadis itu dalam keadaan yang tidak baik. Gadis itu meracau. Dan Jimin tidak pernah melihat seorang meracau aneh seperti saat ini.

Noona? Jangan berkata yang aneh-aneh,” tutur Jimin sembari memungut salah satu kentang goreng yang berada di meja. Yuri menatap Jimin dengan tidak terima.

Ya! Park Jimin, itu mungkin saja. Mungkin dia bertemu dengan malaikat cantik di sana sehingga ia tidak ingin membuka matanya meski hanya sedetik.” Yuri mengedarkan pandangannya keluar jendela. Ia menatap para pejalan kaki yang berlalu lalang pada sore hari ini.

Jimin terkekeh pelan, kemudian ia menyenggol gelas jus jeruk Yuri dengan gelas jus apel-nya. “Tidak, aku yakin bukan seperti itu alasannya. Karena, pada kenyataannya tidak ada malaikat yang cantiknya melebihi dirimu.”

Yuri terhenyak mendengar perkataan Jimin. Lagi-lagi, di saat seperti ini Park Jimin hampir terbawa dengan suasana hatinya. Dengan cepat Jimin menggeleng dan mengoreksi perkataannya. “Maaf, aku hanya bergurau. Jangan menganggapnya serius.”

Hmm,” Yuri mengangguk pelan, berusaha tersenyum.Setelah itu, keduanya kembali diam. Tidak ada yang memulai percakapan dan sibuk dalam dunia masing-masing –lebih tepatnya lamunan masing-masing.

Noona? Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit, biasanya mereka akan pulang satu-persatu untuk mandi dan membeli keperluan.” Yuri mengangguk dan mengikuti Jimin.

Benar apa yang dikatakan Park Jimin. Buktinya ketika ia baru saja kembali dari cafe, kedua orang tua Jungkook dan Jang Yeeun telah pergi. Setelah meletakkan buah-buahannya, begitu juga dengan Jimin, Yuri memilih untuk menempatkan diri di samping tubuh Jungkook yang terbaring lemah. Sedangkan Jimin memilih untuk duduk di sofa kecil yang berada di sana. Perlahan, ia menggenggam tangan Jungkook yang terasa dingin. Hati Yuri bergetar, terakhir kali ia merasakan genggaman Jungkook begitu hangat. Akan tetapi, untuk kali bahkan Jungkook tidak bisa untuk sekedar membuka mata dan melirik ke arahnya.

“Jung? Kau tidak ingin bangun?” ia bertanya dengan sendu. Jimin menatap nanar ke arah Yuri, begitu juga setelah ia menatap wajah pucat Jungkook. Kepala pemuda itu terbalut oleh perban, wajahnya pucat pasi seperti orang sekarat.

“Jungkook… Jika aku boleh berkata jujur, aku sangat merindukanmu.” Yuri mengeratkan genggamannya pada tangan Jungkook yang dingin. Ia ingin memberikan sebuah kehangatan, ia berharap Jungkook dapat membuka mata setelahnya.

“Jungkook, ada hal yang selama ini tidak berani kukatakan kepadamu.” Yuri mulai terisak. Tetesan air matanya mengenai pakaiannya sendiri. Genggaman tangannya semakin mengerat, seolah ia benar-benar tidak ingin kehilangan seorang Jeon Jungkook.

“Aku masih mencintaimu, Jungkook…”

Sesuatu dalam hati Jimin tertusuk oleh ribuan bilah tajam pedang para dewa. Sesak pada dadanya semakin terasa ketika ia melihat Yuri menangis. Dengan perasaan aneh itu, Jimin memilih untuk meninggalkan Yuri bersama dengan Jungkook –yang dalam keadaan tidak sadar.

“Jungkook… Buka matamu jika kau mendengarkanku kemudian katakan ‘ya’, aku mencintaimu Jungkook…” tangisan Yuri memecah saat itu juga. Ia tertunduk pelan membiarkan air matanya jatuh dengan bebas.

“Ya,”

Yuri menghentikkan tangisannya, ia menoleh ke arah Jungkook yang kini membuka matanya. Menatapnya lamat, namun timbul sorot mata kesedihan dalam tatapannya. “Jungkook? Kau sadar?” sorot mata gadis itu berbinar. Gadis itu bersyukur, Jungkook sadar.

“Pergilah,”

Senyum Yuri memudar saat itu juga, ia tidak tahu mengapa Jungkook mengatakan hal seperti itu padanya. “Ju-Jungkook?”

“Pergilah, Kwon Yuri…”

END

Gantung? Penasaran?
Di series berikutnya bakal ada kelanjutannya,
jangan lupa RCL

Bye~ ©Firda©

Advertisements

14 thoughts on “[BangtanYul Series] Your Scent (Vignette)

  1. Jungkook yuri kenapa bisa putus ?? Dan apa itu maksud jungkook buat nyuruh yuri pergi ?? -_-

    Jimin ngerasain cinta bertepuk sebelah tangan huwee kasian

    Itu yg namanya yeeun minta di tabok ya mulutnya -_-

    Liked by 1 person

  2. Apa2an si yeeun nyalahin yuleon atas terjadinya kecelakaan jungkook,kan yng natap duluan jungkook.Apa ibunya jungkook nggak suka ya sama hbungan yulkook ,apa pnyebabnya mereka putus karena nggak direstui.Kenapa jungkook nyuruh yuleon pergi next eonni

    Liked by 1 person

  3. next ff. hikz. ini menyedihkan. jd, Jungkook itu udah dpt pengganti Yuri? secepat itu? kok gak rela yah?

    waduh?! itu kok hasil tatap tatapan YulKook mengenaskan banget sih? Yuri berusaha menghindar, tapi Kookie kena nasib naas. pokus banget sama Yuri kah? sampe kecelakaan. aih. kasian bener maknae! hikz.

    lah? lah? jd emaknya Kookie gak suka jg sama Yuri? poor Yuri. malah jd disalahin. padahal kan bkn dia yg nabrak. dih tu si Yeeun Yeeun itu! pengen dijambak deh.

    duh. Yuri msh cinta. macem lagunya kotak #eh. kasian Yurinya. menyedihkan bener. duh. Jimin naksir Yuri jg? elah. cinta segi bnyk. ato emng Yurinya tllu bnyk yg cinta. jd kmna².

    buset?! scene endingnya!! tolong. siapa ajah tolongin eyke! Firda-chan mah emng suka ktrlaluan ngegantung readers macem jemuran.

    eh tapi, bangtanyul series ini sambung menyambung menjadi satu ya? dikirain berbeda beda tapi ttap satu kayak bhinneka tunggal Ika. lah? mulai deh gak nyambungnya.

    duh. alon alon yah aku baca ff kamu yg super bnyk ini. mana kece kece. semangat selalu buat kamu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s