Desperate (Vignette)

desperate

Dear,
Kwon Yuri , Xi Luhan , Kim Jisoo

Cover and story,
pure mine

HAPPY READING

“Pantaskah bagiku untuk berputus asa?”

Terakhir kali Yuri datang ke tempat ini, kala itu ia berumur delapan tahun Merajut kesenangan dengan bermain nolttuigi di tengah-tengah. Bermain ayunan dan bercanda tawa bersama. Itu kesenangan yang Yuri kecil rasakan dulu. Berbeda dengan saat ini. Senyumnya memudar. Itu kesenangan yang tercipta lima belas tahun silam. Di mana ia masih terlalu muda untuk mengerti tentang arti kehidupan.

Perubahan memang selalu terjadi. Begitu juga dengan yang Yuri lihat saat ini. Nolttuigi kesayangannya termakan usia. Penuh karat dan banyak bagian bekas terbentur. Ayunan yang dulunya terasa nyaman kini terlihat enggan. Tanaman rambat menjadi penghiasnya. Kondisi taman ini, berbeda. Buruk. Bukannya membaik, justru memburuk.

Begitu juga dengan keadaannya saat ini. Dulu, ia selalu datang ke sini dengan seorang lelaki kecil bersurai coklat. Bahkan Yuri kecil tidak tahu saat itu. Di saat semua anak seusianya berbondong-bondong ingin memiliki rambut hitam, justru lelaki kecil itu menginginkan warna coklat.

Lago-lagi Yuri tersenyum –pahit. Keberadaannya saat ini tidak sama seperti dulu. Tidak bersama dengan teman bermainnya. Tidak merajut tawa dengan teman beramainnya yang memiliki banyak lelucon itu. Tidak dapat ia tepis, sebuah kenyataan bahwa ia sangat merindunkan teman bermainnya itu.

“Siapa?”

Sebuah pertanyaan menggetarkan gendang telinganya. Hal tersebut sukses mengalihkan perhatian Yuri –yang sebelumnya tertuju pada ayunan penuh tanaman rambat. Perlahan, ia membalikkan badan. Saat itu juga dwimaniknya tertohok pada iris coklat tua yang berkeling pelan.

Tungkai pemuda itu memilih untuk memangkas jarak antara keduanya. Dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana, pemuda itu terlihat tampan dan tenang. Tetapi, sesuatu menyadarkan Yuri akan sesuatu.

“Ka—” Pemuda itu menyela, “Lama tidak berjumpa,”

Yuri menampilkan ekspresi tidak percaya-nya. Ia berkedip beberapa kali, tidak luput dengan mulut yang hampir terbuka lebar. Efek tidak percaya milik Yuri. Pemuda itu sedikit mencondongkan tubuhnya, ia menatap wajah Yuri cukup dekat. Sehingga Yuri tidak mampu mengontrol detak jantungnya.

Yuri terjerumus ke dalam iris coklat tua-nya. Dalam jarak yang cukup dekat, manik matanya meneroka wajah pemuda itu. Hidung mancung, senyum yang indah, netra yang menghipnotis serta wajah yang rupawan. Ia tahu. Benar-benar tahu siapa pemuda tampan yang berada di hadapannya saat ini.

Yuri sedikit kecewa ketika pemuda itu menciptakan jarak lagi. Tetapi, Yuri tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut. Yang ia permasalahkan mengenai kehadiran pemuda di hadapannya. Pemuda itu. Teman bermainnya.

“Luhan?”

Pemuda itu tersenyum manis. Sangat manis. “Akhirnya kau mengingatku.” Yuri meliukkan salah satu alisnya. ‘Akhirnya?’

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Sama sepertimu,” Luhan menggerakkan tungkainya. Ia memilih untuk duduk di ayunan penuh tumbuhan rambat yang menurutnya menarik. “Ini menarik, ayunannya menarik. Tapi tidak dengan permainan kesukaan kita yang satu itu.”

Yuri melirik ke arah nolttuigi. Begitu juga dengan Luhan. Yuri tahu, Luhan nampaknya larut dalam kenangan masa kecil di saat keduanya bermain bersama. Saat ini, tolong ingatkan Yuri untuk sadar akan dunianya. Rasanya ia benar-benar terhipnotis oleh kehadiran Luhan. Luhan semakin tampan. Sangat tampan. Ia tidak tahu. Mengapa anak kecil ingusan itu berubah seperti ini.

Merasa diamati, Luhan beralih pandang. “Masih tidak percaya?”

Perkataan Luhan menginterupsi Yuri. Gadis tersadar. Merasa terlalu lama mematung di tempat, Yuri mengikuti Luhan untuk duduk di ayunan yang satu lagi. “Sepertinya, begitu. Tapi, kenapa?”

“Kenapa? Kenapa apanya?”

Yuri berdecak pura-pura kesal. Terlihat pelupuk matanya telah digenangi oleh air mata. Ia menatap Luhan dengan senangnya. Seorang yang Yuri rindukan, berada di hadapannya. Di saat yang tepat. Apa takdir sedang berbaik hati padanya?

“Kenapa kau baru datang? Ini sudah lima belas tahun Luhan. Apa kau tidak merindukan teman bermainmu ini huh?” Luhan mendekap gadis itu erat. Tangisan gadis itu pecah seketika. Ia dapat mencium aroma mint dalam tubuh Luhan. Seketika, beban Yuri saat itu runtuh. Lega. Ia merasakannya. Ia sangat berterima kasih kepada Tuhan. Tuhan mengabulkan doa-nya untuk bertemu dengan Luhan.

“Maafkan aku, kali ini aku berjanji untuk tidak meninggalkanmu lagi.” Keduanya terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing –entah apa itu. Sejujurnya, Luhan memang menyesal karena meninggalkan Yuri. Kepindahan Luhan saat itu membuat Yuri tidak ingin bermain dengan siapapun. Bahkan demi apapun yang ia miliki, Luhan pun merindukan Yuri.

Luhan sama terkejutnya dengan Yuri. Ia hampir tidak mengenali Yuri ketika ia tidak sengaja melihat kehadiran Yuri di tempat kesayangannya sewaktu kecil. Yuri sangat cantik. Luhan berkata jujur. “Apa kau memaafkanku Yuri?” Luhan membelai surai coklat gadis itu lembut. Yuri melepaskan dekapan Luhan.

Ia menatap Luhan penuh harap, lalu ia mengangguk. “Hmm, aku memaafkanmu. Kali ini saja, Luhan.” Luhan tersenyum manis. Ia mengacak surai Yuri gemas. Yuri membalas senyuman Luhan.

“Tapi,”

Luhan terhenyak, “Tapi apa?” Yuri tersenyum senang. Sekilas ia melirik ke arah nolttuigi, beserta seluncuran yang berada di sisi kanan taman. Yuri menampilkan raut senangnya.

“Ayo bermain!”

Huh?

“Ayo Luhan! Ayo bermain, sudah lima belas tahun aku tidak bermain denganmu.” Bujuknya seraya menarik tangan Luhan ke arah seluncuran. Mau tidak mau Luhan menuruti dan hanya mampu tersenyum.

“Baiklah Yuri, mari kita bermain seperti dulu.”

“Luhan, dia memanggilmu.” Luhan bertelepon dengan seseorang dan Yuri berada di ayunan. Yuri menyadari adanya kedatangan seorang gadis bersurai hitam dengan mobil merah. Luhan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Luhan menatap ke arah yanh Yuri lihat. Senyumnya tercipta begitu manis. Yuri yang menyadari senyuman Luhan pun mulai berpikir.

“Jisoo! Sini!” Yuri menatap pemuda itu penuh tanda tanya. Luhan memanggil gadis itu dengan panggilan Jisoo. ‘Jisoo? Siapa dia?’ Yuri membatin.

Gadis bernama Jisoo menghampiri Luhan dengan senyum cerahnya. Jisoo berlari kecil, “Oppa!” kemudian ia melewati Yuri yang mematung di ayunan. Panggilan Jisoo kepada Luhan-lah yang membuat Yuri lebih bertanya-tanya.

“Jisoo, ini teman masa kecil-ku. Yuri! Ini Jisoo,” dengan terpaksa, Jisoo menatap Yuri sarkastik. Jisoo tersenyum dengan penuh paksaan. Sepertinya, Jisoo tidak menyukai kebersamaan Yuri dan Luhan. Yuri tidak membalas sapaan penuh paksa dari Jisoo. Melainkan menatap Luhan untuk bertanya. Seolah melakukan telepati. Luhan tahu, ke mana arah pertanyaan Yuri.

“Dia kekasihku.”

Hati Yuri tertusuk saat itu juga. Yuri mengangguk cukup acuh. Ia menatap Jisoo dari atas sampai bawah. Jisoo cantik. Yuri akui.

“Yuri, maaf.” Luhan menghampirinya. Yuri beranjak seraya mengangguk. “Aku tahu, pergilah…”

Yuri tidak cukup bodoh untuk mengetahui keberadaan Jisoo beserta mobilnya. Jisoo menjemput Luhan. Ya, Yuri tahu itu. Luhan terlihat enggan untuk mengatakannya, tetapi Yuri mengetahui apa kelanjutan dari kata maaf-nya.

“Mungkin, lima hari lagi aku akan datang ke sini. Kita bisa bermain lagi dan berbagi cerita lagi.” Mendengar perkataan Luhan, Yuri luluh. Rasa kesalnya akan kehadiran seorang Kim Jisoo mulai terbuyarkan.

Pada akhirnya Yuri mengangguk. “Hmm, akan kupegang janjimu itu.”

“Sebenarnya aku tidak berjanji, tapi aku akan berusaha untuk menepati janjiku.” Luhan menginterupsi. Yuri lagi-lagi mengangguk. “Baiklah, aku pergi dulu.”

Tidak lama kemudian, Luhan pergi. Bersama dengan Jisoo yang bergelayut manja di lengan pemuda itu. Selepas kepergian Luhan, Yuri kembali mendudukkan diri di ayunan. Hatinya sakit. Lebih sakit dari yang ia pikirkan. Ia tersenyum nanar, kemudian berdecih pelan.

“Aku baru saja ingin memulainya dan berjuang,” Yuri menatap langit, seolah langit sedang berusaha menghiburnya dengan kumpulan kumulus lucu.

“Pantaskah bagiku untuk berputus asa di awal kisah?”

END

YulHan!
Jiwa shipper kumat.
Aduh, tapi Yuri itu shipperable banget sumpah.
Cocok di pasangin ama siapa aja.

Maafkan dakuh yang menistakan Yuri seperti ini.
Karena saya suka yang nista-nista /?/apaan?

Angkat tangan dong yang Stanight?
Stanight, mau sequel apa ff YulHan yang lain?

RCL ya~

Pyong~ ©Firda©

Advertisements

8 thoughts on “Desperate (Vignette)

  1. sequeeeelllllll heheh
    butuh banget buat kelanjutan perjuangan yuri .. gk mungkin kan dia harus putus asa di awal ..

    luhan gk peka ihh 😦
    baru ketemu abis itu luhan malah ngenalin ceweknya juga huh

    Liked by 1 person

  2. Yuhhuuu!! Eyke stanight nih, author-nim ^^ dan- oh tuhan! Apa yg kau lakukan pada shipper kesayangankuhh?? Aku lbh suka liat ending menggantung dibanding yg galau-in kayak gini.

    Lgyn, knpa harus Yuri sih yg dinistain? Knpa bukan Luhan ajah? Waks! #ditabokLufans ini tolong sequelnya, jebal~ aku gak sudi Yuri yg baru mau usaha, udah kayak gak ada kesempatan lg. Bikin putus ajah deh Luhan sama Jisoonya (kejem banget deh gue?!) #ketawanista

    Duhh~ pokoknya berharap dpt sequel dgn ending yg manis kayak coklat. Tolong yah, author-nim ketjee!! #noeldaguauthor-nim

    Like

    1. Wah, aduh suka banget aku lihat komentar yang panjang kayak sepur ini :v. Aku melakukan hal yang ingin kulakukan say~~, Aduh aku sukanya ending yang gaje say~kita berbeda say~ #what/?/
      Yuri itu bagusnya dinistain O.O
      Luhan itu terlalu imut, jadi aku nggak bisa nistain dia O.O
      Iya niatnya mau gitu, duh tapi Luhan udah pacaran dulu sama mbak Jisoo. Besok-besok aku suruh mereka putus wokeh?
      Sequel? Ane pikir dulu ye?
      Aduh, ku bukan author ketjee…
      Makasih udah komen say

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s