Numb (Chapter 2)

Numb (1)

Dear,
Kwon Yuri , Cho Kyuhyun , Kim Myungsoo

Little,
Kim Dasom , Chou Tzuyu

Cover,
Choco Yeppeo’s Design @ Story Poster Zone

Story,
pure mine

Sequel of “Depend (Vignette)”

Chapter 1 || Chapter 2

HAPPY READING

“Sekarang siapa yang salah?”

“Kyu, kalian saling mengenal?” Dasom tidak mendapat jawaban ketika bertanya ke arah Yuri dan Myungsoo. Maka dari itu Dasom bertanya kepada Kyuhyun. Kyuhyun menampilkan senyum sarkastiknya dan berujar pelan.

“Tentu, bahkan…” ujar Kyuhyun dengan dwimanik yang terfokus pada Yuri.

“Lebih dari yang kau pikir…”

Yuri menatap pria itu dengan sebuah tatapan yang tidak dapat diartikan. Perasaan wanita itu kini menjadi satu. Antara bahagia sekaligus sedih. Melihat seorang Cho Kyuhyun dalam keadaan sehat serta kemapanannya yang kian memuncak, Yuri bahagia. Oh! Bahkan pria itu semakin tampan dengan tampang arrogant yang selalu memikat banyak kaum hawa di sekitar.

Dasom menaikkan satu alisnya, perkataan Kyuhyun cukup aneh mengingat wanita itu baru saja memperkenalkan Kyuhyun dengan kedua orang teman-nya. “Apa maksudmu, Kyu?”, Kyuhyun menatap Dasom dengan sebuah senyuman. Senyuman yang berisikan maksud tertentu. Kyuhyun mendekat ke arah Dasom dan merangkulnya pelan.

“Tidak Dasom, hanya saja aku pernah melihat mereka entah dimana.” elak Kyuhyun menatap sarkastik ke arah Yuri dan Myungsoo. Kedua orang itu hanya mampu diam dan melihat keakraban pasangan tersebut. Entah mengapa, sesuatu dalam hati Yuri bergejolak. Timbul sebuah desiran-desiran aneh pada setiap inci bagian tubuhnya.

Ooh, begitu… Bagaimana jika kita berbicara terlebih dahulu? Akan lebih baik jika kita saling berteman bukan?” ujar Dasom yang tidak menyadari situasi antara ketiga orang tersebut. Dengan cepat Yuri menatap gadis itu dengan terkejut.

“Itu memang pilihan yang tepat. Tapi aku harus kembali ke perusahaan secepat mungkin. Tzuyu telah menungguku dan masih ada banyak berkas-berkas yang harus ku selesaikan.” Kyuhyun berujar kepada Dasom sembari menilik ke arah Yuri yang terdiam pada tempatnya.

Dasom mengiyakan pelan, “Baiklah, lebih baik kita pulang.”

Kyuhyun memasuki mobil setelah membukakan pintu untuk Dasom. Pria itu menatap Dasom dengan sebuah tatapan mengintimidasi. Dasom tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak mengerti dengan tatapan Kyuhyun yang aneh itu.

“Bagaimana bisa kau mengenal Kwon Yuri?”

Huh? Oh… Yuri? Kami baru saja berkenalan, dia kekasih partner-ku.” balas Dasom seadanya. Kyuhyun terdiam, dan perlahan ia melajukan mobilnya.

Partner-mu?” ralat Kyuhyun tanpa mengalihkan pandang dari jalanan. Netranya terfokus pada jalanan, namun pikirannya terfokus pada kejadian yang berada di cafetaria lima belas menit sebelumnya.

Dasom mengangguk sembari menatap ke arah jalanan yang hampir dibasahi oleh tetesan air hujan. “Iya, Kyu…”. Kyuhyun melirik ke arah Dasom dengan tatapan yang masih sama seperti sebelumnya.

“Siapa? Apa partner-mu itu, Kim Myungsoo?” mendengar perkataan Kyuhyun, Dasom menoleh ke arah tunangan-nya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Eoh? Kau mengetahui Kim Myungsoo?”

Kyuhyun mendegus pelan, “Bukankah telah ku katakan sebelumnya?”

“Tentang?” Dasom mengernyit.

“Kami saling mengenal, bahkan lebih dari yang kau pikir…”

Dasom terdiam ketika Kyuhyun mengatakan hal tersebut. Lantaran ia masih teringat dengan ekspresi Yuri dan Myungsoo saat bertemu dengan Kyuhyun. Ada yang aneh dari tatapan ketiganya, namun Dasom tidak tahu pasti tentang arti dari berbagai tatapan tadi. Hingga ia memilih untuk diam dan mencernanya dalam pikiran. Ia tidak mungkin bertanya kepada Yuri atau Myungsoo, karena mungkin apa yang dikatakan Kyuhyun mengenai mereka saling mengenal merupakan sebuah privasi yang tidak berhak Dasom ketahui.

Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Kyuhyun yang fokus dengan kegiatan menyetirnya, serta Dasom yang sibuk dalam berbagai hipotesis anehnya. Hingga sesuatu mengganggu pikiran Dasom dan menyuara.

“Kyu, dimana Tzuyu?”

Lantas Kyuhyun menghentikkan mobilnya tepat di saat lampu lalu lintas menyala merah. Kyuhyun menatap Dasom dengan ekspresi terkejut.

Aish, aku melupakan gadis itu. Dia masih di taman universitas,”

Dalam perjalanan pulang, tidak ada yang memulai percakapan antara Yuri dan Myungsoo. Kedua insan itu larut dalam pikiran masing-masing. Terlebih dengan pertemuan mengejutkan yang terjadi sore tadi. Seorang pria yang telah lama menghilang ditelan kecurigaan selama empat tahun, dan kini telah dipertemukan kembali oleh takdir dalam keadaan berbeda.

Hingga tiba di apartemen, tidak ada yang memulai percakapan dan mereka pergi ke kamar masing-masing. Yuri menyandarkan dirinya pada sandaran tempat tidur, manik matanya terarah ke luar jendela. Langit hitam pada malam hari ini tidak menampilkan penghias apapun. Bulan tidak nampak pada saat ini. Serta tidak adanya bintang-bintang yang bertaburan indah di atas sana.

Dengan tiba-tiba terlintas bayang-bayang seorang Cho Kyuhyun dalam pikirannya. Terlebih dengan pertemuan secara tidak sengaja mereka tadi. Hatinya bergetar, dadanya sesak, bahunya naik turun seraya mengendalikan emosi. Ia tidak tahu, mengapa hatinya serasa berantakan hanya karena bertemu dengan seorang Cho Kyuhyun. Ia tidak tahu, mengapa ia masih merindukan seorang pria yang jelas-jelas telah membuatnya hatinya sakit melebihi apapun.

Seharusnya ia tahu, jika pria itu tidak akan mengalami hal yang sama sepertinya saat ini. Mungkin pria itu tengah mengumpat dalam hati dan memperingati Dasom untuk tidak bertemu dengan dirinya lagi. Mungkin Kyuhyun benar-benar tidak mengharapkan pertemuan ini dan pria itu ingin mengenyahkan seorang Kwon Yuri dari dunia ini. Yuri yakin. Benar-benar yakin hingga rasa sakit di dadanya semakin bergerumuh hebat. Hingga ia tidak mampu membendung air mata yang berada di pelupuk mata. Hingga ia terisak dan larut dalam kesedihan.

Myungsoo merosot pelan, bersandar pada pintu kamar Yuri. Hati pria itu bergetar pelan ketika mendengar isakan Yuri yang terdengar disembunyikan. Pria itu tahu, Yuri tidak ingin membuat orang lain khawatir dan ia berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan isakannya. Sekalipun hati wanita itu ingin mengeluarkan segala keluh-kesahnya menggunakan sebuah tangisan.

Pada akhirnya, hari ini terjadi. Kim Myungsoo telah menduganya jauh-jauh hari. Bahkan setelah kepergian Kyuhyun tanpa jejak yang membuat resah setiap orang. Myungsoo yakin, Kyuhyun akan kembali dan bertemu dengan dirinya dan Yuri lagi. Perasaan Myungsoo saat ini sangat aneh. Antara bahagia dan sedih. Ia tidak dapat membedakannya. Bahagia, ia bahagia karena dapat bertemu dengan sahabatnya lagi. Jujur saja, Kyuhyun merupakan sahabat terbaiknya.

Sedih?

Tentu saja karena ia harus melihat seorang Kwon Yuri menangis lagi. Selama ia berada di samping Yuri, wanita itu jarang –hampir tidak pernah menampilkan tangisannya. Ia membenci keadaan seperti ini. Dan satu hal lagi,

Di saat seperti inilah seorang Kwon Yuri harus menentukan hatinya.

Myungsoo tahu, pemilik hati seorang Kwon Yuri ialah Cho Kyuhyun.

Begitu pula sebaliknya.

“Apa kebahagiaan ini sudah berakhir, Yuri?”

Pagi ini, Kyuhyun terjaga lebih lama dari biasanya. Entah karena pekerjaannya yang semakin menumpuk atau karena pikiran barunya mengenai seseorang. Tzuyu berdecak kesal ketika ia membuka pintu kamar kakaknya dan melihat sang kakak yang masih tertidur. Gadis itu terlihat kesusahan membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas susu.

Aish, siapa yang menyuruhnya pulang dengan keadaan mabuk? Aku yang repot ‘kan?” Tzuyu meletakkan nampannya di nakas tempat tidur Kyuhyun. Gadis itu berkacak pinggang, ia menggerakkan tungkainya ke kamar mandi di kamar Kyuhyun. Sebelumnya ia meraih sebuah gelas di nakas tempat tidur, kemudian ia mengisinya dengan air kran. Ia ingin membuat kakaknya basah, lalu ia akan tertawa puas. Ini akibat karena Kyuhyun telah meninggalkannya di taman universitas kemarin.

Setelah ia mengisi gelas tersebut, ia hendak melangkah keluar. Akan tetapi,

“Apa yang kau lakukan?”

Tzuyu membuang air yang berada di gelas tersebut dengan malas. Kakaknya telah bangun ternyata. “Hai oppa? Bagaimana? Mimpi indah semalam?”. Kyuhyun menatap adiknya sarkastik, pria itu tidak mengerti dengan pertanyaan Tzuyu. Merasa mengerti dengan tatapan dari sang kakak, Tzuyu mulai menjelaskan.

“Semalam kau mabuk, oppa. Setelah kau menurunkanku di toko buku, Dasom eonnie mengantarkanmu pulang dengan keadaan yang merepotkan dan tepat tengah malam. Aish, kau benar-benar menyusahkan oppa! Tapi aku baru tahu, ternyata pria sepertimu bisa mabuk juga. Ahh, dan juga… Semalam kau ingin aku mengambilkan kaca, ku pikir kau akan bunuh diri oppa. Aish, benar-benar menakutkan.” Tzuyu melewati Kyuhyun yang terdiam pada tempatnya.

Kyuhyun berpikir tentang kejadian semalam. Setelah pria itu kembali ke universitas untuk membawa Tzuyu kembali, tiba-iba saja Tzuyu ingin pergi ke toko buku. Kyuhyun menurunkannya, kemudian entah gerangan apa yang membuat Kyuhyun ingin pergi ke club dan minum sebentar. Ia ingat sampai saat itu, kemudian ia tidak mengingat perihal Dasom mengantarnya pulang.

“Kurasa kau mulai amnesia,” gumam Tzuyu hendak memutar kenop pintu kamar Kyuhyun. “Tunggu!” Tzuyu menatap kakaknya dengan heran. Mengapa Kyuhyun memperintahkan Tzuyu untuk menunggu? Ada apa?

“Kau bilang, semalam aku ingin kau mengambilkan kaca?” tanya Kyuhyun.

Tzuyu bersidekap sembari memutar bola matanya, “Hmm, sebenarnya tidak mengambilkan juga. Tapi kau selalu berkata ‘Yuri, Yuri, dimana Yuri?’ seperti itu. Kupikir kau ingin aku mengambilkanmu kaca. Yuri, itu kaca ‘kan? Bahasa Korea-ku memang lemah, tapi aku tahu apa artinya.”

Kyuhyun terdiam, Apa benar aku menyerukan nama Yuri?

“Sudahlah oppa, minum saja susu di nakas tempat tidurmu itu kemudian mandi. Setelah itu, kau harus mengantarkanku pergi ke supermarket untuk membeli snack dan beberapa minuman soda. Kita belum mempersiapkan apapun untuk pesta nanti malam, oppa… Aku akan menunggumu setengah jam lagi di ruang tengah, jangan mengulur waktu terlalu banyak!”

“Banyak bicara,”

Lantas tidak ada yang dapat Kyuhyun lakukan selain melakukan apa yang adiknya perintahkan. “Eh? Kenapa aku menuruti perintah bocah itu?”

Myungsoo mendorong troli belanjaannya bersama dengan Yuri yang sibuk memilih bahan-bahan keperluan dapur di sampingnya. Sedari tadi, pandangan Myungsoo mengedar dan ingin mengambil salah satu buah-buahan. Namun, ia harus menunggu Yuri terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, ia harus mengambil sesuatu yang Yuri ijinkan. Jika tidak, Yuri akan memarahi pria itu habis-habisan karena telah menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak berguna. Tapi untuk buah-buahan itu, Myungsoo yakin Yuri akan mengijinkannya.

“Yuri?”

Hmm?” Yuri tidak menoleh ke arah Myungsoo, wanita itu senantiasa menatap ke arah sayuran segar yang akan dibeli.

“Aku ingin semangka, apa aku boleh mengambilnya satu?” Yuri menoleh dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Namun, pada akhirnya wanita itu mengangguk pelan. “Tentu saja, pilih saja.”

Dengan senang, Myungsoo menuju ke arah buah-buahan segar yang sangat diinginkannya. “Semangka? Melon? Atau Alpukat? Ah, semuanya saja.” Myungsoo mulai menggapai buah-buahan yang diinginkannya secepat mungkin. Ia bebalik, ingin pergi ke tempat penimbangan. Akan tetapi, sesuatu menghentikkan langkah riangnya.

Raut senangnya berupa menjadi dingin. Ia berdecak pelan dan menatap orang yang berada di hadapannya sarkastik. “Oh, hai? Tidak kusangka kita akan bertemu lagi di sini.” Cho Kyuhyun menyapa Myungsoo dengan sarkasme. Myungsoo menyeringai kecil, lalu berdecak pelan.

“Hai juga, Cho Kyuhyun… Bagaimana dengan pernikahanmu? Apa kau akan mengundang Yuri dan aku untuk datang?” raut wajah Kyuhyun berubah menjadi kesal. Tiba-tiba saja Tzuyu hadir di antara percakapan keduanya.

Oh, kau teman Kyuhyun oppa? Siapa namamu? Aku akan memberimu undangan, undangannya akan disebarkan dua hari lagi.” Kyuhyun terperangah mendengar perkataan adiknya. Rasanya, ia ingin melemparkan Tzuyu ke kutub utara. Dan jika berkenan, Kyuhyun tidak ingin adiknya itu kembali. Terdengar jahat memang, namun Kyuhyun sedang kesal saat ini.

Myungsoo tersenyum sinis, ia cukup puas dengan reaksi yang Kyuhyun tunjukkan. Kemudian, kedatangan seorang wanita dengan troli yang penuh muncul dari arah belakang Myungsoo.

“Myungsoo? Kau sudah menemukan buah-buahan milikmu?” Myungsoo berbalik, “Hmm, tapi aku belum menimbangnya.”

Aish, apa yang kau lakukan? Cepat timbang dan ki-” sorot mata gadis itu terhenti tepat ke arah seorang Cho Kyuhyun yang melayangkan tatapan menghunusnya. Sejemang kemudian, ia mendelik ke arah gadis cantik yang berada di samping Kyuhyun. Alisnya meliuk, wanita itu tidak pernah melihat gadis secantik ini selama ia hidup.

“Ada apa Yuri?” Myungsoo mengikuti arah –di mana sorot mata wanita itu tertuju. Myungsoo berdecak kesal, seharusnya ia harus pergi setelah bertemu dengan Kyuhyun selagi bisa. Bukannya mempertemukan kembali kedua orang tersebut. Semalam, pria itu berusaha sekuat mungkin untuk tidak mempertemukan Yuri dengan Kyuhyun. Dan saat ini? Ia tidak tahu, mengapa takdir seakan mengkhianati usahanya yang baru akan dimulai. Tidak ada jawaban yang terlontar atas pertanyaan Myungsoo. Hal itu cukup memuakkan baginya, terlebih saat ini keduanya saling bertatapan.

Berbeda dengan pemikiran dewasa Myungsoo, ada satu hal yang mengganggu Tzuyu ketika Myungsoo bertanya kepada wanita yang membawa troli dengan isi penuh itu. “Tunggu…” gumam Tzuyu sembari meliukkan alisnya. Sekilas, gadis itu teringat dengan percakapan kecilnya dengan Kyuhyun dua jam yang lalu di rumah.

 

“Kau bilang, semalam aku ingin kau mengambilkan kaca?” tanya Kyuhyun.

Tzuyu bersidekap sembari memutar bola matanya, “Hmm, sebenarnya tidak mengambilkan juga. Tapi kau selalu berkata ‘Yuri, Yuri, dimana Yuri?’ seperti itu. Kupikir kau ingin aku mengambilkanmu kaca. Yuri, itu kaca ‘kan? Bahasa Korea-ku memang lemah, tapi aku tahu apa artinya.”

 

Ah!” Tzuyu terperangah ketika ingatan tersebut baru saja melintas di otaknya. Kyuhyun, Yuri dan Myungsoo menatap ke arah Tzuyu dengan bingung. Tzuyu tersenyum senang, seraya melayangkan tatapan anehnya ke arah Yuri. Yuri tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya tidak mengerti tentang arti tatapan Tzuyu yang sebenarnya.

“Jadi, Yuri yang op- Akh!

Mengerti akan ke mana jalan pikiran Tzuyu, dengan cepat Kyuhyun menarik surai panjang Tzuyu yang menjuntai di bagian punggung. Tangan kiri Kyuhyun secara tidak diketahui berhasil melaksanakan perintah dari otaknya. Tzuyu meringis kesal, lalu menatap ke arah sang kakak dengan tatapan tidak suka.

“K-Kau kenapa?” tanya Yuri merasa aneh dengan tingkah Tzuyu. Tzuyu menatap ke arah kakaknya dengan tatapan apa-aku-boleh-mengatakannya? Sementara Kyuhyun, pria tu bersidekap diiringi balasan atas tatapan Tzuyu. Layaknya, jangan-katakan-apapun-dan-diam.

Tzuyu mencibir pelan, sebelum ia berkata kepada Yuri jika dirinya baik-baik saja. Dengan alasan adanya serangga kecil yang menggigit pundaknya. Yuri masih merasa ragu, namun pada akhirnya wanita itu mengiyakannya dengan mudah.

Eherm… Jadi, ini adikmu?” pertanyaan Myungsoo memecah keheningan sesaat yang baru saja melanda mereka. Kyuhyun menenggelamkan kedua tangannya tepat di saku celana. Kembali berlagak seolah tidak terjadi apa-apa merupakan kegiatan utama seorang Cho Kyuhyun saat ini.

Kyuhyun mengendikkan bahunya tanpa antusias, “Menurutmu?”

Myungsoo berdecih pelan, pria itu paling tidak suka jika mendengar sebuah pertanyaan dibalas dengan pertanyaan lainnya. “Tzuyu? Saatnya kita memilih bahan-bahan, karena sepertinya tuan dan nona yang berada di depanmu itu ingin sekali mengantri di kasir.”

Eung?” Tzuyu hanya mampu menurut. Terlebih pergelangan tangan gadis itu berada dalam genggaman Kyuhyun. Melewati Yuri dan Myungsoo, kemudian berlalu ke arah lain. Yuri terdiam. Tatapan Kyuhyun kala pria itu melewatinya. Tatapan yang penuh akan sorot mata kesedihan. Ia ingat betul bagaimana tatapan Kyuhyun beberapa detik yang lalu. Dan tatapan itu, sama seperti tatapan yang pria itu perlihatkan padanya tepat empat tahun lalu.

Hatinya bergetar, kelopak matanya mengatup pelan. Ia tidak tahu, mengapa hatinya bisa selemah ini. Hanya dengan melihat pria bermarga Cho itu secara sekilas, hatinya bergetar dan ia ingin menangis. Myungsoo mengalihkan pandangannya ke arah lain sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya frustasi. Ia benci situasi seperti. Situasi yang membuat hatinya seperti di cambuk oleh besi panas.

‘Hanya dua kali, aku tahu perasaanmu mulai kembali.’

Malam ini, Yuri terpaksa harus berada di apartemen sendiri. Sementara Myungsoo tengah melaksanakan tugas yang tiba-tiba saja datang. Myungsoo harus berlari dan melakukan aksi heroik-nya terhadap hal tertentu. Seolah ingin menggapai bintang terjauh dari bumi, setidaknya hal itu yang Myungsoo lakukan saat ini.

Yuri termenung dalam kamarnya. Yang wanita itu lakukan saat ini hanya menatap bintang di langit kota Seoul. Dari dalam kamarnya, ia tidak melihat adanya kehadiran bulan. Sejauh mata memandang ke arah langit hitam malam ini, hanya taburan bintang yang nampak. Bosan mulai melanda pada menit ke empat puluh dua dari pukul delapan malam. Terlalu malam untuk memulai perjalanan bersama teman-teman, serta terlalu dini untuk menyempatkan diri ke alam mimpi.

Wanita itu bertopang dagu, ia benar-benar bosan dan ingin pergi ke suatu tempat. Akan tetapi, dengan siapa? Ke mana? Tidak lengkap rasanya jika tidak pergi bersama Myungsoo. Setiap hari, ia sudah terbiasa untuk pergi bersama pria mata-mata itu. Oh tidak! Bahkan saat ini Yuri terlalu lemah hanya karena membutuhkan seorang Kim Myungsoo untuk menemaninya pergi bersama.

Lantas, apa yang harus ia perbuat sekarang?

“Hanya ada satu pilihan, kau tidak bisa mengelaknya.”

“Itu juga sama denganmu, hanya satu pilihan. Jika aku mati, semua ini akan sia-sia. Begitu juga denganmu,”

“Kau tidak akan mendapatkan apapun dari semua ini,”

“Tergantung, aku yakin kau yang akan menyesal.”

 

Yuri mengerjapkan matanya beberapa kali tepat setelah ia tersadar. Ia menghembuskan napas pelan, dengan mata terkatup serta pergerakan bahunya yang terasa berat. “Mimpi? Aishh, kenapa seperti benar-benar terjadi? Tapi aku hanya mendengarnya,” perlahan kepala wanita itu menoleh ke arah jam dinding yang berada di kamarnya.

Pukul tiga pagi.

Wanita itu berdecak pelan. Ia tidur di dekat jendela sangat nyenyak. Dan ia lupa jika ia belum menata berkas-berkas yang akan dibawanya nanti sewaktu berada di universitas. Dengan cepat, Yuri memutuskan untuk membuka dokumen-dokumen pentingnya selagi mentari belum menyapanya. Ia berangsur ke arah tempat map khusus yang telah diaturnya menurut bahan materi.

Akan tetapi, sesuatu terlihat janggal kala manik matanya menangkap secarik kertas usang yang terselip di antara map berwarna biru dan hijau. Perlahan, jemarinya beranggapan untuk menggapai kertas tersebut tanpa ragu. Sesuatu dalam benak Yuri hendak mengingatkannya kepada sesuatu. Akan tetapi, Yuri tidak tahu apa itu. Samar dan aneh.

Kertas yang terlipat rapi tersebut perlahan terbuka. Seketika, degupan jantung Yuri berhenti berdetak. Bahkan wanita itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana ini bisa terjadi dan mengapa, kertas itu masih bersama dengannya sampai saat ini. Seharusnya, kertas usang itu telah berada dalam tanah dengan harapannya yang terbuang.

Iya, seharusnya seperti itu.

Namun…

“Yuri?”

Yuri berbalik, didapatinya sosok Kim Myungsoo dengan pakaian serba hitam. Rupanya, pria itu telah menyelesaikan misi tiba-tibanya. “Ah… Myungsoo, kau sudah pulang?” Yuri melayangkan pertanyaan dengan nada yang benar-benar aneh. Myungsoo menyerngit bingung, gelagat Yuri nampak aneh untuk dilihat.

“Seperti yang kau lihat, aku sudah pulang.” Tangan Yuri terarah untuk menyembunyikan kertas usang tersebut dalam saku celananya. Sedari tadi kedua tangannya diletakkan ke belakang. Yuri yakin, saat ini Myungsoo sangat mencurigainya tengah menyembunyikan sesuatu. Terlebih, mengenai seorang Kim Myungsoo merupakan mata-mata andalan negara.

Hmmm,” kali ini Yuri mencoba untuk bersikap biasa. “Kau tidak lapar? Aku akan membuatkanmu makanan, ayo!”

Untuk saat ini, Myungsoo harus menepis rasa curiganya. Karena ajakan Yuri terlalu sulit untuk ditolak. Satu hal di dunia ini yang mampu meluluhkan hatinya, yaitu Kwon Yuri.

Pagi sekali, Tzuyu telah menyibukkan diri dengan data-data orang yang namanya akan ditempatkan di daftar tamu undangan pernikahan Cho Kyuhyun dengan Kim Dasom. Besok, undangan pernikahan kakaknya akan mulai disebar. Kemudian, gadis itu tidak sabar dengan pernikahan keduanya yang akan terlaksana satu minggu lagi.

Dari arah dapur, Kyuhyun dengan berantakan membawa segelas air mineral dari dapur. Pria itu tidak tahu, gerangan apa yang membuat adik satu-satunya itu rela bangun satu jam lebih awal dari sebelumnya hanya untuk tersenyum aneh di ruang keluarga dengan beberapa kertas dan sebuah pena.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Kyuhyun usai meneguk habis air mineral-nya. Tzuyu menoleh ke arah kakaknya dengan senang.

“Aku sedang mencatat nama-nama yang akan kita undang di pernikahanmu oppa…” mendengar kata ‘pernikahan’, ada sesuatu dalam benak Kyuhyun yang memberontak. Tetapi, ada sesuatu dalam hatinya yang tidak mampu untuk menolak dan mengelaknya dengan berbagai kata.

Tzuyu kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Kyuhyun hanya mmpu terdiam sembari menatap ke televisi yang baru saja dinyalakan. Tidak ada yang menarik, bahkan sorot matanya terlihat kosong. Hanya entah mengapa, ia bisa seperti ini. Seorang Cho Kyuhyun tidak pernah melakukan hal seperti ini. Mengabaikan televisi ddengan tatapan kosong.

Oppa?” Kyuhyun menoleh ke arah Tzuyu. Gadis itu nampak berpikir. “Menurutmu, apa kita harus mengundang kedua temanmu itu?”

Alis Kyuhyun meliuk dengan cepat, “Kedua temanku? Siapa?”

“Itu… Kedua temanmu yang bertemu di supermarket itu, siapa namanya? Ah! Myung… soo… dan Yuri… Eh Tunggu? Berbicara tentang nama teman perempuanmu itu, apa Yuri yang kau maksud itu adalah dia?” Tzuyu menatap ke arah Kyuhyun dengan penuh harap. Berharap jika Kyuhyun akan menjawab pertanyaannya.

Tidak ada yang dapat Kyuhyun lakukan saat ini selain diam dan menatap kosong –akan tetapi menghadap ke arah Tzuyu. Melihat tatapan kosong sang kakak, Tzuyu melambai-lambaikan kedua tangannya tepat di hadapan wajah Kyuhyun.

Oppa? Kau melamun?”

Dengan cepat Kyuhyun tersadar. Pria itu berdeham untuk memulihkan kesadarannya yang baru saja melayang entah ke mana. “Ada apa?” tanyanya pada Tzuyu. Tzuyu tersenyum aneh, gadis itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Oppa? Kau melamun? Wah! Ini sungguh sebuah keajaiban, baru kali ini aku melihatmu melamun oppa!” Kyuhyun berdecak pelan mendengar perkataan adiknya. Ia tahu jika gadis itu akan bereaksi berlebihan seperti ini mengenai kegiatan melamunnya.

“Sudahlah, apa yang kau tanyakan?” Tzuyu mencibir pelan ketika Kyuhyun berusaha untuk mengganti topik perhatian.

“Baiklah, apa temanmu yang bernama Myungsoo dan Yuri itu kita undang?” Kyuhyun terdiam sejenak, sebelum pada akhirnya ia mengangguk dan menyetujui keberadaan nama kedua orang itu dalam daftar tamu undangan.

“Baiklah, tapi oppa? Apa kau tahu di mana alamat rumah mereka?” Kyuhyun mendegus pelan, kemudian ia mengangguk untuk yang kedua kalinya. “Aku tahu,”

Keesokan harinya, ketika Yuri dalam kondisi yang tidak cukup baik, sesuatu yang tidak pernah diharapkan datang ke apartemennya. Sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat dan tidak seharusnya ia miliki. Akan tetapi, namanya telah tercantum dalam lembar utama undangan pernikahan tersebut. Hal itu membuat kondisi Yuri semakin memburuk. Entah mengapa, saat ini ia tidak bisa berpikir apapun. Hanya pernikahan seorang Cho Kyuhyun dengan Kim Dasom-lah yang mendominasi pikirannya saat ini.

Sungguh, tidak mungkin baginya menyukai seorang Cho Kyuhyun yang telah terbukti dimiliki oleh orang lain. Berulang kali ia menepis kenyataan jika perasaan lamanya telah kembali ke hati seorang Cho Kyuhyun. Wanita itu memang pernah memiliki perasaan kepada Cho Kyuhyun, tapi itu dulu. Itu cerita lama, cerita lama yang seharusnya tidak Yuri ingat untuk saat ini.

Yuri memejamkan matanya sejenak, terlintas bayangan Cho Kyuhyun dan Kim Myungsoo secara bersamaan. Tidak mungkin baginya untuk menyukai kedua orang itu secara bersamaan pula. Akan tetapi, siapa yang harus di salahkan jika penyebab kondisinya menurun hanya karena memikirkan seorang Cho Kyuhyun? Siapa yang harus disalahkan?

Ingatan tentang pertemanan antara dirinya, Kyuhyun dan Myungsoo kembali berputar dengan cepat di otaknya. Berkat sebuah kertas usang yang ditemukannya, semua ingatan itu mendatanginya lagi. Wanita itu sepenuhnya tidak percaya jika perasaannya mulai goyah. Pertemuannya dengan Cho Kyuhyun beberapa hari yang lalu, serta ditemukannya kertas usang –yang seharusnya telah tiada. Apakah ini salah satu permainan takdir? Yuri membenci semua kenyataan ini. Disaat seperti ini, justru ia yang harus terpuruk dengan persepsinya mengenai takdir.

Yuri memutuskan untuk menjernihkan pikirannya. Mungkin, pergi berjalan-jalan sebentar merupakan salah satu obat yang dapat mengembalikan segalanya seperti semula. Yah… Mungkin.

Tidak lupa, wanita itu mengunci apartemen dengan baik. Di waktu cuti-nya ini, justru ia harus pergi sendiri. Ia berharap, Myungsoo dapat menemaninya. Akan tetapi, itu sangat tidak mungkin. Karena pria arrogant itu telah disibukkan dengan misi-misi rahasia yang mengangumkan serta mengejutkan –menurutnya.

Menjadi seorang mata-mata. Saat itu juga nama ‘Kim Dasom’ terngiang dalam pikirannya. Sepertinya, sesuatu merasuki jiwa Yuri saat ini. Bahkan, Yuri hanya mampu meracau tidak jelas dan menatap ke berbagai arah seperti orang gila. Hingga pada akhirnya, pandangan wanita itu beralih ke sebuah cafe di sudut jalan. Melangkah pelan, kemudian mengambil tempat yang sesuai dengan kata hatinya.

Tidak ada yang lebih baik dari tempat yang berada di pojok ruangan dengan pemandangan yang mengarah ke arah luar cafe. Di sini, ia bisa melihat beberapa orang yang berlalu lalang. Menurutnya, ini tempat yang sangat tepat untuk menikmati waktu sendiri. Meski harus ia akui, keadaan hatinya sedang diporak-porandakan oleh seorang Cho Kyuhyun.

Tunggu?

Cho Kyuhyun?

Yuri terkekeh pelan, mimpi apa ia semalam hingga saat ini suasana hatinya kacau karena Cho Kyuhyun? Yuri tidak yakin dengan pernyataan ini. Sepertinya itu hanya pelampiasan kata saja. Yuri yakin, wanita itu tidak mempedulikan seorang Cho Kyuhyun saat ini.

Selang beberapa menit, setelah pesanannya tiba, wanita itu mengedar pandang dengan lemas. Ia tidak tahu harus melakukan apa agar harinya kali ini sedikit berwarna. Bahkan ia tidak tahu, mengapa suasana hatinya nampak suram. Seharusnya ia memilih untuk membimbing para mahasiswanya dengan kata-kata bijak yang mampu mendukung serta memberinya pengalaman juga. Akan tetapi, pikirannya memaksa untuk mengambil cuti selama beberapa hari.

“Hai?”

Yuri terjerumus dalam lamunan panjangnya, sehingga kehadiran seorang pria di sampingnya pun tidak dapat disadari dengan baik. Atau mungkin, indera pendengaran Yuri yang bermasalah? Tidak, wanita cantik itu memiliki indera pendengaran yang baik. Benar-benar baik dan masih berfungsi dengan semestinya.

Merasa diabaikan, pria berambut pirang itu terpaksa duduk dihadapan Yuri dan mendapati wanita itu sedang melamun. Pria itu tersenyum pelan. Tidak ingin mengganggu lamunan Yuri, pria itu memutuskan untuk diam dan menatap wajah manis Yuri tanpa jeda sedikitpun.

‘Saying i like you, i love you…
Stop making a fool of yourself
You can’t be satisfied with me
That’s the type of person you are…’

Yuri terperangah ketika ponselnya berdering. Pria berambur pirang itu menyerngit lantaran ia mengerti arti dari nada dering ponsel milik Yuri. Yuri melihat, sebuah panggilan singkat dari rekannya di universitas Seoul.

“Kau sedang patah hati atau bagaimana?” Yuri melirik pria di hadapannya sekilas, “Tidak, itu hanya nada dering.” Lalu pandangannya kembali ke layar ponsel.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Yuri menilik pelan ke arah pria berambut pirang di hadapannya. Wanita itu terperangah pelan, ketika menyadari kehadirannya. “Astaga Luhan? Kenapa kau bisa berada di sini?”

Pria yang dipanggil ‘Luhan’ itu lantas tersenyum manis ke arah Yuri. “Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa wanita cantik seperti dirimu bisa-bisanya datang sendiri ke cafe milikku.”

Oh? Ini cafe-mu? Hebat sekali!” sanjung Yuri membuat Luhan tersenyum senang. “Dan kau? Kapan kau kembali dari China? Rasanya baru kemarin aku melihatmu pergi ke China,”

Aishh, sepertinya kau tidak mengharapkan kehadiranku ya? Baiklah, setelah ini aku akan mengambil penerbangan ke China secepatnya.” Luhan hendak beranjak dari duduknya dengan wajah kusut yang diciptakannya secara sengaja. Sedangkan Yuri dengan cepat menarik tangannya dan memaksa pria itu untuk duduk lagi.

“Bukan seperti itu Luhan, aku hanya bertanya.” Ujar Yuri dengan wajah mengerucut kesal. Luhan tersenyum manis, bertemu dengan seorang Kwon Yuri setelah sekian lamanya membuat suasana hati Luhan yang sebelumnya gundah kini terasa lebih baik.

“Tapi Yuri? Kenapa kau datang sendiri? Tidak bersama dengan teman-temanmu?” tanya Luhan, hal tersebut sukses membuat Yuri menoleh ke arah-nya.

“Tidak ada, teman-temanku sibuk bekerja. Sedangkan aku mengambil cuti untuk beberapa hari,” balas Yuri seraya menyesap latte-nya.

“Cuti? Apa pekerjaanmu?”

Yuri meletakkan kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Wanita itu menatap Luhan dengan santai dan seolah hidupnya dalam keadaan baik-baik saja. Sejenak, ia melupakan masalah perihal kekacauan hatinya pada hari ini. “Aku hanya seorang dosen, aku menyukai pekerjaanku dengan setulus hati.”

“Dosen? Hebat! Kau pasti sangat pandai,” puji Luhan dengan ekspresi melebih-lebihkan. Dan Yuri menyadarinya.

“Kau terlalu melebih-lebihkan, tapi tidak juga… Aku tidak cukup pandai, sebenarnya seperti itu.” Yuri menatap kentang goreng kesukaannya yang setengah hangat, ia ingin melahapnya, akan tetapi untuk saat ini ia tidak bernafsu sama sekali.

Hmm, coba kutebak! Pasti ada banyak pria di luar sana yang mengangumimu,” Yuri berdecak pelan mendengar perkataan Luhan. Luhan memberikan tampang anehnya yang sangat tidak disukai oleh Yuri.

“Apa yang kau bicarakan? Dari dulu sampai sekarang kau masih tetap bersikap seperti ini, selalu menerka yang tidak-tidak.” Cibir Yuri mengundang tatapan aneh dari Luhan.

Ah! Yuri? Boleh aku meminta alamat rumahmu? Mungkin, suatu hari nanti aku akan bertamu ke rumahmu.” Yuri terperangah ketika Luhan bertanya tentang alamat rumahnya. Akan sangat tidak mungkin jika ia memberitahu alamat apartemennya, sementara ia sendiri tinggal satu atap bersama dengan seorang Kim Myungsoo.

Terlebih, keduanya akan sangat tidak akur jika bertemu. Xi Luhan, pria asal China itu pernah menjadi kekasih Yuri sewaktu berada di bangku sekolah menengah akhir. Dan ketahuilah, pria itu pernah mengukir sejarah pahit dengan Myungsoo. Selalu timbul kekacauan kala keduanya bertemu. Dan dari kedua pria tersebut, tidak ada salah satu dari mereka yang akan mengalah. Intinya, mereka harus menang dengan cara masing-masing.

Ah, maaf Luhan… Tapi aku tidak yakin aku berada di rumah ketika kau akan bertamu, belakangan ini aku sibuk. Oleh karena itu saat ini aku mengambil cuti,” Luhan menangkap adanya keganjilan atas perkataan Yuri. Entah mengapa, pria itu yakin jika Yuri tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

“Benarkah?”

Ini yang tidak dapat Yuri hindari. Tatapan Luhan benar-benar menghipnotisnya sehingga ia tidak mampu mengatakan sepatah kata apapun lagi, selain mengangguk tidak jelas.

“Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku…” gumam Luhan membuat Yuri tidak tahu harus menyangkal dengan alasan lain. Hingga akhirnya ia memilih menyerah dan mengaku. Tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dengan mudah di hadapan pria keturunan China tersebut.

“Baiklah, aku mengaku. Aku takut kau akan membuat keributan lagi setelah bertemu dengan Myungsoo,” raut wajah Luhan berubah seketika. Bingung dan terkejut, semuanya bercampur menjadi satu.

“Myungsoo?” ralatnya seolah tidak percaya dengan nama yang baru saja didengarnya.

Yuri mengangguk pelan, seraya beralih pandang. “Iya, Kim Myungsoo. Musuh bebuyutanmu dulu sewaktu sekolah, kau masih mengingatnya bukan?”

Saat itu juga, raut wajah pria itu berubah total. “Tentu saja aku mengingatnya, dia adalah orang yang suka sekali membuat keributan denganku. Tapi, kenapa aku harus bertemu Myungsoo saat ingin bertamu ke rumahmu? Apa kalian….” Luhan memandang wanita itu dengan terkejut.

Yuri menggeleng dengan cepat, “Bukan! Kau pasti berpikir yang aneh-aneh. Kedua orang tua-ku memperintahkan Myungsoo untuk menjagaku selama aku berada di sini. Kami memang berada di atap yang sama. Tapi, tidak seperti yang kau pikirkan.”

Mendengar penjelasan Yuri, timbul kelegaan dalam diri Luhan. Akan tetapi, pernyataan yang mengatakan jika kedua berada di atap yang sama membuat Luhan merasa tidak nyaman. “Hmm, baiklah aku tidak akan bertamu ke rumahmu. Kurasa itu lebih baik,” Yuri hanya mampu tersenyum tipis mendengar perkataan Luhan. Ia tahu jika pada akhirnya Luhan akan berkata sedemikian.

“Seingatku, dulu kau selalu bersama dengan Myungsoo dan Kyuhyun. Saat ini, di mana Kyuhyun?” hati Yuri bergetar pelan mendengar nama seorang Cho Kyuhyun terlontar dari mulut Luhan. Beberapa menit sebelumnya, ketika wanita itu bertemu dengan Luhan, ia hampir melupakan masalah barunya.

“Entahlah, pria itu sibuk sekali. Sebentar lagi dia akan menikah, minggu depan.” Yuri berkata dengan nada yang aneh. Membuat Luhan tidak mampu menghilangkan rasa heran-nya terhadap sikap Kwon Yuri saat ini.

“Menikah? Benarkah? Dengan siapa?” tanya Luhan seraya menyandarkan dirinya pada sandaran kursi. Yuri menatap wajah tampan Luhan tanpa minat dan menunjukkan seakan wanita itu akan memakan Luhan hidup-hidup jika pria itu bertanya mengenai pernikahan Kyuhyun.

“Namanya Kim Dasom, dia partner Myungsoo saat bekerja.” Nada bicara Yuri saat ini benar-benar malas dan ingin mengganti topik, sebenarnya.

Ooh, minggu depan? Kurasa kita bisa pergi bersama saat hari pernikahan temanmu itu berlangsung.” Yuri terdiam. Ia memikirkan perkataan Luhan. Pergi bersama dengan Luhan saat pernikahan seorang Cho Kyuhyun dan Kim Dasom berlangsung? Entahlah, Yuri tidak yakin. Seharusnya itu memang diperkenankan. Terlebih dengan Myungsoo yang mungkin saja menjalankan misi rahasia.

Hatinya bergejolak, ia tidak ingin mendatangi pernikahan Kyuhyun. Demi apapun, rasanya wanita itu terlalu malas untuk sekedar melewati gedung pernikahan keduanya. Dan kini seorang Xi Luhan justru mengajaknya pergi bersama? Oh my, ijinkan Yuri untuk mengumpat kepada pria tampan di hadapannya itu sekali saja.

“Kurasa aku tidak bisa datang saat itu juga, aku harus membereskan berkas-berkas milikku yang sangat kacau.” Sangkalnya. Pada saat itu Luhan mengerti akan suatu hal. Ditinjau dari ekspresi, nada bicara serta perkataan yang terlontar. Luhan mengetahui hal baru pada diri Yuri yang tidak ia ketahui sebelumnya.

‘Ternyata…’

Dwimanik Myungsoo menangkap adanya kertas undangan di atas meja ruang tengah. Dan tanpa perlu melihatnya, Myungsoo tahu siapa yang mengundangnya. Ini pukul lima sore, ia pulang lebih awal dari biasanya. Akan tetapi, ia tidak mendapati kehadiran Yuri. Myungsoo menyusuri segala ruangan, kehadiran Yuripun tidak nampak. Myungsoo yakin, saat ini Yuri berada dalam masa cuti beberapa harinya. Dan saat ini, Myungsoo tidak tahu ke mana wanita itu pergi.

Derap langkah mulai terdengar kala Myungsoo mendudukkan diri di ruang tengah. Ketukan sepasang high heels yang menggema di indera pendengarannya. Tanpa perlu memastikanpun, Myungsoo tahu jika langkah tersebut merupakan milik seorang Kwon Yuri. Dan yang pria itu pikirkanpun benar. Pintu apartemen terbuka, menampakkan kehadiran seorang wanita dengan raut kelelahannya.

Oh? Myungsoo? Kau sudah pulang? Cepat sekali?” Myungsoo hanya mengangguk. Pria itu beranjak perlahan, lantaran ia menghampiri Yuri yang kini menatapnya dengan bingung.

“Ke mana saja kau? Membuatku khawatir saja,” Yuri tersenyum pelan, wanita itu melepas high heels-nya kemudian berangsur pergi ke dapur.

“Aku hanya berjalan-jalan, aku bosan Myungsoo.” Myungsoo mengangguk mengiyakan, pria itu percaya akan perkataan Yuri tanpa ingin mengetahui lebih lanjut.

Myungsoo mendegus pelan, “Ber-istirahatlah,”

Yuri mengangguk, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, gadis itu berangsur ke kamar. Myungsoo terdiam, selepas Yuri pergi ke kamar. Ada sesuatu yang ganjal. Bodohnya, ia tidak mengetahui hal apa yang membuat semua ini nampak janggal. Lantas, pria itu memutuskan untuk berkunjung ke alam mimpi.

Yuri tidak tahu, mengapa waktu berjalan begitu cepat. Empat hari lagi, pernikahan Cho Kyuhyun dan Kim Dasom akan berlangsung. Dan tiap kali wanita itu mengingatnya, tubuhnya melemas. Ia bingung, sebenarnya tidak ada yang salah dari pernikahan pasangan itu. Hanya saja, mengapa sesuatu dalam diri Yuri memberontak?

“Yuri?” Yuri menghentikkan langkahnya. Seorang baru saja memanggilnya, maka tidak ada salahnya ia mencari siapa yang baru saja memanggilnya.

Oh, Kyu? Ada apa?” Ijinkan wanita itu untuk lari sekarang juga. Perkaranya, pergerakan kakinya tidak berkinerja sesuai dengan perintah. Justru, wanita itu tetap pada tempatnya sembari menatap seorang yang berada tidak jauh darinya. Yuri terdiam. Untuk kali ini, ia tengah mengatur napasnya sebaik mungkin. Pun dengan detak jantungnya yang saat ini berdetak lebih cepat. Dalam pikirannya, ia seperti terkena sebuah penyakit saat ini.

Kyuhyun melangkah mendekat ke arah wanita itu. Dengan kedua tangan yang tenggelam dalam saku celana, serta setelan jas hitam yang melekat membuat penampilan Kyuhyun semakin tampan dan mempesona. “Bisa kita bicara sebentar?”

Yuri meliukkan alisnya, “Untuk?”

“Kau akan mengerti jika kau mengikutiku,”

“Sebenarnya, aku hanya ingin kau membantuku.” Yuri menatap lalu lalang anak kecil di taman kota yang cukup ramai. Ini waktu makan siang, seharusnya Yuri melangkah ke cafe favoritnya dan memesan makanan seperti biasanya. Akan tetapi, ia tidak mungkin membiarkan Kyuhyun sendiri. Sementara pria itu yang meminta untuk mengikutinya.

“Membantu? Apa yang harus kubantu?” Kyuhyun tidak menjawab, yang pria itu lakukan justru berdiam diri. Sorot mata pria itu menandakan jika terdapat banyak kesulitan yang tengah di hadapinya.

Pada awalnya Yuri tidak mengerti, wanita itu hanya mampu menerka-nerka. Kemudian, segala pemikirannya berubah ketika seorang wanita bersurai sebahu dengan senyum merekah menghampirinya. “Dasom…”

“Hai Yuri! Apa kabar?” sapa Dasom, tidak lupa dengan senyum merakah bak malaikatnya. Yuri tersenyum tipis, “Keadaanku sangat baik, untuk saat ini.”

‘Sebenarnya tidak.’

“Bagaimana Kyu? Kau sudah memberitahu Yuri mengenai permintaanku?” Dasom menoleh ke arah Kyuhyun yang bersidekap dan bersandar pada bangku taman. Yuri yang mendengarnya lantas tidak mengerti.

“Permintaanmu?” baik Dasom maupun Kyuhyun sama-sama menatap ke arah Yuri yang terbingung pada tempatnya. Dasom tersenyum manis, wanita cantik itu menatap Yuri seraya menghampirinya.

“Jadi Kyuhyun belum memberitahumu? Dasar Kyu!” gumam Dasom. Kyuhyun beralih pandang. Untuk saat ini ia tidak ingin melihat kedua wanita cantik yang berada di hadapannya. Ada sesuatu yang menyita pikirannya, pun terdapat sesuatu yang membuat hatinya bergejolak.

“Besok, setelah makan siang. Aku ingin kau menemaniku memilih gaun pernikahan, bagaimana apa kau mau?” detak jantung Yuri seakan terhenti pada saat itu juga. Dari sudut matanya, ia mendapatai sosok Cho Kyuhyun yang menatap ke arahnya. Nampaknya, pria itu juga menanti jawaban atas pertanyaan Dasom. Rasanya tidak mungkin bagi Yuri untuk menolak. Itu sama seperti membuat keduanya tersadar jika hatinya tidak dalam keadaan baik.

“Baiklah, di mana kita akan bertemu?”

Dasom tersenyum senang, Yuri menampilkan senyum terpaksanya. Sementara Kyuhyun menatap Yuri nanar. Dari kejauhan, terdapat seorang pria dengan pakaian serba hitam dan tertutup mendengar pembicaraan ketiganya dari balik pohon. Pria itu bersandar pada pohon kala mendengar jawaban Yuri. Ia mengutuk seorang Kwon Yuri pada saat itu juga.

“Bodoh! Kau menyakiti dirimu sendiri,”

TBC

Waks! Maaf lama sekali,
ini karena persiapan lomba dance.
Terus sekarang hujan terus, kalo mau ke warnet atau nyari wifi juga susah.
Terus, hapeku di sita guys! #edisicurhat
Jahat banget mah gurunya, baru di kembaliin desember.

Minta doanya ya? Semoga grup dance-ku menang.
Dan jangan lupa RCL.
Chapter 3 = END
(Kalo jadi sih :v)

Advertisements

15 thoughts on “Numb (Chapter 2)

    1. Udah yuri sama myungsoo aja. Dia g kalah tampan dari kyuhyun baik pula lagian selama ini dia selalu ngejaga yuri. Toh yuri juga ada rasa suka sama myungsoo walaupun saat ini hatinya dibuat goyah lagi karena kehadiran kyuhyun . request dong buat yuri lebih menyukai myungsoo. Buat dia sadar.

      Liked by 1 person

  1. Yayy… setelah nunggu lama akhirnya update juga ini ff paporit 🙂

    Jadi Kyu beneran mau nikah?
    Trus gimana nasib Yuleon 😦
    Oh tidak! Kenapa Dasom harus ngajak Yuleon untuk ikut milih baju pengantin…
    Yuleon juga seharusnya nolak ajakan Dasom. Oh ya ampun, Gk kebayang kalau Yuleon smpe beneran ikut. Dia pasti bklan sakit bgt T___T

    Next chingu…
    Jgn lama2 ya… ^^
    Oiya, semoga group dance-mu menang ya chingu…
    Fighting!!! 😉

    Liked by 1 person

  2. Eh….yuri yuri…
    Kalau sakit kenapa harus iya. Kalau sakit bilang aja enggak.. kapan kamu bakal lupain kyu kalau gitu…kamu pilih aja myung apa Luhan? Sarankj Luhan aja deh…

    Liked by 1 person

  3. aiishh udh yuri sma myungsoo ajah .. kyuhyun ngeselin disini, bukannya dia yg ninggalin yuri ya nggak ada rasa bersalah sma sekali kayaknya huwfh bikin kuesell.
    semoga dance nya menang ya 🙂

    Liked by 1 person

  4. Sakitnya pake banget jadi yuri. Kerasa tau hihi
    orang yg di cintai mau nikah . Trus perempuannya minta bantuan milihin gaun pengantin, kan sebeel. Strong yah yuriii

    semoga sukses ka dance nya. Fightiing jga d tunggu lanjutannya

    Liked by 1 person

  5. Ya ampun jadi kasian ke yuleon nya , perasaannya muncul lgi dan itu buat dia nggak bisa melupakan kyu mskipun myungsoo ada disampingnya.Kyu ngundang yul sama myungsoo lgi,apa kyu jga msih pnya perasaan yng sama.,,next eonni dtunggu part slanjutnya fighting

    Liked by 1 person

  6. wah yuri masih Cinta sama kyu. tzuyu lucu sekaki sih. dasom dan kyu jadi nikah nih, kenapa dasom minta yuri untuk menemani nyari baju pernikahan apa mereka punya rencana lain?? 👍👍💑

    Liked by 1 person

  7. Dua orang saling mencintai tapi tak bisa bersatu aku benci ini ..
    Aduh kyu kau buat yuri bersedih terus . masa nikah? Jangan dong .. Kya nya juga gak jadi . batal nantinya ..
    Yuri jangan bersedih dong . gak tega bacanya tahu ..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s