Medicine (Ficlet)

Medicine

Dear,
Kwon Yuri , Kim Hanbin

Cover and story,
pure mine

HAPPY READING

“Kau membutuhkan obat,”

Sore hari ini, cuaca sangat tidak mendukung. Angin berhembus semakin kencang, awan kelabu mulai berdatangan dan menutupi sang surya. Kim Hanbin dengan langkah gamangnya menyusuri taman kota. Menggunakan sebuah masker dan topi hitam. Diiringi beberapa makian, pemuda itu tetap berjalan untuk kembali ke apartemennya. Setelah ini, ia akan menelepon asistennya untuk membatalkan kerja sama dengan perusahan lain. Karena, begini akibatnya jika perusahaan yang ingin bekerja sama termasuk dalam golongan ‘tidak jelas’.

Pemuda itu telah mati-matian datang ke taman kota hanya untuk menemui perwakilan dari perusahaan lain yang akan bekerja sama. Dengan kondisi flu berat serta demam yang belum tersembuhkan, ia rela pergi demi kelancaran perusahaannya. Akan tetapi, hasilnya tidak sesuai dengan apa yang direncanakan Hanbin.

Pergerakan tungkainya terhenti di persimpangan, netranya mengedar untuk mencari keberadaan mobil pribadinya. Matanya berbinar lantaran keberadaan mobil tidak jauh dari tempatnya sekarang. Dengan berat hati, Hanbin menggerakkan tungkainya ke arah mobil hitamnya. Dan perlahan, rerintikan hujan mulai mendatanginya.

Dengan berlari kecil, pemuda itu menuju ke mobilnya. Sesegera mungkin baginya untuk masuk dan melajukan mobilnya ke apartemen. Ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang dalam kondisi tidak baik itu. Ia mulai menyalakan mesin, demam benar-benar mengganggunya. Ia hampir saja tidak melihat jalan hanya karena demam yang mengganggu pikirannya. Ia tidak percaya demam datang dan mengganggu pikirannya seperti ini.

“Hanbin!”

Yay!” lantas, Hanbin terkejut dan menoleh ke arah samping kemudi. Terdapat seorang gadis manis yang kini tersenyum ke arahnya. Hanbin menyentuh dadanya yang berdetak cepat karena terkejut.

“Yuri, kau mengejutkanku…” Kwon Yuri tersenyum simpul mendengar perkataan Hanbin. “Tapi, bagaimana bisa kau ada di dalam mobilku? Aku selalu membawa kunci mobilku ke manapun aku pergi,”

Yuri mendegus pelan, “Apa kau lupa Hanbin? Masih ada satu kunci lagi, dan kau memberikannya padaku.”

Ah! Iya, aku lup-Haattchimm!

“Hanbin? Kau sakit?” Yuri menatap Kim Hanbin dengan cemas. Hanbin menggeleng pelan sembari membersihkan ingusnya dengan beberapa tisu.

“Aku baik-baik saj-Haattchimm!

Yuri menggeleng melihat tingkah kekasihnya itu, “Jika kau sakit, biarkan aku yang menyetir.”

Dalam perjalanan menuju apartemen Hanbin, tidak ada sebuah konversasi yang tercipta di antara keduanya. Yuri yang sibuk mengemudi, dan Hanbin yang disibukkan dengan demam-nya. Hingga keduanya tiba di apartemen milik Kim Hanbin, keduanya masih diam dan enggan untuk berkata apapun.

Haattchimm!flu Hanbin semakin parah begitu juga dengan demamnya. Timbul gurata-guratan halus pada kening Yuri ketika meyadari kondisi Hanbin yang cukup parah. Orang sakit tidak seharusnya sendiri ‘kan? Maka dari itu, Yuri ingin menemani Hanbin.

“Hanbin? Kondisimu sangat tidak baik, aku akan menemanimu di sini. Tenang saja,” Hanbin tersenyum tipis ke arah Yuri yang kini pergi ke dapur. Perut Yuri meronta ingin diberi asupan. Maka dari itu, Yuri ingin memasak untuk dirinya dan Hanbin. Kelihatannya, pemuda itupun belum mengunyah apapun kecuali permen hari ini.

Setelah cukup lama menghabiskan waktu di dapur, keduanya telah berada di meja makan dengan makanan yang Yuri masak. Hanbin dengan senang hati melahap makanan buatan Yuri. Pada awalnya ia ragu, Yuri tidak bisa memasak sebelumnya. Dan kali ini, ada banyak peningkatan yang terjadi pada diri Yuri.

“Hanbin? Aku akan membelikanmu obat setelah ini, jadi jangan pergi ke mana-mana oke?” Hanbin menggeleng pelan dengan tersenyum lemah. Yuri meliukkan alisnya, tidak mengerti dengan jalan pikiran Hanbin. Sangat jelas jika pemuda itu sakit, dalam kondisi yang tidak semestinya. Akan tetapi, mengapa Hanbin menggeleng seolah tidak mengijinkan Yuri untuk membeli obat.

“Tidak perlu, kau tidak perlu membelikanku obat.” ucap Hanbin dengan wajah pucat-nya. Yuri meletakkan sendok dan garpunya dengan bunyi cukup nyaring dan terkesan tiba-tiba. Hal itu membuat Hanbin terkejut serta ingin menyemburkan air yang baru diminumnya.

“Kenapa kau tidak mengijinkanku untuk membelikanmu obat? Kau tahu aku sangat mengawatirkanmu ‘kan? Kau membutuhkan obat Hanbin, agar kau lekas sembuh dan bisa menjalani hari seperti biasanya.” protes Yuri panjang lebar. Hanbin hanya mampu tersenyum mendengar serentetan kalimat yang keluar dari mulut Yuri. Mendengarnya, membuat Hanbin senang.

“Tidak perlu, kau sudah seperti obat bagiku. Demamku akan semakin parah jika kau tidak bersamaku seperti ini. Bahkan, dengan kehadiranmu, demam dan flu-ku menurun. Kau adalah obat yang paling berharga bagiku.” kedua tangan Yuri yang bersidekap kini terlepas. Ia menatap Hanbin dengan lamat. Gadis benar-benar terhipnotis dengan perkataan Hanbin. Setahunya, seorang Kim Hanbin tidak pernah memiliki kata-kata bijak seperti ini.

“Hanbin…”

Hanbin masih tersenyum, “Kau obat-ku Kwon Yuri… Obat yang tidak akan pernah habis dan obat yang akan selalu kujaga…”

END

Btw, ini bukan sequel-nya Name ya?
Ini cuma Ficlet biasa.
Ditunggu RCL-nya.

Bye~ ©Firda©

Advertisements

8 thoughts on “Medicine (Ficlet)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s