Patiently (Oneshoot)

Patiently

Dear,
Kwon Yuri , Cho Kyuhyun

Cover,
Kim Art Design @ Facebook

Story,
pure mine

HAPPY READING

“Kesabaranku hampir habis,”

Hidup dalam bayang-bayang harapan merupakan kesalahan terbesar setiap orang. Tidak ingin berbuat apapun, tidak ingin melakukan apapun, dan hanya mampu mengandalkan orang lain. Setiap orang selalu menginginkan yang terbaik dalam hidup mereka. Selalu ingin berakhir bahagia dan tidak ingin berbuat salah dalam memilih. Akan tetapi, tidakkah itu membutakan hati setiap orang? Sifat egois yang telah melekat perlahan-lahan terlihat, hingga banyak orang yang kini hidup dalam keegoisan.

Dalam persepsi itulah, Yuri mulai tersadar. Gadis itu tersadar akan betapa egois dirinya saat ini. Menunggu kehadiran seseorang yang tidak kunjung datang dan berharap lebih akan kedatangan orang tersebut. Selama bertahun-tahun, menunggu yang tidak membuahkan hasil sama sekali. Tertelan dalam kesunyian diri serta merta membuatnya takut.

Semilir angin malam yang cukup dingin membuat ia tersadar. Waktu hampir menunjukkan tepat tengah malam. Nampaknya gadis itu enggan untuk berkunjung ke alam mimpi selagi bisa. Belakangan ini, kinerja otaknya terlalu keras hingga ia sulit untuk memejamkan mata. Saat ini, nampaknya kedua netra teduh itu ingin beristirahat. Maka secepat yang ia bisa, ia meringkuk di balik selimut dan memohon yang terbaik untuk hari esok –tepat setelah ia terbangun.

Yuri melenguh pelan kala rasa kantuk mendatanginya secara perlahan. Apa yang dijelaskan sang dosen di atas podium sama sekali tidak ia mengerti. Tidak hanya gadis itu yang merasakan hal demikian, tetapi ada beberapa orang yang berlaku sama sepertinya. Bahkan gadis yang berada di sampingnya-pun kini menguap untuk yang ketiga kalinya dalam satu jam terakhir.

“Yuri? Kau ada jadwal lagi hari ini?” Yuri menoleh ke arah samping kanannya. Im Yoona terlihat kacau dengan dua lingkaran mata hitam serta wajahnya yang nampak lelah. Yuri menggeleng, “Tidak, tapi aku harus menjemput Vivian.”

“Untuk apa menjemput Vivian?” Yoona membuka bungkus permen yang di bawanya, kemudian melahap isinya.

“Mobilnya bermasalah, dia meminta tolong padaku untuk menjemputnya nanti.” Yuri menerima permen yang Yoona berikan. Dan dengan cepat, gadis itu membuka bungkusnya.

“Manja sekali,” cibir Yoona mengarahkan pandangannya kepada sang dosen yang kini tengah menuliskan sesuatu di papan.

“Memang, dia manja. Tapi, dia bisa menjadi teman yang baik.” Yuri menambahkan serta mulai menyalin beberapa kalimat yang tertulis di papan.

“Jangan menyesal,” kata Yoona menoleh ke arah Yuri, “Aku akan bersenang-senang dengan Joonmyeon, Hani, Chanyeol, Jongin dan Seokjin untuk pergi menonton bioskop. Setelahnya kami akan pergi ke taman bermain. Jangan menyesal setibanya kau berada di rumah dengan Vivian dan hanya dapat membayangkan kesenangan kami.”

Yuri menghentikkan pergerakan tangannya ketika Yoona menyelesaikan kalimatnya. “Ini akhir pekan Yuri, setidaknya bersenang-senang membuat pikiranmu akan menjadi lebih baik.” Yoona menambahkan. Sepertinya, gadis bermarga Kwon yang kini terdiam itu mulai tergoda dengan apa yang dikatakan Yoona.

“Kau pandai sekali dalam mengubah pikiran orang, Im Yoona…”

­-

“Sepertinya yang kukatakan, akhir pekan ini benar-benar baik bukan? Setidaknya pikiranmu akan menjadi lebih baik.” Yoona tersenyum senang sembari melingkarkan tangannya ke lengan Joonmyeon. Yuri mengangguk pelan, ia tengah menghabiskan es krim strawberry yang baru saja ia beli.

“Ya, tapi melihatmu bermesraan dengan Joonmyeon cukup mengganggu pikiranku.” cibirnya pelan. Dan secara tiba-tiba, seorang merangkul Yuri dengan senyum manis. “Jika kau ingin seperti mereka, aku bisa mengabulkannya.”

Yuri menatap tangan kekar yang kini berada di pundaknya. Dengan sarkastik, Yuri memindahkan tangan tersebut dari pundaknya. “Kau ingin mati?” tanyanya dengan nada sedingin mungkin.

Aish, aku hanya bercanda nona Kwon. Sensitif sekali,” ujar pemuda itu serta mulai melahap kembali burger-nya.

Ya! Kim Jongin! Sudah berapa kali kubilang, jangan mendekatiku! Kenapa kau selalu mendekatiku seperti lem?” Kim Jongin menoleh dengan wajah bodohnya ketika Yuri berseru kesal untuk mengingatkannya.

“Kau tahu itu kebiasaanku ‘kan? Mengertilah sedikit, Yuri…” ujar Jongin dihiasi wajah bodoh lantaran mulutnya tengah menguyah suapan terakhir dari burger-nya.

Dan rasanya, Yuri ingin memasukkan Jongin ke tempat sampah saat itu juga. Selama ini, ia sudah cukup sabar untuk menghadapi sifat keras kepala Jongin ketika bersamanya. Ambisi pertama seorang Kim Jongin, yaitu ingin menjadi kekasih dari seorang Kwon Yuri. Dan yang Yuri ingat, seorang Kim Jongin selalu melakukan apapun agar ambisinya tercapai. Jadi, saat ini Kwon Yuri berada pada posisi yang menegangkan. Lantaran gadis itu tidak memiliki perasaan apapun kepada Jongin dan menganggapnya sebagai teman.

Ah, aku akan memesan tiket untuk kita. Kalian, masuklah!” Seokjin berujar sembari mengeluarkan uangnya, begitu juga dengan yang lain.

“Aku akan membeli popcorn,” ujar Hani.

“Aku akan menemanimu,” Yuri dengan senang hati mengikuti Hani yang pergi ke tempat penjual popcorn. Yuri menghitung uang yang dibawanya kemudian memberikannya kepada si penjual. Hani terlihat kesusahan dalam membawa beberapa kantong popcorn, lantas Yuri membantu dan berjalan masuk ke tempat pemutaran film.

“Ini untukmu Yoona,” Yuri memberikan salah satu popcorn yang dibawanya. Yoona menerimanya kemudian kembali berbincang-bincang dengan Joonmyeon. Yuri memilih tempat di belakang pasangan tersebut. Tepat setelah ia duduk, Kim Jongin dengan cepat berada di sampingnya dengan dua buah soda.

Film sebentar lagi diputar, tempat duduk yang tersisa kini mulai ditempati. Bahkan tempat duduk di samping kanan gadis itu telah ditempati oleh seseorang yang tidak dikenalinya. Kemudian tanpa menunggu lama, film mulai diputar dan semua orang memfokuskan diri dengan adegan awal film.

Yuri terlarut ke dalam alur film tersebut. Ia begitu seksama untuk melihat alur serta apa yang dikatakan oleh sang pemeran utama. Semua terlihat tenang dan juga tegang. Akan tetapi hal tersebut harus terganggu oleh adanya suara panggilan telepon masuk dari salah satu ponsel. Yuri mendegus kesal ketika konsentrasinya baru saja terlepas, maka ia menoleh ke arah samping kanannya. Ponsel milik lelaki di sampingnya yang tengah mengacaukan konsentrasinya.

Kesal. Tidak ada yang dapat Yuri lakukan selain menatap lelaki di sampingnya dengan tatapan tajam. Pertanda jika Yuri ingin sekali mengenyahkan lelaki asing tersebut. Perlahan, pandangan mata Yuri beralih ke arah ponsel lelaki tersebut. Lelaki itu tidak lekas menjawab panggilan masuk yang entah dari siapa. Justru yang dilakukannya ialah menyentuh sebuah perintah berwarna merah dan memasukkannya ke saku jaket. Sesuatu benar-benar mengganggu. Foto yang berada di layar ponsel lelaki itu, nampaknya Yuri pernah melihatnya. Sayangnya, ia hanya mampu melihat foto tersebut selama satu atau dua detik saja.

Setelah cukup lama terlarut dalam pikirannya, Yuri kembali memusatkan diri pada adegan yang tengah berlangsung. Sepertinya, ia melewatkan banyak kejadian.

Dalam adegan puncak –sang pemain utama bertemu dengan orang dicintainya dalam keadaan menyedihkan, dering ponsel lelaki yang berada di samping Yuri terdengar lagi. Yuri lagi-lagi ingin melemparkan sesuatu ke arah lelaki asing itu. Akan tetapi, Yuri mengurungkan niatnya. Karena ia pikir, akan sangat tidak berguna melakukan hal tersebut.

Teringat akan sesuatu, Yuri menilik ke arah ponsel lelaki itu. Dan lelaki berjaket hitam itu menyentuh sebuah perintah berwarna merah lagi. Ketika jemari lelaki itu menyentuh perintah kembali, Yuri menajamkan pandangannya untuk melihat foto utama pada ponsel tersebut.

Kedua matanya membulat, ia mengangkat telapak tangannya untuk menutup mulutnya. Gadis itu nampak seperti orang yang tersesat. Ia mengenal baik orang yang berada pada foto tersebut. Mengenalnya dengan baik, dan sangat baik.

Itu adalah fotonya!

Fotonya ketika…

Tunggu!

Gadis itu teringat akan sesuatu,

Tiba-tiba saja, lelaki itu beranjak pergi. Yuri hampir saja berseru jika ia tidak ingat dengan keberadaannya saat ini. Tanpa berpikir panjang, Yuri memberikan popcorn yang dibawanya ke arah Jongin dan berkata jika ia ingin pergi ke toilet. Namun pada kenyatannya tidak. Dengan cepat gadis itu mengejar lelaki berjaket hitam yang kini berlari ke arah pintu keluar gedung.

Yuri berlari, belari secepat mungkin agar ia dapat menyusul kepergian lelaki tersebut. Yuri berhenti sejenak untuk menetralkan kembali napasnya. Ia tersengal-sengal, ia benar-benar berlari agar tidak kehilangan jejak lelaki tersebut. Ia berjalan lagi, berjalan cepat. Ia melihat lelaki itu memasuki sebuah minimarket di pinggir jalan. Yuripun memasukinya.

Gadis itu berpura-pura mengambil sesuatu yang hendak dibeli. Namun pada kenyataannya, ia tidak tertarik sama sekali dengan apa yang kini berada di tangannya. Lelaki itu memilih sebuah makanan ringan, kemudian berangsur ke arah kasir.

Yuri melakukan hal yang sama setelah lelaki itu baru saja keluar. Sesegera mungkin bagi Yuri untuk belari lagi. Jika tidak, ia bisa saja kehilangan sang target. Ponsel gadis itu bergetar, Yuri mengambilnya kemudian menjawab panggilan masuk dari Yoona.

“Halo? Yuri? Kau di mana? Jongin mengatakan jika kau berada di toilet, aku mencarimu dan tidak menemukanmu di sana. Kau di mana sekarang? Kami akan pergi ke taman bermain,” nada bicara Yoona terdengar khawatir.

“Pergilah, ada urusan mendadak yang harus kutangani?” balas Yuri dengan napas tersengal.

Apa? Urusan mendadak? Jangan biang jika itu tentang Vivian? Ah, dia manja sekali Yuri. Kenapa kau dengan senang hati selalu menuruti permintaannya?” Yoona menggerutu kesal. Dan dapat diperkirakan jika seorang Kim Jongin berada tepat di samping telinga Yoona untuk ikut serta mendengarkan.

Yuri tersenyum tipis, “Bukan, ini masalah lain. Kali ini bukan atas nama Vivian,” Yuri menatap ke depan, dan ia melihat jika lelaki itu berada cukup jauh darinya. Bahkan hampir tenggelam oleh kerumunan massa. Akan sangat berbahaya, karena Yuri bisa saja kehilangan keberadaannya.

Ah! Yoona, kututup teleponnya. Aku akan menghubungimu lagi nanti.” Yuri menenggelamkan ponselnya ke saku celana.

“Sial!” umpatnya ketika ia benar-benar kehilangan keberadaan lelaki berjaket hitam dengan snapback bertuliskan ‘Dare You’-itu. Nampaknya ia harus menelan kekecewaan serta rasa lelah karena telah berlari dari gedung bioskop hingga tiba di pertigaan menuju ke universitasnya. Dan itu jarak yang cukup jauh. Tidak, itu memang jauh.

“Aku akan menemukanmu, tunggu saja…” lantas gadis itu memutar arah untuk kembali ke gedung bioskop dan membawa kembali mobilnya.

Yuri tersenyum kepada sang pelayan ketika pesanannya datang. Di depannya, terlihat seorang Im Yoona melakukan hal yang sama. Yuri menyesap Latte-nya dengan antusias, minuman kesukannya ini selalu membuatnya merasa lebih baik. Yoona menatap Yuri dengan kening berkerut, gadis itu masih tidak cukup mengerti dengan apa yang diceritakan Yuri mengenai pengejarannya terhadap lelaki asing.

“Yuri? Apa kau yakin? Maksudku, lelaki itu… Bisa saja dia salah satu penggemar rahasiamu atau yang lain ‘kan?” Yoona berujar pelan, berusaha untuk tidak mengundang emosi Yuri. Terkadang, seorang Kwon Yuri akan berubah menjadi seperti macan hanya dengan salah berkata dan menyinggungnya.

Yuri menggeleng pelan, “Tidak, aku benar-benar yakin Yoona. Tidak ada orang yang memiliki fotoku itu selain orang itu. Itu foto paling berharga dalam hidupku Yoona…”

Yoona mengangguk, mencoba untuk memahaminya sekali lagi. “Semisal setelah ini kau melihatnya lagi, apa kau akan berlari untuk mengejarnya lagi?”

Yuri menatap Yoona dengan tatapan tajam, “Tentu saja Yoona, kau tahu aku tidak mudah menyerah ‘kan?”

“Maaf, aku hanya bertanya Yuri. Lagipula, sebenarnya aku tidak tahu bagaimana wajah orang itu. Kau hanya menceritakannya saja, kau tidak pernah menunjukkan bagaimana wajahnya kepadaku. Aku jadi penasaran Yuri…” ucap Yoona meminum dengan baik Americano-nya.

“Aku tidak akan memberitahumu tentang itu, jangan-jangan kau akan memutuskan Joonmyeon dan mencoba untuk merebutnya dariku.” gurau Yuri menilik ke arah ponselnya. Ia mencari sesuatu dalam gallery foto di ponselnya.

Ya! Aku bukan gadis seperti itu, kau pikir aku seperti Hyuna?” gerutu Yoona meminum kembali Americano-nya.

Yuri terkekeh pelan, “Tapi kalian mirip. Kim Hyuna dan Im Yoona. Berbeda tipis bukan?”

Ya! Kwon Yuri! Sejak kapan kau menjadi orang yang banyak bicara seperti ini huh? Sudahlah, lupakan saja. Lagipula, aku hanya tertarik dengan Joonmyeon. Tidak ada pemuda yang lebih baik daripada Kim Joonmyeon.” Yoona bertopang dagu sembari mengedar pandang.

“Ini, ini wajah lelaki itu,” Yuri mengarahkan layar ponselnya kepada Yoona. Yoona menoleh pelan sembari mengamati wajah lelaki tersebut dalam foto yang Yuri miliki. Gadis itu memicingkan matanya, ia seperti mengenali lelaki itu. Tapi entah di mana.

“Siapa namanya? Sepertinya aku pernah melihatnya…” gumam Yoona yang kini berpikir keras. Akan tetapi, sesuatu mengganggu penglihatannya. Ia menatap layar ponsel Yuri, dan juga menatap ke arah meja pembayaran. Terdapat seorang lelaki berpakaian casual yang tengah membayar sesuatu di sana. Yoona menggerakkan irisnya secara bergantian. Dari meja pembayaran hingga ponsel Yuri. Seterusnya, Yoona melakukan hal tersebut.

“Namany-”

“Yuri! Itu orangnya!” seru Yoona menunjuk ke arah lelaki yang kini berjalan ke arah pintu. Dengan cepat Yuri menoleh dan membulatkan matanya. Tanpa perlu mengulur waktu, gadis itu bergegas mengejar lelaki yang kini mengenakan kaos berwarna biru serta jeans hitam.

Ya!

Yuri berseru kala lelaki itu telah keluar dari cafe. Mendengar teriakan Yuri, lelaki itu menoleh dan terkejut. Lelaki itu mengenakan kacamata hitam, tentu saja Yuri tidak bisa melihat wajahnya dengan baik.

Yuri berdecak kesal ketika lelaki itu berlari menghindarinya. Gadis itu menoleh ke arah langit sejenak. Senja hampir saja datang, dan waktu akan semakin larut. Seharusnya ia harus cepat-cepat kembali ke apartemen karena ia memiliki janji dengan Yoona dan yang lain untuk menghabiskan waktu bersama. Dan seharusnya ia tidak meninggalkan Yoona di cafe dengan cara tiba-tiba seperti tadi.

Tidak terasa, setelah ia berlari cukup jauh dan terus berlari tanpa henti, senja telah tiba. Napasnya tersengal-sengal, tenaganya sama terkurasnya seperti kemarin. Ia benar-benar lelah, sehingga ia memilih untuk sedikit berjalan cepat. Sekalipun target yang dikejarnya masih senantiasa berlari.

“Kyu! Berhenti! Kumohon, aku lelah…”

Langkah lelaki itu terhenti. Yuri tertunduk. “Ke mana saja kau selama ini?”

Nada suara gadis itu terdengar cukup parau, nampaknya sesuatu dalam hatinya bergemuruh. Tubuhnya bahkan bergetar pelan. Seperti menahan isakan yang akan keluar.

“Apa kau tidak tahu jika selama ini aku menunggumu? Kenapa kau menghindar?” pertanyaan yang terlontar dari bibir gadis itu bagaikan sebuah tangisan dalam telinga si lelaki yang kini melepas kacamatanya.

Lelaki itu berbalik, sorot matanya menyiratkan sebuah kesedihan yang sama besarnya dengan yang Yuri miliki. Lelaki itu berjalan pelan, seolah mengejar senja yang kian memudar. Tanpa berpikir panjang, ia mendekap tubuh Yuri ke dalam sebuah pelukan. Yuri membalas pelukan lelaki itu, dan gadis itu mulai menitihkan air mata.

“Ke mana saja kau…” lirihnya dalam pelukan lelaki bernama Cho Kyuhyun.

Kyuhyun mendekap gadis itu erat. Sangat erat seolah tidak akan melepaskan gadis itu setelah ini. “Maafkan aku…” Kyuhyun berucap dengan sangat lembut tepat di telinga gadis bermarga Kwon tersebut.

“Ke mana kau selama lima tahun ini?” Yuri mendongakkan kepalanya. Obsidiannya beradu dengan iris cokelat milik Kyuhyun.

“Maafkan aku, aku tidak bisa memberitahumu saat ini…” balas Kyuhyun seraya menyentuh surai gadis itu pelan, kemudian merapikan anak rambutnya yang berantakan.

“Jangan pergi ke mana lagi Kyu, aku lelah…” gadis itu melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Kyuhyun yang menatap lamat ke arah sang gadis.

Hmm, aku tidak akan pergi Kwon Yuri.” Kyuhyun menggenggam tangan Yuri begitu erat.

“Janji?”

Kyuhyun mengangguk mantap, “Aku berjanji,”

Yuri tersenyum dan menjatuhkan diri ke pelukan Kyuhyun sekali lagi. Hari ini, merupakan hari yang sangat berharga bagi seorang Kwon Yuri. Selama ia menunggu, pada akhirnya ia akan mendapatkan hal yang sangat diinginkannya. Karena, segalanya berawal dari kesabaran. Apapun itu, selama apapun seseorang menunggu, segalanya akan berakhir bahagia hanya karena atas dasar kesabaran. Bersabar tidak ada salahnya, karena selalu terdapat sebuah kebahagiaan pada akhirnya.

“Kau berhutang penjelasan padaku, Cho Kyuhyun…”

END

Penasaran sama alasan Kyuhyun pergi selama itu?
Bakal ada sequel-nya kalau followers nambah dan yang komen di atas lima belas :v
Ini benaran aku siapin lo, kalo syaratnya telah terlaksana

Bye ©Firda©

Advertisements

23 thoughts on “Patiently (Oneshoot)

  1. Penasaran banget kak..ayo dong sequel nya di post. Emang kenapa kak kyuhyun menghilang?? Apa dia sakit dan harus berobat?? Atau keluarganya bangkrut dan tidak ada keberanian buat nemuin yuri? Otakku berkecamuk menebak terus nih kak. Ditunggu jangan lama” kak.. Hhee

    Like

  2. scene nya cm kejar2an doang ya kan capek .. mana ditambah yul ngliat kemesraan yoona junmyeong kan lelah hati hayati hahaha
    aduhhh tuh akhirnya gantung ya . aku butuh penjelasanmu massssss ….

    Like

  3. yuri kasian nunggu selama itu 5tahun lagi, wah hebat yuri bisa nunggu selama itu. jadi orang yg dikejar yuri itu kyuhyun.kyuhyun kemana ajja sih jangan pergi lagi yaa kasian yuri nya hehe👍

    Liked by 1 person

  4. yuri kasian nunggu selama itu 5tahun lagi, wah hebat yuri bisa nunggu selama itu. jadi orang yg dikejar yuri itu kyuhyun.kyuhyun kemana ajja sih jangan pergi lagi yaa kasian yuri nya hehe..

    Liked by 1 person

  5. Rasa nunggunya yuri akhirnya berakhir juga .. kyuhyun si lelaki yg di tunggu yuri selaa lima tahun akhirnya kembali lagi .. tapi sebenernya kyuhyun pergi kemana ??

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s