Circle (Oneshoot)

Circle

Dear,
Kwon Yuri , Xi Luhan , Park Chanyeol

Little,
EXID’s Ahn Hani

Cover,
KLY Art

Story,
pure mine

HAPPY READING

“Sepertinya kisah cinta kita tidak akan pernah berakhir,”

Pagi ini ketika fajar menampakkan dirinya kepada sebagian penjuru bumi, aku telah bersiap diri dengan pakaian sekolah serta lekas menghabiskan roti selai-ku di meja makan. Dengan segenap hati, suapan terakhir berakhir dengan nyaman pada organ pencernaanku. Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, aku bergegas pergi keluar rumah dan menunggu di depan gerbang. Menunggu kedua pemuda yang selama ini menjadi sahabat terbaikku. Kedua pemuda tampan yang selalu menjadi sorotan setiap gadis di sekolah.

“Yuri!” aku menoleh. Tersenyum memang salah satu hal yang paling kusukai ketika berada di dekat sahabatku. Namanya Xi Luhan dan Park Chanyeol. Luhan merupakan pemuda tampan keturunan China yang sekarang tengah melakukan profesi sebagai fotografer jalanan. Hasil fotonya memang sangat mengagumkan. Dan seperti yang dapat diperkirakan, cita-citanya menjadi seorang fotografer terkenal.

Lalu, si tiang Park Chanyeol. Tingginya yang seperti tiang itu membuat siapapun selalu memanggilnya dengan sebutan ‘tiang’. Pemuda itu tidak pernah terlihat sedih, ia selalu tersenyum dan tertawa seperti orang aneh. Tapi, bagaimanapun juga seorang Park Chanyeol merupakan sahabatku. Mereka berdua telah bersahabat denganku selama sepuluh tahun. Jadi, aku cukup memaklumi tingkah keduanya yang terkadang berada di luar batas itu.

Aku menatap keduanya dengan senyuman, begitu juga sebaliknya. Kemudian, tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, kami bergegas pergi ke sekolah sebelum terlambat.

Chanyeol mendahuluiku tepat ketika aku ingin masuk ke kelas. Luhan menepuk pundakku, ia tahu jika aku tengah kesal menghadapi seorang Park Chanyeol. Aku mendegus pelan seraya mengangguk kepada Luhan. Dia pemuda yang baik. Sangat baik dan sangat mengerti tentang apa yang ku rasakan.

Mendudukkan diri di samping Yoona merupakan hal yang kulakukan setelahnya. Terlihat, gadis cantik itu tengah mengerjakan sesuatu. Pekerjaan rumah mungkin?

“Pekerjaan rumah? Kau tidak mengerjakannya Yoona?” Yoona mendegus pelan, gadis itu menyandarkan dirinya sejenak seraya menatap ke arahku. Ia mengangguk, kemudian memejamkan mata.

“Kenapa? Maksudku, kau tidak pernah tidak mengerjakannya, kau pasti mengerjakannya Yoona…” ujarku setelah meletakkan tas. Wajah gadis itu terlihat lelah, namun ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja.

“Semalam, aku dan Joonmyeon berjalan-jalan hingga lupa waktu. Ibu marah, dan tentu saja aku tidak bisa berkonsetrasi mengerjakan semua pekerjaan rumah ini.” sejemang kemudian datanglah Kim ssaem dengan beberapa buku bawaannya. Aku hanya mampu mengangguk mendengar perkataan Yoona.

Nampaknya, menjalin suatu hubungan dengan Kim Joonmyeon membuatnya lupa akan segala hal. Terutama denganku, gadis cantik itu jarang menyempatkan diri untuk sekedar berkunjung ke rumahku atau menawarkan rencana jalan-jalan akhir pekan seperti dulu. Im Yoona benar-benar lupa.

“Woah!”

“Wahh! Siapa dia?”

“Eh? Anak baru ya?”

“Cantik juga,”

Kedua alisku saling bertaut ketika kata-kata tersebut menggetarkan gendang telingaku secara bersamaan. Menatap ke belakang merupakan hal pertama yang ku lakukan setelah mendengar hal tersebut. Pandangan seluruh murid tertuju ke depan, ke hadapan Kim ssaem. Oh! Ternnyata yang mereka bicarakan adalah seorang gadis cantik dengan surai sebahu yang berada di samping Kim ssaem.

Wah! Cantik sekali! Bahkan di saat dia tersenyum, sangat cantik…” bahkan Yoona yang tadinya menyibukkan diri dengan serentetan pekerjaan rumah-pun turut memuji. Aku hanya diam, sembari menatap gadis cantik itu. Kuakui, gadis itu benar-benar cantik. Dengan mata kelabu, ia terlihat benar-benar cantik.

Mendatangi kantin dan mencari tempat yang nyaman merupakan hal pertama yang kulakukan ketika bel pertanda istirahat menggema di seluruh sekolah. Empat orang. Aku, Yoona, Luhan dan Chanyeol. Tapi mungkin Yoona akan pergi setelah ia menemukan Joonmyeon.

“Akan kuambilkan, jangan membantah ya?” Chanyeol bergerak untuk mengambilkan kami makanan. Aku mengangguk mengiyakan, begitu juga dengan Yoona yang kini bermain dengan ponselnya. Sedang Luhan menambahkan untuk memilihkan jus jeruk.

“Kau tahu? Saat pelajaran, Chanyeol selalu melihat ke arah Hani. Si tiang itu tidak pernah berpaling ke arah lain, bahkan di saat aku menendang kakinya dari samping.” Aku menatap iris kecoklatan Luhan yang tengah menatap diriku dengan Yoona secara bergantian. Yoona menenggelamkan ponselnya tepat ke saku almamaternya. Gadis itu memicingkan matanya seraya mendekat dan mencoba berkata.

“Benarkah? Kupikir itu cukup masuk akal, Hani gadis yang cantik.” Yoona menguyah keripik kentang yang Luhan bawa. Begitu juga denganku.

“Kedatangan Hani membawa pengaruh yang cukup besar bagi para murid. Banyak pemuda yang menyukainya, dan banyak gadis yang menjadikannya panutan. Itu masuk akal jika Chanyeol termasuk dalam salah satunya,” aku menambahkan. Di saat itupun, seorang Ahn Hani melintas tepat di depan meja kami. Gadis itu berjalan dengan penuh percaya diri dan sama sekali tidak terusik dengan tatapan semua orang.

“Percaya diri sekali,” gumam Luhan. Aku menoleh ke arahnya dan berkata, “Tapi, itu bagus. Dia memiliki nilai tambah atas kepercayaan dirinya itu.”

Yoona menatap ke arahku dan Luhan secara bergantian. Tatapannya membulat dan ingin mengatakan sesuatu. Namun, ia hanya mampu menunjuk ke suatu arah karena mulutnya penuh dengan keripik kentang. Aku dan Luhan mengikuti arah yang Yoona tunjuk.

Dan sebuah pemandangan membuat semua orang tercengang.

Chanyeol tersenyum malu ke arah Hani, kemudian Chanyeol membantu Hani untuk membawakan nampannya ke arah-

“Teman-teman, boleh Hani bergabung dengan kita?”

“Tentu,”

“Tentu, duduk saja.”

-kami.

Tidak ada yang memulai percakapan setelah Hani bergabung dan mulai melahap makanannya. Begitu juga dengan makanan yang telah Chanyeol pesan. Kami memakannya dengan hening, tidak bersuara sedikitpun. Akan tetapi, karena adanya kehadiran Park Chanyeol, kesunyian tidak pernah melanda meja kami. “Jadi, kenapa kau pindah ke sini?”

Hani menyelesaikan kunyahannya, gadis itu tersenyum ke arah kami. “Ayahku memaksa, sebenarnya aku masih ingin tinggal di Jepang. Tapi, akan sangat berbahaya jika aku menolak permintaan ayahku.”

Yoona menatap Hani dengan kedua mata yang membulat sempurna. “Kau, pindahan dari Jepang?” Hani mengangguk.

“Kau bisa berbahasa Jepang?” kali ini pertanyaanku yang terdengar bodoh.

Hani mengangguk lagi, “Tentu.”

“Yuri, pertanyaanmu benar-benar aneh.” cibir Luhan menjatuhkan daging yang telah berada pada sumpit-ku. “Ya! Luhan! Apa yang kau lakukan? Dasar!” sebagai balasannya, aku mengambil sebagian daging milik Luhan.

“Yuri, kau rakus!” ujarnya.

Aku mengendikkan bahu pelan, tidak peduli dengan perkataan Luhan dan mengunyah lagi. Akan tetapi, Yoona berkata dan membuatku tersedak. “Yuri rakus, tapi kau tetap menyukainya ‘kan?”

Baik aku maupun Luhan, kami tersedak. Aku menatap ke arah Yoona dengan tatapan setajam mungkin. Dapat kulihat jika Hani dan Chanyeol tertawa. Yoona terlihat acuh, seolah dia tidak pernah berkata sedemikian.

“Dasar! Kembalilah ke dekapan kekasihmu itu, jangan bersama dengan kami. Kau selalu membuatku kesal,” gerutu Luhan seraya menunjuk ke arah Joonmyeon yang berkumpul dengan teman-temannya.

“Inginnya begitu, tapi aku berubah pikiran.” Yoona menghabiskan makanannya. Kemudian menatap ke arahku dan Luhan bergantian, “Menggoda kalian itu lebih menyenangkan,” Yoona tertawa puas. Aku hanya mampu diam seraya tidak mempedulikan perkataan gadis itu.

“Kalian terlihat seperti sepasang kekasih,” ujar Hani yang menyisakan satu suapan terakhir pada makanannya. Sontak aku menatap ke arah Hani yang tersenyum manis layaknya bidadari. Luhan? Pemuda itu diam di tempatnya. Mungkin memfokuskan diri dalam menguyah makanannya.

Aku menggeleng, “ Tidak Hani, kami bukan sepasang kekasih. Kami sahabat. Aku, Luhan dan Chanyeol telah bersahabat selama sepuluh tahun.”

“Aku baru bertemu dengan mereka saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini,” Yoona menambahkan.

Hani mengangguk, “Oh, kupikir kalian sepasang kekasih. Kelihatannya benar-benar lucu jika kalian saling berhubungan.”

Yoona mendekat ke arah Hani, berbisik pelan namun aku dapat mendengarnya. “Jangan mengatakan seperti itu di hadapan Yuri jika kau tidak ingin salah satu tinjunya mengenaimu.”

“Aku dengar itu Im Yoona,”

Dan Yoona tersenyum hambar ke arahku.

Aku menunggu di samping gerbang sekolah. Sesekali menatap ke arah lain untuk mengatasi rasa bosan. Waktu telah menunjukkan pukul lima lebih dua belas menit pada sore hari. Aku harus menunggu Luhan dan Chanyeol yang kini melaksanakan hukuman. Tidak mungkin aku meninggalkan mereka, pada hari sebelumnya mereka telah menungguku selama satu jam karena harus menata ulang buku di perpustakaan, tidak mungkin aku meninggalkan mereka saat ini.

“Yuri!” seruan itu terdengar. Lantas aku menoleh seraya mendapati Luhan dan Chanyeol. Ah! Juga seorang Ahn Hani berada di samping Park Chanyeol saat ini. Serasi sekali mereka,

“Sudah menunggu lama?” tanya Luhan kepadaku. Aku menggeleng pelan kemudian membalas senyumannya. “Tidak juga, sekitar dua belas menit.”

“Yoona tidak menemanimu?” Chanyeol bertanya kepadaku. Akupun menggeleng, “Dia pulang bersama Joonmyeon,”

“Baiklah, ayo kita pulang!” ajak Luhan antusias seraya menarik tanganku paksa. “Sebaiknya kita tidak mengganggu pasangan di belakang kita, mereka sedang melakukan tahap awal.”

Aku melirik ke arah Hani dan Chanyeol. Pasangan? Tahap awal? Bagus sekali! Lantas aku kembali menatap Luhan, dapat dilihat jika Luhan memandang ke arah kedua orang di belakang dengan sarkastik.

Mmm? Apa Luhan menyukai Hani?

Hari demi hari kian berlalu. Waktu berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Tidak ada yang dapat kulakukan selain menatap pantulan diriku dalam cermin besar milikku. Dress selutut berwarna peach merupakan pilihan terakhir yang berada di dalam almari pakaian. Tidak ada pakaian lain yang pantas untuk kukenakan pada pesta ulang tahun Hani. Demi isi tas Park Chanyeol, sebenarnya aku enggan untuk datang. Akan tetapi, tidak mungkin karena Hani telah menganggapku sebagai seorang teman.

Dengan cepat, aku menyambar tas kecil yang berada di nakas tempat tidur. Suara mobil milik Luhan telah terdengar. Hal tersebut menandakan jika aku harus cepat-cepat turun dan masuk ke mobil pemuda keturunan China itu. “Ibu, aku pergi dulu!” tidak mendapat jawaban apapun, tungkaiku kembali melangkah.

Aku melihat mobil hitam Luhan dengan kaca terbuka tengah menantiku. Aku tersenyum tipis, kemudian menghampiri mobil Luhan. “Maaf membuatmu menunggu.” ucapku setelah duduk di samping Luhan.

Bukan perkataan yang ku dapat, melainkan sebuah tatapan aneh dari pemuda itu. Lantas, aku menciptakan ekspresi bertanya-tanya. “Apa ada yang aneh dengan penampilanku?” tanyaku terus terang.

Luhan tersadar, ia tersenyum serta menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya terkejut saja.”

“Terkejut?”

Luhan mengangguk, “Iya terkejut, kenapa seorang Kwon Yuri bisa berubah menjadi secantik ini.” aku terdiam, mencerna perkataan yang baru saja terlontar dari mulut seorang Xi Luhan.

Aku berdecih pelan, “Kau pasti bercanda,”

“Tidak, aku bersungguh-sungguh.” Luhan menggeleng sekali lagi, namun aku tidak percaya. Yang kupikirkan hanya bagaimana pesta ulang tahun seorang Ahn Hani nanti.

Pesta berlangsung meriah, segalanya terlihat sangat mewah dan elegan. Tidak kusangka, kedua orang tua Hani merupakan salah satu orang penting di negeri ini. Dan tidak kusangka, bahwa aku mendapat potongan kue ketiga dari Hani. Gadis cantik itu benar-benar menganggapku sebagai seorang teman. Aku bersyukur, karena gadis itu terlihat tulus untuk berteman denganku. Bukan adanya maksud tertentu, melainkan sebuah keseriusan antara pertemanan. Begitu pula dengan Yoona, Hani menganggap Yoona sama sepertiku.

Hal yang kulakukan selama pesta berlangsung, adalah berdiam diri di salah satu meja dan menatap keramaian pesta. Ahn Hani terlihat begitu bahagia, ia selalu tersenyum dan tertawa senang. Jangan lupakan tentang Park Chanyeol yang senantiasa berada di samping gadis itu dimanapun berada.

Tiba-tiba saja timbul gemuruh hebat dalam benakku. Perasaan yang berkecamuk di antara kebahagian di hari ini. Rasanya sesak, bahkan hal seperti bernapas terbilang cukup sulit untuk kulakukan. Terlepas dari persahabatan, sesuatu tumbuh menjalar dalam hatiku. Perasaan yang tidak pantas untuk kurasakan. Terlebih, perasaanku tertuju pada satu orang yang kini tidak melirikku sama sekali.

Menyimpan perasaan ini selama bertahun-tahun memang menyakitkan, pun sesungguhnya aku tidak menginginkan perasaan ini datang. Tidak terasa, waktu yang dibicarakan oleh Luhan kini terjadi. Di saat itu pula, hatiku harus menahan rasa sakit ini sendirian. Sedangkan mereka tidak mengetahui tentang rasa sakitku ini. Luhan menghampiriku dengan segelas champange. Ia duduk di sampingku perlahan, tidak bersuara lantaran ia mengerti jika aku tengah melamun.

“Semua! Tolong diam sebentar! Berikan aku waktu beberapa menit saja,” Chanyeol berujar dari atas panggung yang berada di kolam renang. Di sampingnya terdapat seorang Ahn Hani yang menatapnya bingung. Semua orang diam. Merasa puas dengan tanggapan yang diberikan, Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya.

Setangkai mawar merah dengan kartu ucapan kecil di tangkainya.

Chanyeol segera berlutut dengan topangan kaki kanannya. Dapat dilihat jika semua orang mulai berbisik dan melempar pandang. Chanyeol berdeham, membuat kegaduhan kecil semua orang kembali normal.

“Hani, kau tahu? Selama ini aku memiliki perasaan yang berbeda padamu. Tidak seperti kebanyakan gadis yang selalu berada di sekitarku. Seperti halnya Yuri, Yoona, Seohyun, Irene dan gadis lain. Aku menganggap mereka hanya sebatas teman. Tidak ada perasaan aneh yang datang ketika aku bersama dengan mereka. Tapi kau tahu? Semenjak kau datang, kau berhasil mendatangkan sebuah perasaan yang benar-benar berbeda. Bahkan sampai saat ini aku masih tidak percaya dengan perasaanku. Jadi Hani,” Chanyeol mengarahkan mawarnya mendekat ke arah Hani.

“Bersediakah kau menjadi kekasihku?” sorakan-demi-sorakan terdengar di setiap telinga. Terlihat jika gadis cantik bermarga Ahn itu dalam keadaan terkejut. Menatap seorang Park Chanyeol dengan tatapan tidak percaya serta terlihat bingung ingin mengatakan apa.

Hingga pada akhirnya, Hani tersenyum manis dan mengambil bunga mawar yang Chanyeol ulurkan. “Iya, sekarang aku kekasihmu Chanyeol…” tidak ada ekspresi yang lebih baik dariku selain tersenyum dan bertepuk tangan. Dapat di lihat jika Chanyeol memeluk gadisnya begitu erat. Tiba-tiba saja ratusan kelopak mawar menghujami kedua insan tersebut. Terdapat Yoona dan Joonmyeon yang berada di dekat keduanya dan sibuk menerbakan mawar.

“Seperti acara pernikahan saja,” gumamku seraya menggeleng, pun masih tersenyum melihat kebahagiaan teman-temanku. Dari sudut netraku, Luhan menoleh pelan ke arahku dengan tatapan aneh.

“Ada beberapa kesalahan pada malam ini.” ujarnya membuat menoleh dengan tatapan bertanya.

“Maksudmu?”

Luhan melenguh pelan, mengubah posisi duduknya sebaik mungkin. “Pertama, tentang perasaan Chanyeol yang secara tiba-tiba.”

“Mengapa itu harus dipermasalahkan?” tanyaku bingung.

Luhan berdecak pelan, “Tentu saja, Chanyeol terlalu cepat untuk mengukur perasaannya kepada seseorang. Dan itu tidak baik, mungkin saja Chanyeol hanya bergurau dengan perasaannya dan mencoba untuk memiliki seorang kekasih.”

Ya! Jaga mulutmu Luhan, dia itu sahabatmu!” seruku menepuk pundaknya cukup keras. Namun, ia tidak menghiraukan perkataanku lalu melanjutkan argumennya.

“Kedua,” katanya, “Aku ragu, Hani benar-benar menerima Chanyeol.”

“Mengapa?”

“Kau tahu? Hani baru saja mengungkapkan perasaannya kepadaku lima hari yang lalu di halaman belakang sekolah.” mendengar perkataan Luhan, yang kulakukan hanya diam sembari mencerna perkataannya dengan baik.

“Lalu?” aku sedikit mendekat ke arahnya dengan menyeringai kecil, “Apa ada lagi, tuan peneliti?”

Luhan terkekeh pelan, dapat ku lihat jika ia tengah menyembunyikan sesuatu yang tidak ku ketahui. Sebenarnya aku membenci hal yang dirahasiakan, sebagai sahabat kehadiranku serasa tidak dianggap jika ia menyembunyikan sesuatu tanpa memberitahuku.

“Yang ketiga…” ucapnya pelan, terdengar cukup enggan untuk mengatakan.

“Apa?” heranku menatapnya menyelidik.

Luhan berpaling ke arah lain, beberapa detik kemudian ia menatap ke arah Chanyeol dan Hani yang tengah bernyanyi di tengah kolam renang. Setelah puas memandangi sepasang kekasih itu, ia menatapku lagi.

“Yuri?”

Hmm?

“Kau menyukai Park Chanyeol bukan?”

Deg

Aku terdiam, kepalaku perlahan mulai tertunduk. Kenapa Luhan tahu? Bagaimana bisa? Aku tidak pernah memberitahunya tentang perasaanku kepada Chanyeol. Bahkan, Yoona sekalipun. “Jangan ber-”

“Jangan berbohong Yuri,” lagi-lagi aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi setelah ini. Luhan tahu tentang perasaanku, aku tidak bisa mengelak di hadapan pemuda itu.

“Tatapan matamu menunjukkan segalanya Yuri, tatapanmu berbeda hanya dengan mendengar namanya. Aku mengerti Yuri, kau menyukai Chanyeol. Kenapa kau tidak mengatakannya saja?” sorot mata Luhan terlihat berbeda, benar-benar berbeda. Teduh, akan tetapi timbul sebuah kekhawatiran yang tidak pernah ku lihat.

“Kau pikir mengatakan hal seperti itu mudah? Membutuhkan tekad yang sangat besar untuk mengatakannya Luhan…” ucapku sembari bersidekap.

Luhan menatap lurus ke arah gelas berisi sedikit champange di tangannya. “Aku tahu Yuri, aku tahu apa yang kau rasakan. Karena aku juga merasakannya,”

Entah ekspresi apa yang harus kuperlihatkan kepada Luhan saat ini. Rasanya aku ingin melempar pemuda itu ke kolam renang kemudian memberinya sebuah pemberat agar ia mati sekaligus. Luhan benar-benar membuatku kesal kali ini. Sehingga aku memutuskan untuk beranjak dan pulang.

“Aku akan pulang Luhan, sampaikan minta maafku kepada Hani atas kepulanganku yang secara tiba-tiba. Terima kasih juga untuk tumpangannya, sekali lagi aku benar-benar berterima kasih padamu.”

Angin musim gugur menerpa wajahku, pejaman mataku kian mengerat ketika kejadian di pesta ulang tahun Hani terulang dengan sendirinya. Pemandangan yang tercipta dari jendela kamarku tidak cukup buruk, cukup baik untuk memberiku sebuah ketenangan meski hanya sekejap. Sampai saat ini, hanya satu yang kuingat. Tentang seorang Park Chanyeol yang menjadi kekasih dari seorang Ahn Hani. Serta tentang suatu hal yang Luhan katakan tentang persahabatan kami.

Aku tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Persahabatan kami serasa berada di ambang batas. Hanya bagaimana cara kami untuk mempertahankannya lagi. Jarang bertegur sapa, tidak pernah menanyakan kabar, serta tidak ada lagi kegaduhan di kantin yang senantiasa kami perbuat.

Chanyeol tengah disibukkan dengan hubungannya bersama Hani. Mereka pasangan yang serasi, tidak jarang jika mereka selalu mendapat berjuta-juta pujian dari setiap orang. Luhan tengah disibukkan diri dengan audisi fotografer-nya. Bahkan semenjak malam itu, ia tidak menghubungiku sama sekali.

Dan aku?

Aku berusaha untuk menyibukkan diri dengan rencana-rencana masa depan yang ingin kulakukan. Entah apa itu, akan tetapi yang kulakukan sampai saat ini hanya berdiam diri seraya meratapi nasib. Benar-benar buruk.

Hingga tiba-tiba saja, aku teringat dengan kalimat yang Luhan katakan sebelum aku pergi meninggalkan pesta ulang tahun Hani.

“Sepertinya cinta kita tidak akan pernah berakhir,”

“Aku akan pulang Luhan, sampaikan minta maafku kepada Hani atas kepulanganku yang secara tiba-tiba. Terima kasih juga untuk tumpangannya, sekali lagi aku benar-benar berterima kasih padamu.”

“Yuri? Nampaknya persahabatan kita harus berakhir sampai di sini”

“Mengapa? Oh? Kau ingin kembali pada Hani? Kau ingin mengatakan padanya jika kau benar-benar menyesal telah menolaknya?”

“Bukan, bukan seperti itu.”

“Lalu? Ayolah Luhan, jangan membuang waktuku lebih banyak lagi.”

“Sepertinya kisah cinta kita tidak akan pernah berakhir,”

“Apa? Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Kau menyukai Chanyeol, Chanyeol menyukai Hani, Hani menyukaiku. Dan aku menyukai… Tentu saja kau tahu bagaimana kelanjutannya.”

“…”

“Ini lebih menyakitkan dari yang kau rasakan,”

“Luhan…”

“Baiklah, akan kusampaikan pesanmu kepada Hani. Hati-hati di jalan, Kwon Yuri.”

“Kwon Yuri menyukai Park Chanyeol,

Park Chanyeol menyukai Ahn Hani,

Ahn Hani menyukai Xi Luhan,

Dan Xi Luhan menyukai Kwon Yuri…”

END

Maaf saya suka sekali membuat Yuri sedih :3
Demen banget sama yang sad begini, apalagi castnya Yuri /what?/

Bye~

Advertisements

13 thoughts on “Circle (Oneshoot)

  1. apa yang author lakukan ke Yuri itu jahat T__T
    aku tau ko nanti luhan balik lg ke Yuri terus nyatain cinta nya dan mulai semua dr awal dan Yuri mengiyakan karna dia udah benar2 lupa sama CeYe. Udah deh end *ditabokauthor :v

    Liked by 1 person

  2. Luhan tau semuanya tentang kisah cinta sahabat-sahabatnya .. yuri yang suka sama chanyeol .. chanyeol yang suka sama si anak baru hani .. hani yang suka sama luhan tapi bebrapa hari kemudian (pas pesta ultah nya) dia malah nerima chanyeol .. dan luhan yang suka sama yuri .. kisah cinta mereka segiempat 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s