All in (Oneshoot)

All in

Dear,
Kwon Yuri , Park Chanyeol

Cover and story,
pure mine

Recommended to hear
MONSTA X – All in
(Terutama pada detik 0:40-1:20)

HAPPY READING

“Semuanya, akan kuberikan kepadamu.”

I’m all in with you
I put everything on the line
I’m all in with you
I’m all in with you

Ialah Park Chanyeol, pemuda bertubuh tinggi yang sedari tadi menatap ke arah gadis bersurai kecoklatan di depan gedung sekolah dasar. Gadis itu mengenakan pakaian casual yang terlihat nyaman dan sesuai dengan cuaca hari ini yang panas dan sedikit berangin. Park Chanyeol tahu, mengapa gadis itu harus menunggu selama sepuluh menit di depan gedung tersebut. Tentu saja untuk menjemput saudara kecilnya yang berada di tingkat empat.

Park Chanyeol,

Si penguntit tampan yang selalu menghabiskan waktunya hanya dengan menatap gadis itu dan mengikutinya ke manapun berada. Akan tetapi, belakangan hari ini ia berubah menjadi lelaki pemberani yang sering menampakkan jati dirinya di hadapan gadis itu tanpa ragu.

Bahkan, Chanyeol seringkali memberikan barang-barang cantik yang diyakini sebagai kesukaan gadis itu. Selama ini, Chanyeol tidak mengenal lelah untuk mendapatkan cinta gadis itu. Chanyeol selalu berusaha, dengan segala yang ia miliki. Ia memang tidak ingin memaksa, akan tetapi jika ia belum mencoba, mengapa tidak?

Can i steal your heart?
Do you think you’ll be able to hold out?
I’ve been down and hurt
Do i wait for you to surrender?

Yuri baru saja mengantarkan adik kesayangannya itu pulang ke rumah. Namun, beberapa detik setelah ia mendudukkan diri di sisi tempat tidur, ponselnya bergetar. Dengan malas ia melihat ke arah si penelepon. Ia tersenyum tipis lantaran mengetahui siapa si penelepon. Sesuai dengan isi pesan yang ia lihat, Yuri mendatangi salah satu cafe yang berada di dekat gedung sekolah dasar adiknya. Yuri menoleh ketika seorang pemuda bersurai kecoklatan menyerukan namanya cukup lantang. Ia tahu siapa pemuda itu.

Namanya Park Chanyeol.

Pemuda yang baru-baru ini mengutarakan perasaannya melewati barang-barang yang Yuri suka. Yuri tidak tahu, mengapa Chanyeol mengerti dengan segala barang yang ia sukai. Ia berpikir, jika Chanyeol dulunya seorang penguntit. Akan tetapi, dengan cepat ia harus menepis pemikiran tersebut setelah melihat senyum lebar milik Park Chanyeol yang lucu. Ia akui, senyum Park Chanyeol benar-benar lucu.

“Ada apa Chanyeol?” gadis itu melayangkan sebuah pertanyaan tepat setelah ia duduk di hadapan Chanyeol. Chanyeol menaikkan satu alisnya, “Terburu-buru sekali? Bersabarlah sedikit.”

Yuri memutar bola matanya malas, “Chanyeol, aku harus bertemu dengan salah satu klien bos-ku di kantor.”

Chanyeol mengangguk, kemudian menyesap latte-nya. Akan tetapi, tangan pemuda itu mulai menjelajahi saku jaket biru yang cukup dalam. Hingga ia menemukan sesuatu dan wajah cerianya terlihat lagi. Sebuah kotak beludru berwarna biru yang cukup untuk di genggam.

“Ini untukmu!” Chanyeol menyodorkan kotak tersebut ke arah Yuri. Yuri menatap kotak tersenut dengan aneh. Sedangkan Chanyeol, menanti-nanti Yuri untuk segera membuka kotak tersebut. “Kau bisa membukanya sekarang,” mendengar perkataan Chanyeol, Yuri menggapai kotak tersebut dan membukanya perlahan.

“Chanyeol? I-Ini…”

“Iya, itu cincin.” Yuri menatap cincin tersebut dengan tatapan tidak percaya. Seorang Park Chanyeol memberinya sebuah cincin berwarna perak yang sangat indah. Terdapat beberapa berlian kecil pada satu sisinya. Dan sepertinya, cincin tersebut pas untuk diletakkan di jemari cantik Yuri.

“Kau suka, Yuri?” tanya Chanyeol dengan antusias. Yuri menatap cincin tersebut dengan tatapan yang cukup aneh. Sehingga memungkinkan Chanyeol untuk terus bertanya.

Yuri menatap Chanyeol lamat, “Maaf Chanyeol, seharusnya kau tidak memberikan cincin ini kepadaku.”

“Mengapa?”

“Seharusnya kau memberikan cincin itu kepada gadis yang kau cintai dan gadis itu juga mencintaimu.” Yuri menambahkan. Chanyeol terdiam, ia menatap Yuri. Sesuatu dalam dadanya terasa begitu sakit. Pada saat sebelumnya, Yuri tidak pernah menolak segala barang pemberiannya. Namun untuk kali ini, ia terkejut karena Yuri menolak benda yang paling istimewa.

Sejemang kemudian, Chanyeol tersenyum. “Tidak masalah jika kau tidak menyukaiku sama sekali. Dari awal, segala perbuatanku bagaikan sebuah pertanyaan bagimu. Bisakah aku mencuri hatimu? Dan bagiku, ketika aku bertanya seperti itu, itu seperti sebuah peringatan.”

“Peringatan?”

Chanyeol mengangguk pelan, “Dapatkah kau mengatasinya? Ketika aku sedang mencuri hatimu?”

Yuri tertegun, ia menatap ke arah Chanyeol yang kini mengaduk latte-nya. Ia tidak pernah berpikir jika Park Chanyeol memiliki pemikiran yang cukup baik dan bahkan lebih baik darinya.

“Kau tahu? Selama ini, aku sudah puluhan kali terjatuh dan tersakiti. Semua gadis yang ku sukai tidak pernah menganggapku lebih, dan mereka hanya mengandalkanku sebagai dompet mereka.” Chanyeol berpaling ke arah lain. Ia menatap ke arah daftar menu yang berada di atas meja kasir.

Yuri menaikkan satu alisnya, ia tersadar akan perkataan Chanyeol. “Jadi, kau tipe lelaki seperti itu? Menyukai setiap gadis dan memberi mereka dengan berbagai hal yang kau miliki?”

Chanyeol tersenyum lemah mendengar perkataan Yuri. Lantas ia menggeleng, “Bukan, aku hanya menyukai mereka sebagai idola. Sedangkan dirimu, aku menyukaimu sebagai orang yang sangat kusayangi. Rasa suka-ku pada dirimu berbeda dengan rasa suka-ku ketika aku menyukai mereka.”

Dan lagi-lagi, Yuri tertegun akan perkataan Chanyeol. Ia tidak mengerti, mengapa seorang Park Chanyeol benar-benar menyukainya hingga mampu merangkai kata seindah dan sebijak ini. Yuri pikir, sepertinya Park Chanyeol belajar dari sebuah pengalaman.

“Maaf Park Chanyeol, tapi aku telah memiliki seorang kekasih. Aku tidak mungkin menyukai lelaki lain selain kekasihku sendiri, dia telah berbuat baik padaku.” Chanyeol menggeleng pelan. Ia menatap ke arah kotak berisikan cincin pemberiannya yang terbilang sangat istimewa.

“Jadi, aku harus menunggumu menderita terlebih dahulu? Menunggu kekasihmu untuk berbuat jahat dan kemudian kau akan menyukaiku. Begitu?” Yuri terperangah. Ia tidak mampu menyusun kata-kata lagi, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk segera pergi dari tempat ini.

“Maaf Park Chanyeol, aku akan pergi.”

I salute to your lips
I swear on your name
I’m not kidding, i risk my life for you
I’ll protect you over my life

Yuri mengemudikan mobilnya cukup cepat ketika jalanan di kota Seoul semakin basah akibat derasnya hujan sore ini. Ini karena keterlambatannya bertemu dengan salah satu klien bos-nya. Ia bisa saja pulang lebih awal sebelum hujan turun, akan tetapi karena ia terlambat, ia harus menanggung akibatnya. Hanya perlu menempuh jarak beberapa kilometer lagi, ia akan tiba di rumah. Jalanan benar-benar sepi. Padahal ini sore hari –harus diakui, ini waktunya senja tiba.

Eh?” Yuri berseru bingung ketika dengan tiba-tiba mesin pada mobilnya tidak dapat dihidupkan. Yuri mencoba lagi, akan tetapi mesinnya tidak kunjung hidup. “Sial!” ia mengumpat kesal. Ia bersandar dengan gelisah. Sejemang kemudian, ia menoleh ke sekeliling.

Oh! Bagus Kwon Yuri, sekarang kau akan melakukan apa?” ia bergumam gelisah. Keberadaannya saat ini cukup mengerikan. Berada di tengah hujan deras, di tengah jalan sepi yang cukup jauh dari taman kota dan pusat perbelanjaan, serta tidak ada satu orangpun yang berlalu-lalang.

Ah! Chanyeol, mungkin dia bisa membantu.” Yuri mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Chanyeol dalam daftar nomor telepon. Akan tetapi, sesuatu mengejutkan Yuri. Suara debuman keras yang berasal dari bagian belakang mobil. Yuri menoleh, ia dikejutkan oleh keberadaan tiga pria bertubuh besar dengan tampang menakutkan.

Yang paling mengejutkan ketika salah satu dari mereka memukul jendela mobil bagian kemudi. Yuri terkejut dan takut. Pria dengan topi merah menarik Yuri untuk keluar, tanpa disadari Yuri menjatuhkan ponselnya di dalam mobil.

“Lepaskan aku!” Yuri memberontak, akan tetapi semua itu percuma. Tenaganya tidak sebanding dengan tenaga kedua pria bertubuh besar yang kini menahannya. Si pria bertubuh lainnya yang mengenakan kacamata hitam menghampiri Yuri. Tubuh gadis itu bergetar hebat, rasanya ia ingin kabur dan berlari secepat mungkin.

“Hai gadis canti-aww!” Yuri menggigit jemari pria itu saat menyentuh pipnya. Lantas sang pria berkacamata hitam itu marah, sehingga menarik surai indah Yuri dengan paksa. Yuri meringis kesakitan, tarikan dari tangan pria itu sangat erat.

“Cepat bawa dia ke rumah bos, gadis ini memiliki harga yang cukup mahal.” Yuri membelalakkan kedua matanya. Ia terkejut dengan perkataan pria berkacamata hitam yang kini melangkah terlebih dahulu. Kedua pria bertubuh besar yang menahan Yuripun mulai melangkah. Yuri berusaha sekuat tenaga agar ia tidak di bawa ke tempat yang dimaksud oleh si pria berkacamata hitam.

Setelah ia mengerahkan seluruh tenaganya, pada akhirnya ia merasa lelah. Tenagany terkuras habis hanya karena ingin memberontak. Ia memejamkan mata, kemudian ia menggumamkan sebuah nama dalam hatinya.

Hey! Lepaskan dia!” Yuri membuka kedua matanya. Ia menoleh ke sumber suara, ia melihat seorang pemuda bertubuh tinggi dengan sebuah balok kayu berukuran besar yang sedang dipikul. Kedua pria yang membawa Yuripun berhenti melangkah. Pria bertopi merah yang berada di sebelah kanan Yuri menerjang pemuda itu dengan beberapa pukulan.

“Chanyeol…” Yuri menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. Chanyeol berhasil menghindari pukulan dari pria itu. Ketika pemuda itu mendapatkan sebuah kesempatan, ia menghantam perut pria itu dengan balok kayu yang di bawanya. Pria bertopi merah jatuh tersungkur di jalanan yang basah. Di saat seperti ini, hujan masih setia untuk memandikan mereka yang terlibat dalam situasi berbahaya.

Kemudian dari belakang Yuri, pria berkacamata hitam berseru sembari menghampiri Chanyeol dengan beberapa pukulan. Satu pukulan berhasil Chanyeol hindari, namun satu pukulan berikutnya berhasil mengenai perut Chanyeol.

“Chanyeol!” Yuri terlihat seperti penonton pada saat ini. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Chanyeol, akan sangat bahaya karena Chanyeol telah menolongnya sampai sejauh ini. Dengan berpikir sejenak, Yuri menggigit tangan pria yang menahannya. Kini Yuri berlari ke arah Chanyeol, namun sebelum ia mendekati Chanyeol, pemuda memperintahkannya untuk berlari.

“Lari! Kau harus pergi dari sini Yuri!” Chanyeol berujar disela pertarungannya dengan si pria berkacamata hitam. Yuri menatap Chanyeol dengan khawatir, ia tidak mungkin berlari dan meninggalkan Chanyeol sendirian –yang pada dasarnya menyelamatkannya. Yuri tidak setega itu dalam meninggalkan seseorang di saat darurat.

Maka dari itu, ia menghampiri mobilnya dan mencari ponselnya. Ia menekan nomor 112, pada layar ponselnya. Sesekali ia menatap ke arah Chanyeol, dan kini pemuda itu jatuh tersungkur. Balok kayu yang dibawanya-pun terlepas dari genggaman.

“Chanyeol!” melihat Chanyeol dalam keadaan tidak baik, Yuri menghampiri balok kayu yang Chanyeol bawa. Kemudian, ia memukul kepala si pria berkacamata hitam yang hampir menikam Chanyeol dengan pisaunya.

Pria itupun jatuh, Yuri menjatuhkan balok kayu yang dibawanya dan menghampiri Chanyeol dalam keadaan babak belur. Bahkan, salah satu sudut bibirnya mengeluarkan darah. Begitu juga dengan hidungnya –meski tidak banyak. Akan tetapi, yang paling mengerikan yaitu darah yang keluar dari pelipisnya.

Yuri berusaha untuk membantu Chanyeol berdiri, namun Chanyeol tidak memiliki tenaga lagi. Sehingga tangannya benar-benar lemas. Yuri menggigit bibir bawahnya ketika secara perlahan, Park Chanyeol memejamkan matanya.

Everything about you is perfect, perfect
Other girls? No thanks, no thanks
I only want you

Kelopak mata Park Chanyeol perlahan terbuka. Dengan balutan perban pada area pelipisnya, serta balutan pakaian khas rumah sakit. Bau obat-obatan begitu menyeruak pada indera penciumannya. Langit-langit kamar yang berwarna putih susu dan terdapat sebuah alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi.

“Chanyeol? Kau baik-baik saja?” Chanyeol menatap ke arah gadis yang berada di samping kanannya. Terdapat guratan kecemasan pada wajah manisnya. Chanyeol tersenyum tipis, ia senang sekali melihat seorang Kwon Yuri khawatir kepadanya.

“Aku baik-baik saja Yuri…” Chanyeol bergumam pelan, masih dengan senyum tipisnya. Kemudian ia merasa sakit setelah mengatakan hal tersebut. Salah satu sudut bibirnya terasa perih dan sangat sulit untuk digerakkan.

Sejemang kemudian, pintu kamar rawat Chanyeol terbuka. Menampilkan seorang wanita berumur tiga puluh kurang dan seorang gadis yang mengenakan pakaian sekolah menengah akhir. Melihat kedatangan kedua orang tersebut, Yuri menunduk hormat dan berniat untuk pergi ke toilet –juga memberikan waktu bagi Chanyeol dan kedua orang tersebut untuk berbicara.

Selepas kepergian Yuri, Chanyeol berpaling ke arah lain. Enggan untuk menatap kedua orang yang berada di hadapannya kali ini. Wanita yang mengenakan pakaian kerja duduk di kursi yang sebelumnya Yuri duduki. Sedangkan si gadis cantik tetap berdiri di samping wanita tersebut.

“Chanyeol? Lihat apa yang kau lakukan? Kau membahayakan dirimu untuk gadis itu? Yang benar saja Park Chanyeol, apa kau tidak ingat dengan penyakitmu ini? Kau bisa saja mati saat ini juga jika ambulan tidak segera datang di tempat kejadian.” Chanyeol mendegus pelan mendengar ucapan saudara perempuannya yang lebih tua.

“Chanyeol? Kau pikir dengan menyelamatkan gadis murahan itu, kau akan menjadi pahlawan? Begitu?” Park Yoora berujar lagi. Kali ini, perkataan kakak perempuannya itu mendatangkan emosi Chanyeol.

“Dia bukan gadis murahan seperti yang kau maksud, noona…” Chanyeol menggertakkan giginya kala berbicara dengan Yoora. Yoora menghembuskan napas pelan sembari pelan.

“Chanyeol, apa kau tidak malu berbicara seperti itu di hadapan calon istri-mu?” Chanyeol melirik sejenak ke arah gadis yang berada di samping Yoora.

“Dia terlihat seperti adikku, bukan calon istri-ku noona…” lantas gadis yang berada di samping Yoora berdecak pelan. Yoora menilik ke arah gadis yang memiliki nametag Choi Yujin tersebut.

“Chanyeol, kau pikir bagaimana reaksi ayah dan ibu ketika mengetahui semua ini? Apa kau pikir mereka akan bersikap tenang seperti biasa? Tidak Chanyeol, ayah dan ibu akan melakukan hal yang sama denganku. Jadi Chanyeol, berhentilah untuk menyukai gadis murahan itu. Apa kau tidak tahu jika setiap malam dia selalu berada di pub dengan pria-pria brengsek yang berbau alkohol? Apa kau tidak tahu itu Park Chanyeol?”

Chanyeol mengepalkan tangannya yang berada di balik selimut. Ia menahan amarahnya yang siap untuk dilontarkan. Akan tetapi, kondisinya akan semakin buruk jika mengerahkan seluruh amarahnya.

“Dan satu lagi Chanyeol, kenapa kau harus bersusah payah untuk mengejar gadis murahan itu? Sementara sudah ada Yujin di depan matamu. Choi Yujin jelas lebih baik dari gadis murahan itu.” Yoora menambahkan perkataannya. Hal tersebut membuat amarah Chanyeol memuncak.

“Cukup Noona! Aku ingin noona pergi sekarang juga,” dengan bahu yang naik-turun, Chanyeol menatap kakaknya pemuh amarah. Begitu juga dengan Choi Yujin yang terkejut mendengar seruan Chanyeol.

“Baiklah, aku akan pergi. Asal kau tahu, perkataanku tidak pernah salah Park Chanyeol…” Yoora berangsur pergi, diikuti Yujin. Chanyeol menatap kepergian kedua orang itu dengan tatapan menghunus. Ia tidak setuju dengan perkataan kakaknya. Dan mengenai Choi Yujin, ia tidak ingin menikah dengan gadis yang lebih pantas di sebut sebagai adiknya daripada calon istri-nya.

Pintu tertutup. Chanyeol tertunduk sembari memikirkan perkataan Yoora. Ia menggeleng, ia merasakan sebuah denyutan aneh pada kepalanya. Sejemang kemudian, denyutan itu telah hilang.

Suara pintu dibuka, Chanyeol menoleh dan mendapati seorang Kwon Yuri yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya, gadis itu sedang menahan air matanya untuk keluar. Chanyeol menatap Yuri dengan bingung.

“Yuri? Kau kenapa? Apa yang terjadi denganmu?” Yuri menggeleng lemah mendengar pertanyaan Chanyeol.

“Benar apa yang dikatakan kakakmu, Chanyeol…” Chanyeol terhenyak mendengarnya. Jadi, gadis itu mendengar semua yang kakaknya katakan. Hati Chanyeol seperti teriris kala mendapati gadis yang di cintainya mulai menitihkan air mata.

“Aku memang gadis murahan yang menghabiskan malam dengan pria-pria brengsek dan berbau alkohol itu. Kenapa kau masih menyukaiku? Kenapa kau tidak menyukai calon istri-mu itu? Kenapa harus aku, Chanyeol…” Yuri terduduk di kursi samping Chanyeol. Ia mengeluarkan tangisannya saat itu juga. Entah mengapa, kakinya terasa begitu berat untuk melangkah pergi dari tempat ini. Sesuatu menahan pergerakan gravitasinya ke tempat lain.

Chanyeol mengepalkan tangannya, rasanya ia ingin mengenyahkan kakaknya sendiri karena telah membuat orang dicintainya menangis, Tapi itu tidak mungkin terjadi. Bagaimanapun juga, Park Yoora merupakan anggota keluarganya yang sangat menyayanginya.

“Aku tidak peduli dengan semua itu Yuri. Aku tahu, kau tidak bekerja seperti rekan-rekanmu yang lain. Kau hanya menghibur mereka dengan tarianmu. Kau tidak melayani mereka seperti yang dilakukan gadis lain di sana. Dan aku tahu, kau bekerja di sana karena terpaksa. Bagiku, tidak ada yang salah dengan kehidupanmu. Hanya bagaimana caramu menanggapinya, itu yang berbeda.” tangisan Yuri terhenti sejenak. Gadis itu mencerna perkataan Chanyeol perlahan. Ia tidak tahu mengapa Chanyeol mengetahui segalanya tentang dirinya.

Chanyeol melenguh pelan, ia mencari posisi yang nyaman untuk bersandar. “Choi Yujin? Gadis itu lebih baik kusebut dengan adik daripada calon istri. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku tidak menginginkannya menjadi istri-ku Entah mengapa, kedua orang tua-ku ingin aku menikah dengan gadis itu.”

“Yuri? Kau tahu ‘kan?” perlahan, Yuri mendongakkan kepalanya menatap Chanyeol. Air matanya telah terhenti, matanya memerah.

Chanyeol berdeham pelan. Perlahan, ia menggenggam tangan Yuri. Yuri terkejut, pada awalnya ia terkejut dan ingin menepis genggaman Chanyeol. Tapi genggaman Chanyeol saat ini begitu erat. Hingga, Yuri memberikan kesempatan bagi Chanyeol untuk melanjutkan perkataannya

“Aku hanya menginginkanmu menjadi istri-ku…”

I put everything up, all in
As long as i can have you
I’d do anything for you
I’m only all in with you
I’m not lying
From now on, i’m yours

Chanyeol bersembunyi di balik semak-semak. Pandangan matanya selama setengah jam ini tertuju pada sepasang kekasih yang duduk di bangku taman –jaraknya tidak jauh dengannya. Sehingga ia bisa mendengar percakapan keduanya. Kwon Yuri mengulurkan tangannya manja kepada pemuda tampan di hadapannya. Chanyeol tersenyum simpul melihat tingkah Yuri yang begitu lucu. Hanya saja, senyumnya memudar setelah mengingat dengan siapa gadis itu bersikap demikian.

Namanya Kim Jongin. Pemuda itu manis dengan kulit berwarna tan yang tidak jauh berbeda dengan Yuri. Terlihat eksotis. Jongin memberikan sebuah kalung yang ia sembunyikan dari Yuri. Jongin mengambil kalung itu dari leher Yuri saat gadis itu mengetikkan sesuatu pada ponselnya.

Yang membuat Chanyeol senang yakni, Yuri memakai kalung pemberiannya. Ketika pemuda usai melakukan penyembuhan di rumah sakit, ia memberikan Yuri kalung berwarna perak dengan liontin berbentuk bulan sabit. Dan Yuri menerimanya dengan seutas senyuman. Dari hal tersebut, Chanyeol yakin jika Yuri memberinya sebuah kesempatan.

Setelah Kim Jongin mengembalikan kalung tersebut, Yuri ingin memakainya kembali. Namun, dengan cepat Jongin mengambil kalung itu dan memakaikannya ke leher Yuri. Chanyeol menggerutu kesal, ia tidak menerima kejadian itu dengan baik.

“Seharusnya aku yang memakaikannya, bukan si hitam itu.” gerutunya tiada henti.

Setelah beberapa saat, ponsel Kim Jongin berdering. Jongin mengambil ponselnya yang berada di saku, kemudian melihat nama si penelepon. Chanyeol memicingkan matanya ketika ekspresi Kim Jongin terlihat berbeda. Ekspresi takut? Atau khawatir? Jongin menerima panggilan masuk tersebut dan menjawabnya dengan jarak yang cukup jauh. Pemuda itupun berbisik ketika berbicara dengan si penelepon. Dan yang lebih mencurigakan, ketika sesekali Jongin melirik ke arah Yuri dengan waspada. Takut apabila Yuri menghampirinya secara tiba-tiba.

Setelah menenggelamkan kembali ponselnya di saku jaket, Jongin mendekati Yuri dan mengatakan sesuatu yang tidak Chanyeol dengar. Kemudian, pemuda bermarga Kim itu melangkah pergi meninggalkan Yuri di sana. Dengan curiga, Chanyeol harus berat hati meninggalkan objek utamanya. Karena saat ini ia harus menyelidiki Kim Jongin. Tatapannya serta gerak-erik pemuda itu terlihat cukup aneh. Bahkan benar-benar aneh.

Kim Jongin pergi ke sisi lain dari taman. Pandangannya meneroka ke berbagai arah. Chanyeol menatap curiga, sampai saat ini ia benar-benar aman dalam bersembunyi. Sepertinya di penguntit profesial yang berhak diandalkan.

Tiba-tiba saja, Jongin menyerukan nama seseorang dan melambai kepada seorang gadis yang baru saja datang dari arah lain. Setelah mereka berada pada jarak yang cukup dekat. Mereka berpelukan dan saling tersenyum. Chanyeol terkejut melihat keduanya berpelukan, kemudian si gadis mencium sekilas pipi Kim Jongin.

Sesuatu terlintas dalam benak Chanyeol. Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan angka 2.

“Halo? Chanyeol? Ada apa? Kenapa kau meneleponku? Apa kau membutuhkan sesuatu?” Yuri bertanya secara beruntun. Chanyeol tersenyum mendengarnya. Semenjak kejadian itu, Yuri sering bertanya tentang kondisinya.

“Tidak, hanya saja aku ingin kau menemuiku di taman.” Chanyeol menimpali dengan pandangan yang masih tertuju pada seorang Kim Jongin. Kini, Jongin dan gadis itu duduk di salah satu bangku taman yang berada di sana.

“Di taman? Kebetulan sekali, aku sedang berada di taman saat ini. Katakan, kau berada di sebelah mana? Aku akan ke sana sekarang juga,” Yuri bergumam, dan kelihatannya mulai mengedar pandang.

“Di sebelah barat, dekat taman bunga musim semi.”

“Baiklah, aku akan segera ke sana.” saat itu juga Chanyeol memutuskan sambungan teleponnya. Dan ia yakin, saat ini Yuri dalam perjalanan menuju ke mari. Dari tempatnya berada sekarang, Chanyeol melihat Yuri yang tengah berjalan dengan salah satu tangan menggenggam erat ponselnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dan mengedar pandang.

Chanyeol yang tadinya bersembunyi, kini mulai menampakkan diri dengan wajah yang ia buat agar terlihat seperti pahlawan. Ketika Yuri mendapati kehadiran Chanyeol, iapun mendapati kehadiran seseorang yang jaraknya tidak jauh dengan keberadaan Chanyeol saat ini.

Yuri membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Chanyeol menatap sarkastik ke arah Kim Jongin dan gadis barunya. Yuri mengepalkan tangannya, kemudian ia bersidekap dan menghampiri Jongin dengan sarkasme.

Oh, jadi ini yang kau sebut dengan panggilan penting dari sepupumu? Sayang? Bahkan kau tidak pernah memanggilku seperti itu,” Kim Jongin membulatkan matanya ketika Yuri hadir dengan tiba-tiba. Sedangkan gadis di samping Jongin menatap Jongin dengan kening berkerut.

“Jongin? Siapa dia? Apa dia sepupu-mu yang kau bicarakan itu?”

Yuri berdeham pelan, “Maaf nona, asal kau tahu aku ini kekasihnya. Selama dua tahun,”

Gadis di samping Jongin melebarkan matanya, ia menatap Jongin dengan tatapan terkejut. “Apa? Jongin? Kekasihmu? Lalu kau menganggapku apa? Aku ini kekasihmu Jongin,”

“Bagus Kim Jongin,” Yuri bergumam dengan pandangan menghunus ke arah pemuda yang tidak mampu berkata apa-apa lagi itu.

“Sekarang kau berbuat jahat kepadaku.” Yuri berpaling arah dari Kim Jongin yang kini harus menyelesaikan argumennya dengan gadis barunya itu. Yuri menatap ke arah Chanyeol dengan senyum tipis. Pemuda Park itu tersenyum manis, tapi ada sesuatu yang membuat Chanyeol bingung. Sesuatu dalam perkataan Yuri, mengganggu pikirannya.

I put my body and heart on the line
I put my time and money on the line
I give everything up for you
From now on,
I’m all in with you

Chanyeol melajukan mobilnya dari taman, sesekali ia melirik ke arah Yuri yang terdiam sembari menatap keluar jendela. Tatapannnya begitu sendu, mungkin masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Antara Kwon Yuri dan Kim Jongin, mungkin gadis itu masih belum bisa menerima sebuah kenyataan yang baru ini. Chanyeol menghembuskan napas perlahan, kemudian ia kembali memfokuskan diri pada jalanan yang cukup padat.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan?” Yuri menoleh ke arah Chanyeol. Chanyeol melirik ke arah gadis itu sejenak dan tersenyum.

Ooh, itu…” Chanyeol teringat dengan perkataannya ketika menelepon Yuri tadi. “Aku ingin menemuimu, aku merindukanmu Yuri…”

Yuri terdiam pada tempatnya. Mendengar perkataan Chanyeol, sesuatu dalam hatinya bergetar. Ia mendegus pelan, lalu menatap Chanyeol dengan lamat. Ia baru menyadari satu hal, ternyata Park Chanyeol cukup tampan. Bahkan ketampanannya melebihi kekasihnya sendiri, Kim Jongin –ralat mantan kekasihnya. Tinggi tubuh seorang Park Chanyeol-pun menambah nilai plus dalam pesonanya.

“Yuri?” Chanyeol melirik lagi ke arah gadis itu kala ia tidak mendapatkan respon apapun mengenai perkataannya. Biasanya, seorang Kwon Yuri akan memukul lengannya atau memberi sebuah jitakan pada keningnya. Namun, kali ini Yuri tidak melakukan salah satu hal tersebut.

“Yuri? Kau baik-baik saja ‘kan?” Chanyeol memastikan. Ia cukup khawatir dengan sikap Yuri yang berubah diam. Karena seorang Kwon Yuri tidak pernah diam dalam sedetik saja. Dan kali ini, berbeda.

“Sekarang giliranku untuk bertanya,” kata Yuri. “Bagaimana perasaanmu bila berada di sisi-ku sekarang?”

Chanyeol menghentikkan mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah menyala merah bagi kendaraan. Pemuda itu menatap Yuri sendu. “Aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi bila itu aku, aku akan memilih untuk melepaskannya. Lagipula, dia tidak lebih baik dari lelaki brengsek yang sering menghabiskan malam di pub.

Yuri bersidekap mendengar jawaban Chanyeol, “Jadi, sekarang kau ingin mengungkit masalah pekerjaanku?” Chanyeol menggeleng pelan.

“Bukan seperti itu, jika aku berniat untuk menyinggungmu masalah itu, lalu akupun sama dengan mereka yang sering melihatmu di pub itu.” Chanyeol melajukan kembali mobilnya.

Yuri menautkan kedua alisnya, “Apa maksudmu? Sama dengan mereka yang sering melihatku di pub? Apa artinya?”

“Kau pikir, bagaimana bisa aku mengetahui segalanya tentangmu dan mengetahui pekerjaanmu itu? Apa kau tidak melihat kedatanganku setiap malam di pub itu? Percayalah, sebenarnya aku tidak menyukai tempat seperti itu. Tapi, aku berusaha datang agar aku dapat melihatmu menari.” Yuri terhenyak mendengar penjelasan singkat Chanyeol.

“Jadi, setiap malam kau melihatku menari?” pasti Yuri.

Chanyeol menatap sekilas ke arah Yuri dan mengangguk, “Iya, bahkan aku selalu datang lebih awal.”

“Kau melihatku menari? Dengan pakaian seperti itu?” Yuri memasang tampang terkejut dan penasaran secara bersamaan. Chanyeol memutar bola matanya secara cepat, kemudian ia mengangguk lagi.

“Iya, aku melihatmu menari dengan pakaian itu.” Yuri bungkam, pandangannya beralih keluar jendela. Tiba-tiba pipinya terasa panas. Bukan karena kepanasan, tapi karena malu. Malu? Yuri tidak yakin dengan kata-kata itu.

“Yuri? Pipi-mu memerah, apa kau kepanasan? Ah, bahkan kau berkeringat. Baiklah, aku akan menurunkan suhu pendingin.” Yuri mengangguk dengan sebuah senyum terpaksa. Tidak mungkin ia menolak perkataan Chanyeol, bisa saja Chanyeol menyadari sikap malu Yuri saat ini.

“Yuri?” panggil Chanyeol pelan.

Gadis itu menoleh, “Hmm?

“Jangan bekerja di tempat terkutuk itu lagi mulai sekarang, aku akan melunasi semua hutang keluargamu pada pemilik pub itu. Mulai besok, bekerja-lah di perusahaan milik ibuku.” Yuri menatap pemuda bertubuh tinggi di sampingnya itu dengan tatapan tidak percaya. Nampaknya, seharian ini seorang Park Chanyeol mampu membuat Yuri terkejut setiap saat.

“Ch-Chanyeol? Jangan bercanda, apa yang kau lakukan? Kakakmu akan memarahimu, dan untuk hutang keluargaku, biar aku yang melunasinya. Hanya tempat itu yang bersedia menampungku saat ini.” Yuri berusaha untuk mengelak. Namu Park Chanyeol hanya diam sembari mengemudikan mobil dengan baik.

Sejemang kemudian, Chanyeol berkata. “Kau bisa menggunakan apartemenku yang berada di dekat perusahaan ibuku. Apartemennya cukup bagus, meski tidak sebagus apartemenku yanag berada di dekat tempatmu bekerja itu. Bila perlu, kita akan melihatnya sekarang juga. Dan aku akan memberitahu di mana letak perusaahan milik ibuku.”

“Chanye-”

“Setelah itu, beritahu aku di mana rumah pemilik pub tempatmu bekerja. Aku akan menemuinya dan membayar semua hutang keluargamu. Lalu, di mana kedua orang tua-mu? Apa kau memilki saudara?”

“Chan-”

“Aku akan memberikanmu sebuah apartemen khusus jika kau ingin tinggal bersama dengan kedua orang tua-mu dan saudaramu. Bila per-”

“Chanyeol! Dengarkan aku dulu!” mobil hitam Chanyeol berhenti saat Yuri berseru kepadanya. Chanyeol melenguh pelan, lalu ia menatap mata gadis bermarga Kwon itu tanpa jeda.

“Baiklah, silahkan… Aku akan mendengarkannya,” Yuri memejamkan matanya sejenak. Kemudian ia tertunduk dan mengepalkan tangannya cukup erat. Chanyeol menaikkan satu alisnya ketika tangan gadis itu mengepal. Sedetik kemudian, kepalan tangan gadis itu terlepas. Ia mendegus pelan serta menatap lurus ke arah kedua tangannya.

“Terima kasih untuk tawaranmu itu, aku tidak membutuhkannya. Semua ini adalah masalahku, biarkan aku menyelesaikannya sendiri. Kedua orang tua-ku? Aku lupa di mana mereka, mereka tidak pernah terlihat setelah aku lahir di dunia ini. Mereka meninggalkanku bersama dengan hutang-hutang yang sama sekali tidak ku ketahui. Saudaraku? Cih, bahkan penjahat itu yang telah melemparkanku ke tempat terkutuk itu. Saudara macam apa yang dengan tega memasukkan adiknya sendiri ke lubang buatannya?” Chanyeol terperangah ketika air mata Yuri jatuh dengan cepat. Pemuda itu tidak pernah mengira jika hidup Yuri lebih sulit dari yang dibayangkannnya.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu dengan hal itu. Tapi, kumohon… Tinggal-lah di apartemenku dan lakukan hidup baru dengan orang baru. Kau tahu Kwon Yuri? Melihatmu seperti ini membuat hatiku sakit. Aku tidak suka melihatmu menangis, aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu. Aku hanya ingin kau tertawa dan tersenyum untukku. Aku tidak ingin kau menangis. Kumohon, untuk kali ini saja kau harus tinggal di apartemenku dan ijinkan aku untuk melunasi semua hutang milik keluargamu.”

Yuri menatap ke dalam iris hitam milik Park Chanyeol. Tidak ada kebohongan di antara perkataannya. Yang ada hanya sorot mata kekhawatiran akan dirinya. Ia masih tidak percaya. Seorang pemuda tampan dan kaya raya seperti Park Chanyeol mengawatirkan gadis malang seperti dirinya. Yuri tersenyum tipis, kemudian ia mengangguk.

Saat itulah tubuh Yuri berada di dekapan singkat yang Chanyeol berikan. Meski tidak lama, gadis itu tahu jika seorang Park Chanyeol benar-benar melakukan semua ini dengan tulus. Sesungguhnya ia masih tidak percaya, akan tetapi meliht semua ini, tidak ada salahnya jika ia memberikan seorang Park Chanyeol kesempatan.

I might look a little scary, girl
Rest easy, i’ll listen to you girl
I’m not good at expressing myself, so what?
I will put everything on the line for you

Chanyeol mendudukkan diri di sofa apartemen Yuri –yang sebelumnya merupakan pemberiannya. Dengan setelan jas berwarna kelabu, pemuda itu terlihat lelah. Setelah satu bulan ia mulai bekerja di perusahaan milik sang ayah, saat itu pula ia terlihat seperti lelaki mapan yang benar-benar sempurna. Tampan, kaya, pekerja keras, apa lagi yang diragukan dari sosok Park Chanyeol? Hanya orang bodoh yang meragukan semua itu.

Yuri datang dari dapur dengan secangkir kopi kesukaan Chanyeol. Gadis itu menaikkan satu alisnya ketika mendapati ekspresi kelelahan Chanyeol yang sangat terlihat. Tidak seperti biasanya, Chanyeol tidak pernah memasang tampang kusut seperti kali ini.

“Apa ada masalah di kantor? Wajahmu terlihat tidak baik,” Yuri meletakkan secangkir kopi tersebut di meja. Gadis itu duduk di samping Chanyeol dengan tangan bersidekap dan menanti jawaban dari Park Chanyeol.

Chanyeol menoleh ke arah Yuri. Terlukis sebuah senyum simpul di wajah kelelahan milik Park Chanyeol. “Kau sudah seperti istri-ku saja, aku senang melihatnya.”

Aish, aku bertanya padamu. Kenapa kau menjawab pertanyaanku dengan kalimat itu?” Yuri mencibir kesal. Chanyeol membuka satu persatu kancing jas-nya, sehingga menyisakan sebuah kemeja putih berlengan sebahu.

“Baiklah, memang ada banyak masalah di kantor.” ucap Chanyeol seraya mengambil secangkir kopi yang Yuri buat.

“Masalah apa? Kau yang membuat masalah itu atau orang lain?” Yuri bertanya dengan cemas. Chanyeol menatap gadis bermarga Kwon itu penuh arti. Semenjak kejadian di taman, Yuri terlihat seperti istri-nya. Meski pemuda itu belum melamar dan mengingkan sebuah balasan dari kata ‘Aku mencintaimu’. Selama satu bulan ini, Yuri telah bekerja sebagai asisten desainer di butik milik ibunya. Nyonya Park memiliki pendapat yang berbeda tentang Yuri. Tidak seperti Yoora yang selalu menjelek-jelekkan Yuri setiap saat. Nyonya Kwon dengan senang hati menerima Yuri sebagai asisten pribadinya. Yuri tentu sangat senang, ia pikir nyonya Kwon akan mengejeknya seperti yang dilakukan Yoora.

Dan Park Chanyeol? Saat ini ia sedang memulai pekerjaannya sebagai ketua pelaksana di perusahaan ayahnya. Seusai bekerja, pemuda itu selalu mendatangi apartemen Yuri. Ia akan kembali ke rumah pukul sembilan atau sepuluh malam. Entah mengapa, hanya dengan melihat Yuri, rasa lelah yang mendatangi diri Chanyeol hilang dengan sendirinya. Yang paling membuat Chanyeol senang, yakni rasa perhatian Yuri yang tidak pernah gadis itu tunjukkan.

“Bukan, bukan aku yang membuat masalah. Sekertaris-ku tidak mengerjakan tugas dengan baik, tapi ada satu masalah yang aku perbuat.” Chanyeol berujar sembari meletakkan secangkir kopinya kembali. Yuri membulatkan matanya kala Chanyeol menyelesaikan perkataannya.

“Apa? Masalah apa itu? Kau ini, apa tidak membuat masalah dalam sehari membuatmu mati huh? Kau ini selalu membuat masalah,” Yuri bergumam kesal. Ia berlaih pandang ke arah televisi yang baru saja Chanyeol hidupkan. Chanyeol tersenyum penuh arti, ia tidak dapat mengalihkan pandangannya sejenak dari gadis bermarga Kwon tersebut.

“Tentu saja aku akan mati jika aku tidak menciptakan masalah ini.” Chanyeol berujar.

Yuri menatapnya tajam, “Memangnya masalah apa yang kau perbuat?”

“Sebelum aku pergi ke sini, aku mendatangi ruang kerja ayahku. Aku mengatakan suatu hal yang membuatnya terkejut dan tidak mampu mengatakan apapun. Apa itu masalah?” Chanyeol kembali meminum kopinya yang tidak cukup hangat.

“Tentu saja itu masalah, kau mengatakan sesuatu yang membuat ayahmu terkejut. Bagaimana jika ayahmu memecatmu dari perusahaan itu? Kau akan menghidupi calon istri-mu ini dengan ap-”

“Apa yang kau katakan?” Yuri terdiam, ia menggeleng dengan cepat setelah Chanyeol bertanya padanya dengan tatapan menyelidik. Chanyeol tersenyum penuh arti, ia mengacak pelan suai gadis itu yang kini tergerai. Kemudian ia kembali bersandar dan memejamkan mata sejenak. Mencoba untuk menghilangkan kepenatan yang menimpanya pada hari ini.

“Sebenarnya, apa yang kau katakan kepada ayahmu? Kata-kata apa yang membuat ayahmu itu bisa sampai terkejut?” Yuri bertanya pelan. Ia menatap ke arah televisi dengan tatapan kosong. Tidak berniat untuk melihat, namun akan lebih ragu jika ia menatap Chanyeol saat ini. Ia tidak sadar dengan perkataannya tadi. Dan rasanya, gadis itu mulai gila karena bergumam sendiri.

Chanyeol menatapnya, “Kau ingin tahu?” Yuri mengangguk pelan.

“Aku mengatakan…”

Yuri mulai menoleh, menanti jawaban Chanyeol yang belum terselesaikan.

“Aku mengatakan… Aku akan menikahimu sebentar lagi,”

I put everything up, all in
As long as i can have you
I’d do anything for you
I’m only all in with you
I’m not lying
From now on, i’m yours

“Chanyeol? Ada apa?”

“Ayah, aku ingin menikahi Yuri.”

“Kenapa?”

“Dia gadis yang sangat kucintai, lupakan tentang perjodohanku dengan Choi Yujin. Aku sama sekali tidak menyukainya, dia lebih baik menjadi adikku.”

“Chanyeol, menikah bukan berarti bermain-main. Kau selalu menciptakan masalah dengan orang lain, bagaimana jika kau menciptakan masalah yang lebih besar setelah menikah dengan gadis yang kau cintai itu?”

“Tidak ayah, aku menciptakan masalah karena itu salah satu caraku agar Yuri mencintaiku.”

“Tapi,”

“Sekarang aku tahu bagaimana perasaan Yuri ayah, dia mulai mencintaiku. Ayah, tolong ijinkan aku untuk menikahi Yuri. Aku akan melakukan apapun agar aku bisa menikahinya.”

“…”

“Ayah?”

“…”

“Ay-”

“Baiklah, bawa gadis itu ke kantor besok. Aku ingin melihat, gadis seperti apa yang sudah membuat anakku ini bisa berpikir lebih dewasa dan pintar.”

END

Huhuhu :v
ChanYul shipper mana nih suaranya?
Lagi demen sama ChanYul. Terus lagi sakit hati sama Chanyeol karena ada scene begituan di film itu-tuh! Iri gue, berharap aja ChanYul nge-film bareng 😀
Oia, lagu yang direkomendasikan dari aku untuk ff ini adalah lagunya Monsta X yang All in.
Pertama mungkin kalian rada asing sama nada awalnya, tapi lama-kelaman enak bener.
Udahan deh, jangan lupa RCL ya?

Bye~ ©Firda©

Advertisements

16 thoughts on “All in (Oneshoot)

  1. Eonni..kurang panjang. Hhe
    Harusnya dibikin twoshoot eon…
    Biar lebih romantis gt eon chanyeol sama yuri waktu udah nikah..
    Tapi tetep semangat buat lanjuyin ff yg lainnya..

    Liked by 1 person

  2. Aww, ChanYul… 🙂
    suka bgt sm ceritanya. Tapi knpa endnya harus disitu eon… Oiya, cepet dilanjut dong eon ff KyuRi yg jdulnya NUMB,,, ya..ya..ya..ya… please (buing buing) ^^

    Liked by 1 person

  3. woow cinta chanyeol sangat sangat dalam smpe sgtunya sama yuri dan yuri beruntung sekaliii dia, jd mau kekeek .. lanjutin smpe mereka nikah donk eon kayaknya seru tuh 🙂

    Liked by 1 person

  4. suka kata2 nya chanyeol yg diatas, perbuatannya adalah sbuah peringatan dan mampukah yuri mengatasinya awwww
    syg nya yuri luluhh jg huhuhu
    seneng deh, appa ny blg yuri ngerubah chanyeol jd dewasa XD

    Liked by 1 person

  5. Ya ampunn chanyeol pantang menyerah bnget.Untung ada chanyeol jdi yuleon bisa tau kalau jongin selingkuh.,Smoga aja kleuarganya chanyeol nerima yuleon dngan trbuka trutama yoora kasian kan kalau yuleon dijelek2kin mulu.,Wahhh ayahnya chanyeol aja pengen ketemu yuleon .,,cuma yuleon yng bisa ngerubah pemikiran chanyeol jadi dewasa ..sequel dong eonn

    Liked by 1 person

  6. My God! Penguntit? Jadi CY hobi ngestalker Yuri? Dan kemudian, tibatiba muncul keberaniannya buat terang terangan? Gitu dong! Jadilah the real namja! Hoho..

    Wahh~ cacingan banget deh pas scene di cafe. Gak ada yg salah sama kalimat frontal Yuri soal ‘yg berhak nerima cincin dr CY’. Tapi kerennya CY~ bukan malah jd sedih, malah bikin Yurinya terpana dgn setiap kalimat yg dikeluarin.

    Dan tampaknya Yuri mulai memiliki perasaan yg sama dgn CY. Yg coba dihubunginya, yg diingatnya pertama kali. Bahkan itu bukan pacarnya.

    Ebusseeett!! Yoora disini antagonis gitu yah? Gak cocok ah~ hihi. Tapi sangat menyenangkan. Krna di RS, akhirnya keliatan deh kalo Yuri sbnrnya emng udah luluh sama CY. Mana ada kalimat CY yg bikin WOWW!!

    Yeshh!! Akhirnya Yuri dapetin alasan buat mutusin Kim Jong In. Hoho.. dan pembicaraan yg menarik antara Chanyeol-Yuri. CY beneran gak ngasih Yuri ksmptn buat ngomong. Hahaha.

    Dan finally~ ending yg ‘entahlah’. Krna meskipun Yuri udah nunjukkin jawaban atas pernyataan CY dgn -gaya ‘sudah seperti istriku’, ibu CY yg menerima baik seorg Kwon Yuri, tapi sang babeh belom ngasih kata ‘iya’ -meskipun udah merasa bahwa seorg Yuri-lah yg udah berhasil membuat CY berubah jd lbh baik.. tapi gak ada kejelasan jadi married ato enggak.

    Tapi yaudah deh, yg penting tanda tandanya mengarah kesana. Jd ambil kesimpulan sndiri ajah. Ato mgkn ngarang bebas pake imajinasi sndiri. Hihi.. intinya suka banget sama ceritanya ^^

    Liked by 1 person

  7. ya ampuuun setelah sekian ff yang aku baca disini, ini ff yang paling memuasakan hahaha suka bgt sma cerita dan sdikitt konfliknya.. Apalagi cast nya hehe akhirnya yuri ama chanyeol bersatu huhu
    semangat terus buat author bikin ff lain nya yg lebih keren keren lg, maf aku gk bca yg pair KyuRi jd emang gk komen karna aku kurang suka hihi maaf. Trimakasih thor buat story nya^^ izin kan aku untuk membaca yg lain nya..

    Liked by 1 person

    1. hai pengunjung barukah?
      Aduh masak memuaskan sih? ini mah semuanya cerita abal-abal. Konflik? aduh aku selalu bingung sama konflik. Kadang maunya langsung end, tapi bakalan nggak seru dong kalo langsung aku buat end. Iya nggak papa, ku tahu kok :v
      Aku lho yang seharusnya makasih, kamu udah berkunjung dan komen

      Like

  8. Akhirnya pengorbanan chanyeol selama ini gak sia-sia .. di mulai dari chanyeol jadi penguntit, ngasih barang-barang kesukaan yuri, sampe akhirnya yuri cinta balik sama chanyeol

    Jongin -_-
    Udah punya kekasih (udah dua tahun lagi) masih aja ngelirik cewek lain .. untungnya yuri nangkep basah jongin yg lagi mesra-mesraan sama cewek lain debgan bantuan chanyeol tentunya

    Chanyeol hebat .. dia berusaha biar gak berjodoh sama yujin .. dan akhirnya dia dapetin yuri dan cintanya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s