Numb (Chapter 1)

Numb (1)

Dear,
Kwon Yuri , Cho Kyuhyun , Kim Myungsoo

Little,
Kim Dasom , Chou Tzuyu

Cover,
Choco Yeppeo’s Design @ Story Poster Zone

Story,
pure mine

Sequel of “Depend (Vignette)”

Chapter 1

HAPPY READING

“Sekarang siapa yang salah?”

Dalam relikuli kehidupan, setiap kebahagiaan serta kesedihan akan terasa dengan sendirinya. Sebagai makhluk sosial yang tidak mampu menikung jalan takdir, yang kita lakukan hanya melaluinya dan berpikir jika kita tidak mampu mengubah takdir. Namun kebanyakan orang berkata jika takdir berada di tangan kita. Lalu persepsi mana yang benar?

Begitu juga dengan pemikiran Yuri saat ini ,yang tengah dilanda sebuah kebimbangan. Ketika salah satu mahasiswa melontarkan pertanyaan tersebut kepadanya. Yuri terdiam sembari memikirkan jawaban apa yang sesuai. Sedangkan puluhan mahasiswa yang berada di aula sisi kanan gedung kini menatapnya antusias.

Menjadi seorang dosen merupakan keinginan Yuri, untuk mengubah hidup serta belajar lebih mandiri. Dan Yuri, dia sangat beruntung mampu menggapai keinginannya selama ini dengan baik. Mendapatkan anugerah sebuah paras jelita serta kebaikan hati yang tiada tara. Kepandaiannya dalam beragumen menjadikan gadis bermarga Kwon itu sangat disegani di manapun ia berada.

Hampir lima menit, dan Yuri masih berpikir. Tidak, lebih tepatnya merangkai kata-kata atas jawabannya. “Bagaimana ssaem?” para mahasiswa-nya tidak sabar menanti jawaban yang akan terlontar. Yuri tersenyum manis, bahkan jika boleh dibilang, Yuri merupakan dosen idaman para mahasiswa. Baik dari kalangan adam maupun hawa, keduanya menyukai dosen Kwon Yuri demi apapun. Tidak bergurau, bahkan sebagian dosen pria ingin sekali menjadikan seorang Kwon Yuri sebagai seorang istri.

Gadis polos bernama Kwon Yuri kini telah berubah menjadi wanita bijaksana bernama Kwon Yuri. Waktu berjalan semakin cepat, sepintas hanya untuk menghilangkan kenangan buruk yang begitu pahit.

“Terkadang kita berpikir jika Tuhan telah mengatur takdir kita masing-masing. Namun di sisi lain banyak yang berpendapat jika takdir berada di tangan kita. Jika kalian menyatukan kedua hal itu dengan benar, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan mengenai takdir. Dari awal, kita terlahir di dunia ini memang karena takdir. Tuhan berkehendak akan takdir kita. Namun untuk selanjutnya, segala hal yang kita perbuat merupakan cikal bakal dari takdir yang sesungguhnya. Jika kita melakukan sesuatu yang buruk, maka takdir kita akan setimpal dengan perbuatan yang telah kita lakukan. Dan jika kita berbuat baik, maka takdir akan memberikan cara terbaik bagi kita untuk hidup seterusnya. Pada intinya, segala hal bergantung pada diri kita sendiri. Bukan orang lain maupun segala hal yang meyangkut diri kita. Ada yang perlu di tanyakan?”

Hening, tidak ada yang bersuara. Namun pandangan para mahasiswa kian beradu satu sama lain. Melempar pandang dengan ekspresi yang sulit ditebak. Dan pada akhirnya,

“Prok… Prok… Prok…”

Riuh tepuk tangan dari puluhan mahasiswa kini menggema di aula kecil itu. Mereka semua berdiri dengan seutas senyuman. Yuri tersenyum simpul, menampilkan wajah cantiknya kepada puluhan mahasiswa kesayangan yang telah menciptakan banyak prestasi di luar sana.

Dan pada akhirnya, Yuri menunduk hormat seraya membawa buku dan tas-nya pergi. Wanita itu membuka pintu aula dan telah berhadapan dengan seorang lelaki tampan yang lengkap dengan pakaian khas sekolah menengah akhir.

“Myungsoo?”

“Hai Yuri?” Kim Myungsoo menyapa gadis itu dengan tatapan yang meneduhkan. Membuat siapa saja yang menatapnya akan terpesona.

“Sudah selesai bertugas? Tolong jangan halangi aku tuan Kim, aku tidak ingin para mahasiswa-ku berpikir yang tidak-tidak dengan kadatanganmu menggunakan pakaian sekolah seperti ini” Yuri melewati Myungsoo. Myungsoo tersenyum simpul dan mengikuti wanita cantik itu.

“Myungsoo, cepat ganti pakaianmu itu. Aku tidak ingin seisi universitas menyebarkan berita jika seorang dosen bernama Kwon Yuri bersama dengan anak sekolah menengah akhir pada saat jam mengajarnya berakhir. Aku tidak ingin seperti itu Myungsoo” Yuri mendegus kesal, sedang lelaki bermarga Kim itu mengangguk.

“Baiklah nyonya Kwon, aku akan berganti pakaian dan mengenakan pakaian yang pantas ketika bersanding denganmu” Myungsoo mengacak surai Yuri pelan. Yuri tersenyum manis di sela decakan pura-puranya.

“Oia, dan satu lagi…” Yuri menaikkan satu alisnya, sedang Myungsoo tersenyum manis. “Seharusnya seisi universitas menyebarkan berita seperti, seorang dosen bernama Kwon Yuri berkencan dengan anak sekolah menengah akhir pada saat jam mengajarnya berakhir. Itu baru benar. Bagaimana?” Myungsoo terkekeh kecil. Yuri tersungut kesal sembari menepuk bahu pria berumur dua puluh lima lebih itu.

“Kim Myungsoo, ralat untuk kata anak sekolah menengah akhir. Kau bukan anak kecil lagi Myungsoo. Kau pria tampan yang saat ini sedang menyamar. Ingat itu…” Myungsoo mengangguk pelan, kemudian pria itu meninggalkan Yuri untuk berganti pakaian.

Yuri menggeleng pelan, melihat perilaku seorang Kim Myungsoo memang salah satu kesukaannya. Perkaranya, pria bermarga Kim tersebut tidak pernah menampakkan senyum hangatnya kepada orang lain kecuali Yuri.

Kim Myungsoo. Seiring berjalannya waktu, pria itu telah menggapai cita-citanya sebagai seorang agen mata-mata dunia yang sering disebut dengan FBI. Pekerjaannya setiap detik adalah menyamar dan menganalisis segala hal yang berhubungan dengan target-nya. Bagi Myungsoo, hidup adalah berlari. Tidak ada hal menenangkan seperti berjemur di pantai maupun sekedar menghabiskan waktu untuk melihat bioskop.

Setiap detik sangat berharga bagi hidup Myungsoo, disaat ia berlari segalanya terasa menarik. Namun ada satu hal yang membuat Yuri tidak menyukai pekerjaan seorang Kim Myungsoo. Sekalipun pekerjaan tersebut merupakan cita-cita Myungsoo dari kecil. Tetap saja, Yuri tidak menyukainya.

Yuri tidak ingin kehilangan Myungsoo.

Wanita itu tidak ingin kehilangan seorang yang berharga baginya selama dua kali. Setiap kali mendengar cerita Myungsoo dari telepon, Yuri bersedih dalam hati. Ketika Myungsoo berada jauh dari keberadaannya, terkadang Yuri menitihkan barang satu atau dua tetes air matanya. Baginya, Myungsoo benar-benar berharga. Yuri benar-benar tidak ingin kehilangan seorang Kim Myungsoo.

Dan seharusnya, kali ini Yuri berseru senang atas kembalinya Myungsoo dari Swiss. Semalam, keduanya saling bertelepon dan pada saat itu Myungsoo berada di Swiss. Menjalankan misi berbahaya, yang hanya orang-orang tertentu saja yang mampu mengatasinya.

Yuri mendegus pelan, menenangkan diri di atap memang hal yang paling di sukainya. Wanita itu menatap langit biru yang nampak cerah. Yuri tersenyum, menampakkan wajah manisnya kepada langit biru yang membentang. Kemudian ia bergumam pelan, sembari mengingat sesuatu. Yang pada kenyataannya cukup menyakitkan.

“Kyu, bagaimana keadaanmu saat ini? Apa kau berhasil menjadi seorang pilot? Apa kau…” mata Yuri berkaca-kaca hendak mengeluarkan setetes air matanya.

“Apa kau merasa lebih baik karena aku tidak bergantung padamu lagi?”

Dalam keramaian kota New York pada malam hari, kendaraan kian memadati jalanan luas New York. Lampu jalan yang sangat mempesona memberikan penerangan yang cukup sekaligus indah. Membuat setiap pengguna jalan tidak akan di telan bosan ketika mancet melanda. Lampu lalu lintas pada satu bagian kota menampilkan warna merah, setiap kendaraan yang melewati jalur tersebut harus berhenti. Jika mereka tidak ingin terkena hukuman dari pihak kepolisian yang sangat disiplin, para pengguna jalan harus mematuhi hal tersebut dengan baik.

Begitu juga dengan Porsche berwarna merah yang berada sisi terdepan. Di dalamnya, sang pemilik menelepon seseorang menggunakan bahasa khas amerika dengan lancar. Setelahnya ia mengenakan kaca mata hitam dan sesekali bersenandung kecil mengikuti irama musik yang terputar di pemutar musik-nya.

Lampu lalu lintas kini berubah menjadi warna hijau, sesegera mungkin bagi beberapa kendaraan yang berada pada jalur tersebut menjalankan kendaraan masing-masing. Mengikuti sisi dari mobil Porsche merah, sang pemilik melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota New York yang sangat indah.

Sepanjang perjalanan, pria dengan surai kecoklatan itu mengikuti irama musik dengan santai serta penuh ketenangan. Hingga ia memutuskan untuk memasuki kawasan apartemen berbintang yang fasilitasnya benar-benar menarik di kota New York.

Pria itu keluar dari mobil kebanggannya setelah dua orang yang mengenakan jas hitam menghampiri dan mengambil alih mobil. Bukan bermaksud mencuri, yang dilakukan kedua orang tersebut tidak lain yaitu memakirkan mobil di tempat yang tepat. Pria itu tidak melepas kaca mata-nya tetap pada tampang dingin serta tuxedo hitam yang sangat mengagumkan.

Pria itu menekan angka 7 pada tombol yang berada di sisi samping lift. Ia menghembuskan napas pelan serta menanti lift yang ditumpanginya tiba di lantai 7. Disana, apartemen dengan fasilitas tingkat atas menantinya.

Pria itu memasuki apartemen mewah-nya dengan helaan berat, setelah memasukkan beberapa digit angka yang menjadi pengunci di kediaman kecil mewahnya ini. Sebelum ia hendak merebahkan diri di kasur berukuran besar yang sedari tadi ingin di tiduri-nya, seorang menekan bel aparatemennya. Pria itu melepas kaca mata-nya dan tanpa berbasa-basi membuka pintu.

“Ada apa lagi Tzuyu? Kau mengikutiku?” berdirilah seorang gadis cantik yang membawa sebuah tas ransel berwarna merah muda di punggung-nya.

Gadis bernama Tzuyu itu tersenyum dan tidak mempedulikan tatapan yang pria di hadapan-nya berikan. “Oppa! Daddy yang memperintahkanku. Lagipula, untuk apa aku mengikutimu. Tidak berguna sama sekali”

“Terserahmu saja…”

Pria itu menutup kembali pintu apartemen. Tzuyu yang menyadarinya segera menekan bel apartemen tersebut berulang kali. Agar si pemilik membuka kembali pintunya dan mendengarkan kelanjutan dari perkataannya yang belum selesai.

Ya! Cho Kyuhyun! Buka pintunya! Aku akan melaporkan ini pada Daddy, awas saja kau!” masih menggerutu kesal, Tzuyu mengeluarkan ponselnya. Benar-benar serius, gadis itu akan menelepon orang tua-nya dengan segera.

Merasa adik satu-satunya itu akan menelepon sang ayah, dengan cepat Kyuhyun berlari ke arah pintu. Bahkan pria itu meninggalkan piring yang telah terisi nasi dan beberapa lauk pauk lainnya untuk di makan.

Ya! Jangan laporkan ini pada Daddy, kau tidak tahu betapa sibuknya aku hari ini…” Kyuhyun mengambil paksa ponsel Tzuyu. Tzuyu membulatkan matanya, lalu fokus pada pendiriannya untuk tetap melaporkan hal ini pada ayahnya.

“Tidak! Aku akan melaporkan ini pada Daddy jika kau tidak kembali ke perusahaan bersamaku” Tzuyu menoba meraih ponselnya kembali. Namun Kyuhyun semakin mengangkat ponselnya ke udara.

“Cho Kyuhyun! Kembalikan ponselku!” seru Tzuyu ketika ia tidak kunjung mendapatkan ponselnya. Kyuhyun menutup kedua telinga-nya, seruan Tzuyu melengking dengan tidak baiknya di indera pendengaran Kyuhyun.

“Baiklah… Aku akan kembali perusahaan, tapi ijinkan aku untuk beristirahat sejenak dan makan” dengan cepat Tzuyu mengangguk dan meraih ponselnya. Gadis itu mengikuti Kyuhyun yang kini berada di dapur. Gadis itu melihat keadaan apartemen kakak-nya yang benar-benar…

Kacau.

Ya! Oppa! Kenapa apartemenmu berantakan sekali? Apa kau tidak mempunyai waktu untuk membersihkan semua ini?” Tzuyu menatap sekeliling apartemen sang kakak dengan tatapan aneh-nya. Sedang Kyuhyun kini telah melahap beberapa suapan di meja makan.

“Jangan mencampuri kehidupanku! Ini hidupku, jangan samakan dengan hidupmu yang satu detik harus dipenuhi dengan kerapian” datarnya. Tzuyu terperangah pelan, kakaknya memang menyebalkan. Meski tampan dan cukup mapan, Cho Kyuhyun tetaplah seorang pria yang menyebalkan.

“Kau tidak lapar? Makanlah jika kau ingin…” pertanyaan Kyuhyun memecah lamunan Tzuyu. Gadis itu menoleh dan menatap Kyuhyun dengan cengiran aneh.

Sembari menggeleng, gadis itu berujar. “Tidak oppa, aku baru saja pergi bersama teman-teman untuk makan malam tadi”. Kyuhyun yang tengah sibuk menguyahpun hanya mampu mengangguk ketika Tzuyu membalas pertanyaannya.

Namun dalam benak Tzuyu, gadis itu sangat membutuhkan asupan. Melihat keadaan apartemen Kyuhyun yang sangat kacau, Tzuyu mengurungkan niatnya untuk mengiyakan pertanyaan Kyuhyun tadi.

Aishh, Kyuhyun oppa… Kenapa kau tidak ingin makan di luar saja?” gumamnya dalam hati.

Yuri merebahkan diri di kasur kesayangannya. Kegiatannya selama seharian ini cukup menyita waktu berharganya. Yuri memejamkan mata, ia merasa jika ia harus mengambil cuti atas kesibukan yang kian melanda. Seorang mengetuk pintu kamarnya setelah ia mendegus malas atas beberapa berkas-berkas penting yang berserakan di lantai.

“Masuk!” tidak bergeming dari tempat, Yuri mengetahui siapa orang yang mengetuk pintu.

Seorang Kim Myungsoo membuka pintu kamar Yuri sembari membawa sebuah kotak berisi perban dan obat-obatan. Yuri menautkan kedua alisnya ketika melihat Myungsoo membawa kotak putih itu –lagi.

“Terluka lagi?”

Myungsoo hanya mampu menampilkan cengiran khas-nya, yang parahnya tidak mengurangi ketampanan pria itu sedikitpun. Yuri menghembuskan napas sembari menggeleng pelan.

“Dimana luka itu? Aku akan mengobatinya” ujar Yuri mempersiapkan obat merah beserta perban. Myungsoo tersenyum tipis, perlahan pria bermarga Kim itu membuka kancing kemejanya satu-persatu. Diiringi sebuah seringaian, Myungsoo menatap Yuri dengan tatapan aneh. Setelah melepas kancing kemejanya, Myungsoo mendekat ke arah Yuri. Yuri yang menyadarinya memundurkan dirinya dengan cepat.

Ya! Myungsoo! Apa yang kau lakuka-”

Kecupan singkat mendarat di bibir gadis itu. Yuri terdiam, seluruh kinerja tubuhnya serasa membeku.

“Myungsoo…”

“Terima kasih karena telah menjadi bagian dari hidupku selama ini, Yuri…” Myungsoo medekap tubuh Yuri erat. Pria itu memejamkan matanya, mencoba untuk menikmati waktu bersama dengan sang terkasih. Yuri terdiam, kemudian ia membalas pelukan Myungsoo dan tidak bersuara sedikitpun. Setidaknya, ia merasa sedikit tenang karena pelukan Myungsoo. Pelukan hangat yang menemaninya di malam hari ini. Malam yang begitu dingin dan menusuk kulitnya.

Kyuhyun menggerakkan tungkainya malas, serta Tzuyu dengan lemas mengekori sang kakak. Kini keduanya telah berada di perusahaan. Terpaksa bagi Kyuhyun karena harus menuruti perkataan ayah dan tentu saja sang adik yang sedari tadi mendesaknya. Kyuhyun membuka pintu ruang pribadi ayahnya ketika telah mendapat ijin dari sekertaris kebanggaan sang ayah.

Daddy, aku datang. Sesuai dengan perintahmu melalui bocah ingusan ini” ucap Kyuhyun sembari mengarahkan matanya sekilas ke arah Tzuyu yang berada di samping kanan-nya.

Ya! Aku bukan bocah ingusan!” gertak Tzuyu tidak suka. Ayah Kyuhyun membalikkan kursi kerjanya yang sangat di sukai. Pria berumur setengah abad lebih itu tersenyum senang atas kedatangan putra sulung-nya.

“Kenapa Daddy memintaku datang ke sini? Aku baru saja pulang dari London Daddy…” ayah Kyuhyun mengangguk pelan menanggapi perkataan anak pertamanya.

“Kyu, besok jadwalmu ke Seoul ‘kan?” ujar sang ayah. Kyuhyun mengangguk dengan wajah seriusnya.

“Apa kau sudah mempersiapkan semuanya? Termasuk dengan berkas-berkas penting perusahaan?” lagi-lagi Kyuhyun mengangguk.

“Apa? Oppa akan pergi ke Seoul besok? Kenapa Daddy tidak memberitahuku? Aku ingin sekali pergi ke Seoul Dad… Aku merindukan Seoul, aku ingin bertemu dengan keluarga Dasom eonnie…” ujar Tzuyu manja. Kyuhyun memutar bola mata-nya malas, ingin rasanya pria itu menghantam kepala Tzuyu ke dinding sekarang juga. Namun, mustahil baginya untuk melakukan hal tersebut.

“Untuk apa kau ingin bertemu dengan keluarga Dasom?” tanya Kyuhyun menginterupsi.

Tzuyu mengerucut kesal, “Dasom eonnie memiliki lima ekor anak anjing yang sangat lucu. Aku ingin melihat dan mengambilnya satu. Dasom eonnie telah mengijinkanku”

Kyuhyun menggeleng atas ucapan Tzuyu yang begitu kekanakan. Tuan Cho menatap putri bungsu-nya dengan sebuah senyuman. Sembari menggeleng, tuan Cho menopang dagunya dengan kedua tangan.

“Tzuyu, kenapa kau ingin menemui calon istri kakakmu? Daddy akan mengijinkannya, asalkan kakakmu tidak merasa terganggu” ujar tuan Cho menatap Kyuhyun. Kyuhyun mendegus pelan, kemudian menggeleng pelan. Tzuyu yang melihat reaksi Kyuhyun-pun mengerucut kesal. Dan dengan gemas-nya hal tersebut membuat tuan Cho terkekeh di tempat.

Nah Tzuyu sayang, kau melihat jika kakakmu tidak mengijinkan bukan?” ujar tuan Cho. Tzuyu mendegus kesal.

“Aku ingin ikut Daddy…” Tzuyu bersidekap, ia tengah merajuk dengan ekspresi imut yang membuat siapa saja akan luluh karena melihatnya. Termasuk dengan Kyuhyun yang selama ini menjadi seorang kakak bagi gadis cantik berumur tujuh belas tahun itu. Kyuhyun mendegus pelan, memejamkan mata sejenak kemudian menatap ke arah sang ayah.

“Baiklah Dad, aku akan mengurus keberangkatan Tzuyu besok pagi”

Seketika itu, Tzuyu tersenyum senang dan melompat-lompat seraya menyebutkan nama Kyuhyun berulang kali. Kyuhyun hanya mampu menggeleng, terasa seperti menimpali dengan perkataan yang salah. Benar-benar salah.

“Bocah ini pasti akan mengacaukan segalanya”

Yuri menggeliat pelan ketika dengan lancangnya seorang Kim Myungsoo membuka tirai jendela kamarnya. Sehingga dengan tidak diharapkannya, sinar matahari yang begitu terang menusuk indera penglihatannya. Myungsoo mengacak surai Yuri dengan cepat, sehingga sang pemilik surai kecokalatan itu terganggu dan beranjak duduk.

“Myungsoo, kau mengganggu tidurku…” ucap Yuri di saat ia usai menguap lebar. Myungsoo menggeleng pelan.

“Yang kuingat, hari ini kau harus mengajar di aula bagian barat gedung universitas” ujar Myungsoo berdiri tidak jauh dari tempat Yuri. Setelah yakin jika indera penglihatannya berkinerja dengan baik, Yuri menatap seorang Kim Myungsoo dari atas sampai bawah. Begitu seterusnya. Dan pada akhirnya mengundang hembus napas kecewa dari Yuri.

Mengenakan pakaian anak sekolah menengah akhir, dan bersiap dengan tas ransel hitam-nya. Penampilan Myungsoo sam seperti kemarin.

“Myungsoo? Kau akan menyamar? Lagi?”

Mendengar pertanyaan Yuri membuat Myungsoo mendegus pelan. Myungsoo menghampiri Yuri dan mengangguk. “Jika ini bukan karena tugas dan kepentingan negara, aku tidak akan melakukan semua ini”

Yuri tertunduk, “Aku mengerti”

Terkadang, hal seperti inilah yang membuat Myungsoo tidak fokus dalam menjalankan misi. Pria itu sangat tidak ingin meninggalkan Yuri sendiri, beserta dengan kenangan pahit yang mungkin saja terlintas dengan sendirinya di benak Yuri. Bahkan dalam kejauhan, pria itu berharap jika Yuri tidak akan menitihkan air mata barang satu maupun dua tetes. Ia paling benci ketika melihat seorang yang paling dicintai menangis. Terlebih jika orang itu menangis karena dirinya. Myungsoo sangat membenci hal tersebut demi apapun.

“Aku berjanji, selepas menyelesaikan penyamaran. Sore ini, aku akan membawamu jalan-jalan. Bagaimana?” wajah manis gadis itu sedikit terangkat. Yuri mengangguk pelan dengan senyum tipis yang terlihat dipaksakan. Myungsoo yang melihat senyum terpaksa itu tidak mampu berbuat apapun.

“Baiklah… Kau harus bersiap, aku akan mengantarmu ke universitas” Myungsoo beranjak, kini pria itu tengah merapikan pakaiannya di depan cermin besar milik Yuri.

“Aku mengambil cuti untuk beberapa hari. Semalam, tuan Jung mengijinkanku” Myungsoo menghentikkan pergerakan tangannya. Pria itu berbalik dengan menaikkan satu alisnya.

“Benarkah? Kalau begitu kau yang mengantarkanku ke sekolah” ujar Myungsoo.

“Aku? Kenapa harus aku?” bingung Yuri menunjuk dirinya sendiri. Myungsoo mengangguk dan tersenyum manis diiringi sebuah kedipan mata yang menggoda. Tapi tidak bagi Yuri karena hampir setiap hari melihat kedipan mata tersebut.

“Kau harus mengantarkanku sekaligus untuk memastikan jika tidak ada gadis yang lebih cantik dari dirimu di sana” ucapan Myungsoo seketika membuat wajah manis Yuri menampilkan seulas senyum manis yang mempesona banyak lelaki di luar sana.

“Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika ada banyak lelaki di luar sana yang mengagumiku” pada saat itu juga Myungsoo membulatkan kedua netra-nya tidak percaya mendengar perkataan Yuri yang di luar dugaan.

Ya! Tidak bisa seperti itu, tidak ada yang boleh mengagumimu selain aku!”

“Tzuyu? Lepaskan tanganku atau aku akan melemparmu dari atas sini” ujar Kyuhyun ketika Tzuyu mengeratkan genggamannya pada lengan Kyuhyun. Gadis itu takut akan ketinggian. Maka di dalam pesawat, yang Tzuyu lakukan hanya menahan rasa takut dan menggenggam tangan sang kakak sedikit bergetar. Tzuyu tidak mempedulikan perkataan Kyuhyun dan tetepa menggenggam tangan sang kakak.

“Ini salah satu alasan mengapa dari awal aku tidak ingin kau ikut” gumam Kyuhyun dengan manik yang terfokus pada novel yang di bawa. Tzuyu menoleh ke arah sang kakak.

“Kau menyebalkan oppa!

“Kau lebih menyebalkan, sebentar lagi kita sampai di bandara. Lepaskan tanganku atau aku akan melemparmu dari atas sini” ancam Kyuhyun dengan tatapan tajam. Tzuyu melepaskan genggamannya, masih dengan tangan bergetar. Untuk mengatasi rasa takutnya, gadis itu menggenggam pegangan kursi penumpang dengan erat.

Kyuhyun memutar bola mata malas ketika melihat tingkah adiknya yang benar-benar merepotkan. Benar apa prediksi pria itu sebelumnya. Mengijinkan Tzuyu pergi ke Seoul sama dengan mengijinkan seekor semut mampu mengangkat sebuah mobil. Yang pada intinya sama-sama merepotkan dan mustahil jika mampu melakukan hal tersebut dengan baik.

Lima menit kemudian, pesawat lepas landas dan seluruh penumpang bergegas turun. Begitu juga dengan Tzuyu yang bergegas turun karena ingin memuntahkan isi perutnya. Kyuhyun hanya mampu terdiam menyikapi tingkah Tzuyu yang benar-benar…

Sudahlah, lebih baik Kyuhyun membawa barang-barangnnya sendiri dan menunggu Tzuyu di sisi utama bagian dalam bandara. Itu lebih baik daripada mengikuti Tzuyu ke toilet. Kyuhyun mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang panjang yang saling berjejer di bagian dalam bandara. Pria itu mengedar pandang, mencari keberadaan seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.

Wanita yang selama ini selalu mendukungnya dalam jauh dengan berbagai kata semangat yang sangat berguna. Kyuhyun tersenyum sendiri, sembari mengingat wajah cantik wanita itu.

“Kyu? Kaukah itu?” Kyuhyun menoleh ke arah samping kirinya. Sekitar lima langkah dari keberadaannya, terdapat seorang wanita dengan pakaian anak sekolah menengah akhir. Wanita itu tampak anggun dengan pakaian tersebut.

“Dasom? Apa yang kau lakukan pada pakaian sekolahmu?” tanya Kyuhyun ketika melihat pakaian yang dikenakan Dasom saat ini. Karena yang jelas, wanita itu telah lulus dari masa sekolahnya empat tahun lalu.

“Kau tidak tahu jika aku sedang menyamar?” timpal Dasom menghampiri Kyuhyun dengan senyuman. Kyuhyun menaikkan satu alisnya, kemudian menatap Dasom lamat.

“Terserahmu saja, aku akan mendukung apapun yang kau suka” mendengar perkataan Kyuhyun membuat senyum di wajah wanita itu kian merekah. Serta semakin memperlihatkan betapa cantik dan anggunnya seorang Kim Dasom dengan balutan pakaian anak sekolah.

“Dimana Tzuyu?” tanya Dasom sembari mengedar pandang.

Kyuhyun merengkuh bahu wanita itu dan membawanya merajut langkah kecil, “Di toilet, dengan sebuah guncangan hebat yang harus di keluarkan dari perutnya”. Dasom terkekeh ketika mendengar jawaban Kyuhyun atas pertanyaannya.

“Baiklah, aku akan mengiriminya pesan jika kita menunggu di luar” Kyuhyun mengangguk dan menatap calon istrinya lamat. Kim Dasom memang calon istri idaman. Tidak salah jika ia mendapatkan wanita seperti Kim Dasom.

Yuri turun dari mobil, begitu juga Myungsoo dengan wajah arrogant yang selalu ia gunakan dalam penyamaran dan berinteraksi dengan orang lain. Yuri tersenyum manis, hal itu membuat beberapa pasang mata menatap ke arahnya kagum. Lagipula, orang mana yang tidak akan terpeson ketika melihat senyuman seorang Kwon Yuri melebihi seorang bidadari.

Myungsoo berdecak kesal ketika senyuman Yuri menimbulkan dampak yang cukup besar bagi beberapa orang di sekitar-nya. Myungsoo menghampiri Yuri yang sibuk membenahi isi tas kecilnya. Dengan cepat, Myungsoo menghimpit tubuh Yuri menyisakan sedikit jeda.

“Yuri, jangan tersenyum seperti itu. Aku tidak ingin ada lelaki lain yang melihat senyuman itu kecuali aku” ujar Myungsoo pelan namun penuh penekanan di kalimat terakhir. Yuri tersenyum tipis, tidak salah jika selama ini ia selalu mempercayai Myungsoo demi apapun.

Yuri mengangguk mantap, hal itu membuat Myungsoo menjauhkan jarak dengannya. “Baiklah nona Kwon, kuharap kau dapat beristirahat dengan baik dan aku akan membawamu berkencan”

Selepas hal tersebut, Myungsoo menggerakkan tungkainya memasuki sekolah yang dulunya memang tempat dirinya dan Myungsoo menimba ilmu. Sebenarnya, timbul sedikit rasa kecewa ketika Myungsoo harus menjalankan misi rahasianya –lagi. Yuri memasuki mobil dengan degusan malas.

Ia mengambil cuti selama lima hari. Sekarang ia tidak tahu harus melakukan apa untuk mengisi waktu cuti-nya. Mustahil bagi dirinya untuk menghabiskan waktu dengan Myungsoo selama lima hari penuh tanpa penuh hambatan. Pekerjaan Myungsoo selalu berlarian dengan waktu. Tidak ada waktu yang tepat bagi Myungsoo dan dirinya untuk sekedar berlibur ke luar kota. Padahal, Yuri sangat menginginkan hal tersebut. Hal yang sangat mustahil untuk terjadi.

“Myungsoo, aku sangat berharap kau akan menyelesaikan misi-mu dengan cepat dan menghabiskan waktu bersama sampai aku mati”

Kyuhyun menghentikkan mobil mewah hitam miliknya –yang di bawa Dasom ketika menjemput di bandara, tepat di depan gedung sekolah menengah ke atas yang sangat elit. Dasom dengan seutas senyum merekah, menatap ke arah Kyuhyun lamat.

“Kyu, jemput aku pukul lima sore. Setelah itu aku terbebas dari misi hari ini” ujar Dasom merapikan pakaiannya. Kyuhyun menatap wanita cantik itu sendu. Dasom melepaskan senyum manisnya ketika melihat tatapan seorang Cho Kyuhyun seperti itu.

“Kyu, kenapa?” Kyuhyun menggeleng dengan mengulum senyum. Dasom tidak ingin mengambil masalah, maka dari itu ia bergegas turun dan melaksanakan misi rahasiasnya.

“Kyu, jika kau membutuhkan sesuatu, hubungi saja aku” ujar Dasom membuat Kyuhyun berdecih pelan.

“Seharusnya aku yang mengatakan hal seperti itu Kim Dasom…” Kyuhyun tersenyum ketika wanita cantik itu kembali menampilkan senyum malaikatnya.

“Terserahmu saja Kyu… Aku pergi dulu, temanku sudah menunggu” Kyuhyun mengangguk mengiyakan. Dasom berlalu dengan cepat, kini menyisakan Kyuhyun yang terdiam dan tanpa di sadari jika terdapat seorang gadis cantik terlelap di kursi belakang. Siapa lagi jika bukan Tzuyu, gadis itu memang merepokan –seperti kata Kyuhyun.

Kyuhyun tidak melajukan mobilnya segera, pria itu terdiam sejenak serta mengambil napas dalam-dalam dari udara segar kota Seoul yang baru di datangi-nya ini. Matanya yang terpejam kini terbuka, dwimanik-nya meneroka ke arah pengguna jalan yang lain. Hingga ia menatap ke arah mobil hitam yang terparkir tepat di jalur yang sama dengan mobilnya pada posisi berhadapan.

Wanita yang memiliki surai kecoklatan cukup panjang dan mengenakan pakaian berlengan panjang berwarna hitam. Hanya itu yang terlihat jelas dari si pemilik mobil. Sayangnya, wajah wanita itu tertutupi oleh silau-nya pantulan sinar matahari yang memantul di kaca mobil.

Merasa tidak ingin membuang waktu lebih, Kyuhyun melajukan mobil-nya. Terlebih dengan keadaan Tzuyu yang di landa sebuah kemualan.

“Gadis ini benar-benar merepotkan…”

Dan setelah ia beranjak pergi, maka mobil hitam yang berada di hadapan-nya pun ikut meninggalkan sekolah tersebut.

Kyuhyun melangkah pelan ketika ia tiba di sebuah kediaman mewah yang bernuansa Eropa. Warna coklat muda dan krim menjadi perpaduan yang indah bagi rumah tersebut. Di belakang-nya berjalan-lah Tzuyu dengan wajah lemas. Dampak negatif menaiki pesawat bagi Tzuyu masih berlaku sampai saat ini. Dan hal tersebut membuat Kyuhyun harus menghembuskan napas kesal-nya berulang kali.

Oppa! Ini rumah siapa?” tanya Tzuyu dengan parau-nya. Kyuhyun menghentikkan langkahnya, kemudian menatap sang adik dengan tatapan datar.

“Ini rumah-ku sewaktu berada di Seoul, dan sekarang akan menjadi rumah-ku lagi” Tzuyu mengangguk mendengar perkataan sang kakak. Masuk akal bagi Tzuyu untuk bertanya tentang kepemilikian rumah indah di hadapan-nya tersebut. Gadis itu lahir di Taiwan dan bertempat tinggal di New York bersama dengan keluarganya.

“Masuklah! Sebelum seluruh isi perut-mu berada di halaman ini” titah Kyuhyun.

Tzuyu mengangguk dengan lemas, dengan cepat gadis itu masuk. Di ikuti dengan beberapa pelayan yang membawakan barang-barang keduanya. Kyuhyun tidak melihat kepergian sang adik. Melainkan melihat rumah indah-nya tersebut begitu lamat. Teringat sesuatu ketika Kyuhyun menginjakkan kaki di rumah lama-nya itu. Sesuatu yang sebelumnya telah ia biarkan dan entah mengapa ia mengharapkan hal tersebut kembali lagi.

“Yuri, aku kembali ke sini…”

Yuri membuka pintu apartemen, dengan berat hati ia harus meluangkan waktu-nya seharian ini untuk membersihkan apartemen. Setidaknya, selagi menunggu seorang Kim Myungsoo kembali dari misi rahasianya. Yuri dan Myungsoo bertempat tinggal di satu apartemen. Keduanya memutuskan untuk tinggal bersama karena pihak keluarga Yuri-lah yang memperintahkan keduanya.

Selepas kejadian empat tahun lalu, Yuri tidak mampu mengendalikan dirinya sebaik mungkin. Kedua orang tua-nya yang berada di Busan memberikan petuah kepada Myungsoo untuk menjaga Yuri ketika berada di Seoul. Kedua orang tua Yuri tahu jika anak semata wayang-nya itu ingin meraih keinginan di ibukota. Dan tidak mungkin bagi kedua orang tua Yuri untuk mengubur keinginan anak kesayangannya.

Bahkan, apartemen yang keduanya tempati merupakan apartemen milik ibu Yuri sewaktu muda berada di Seoul. Dan tanpa ragu, kedua orang tua wanita itu mempersilahkan seorang Kim Myungsoo untuk bertempat tinggal di sana. Dengan syarat, pria itu tidak akan menyakiti Yuri dan harus menjaga seorang Kwon Yuri tanpa henti.

Lamunan Yuri memecah ketika ia berjalan dan melihat kondisi kamar Myungsoo lebih parah dari-nya. Seluruh pakaian serta berbagai buku mengenai penyelidikan berceceran di sana-sini. Yuri menggeleng dengan mata terpejam, nampaknya hari ini akan lebih melelahkan dari hari kemarin.

“Kim Myungsoo, aku akan membunuhmu setelah ini” ucapnya berangsur mengambil satu-persatu barang Myungsoo yang berceceran di mana-mana. Terpaksa Yuri harus membersihkannya, wanita itu tidak akan tahan jika ia harus berada di dalam kondisi seperti ini.

Barang-barang yang berserakan?

Rasanya Yuri ingin mengenyahkan barang-barang tersebut demi apapun. Yuri terdiam sejenak ketika melihat sebuah cupcake berada di meja kerja Myungsoo. Wanita itu terdiam dan menatap jam dinding di kamar Myungsoo.

Ah! Lebih baik setelah ini aku membantu bibi di toko kue. Tidak mungkin jika seharian ini aku harus berdiam diri di rumah ‘kan?” Yuri bermonolog diiringi penjiwaan ekspresi yang tepat atas kata-katanya.

“Baiklah… Aku harus membereskan kamar si tampan ini” Yuri kembali melanjutkan kegiatannya membersihkan kamar Myungsoo secepat mungkin. Agar setelah ini ia dapat menghabiskan waktu di toko kue sang bibi.

Kyuhyun menata barang bawaannya dengan rapi. Tidak lupa, ia membenahi kembali posisi barang-barang asli di kamar itu seperti sedia kala. Terlalu banyak kenangan yang berada di rumah lama-nya ini, begitu juga dengan kamar-nya yang telah menjadi saksi bisu atas segala keluh-kesahnya.

Seorang mengetuk pintu kamar-nya, membuat Kyuhyun menghampiri pintu berwarna cokelat tua itu dan memutar kenop-nya. “Aish… Ada apa lagi? Jangan merepotkanku lagi Tzuyu…” gerutu Kyuhyun seraya menatap wajah adiknya malas.

Oppa! Daddy memperintahkan kita untuk segera datang ke perusahaan setelah ini” ujar Tzuyu yang terlihat lebih baik dengan sebuah apel di tangan-nya.

“Apa? Setelah ini? Apa Daddy tidak memikirkan betapa lelah-nya aku hari ini?” Kyuhyun berdecak malas, ia tidak berpikir jika ayah-nya memperintahkannya untuk bergerak cepat setelah lepas landas dari bandara. Tidakkah ayah-nya memikirkan betapa lelah-nya putra sulung-nya itu?

“Baiklah, aku akan bersiap” dan dengan berat hati –lagi, Kyuhyun menuruti perintah dari sang ayah tercinta.

Hari demi hari kian berlalu, seiring berjalannya waktu banyak hal yang terlewati dengan begitu saja. Bahkan, seringkali banyak orang yang menyesali akan betapa cepat-nya detik berlangsung dan menempuh waktu baru. Dunia semakin tua, dengan segala perbuatan yang tidak lebih dari sebuah kebaikan. Begitu juga dengan yang seorang Kwon Yuri pikirkan kali ini. Cuti lima hari-nya telah berakhir dan hal itu tidak membuat dirinya mampu menghabiskan waktu sebaik mungkin. Apalagi bersama dengan Myungsoo, lebih baik ia mengajar di universitas pada pagi hingga sore daripada harus menunggu seorang Kim Myungsoo pulang ke apartemen selama itu.

Yuri berjalan di lorong lanai tiga diiringi sebuah lamunan, ia telah menyelesaikan kegiatan mengajarnya di aula bagian kanan gedung. Tungkainya terhenti, ia menyempatkan kedua netra-nya untuk menatap pemandangan kota Seoul dari lantai tiga yang tidak terlalu tinggi.

Dan tiba-tiba sepasang tangan kekar menutup kedua mata indahnya. “Myung? Apa ini kau?” ujar Yuri menerka. Sedangkan orang tersebut menarik tangannya dan berada di samping Yuri.

“Myungsoo? Kenapa kau…” bingung Yuri ketika Kim Myungsoo berada di hadapan-nya dengan kemeja kotak-kotak merah dan jeans kebanggannya.

“Sekarang kau tidak perlu merasa khawatir, karena aku akan selalu berada di sisi-mu” Myungsoo mengedipkan matanya.

“Prok… Prok… Prok…”

Sebuah tepukan datang dari arah belakang Yuri. Yuri menoleh dan mendapati seorang wanita cantik yang mengenakan dress selutut dengan anggun. “Salam kenal nona Kwon, aku Kim Dasom…”. Dasom mengulurkan tangannya, Yuripun menjabat tangan Dasom dengan seutas senyuman.

“Dia partner-ku Yuri, jangan salah paham. Dia juga telah bertunangan dengan orang lain” Myungsoo menambahkan, Yuri menatap Myungsoo dengan anggukan kecil.

“Kami bertugas di sini, tolong bantu kami nona Kwon…” Dasom menunduk di akhir perkataannya. Yuri tersenyum dan menatap wanita yang terlihat lebih muda satu tahun darinya itu.

“Tentu Dasom, dengan senang hati aku akan membantu kalian” Dasom membalas senyuman Yuri setelah mendengar perkataan dosen cantik itu. Kemudian Dasom menatap Myungsoo dengan tatapan meremehkan.

“Myung, lain kali aku akan membawa tunangan-ku ke sini. Jadi tunggu saja…” Myungsoo berdecak pelan. Dasom bersidekap dengan tatapan sarkastik. “Tersersahmu saja Kim Dasom…”

“Baiklah, aku yakin sebentar lagi tunangan-ku akan datang”

Yuri yang melihat perdebatan kedua orang tersebut hanya mampu menggeleng dan tersenyum. Entah mengapa, Yuri penasaran dengan calon suami Dasom. Yuri benar-benar ingin tahu. Entah mengapa, sesuatu dalam batinnya bergetar tidak seperti biasanya.

Oppa! Kau harus datang ke universitas Seoul pukul empat sore nanti” Tzuyu berujar dengan seberkas dokumen di tangan-nya. Kyuhyun mengangguk mengiyakan, sementara dwimanik pria itu terfokus pada komputer yang berada di hadapan-nya. Ada beberapa dokumen penting yang harus di selesaikan hari ini juga. Dan Kyuhyun harus benar-benar menyelesaikannya sebelum pukul empat sore nanti.

Tzuyu mendegus pelan, kegiatannya di Seoul tidak sebanding dengan perkirannya. Ia mengira jika ia akan bersantai dan bermain dengan salah satu anak anjing milik Dasom. Namun kenyatannya, gadis cantik itu harus menggantikan posisi sekertaris Kyuhyun di perusahaan. Sekedar mengatur jadwal dan membantu menyelesaikan berkas lainnya.

“Tzuyu, bawakan aku berkas-berkas penting mengenai universitas Seoul!” seru Kyuhyun tidak mengalihkan pandangannya sendikitpun dari komputer. Tzuyu menghembuskan napas besar, gadis itu tidak langsung pergi melainkan beristirahat sejenak.

Oppa, aku ingin kembali ke New York…” lirih Tzuyu yang dapat terdengar oleh kedua rungu Kyuhyun. Kyuhyun menatap adik-nya dengan berat hati. Ada banyak hal yang harus dilakukan, dan Tzuyu mengusik waktu bekerjanya siang ini.

“Dari awal aku sudah mengatakannya Tzuyu. Jika kau ingin kembali, kembali menggunakan uangmu sendiri, jangan memintaku. Lagipula kenapa kau terlalu memaksa, kau membingungkan…” Tzuyu mengerucut kesal, memang benar mengenai perkataan kakak-nya itu. Namun, gadis itu merasa jika semua ini bukan salahnya.

“Baiklah, aku akan mengambilkan berkas-berkasnya. Tapi ijinkan aku menemanimu ke universitas Seoul bersamamu nanti” Tzuyu berada di ambang pintu. Kyuhyun mengangguk pasrah, setidaknya dengan hal tersebut-lah adik satu-satunya itu tidak akan mengeluh lagi. Meski untuk hari ini.

Selepas kepergian Tzuyu, Kyuhyun menyandarkan dirinya sejenak. Pekerjaan yang kian berdatangan membuat ia tidak pernah menyempatkan waktu untuk sekedar berjalan-jalan serta menghirup udara segar dengan baik. Bahkan ia hampir lupa jika ia tengah berada di Seoul.

Seoul dan New York.

Baginya sama saja. Setiap hari selalu di penuhi oleh pekerjaan dan harus terselesaikan. Perbedaannya hanya tempat dan nama tempat itu. Akan tetapi ada satu hal lagi yang membuat Kyuhyun lebih menyukai berkerja di Seoul daripada di New York.

Di kota inilah tempat dirinya bertemu dengan seorang gadis bernama,

“Kwon Yuri…”

Kyuhyun melangkah keluar dari gedung perusahaan. Dengan sebuah koper yang berisi berkas-berkas penting, serta tidak lupa dengan Tzuyu yang senantiasa mengekorinya. Kyuhyun menilik ke arah jam tangannya. Pria itu benar-benar terlambat, pukul empat sore seharusnya ia tiba di universitas Seoul. Namun karena ia harus menyelesaikan semua berkas-berkas penting, maka ia akan tiba setidaknya hampir menginjak pukul lima sore.

“Ini semua karena ulahmu yang tidak ingin membantuku” gerutu Kyuhyun kepada sang adik setelah memasuki mobil. Tzuyu terperangah kesal dan tidak mampu mengatakan sepatah kata apapun.

Mobil hitam itu melaju cukup kencang, mengejar waktu dengan perjanjian yang telah di tentukan sebelumnya. Kyuhyun fokus menyetir, sedang Tzuyu mengamati pemandangan sekitar. Kini yang terlintas di benak Kyuhyun hanya ‘Pukul berapa sekarang?’, perkaranya pria itu bisa saja mendapat sebuah amukan dari sang ayah dari telepon. Itu cukup mengerikan, meski hanya melalui sebuah ponsel.

Ponsel Kyuhyun berdering, Tzuyu menoleh dan menawarkan diri untuk menjawab panggilan masuk yang berasal dari Dasom. Terlebih ponsel Kyuhyun berada di dalam koper yang kini berada pada pangkuan Tzuyu.

“Halo? Kyu? Kau dimana? Kepala sekolah menantimu” Dasom berujar dengan nada cemas. Kyuhyun yang mendengar ucapan Dasom kini memerintahkan Tzuyu untuk mendekatkan ponsel dengan dirinya.

“Dasom? Katakan kepada kepala sekolah untuk menungguku sekitar sepuluh menit lagi. Aku akan segera datang, aku sedang dalam perjalanan menuju ke sana” balas Kyuhyun yang masih fokus menyetir.

“Baiklah Kyu, kepala sekolah selalu bertanya padaku. Cepatlah, ini hampir pukul lima sore dan kau benar-benar mengulur waktu”

“Iya Dasom, aku akan segera datang. Kau hanya perlu menunggu dan menyelesaikan misi-mu dengan baik. Ingat! Jangan sampai rahasiamu terbongkar, mengerti?” ujar Kyuhyun.

“Iya Dasom, aku akan segera datang. Kau hanya perlu menunggu dan menyelesaikan misi-mu dengan baik. Ingat! Jangan sampai rahasiamu terbongkar, mengerti?”

Dasom tersenyum pada tempatnya. Kini ia berada di sisi paling utara dari cafetaria. Terdapat Yuri dan Myungsoo yang kini telah menunggu-nya di salah satu meja yang cukup jauh dari keberadaannya sekarang.

“Aku mengerti Kyu, hati-hati di jalan” Dasom menutup sambungan teleponnya dengan Kyuhyun. Entah mengapa, ia merasa jika Kyuhyun perlahan telah memiliki rasa terhadapnya. Wanita itu pernah meragukan calon suami-nya tersebut ketika mendengar kisah Kyuhyun saat berada di Seoul empat tahun lalu. Ia mendengar hal tersebut dari bibi Kyuhyun yang sat itu selalu mengintai pergerakan Kyuhyun sekecil apapun.

Ia telah bersusah payah menolak perjodohan tersebut karena ia yakin jika seorang Cho Kyuhyun tidak akan pernah memiliki perasaan yang sama seperti mantan kekasih-nya dulu. Akan tetapi, melihat perhatian Kyuhyun selama ini kepadanya cukup meningkat, Dasom segera menepis pemikirannya untuk membatalkan perjodohan ini.

Setelah cukup lama menganggurkan kedua teman barunya. Dasom menghampiri Yuri dan Myungsoo yang sibuk dalam argumen masing-masing. Dasom tersenyum setelah mendudukkan diri di hadapan kedua-nya.

“Maaf membuat kalian menunggu cukup lama” ucap Dasom. Yuri menggeleng pelan, “Tidak masalah, aku cukup terhibur karena memiliki teman baru sepertimu, Dasom…”

Dasom tersenyum simpul, “Sebentar lagi tunanganku akan tiba di sini”.

Perkataan Dasom sukses membuat dua orang di hadapan-nya tersenyum senang. “Baguslah, dengan begitu aku akan melihat pria yang beruntung memiliki tunangan sepertimu” ucap Yuri.

“Berbicara tentang tunangan-mu itu, siapa dia?” tanya Myungsoo.

“Astaga Myungsoo… Jadi selama kalian menjadi partner, kau tidak mengetahui siapa tunangan-nya?” seru Yuri menatap Myungsoo dengan mata membulat. Myungsoo menggigit bibir bawah-nya menahan gemas melihat wajah Yuri saat ini.

Myungsoo menggeleng, “Tidak, aku tidak pernah mengetahuinya. Lagipula Dasom selalu menyembunyikan identitas tunangan-nya itu kepadaku”. Dasom terkekeh ketika Myungsoo berkata sedemikian.

“Lalu Dasom, siapa pria itu?” sahut Yuri.

Dasom tersenyum simpul dan menggeleng pelan, “Kalian akan mengetahuinya nanti, dia akan datang ke sini”.

“Untuk apa tunangan-mu datang ke sini?” tanya Myungsoo dengan raut wajah penasarannya.

“Dia merupakan putra pertama dari salah satu perusahaan yang terkenal di New York dan memiliki cabang di Seoul. Dia kembali ke Seoul karena harus melanjutkan bisnis ayah-nya disini. Dia berada di New York selama empat tahun, namun kali ini di kembali. Dia datang ke sini karena harus menandatangani kerja sama dengan salah satu program pendidikan di sini” perjelas Dasom sembari menatap cappucino-nya yang hampir dingin.

Yuri dan Myungsoo yang mendengarnya hanya mampu diam sembari mencerna setiap perkataan Dasom. “Kau beruntung sekali memiliki tunangan seperti itu” puji Yuri dengan senyum merekah. Dasom hanya mengulum senyum, tatapan mata wanita sedikit berbeda.

Kim Myungsoo menyadarinya. Ada sesuatu yang aneh dari tatapan mata Dasom ketika mendengar pujian yang Yuri lontarkan. Serta ada yang cukup aneh setelah mendengar penjelasan Dasom. Ia merasa sangat mengenali pria yang Dasom maksud. Namun pria itu memilih untuk mengesampingkan pemikiran aneh-nya tersebut agar tidak menimbulkan kekhawatiran.

“Yuri?” tanpa sadar, ia menyerukan nama Yuri. Yuri menoleh dan merasa aneh mendapati ekspresi Myungsoo yang tidak seperti biasanya.

“Ada apa Myungsoo?”

Myungsoo terdiam, kemudian menggeleng dan mencoba untuk tersenyum.

Kyuhyun mendegus lega setelah ia keluar dari ruang kepala sekolah universitas Seoul. Akhirnya ia telah menyelesaikan kerja sama dengan universitas Seoul. Jika tidak, pria itu sama seperti membiarkan seorang pencuri merebut semua barang berharga-nya. Kehilangan satu kontrak sama dengan kehilangan satu hari dalam sejarah bisnis keluarga Cho.

Sekarang yang perlu ia lakukan yaitu mencari Dasom dan mengantarkan calon istri-nya itu pulang dengan selamat. Terlepas dari keberadaan Tzuyu sekarang ini, pria itu dapat pergi kemanapun tanpa harus menunggu Tzuyu di belakang-nya. Gadis itu memilih untuk duduk di taman universitas dengan sebuah pemutar musik. Tentu saja hal itu membuat Kyuhyun semakin lega.

Kyuhyun mengeluarkan ponsel-nya serta mencari nama ‘Kim Dasom’ pada kontak telepon. Kemudian tanpa mengulur waktu, Dasom bergegas menjawab panggilan telepon dari Kyuhyun.

“Halo? Kyu?” suara Dasom hampir tenggelam karena keramaian yang berada di sekitar wanita itu. Kyuhyun mengerutkan keningnya bingung ketika Dasom berada di tempat yang di yakini-nya cukup ramai.

“Dasom, kau dimana? Aku baru saja menyelesaikan kontrak dengan kepala sekolah. Aku akan menghampirimu dan mengantarkanmu pulang setelah ini” ujar Kyuhyun mendekatkan ponsel-nya ke telinga.

Di seberang sana, Dasom membalas dengan sebuah anggukan yang tidak dapat di lihat oleh Kyuhyun. “Aku di cafetaria Kyu, di lantai dua” balas wanita itu masih dengan suara anggun-nya.

“Baiklah, tunggu aku. Aku akan segera pergi ke sana” dan Kyuhyun memutuskan sambungan telepon tersebut serta merajut langkah ke lantai dua. Kyuhyun tidak ingin mengulur waktu, karena jika ia mampu menemukan keberadaan Dasom saat ini dan mengantarnya pulang, maka pria itu akan sangat bersyukur dapat mengistirahat-kan pikirannya sembari berendam.

Setibanya di lantai dua, pria itu menemukan ruang besar yang bertuliskan ‘Cafetaria’ di atas-nya. Secepat mungkin bagi Kyuhyun untuk menemukan Dasom. Dan benar saja, ketika ia baru saja berada di ambang pintu, ia telah mengetahui Dasom yang duduk bersama dengan seorang wanita berpakaian rapi layaknya seorang dosen. Namun wanita yang berada di hadapan Dasom itu membalikkan badan ke arah lain dan terlihat tengah bertelepon dengan seseorang.

Kyuhyun menghampiri Dasom, tanpa ragu pria itu duduk di kursi kosong yang berada di samping calon istri-nya. “Dasom? Ayo kita pulang!” sahut Kyuhyun tepat di saat ia duduk. Dasom nampak terkejut dengan menggeleng pelan atas tingkah Kyuhyun yang sangat mengejutkan.

“Kau mengejutkanku…” ucap Dasom menatap Kyuhyun yang kini tengah tersenyum padanya.

“Sudahlah, bukankah kau pernah berkata padaku jika kau tidak menyukai keramaian? Lalu kenapa kau berada di tempat se-ramai ini? Apa ini bagian dari misi?” tanya Kyuhyun dengan seutas senyum simpul. Dasom mendegus pelan dan mengangguk. Tangan Kyuhyun terangkat untuk membelai surai wanita itu, sehingga hal tersebut menggetarkan hati Dasom.

“Baiklah, ayo kita pulang… Tapi sebelumnya aku akan memperkenalkanmu pada teman baruku” ujar Dasom menatap wanita yang berada di hadapan-nya dengan tersenyum manis. Namun wanita itu masih di sibuk-kan diri dengan panggilan telepon-nya.

Kyuhyun terdiam. Entah mengapa, sesuatu terlihat tidak asing di mata-nya. Ia seperti pernah melihat wanita yang berada di hadapan Dasom. Namun ia tidak tahu pasti di mana ia pernah melihatnya. Melihat ekspresi Dasom yang tidak ingin menganggu wanita tersebut, Kyuhyun menggapai pergelangan tangan wanita itu.

“Kurasa teman barumu itu cukup sibuk, kita harus pulang Dasom… Aku akan berjalan dulu…” pria itu beranjak dan menggerakkan tungkainya pelan sembari menunggu Dasom yang berpamitan dengan teman baru-nya.

“Yuri?”

Deg

Langkah Kyuhyun terhenti, pria itu baru saja menciptaka dua langkah. Pria itu terperangah ketika mendengar nama yang sangat tidak asing di telinga-nya. Tanpa menoleh, Kyuhyun tetap pada tempatnya sembari memikirkan nama tersebut.

Menyadari jika Dasom memanggilnya, Yuri berbalik dan menatap wanita itu dengan seutas senyuman. “Ada apa Dasom?”

Suara itu…

Suara itu sukses membuat kinerja otak Kyuhyun bekerja lebih cepat. Suara yang selama ini selalu berada pada mimpi-mimpi serta banyangannya, suara itu terdengar lebih nyata untuk kali ini.

“Aku akan pulang Yuri, tolong beritahu Myungsoo” ujar Dasom meraih tas-nya. Yuri tersenyum dan ikut berdiri.

“Dengan siapa? Apa tunangan-mu telah tiba?” tanya Yuri.

Dasom mengangguk mengiyakan, “Oh, benarkah? Dimana tunangan-mu itu? Aku ingin tahu bagaimana wajah-nya”. Yuri berkata dengan antusias, hal tersebut membuat Kyuhyun tetap terdiam pada tempat-nya. Dasom masih saja tersenyum dan menunjuk ke arah Kyuhyun yang kini membelakangi-nya.

“Itu, dia tunanganku” Yuri menatap ke arah yang di tunjuk oleh Dasom. Yuri mengernyit ketika penampilan belakang pria itu tidak cukup asing. Wanita itu seperti mengenalinya. Sesuatu dari hati-nya bergetar. Sedikit demi sedikit hingga sang pria membalikkan badannya atas perintah Dasom.

Perlahan, Kyuhyun membalikkan badannya. Dan hal pertama yang pria itu dapatkan adalah tatapan terkejut dari seorang Kwon Yuri. Pada saat itupun, Myungsoo datang dengan dua buah softdrink. Ekspresi Myungsoo tidak jauh berbeda dengan tatapan Yuri saat ini. Menunjukkan sebuah keterkejutan yang luar biasa. Keduanya tidak pernah berpikir jika mereka akan bertemu dengan pria bermarga Cho yang selama ini telah pergi ke luar negeri –entah dimana itu.

Kyuhyun menatap ke arah lantai, selanjutnya pria itu menatap kedua orang yang sangat terkejut. Dalam benak Kyuhyun, ia sama terkejutnya dengan kedua insan yang berada di hadapan-nya tersebut. Akan tetapi, ia harus menutupi ekspresi tersebut dengan baik. Untuk memperlihatkan jika ia dalam keadaan baik-baik saja dan sama sekali tidak mengharapkan pertemuan ini.

Meski hati pria itu berkata sebaliknya.

Kyuhyun menyeringai kecil, dengan kedua tangan yang di tenggelamkan di saku celana.

“Hai,” Kyuhyun berujar. Hati Yuri bergetar. Benar-benar bergetar lebih hebat dari sebelumnya. Kim Myungsoo sesekali menatap ke arah Yuri untuk memastikan jika sesuatu yang buruk akan terjadi. Firasat Myungsoo benar. Namun pria itu tidak ingin membuat kekhawatiran pada diri Yuri. Akan tetapi, pada akhirnya seperti ini. Tidak ada yang bisa Myungsoo dan Yuri lakukan saat ini. Selain memandang seorang pria yang empat tahun lama-nya tidak pernah terlihat di netra mereka.

Menyadari jika tatapan keduanya semakin menjadi-jadi, Kyuhyun melanjutkan perkataan.

“Bagaimana kabarmu?”

Mendengar pertanyaan Kyuhyun, Dasom menatap tunangan-nya itu dengan tatapan tidak mengerti. Begitu juga ketika ia menatap Yuri dan Myungsoo yang menampilkan ekspresi terkejut.

“Apa kalian sudah saling mengenal?” Dasom bertanya-tanya. Yuri tertunduk pelan, ia ingin sekali melihat keadaan pria itu. Namun egonya telah menguasai pemikirannya. Mengingat tentang apa yang telah Kyuhyun katakan empat tahun lalu, membuat hati gadis merasa pilu.

Perkataan pria itu benar-benar membekas dan Yuri tidak dapat menepis kenangan pahit tersebut begitu saja. Dan kini, setelah empat tahun ia bersusah payah untuk menghapuskan nama pria itu, dengan sendirinya takdir berkata lain. Takdir justru membuat keduanya bertemu dalam situasi yang tidak pernah diperkirakan. Yuri membenci situasi seperti ini.

“Kyu, kalian saling mengenal?” Dasom tidak mendapat jawaban ketika bertanya ke arah Yuri dan Myungsoo. Maka dari itu Dasom bertanya kepada Kyuhyun. Kyuhyun menampilkan senyum sarkastiknya dan berujar pelan.

“Tentu, bahkan…” ujar Kyuhyun dengan dwimanik yang terfokus pada Yuri.

“Lebih dari yang kau pikir…”

TBC

Haiiii
Ini merupakan sequel dari ff Depend yang katanya bikin orang penasaran :v
Semoga suka dengan ff ini yang hanya berakhir di tiga atau empat chapter saja,
Maaf kalau ini kepanjangan banget, saya berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi readers #sokbangetdeh :v
Karena masih banyak project yang belum kelar dan aku harus menyelesaikannya
Well, angap saja Tzuyu itu aku :3

Advertisements

18 thoughts on “Numb (Chapter 1)

  1. huaaaaaaaaaa kyu mengapa kau kembali lg padahal yul sudah hampir melupakanmu dan bahagia dgn myungsoo 😥
    adegan terakhir sungguh membuat ku berdebar, deg deg deg jantungam broo ..
    tentu bahkan lebih dr yg kau pikir . huaaaaa apa kyu mau mengakui nya ??? bukannya kyu udah perhatian bgt ya ama dasom . huhuhuh
    mau kyuri tp kasian myungsoo yg slma 4thun bersama .. hiks

    Liked by 1 person

  2. Woah akhirnya sequelnya muncul jg 😀
    Aigoo, jdi Kyu sdh brtunangan 😦 apa Kyu udh gk cinta lgi sm Yuleon 😦 Hiks.. kasihan Yuleon ;(
    Dan skrg KyuRi brtmu kmbli 😦 pkoknya ditunggu bgt nextnya… 🙂 pleaseee eon, ini ff publishnya jgn lma2 ya ^^ oiya, q malah seneng bgt eon klw tiap partnya itu pnjang 😀

    Liked by 1 person

  3. Astaga seneng juga akhirnya ada sequelnya, soalnya kemaren itu emang gantung, hohoho
    merasa disini Kyuhyun kejam deh sama yuri, huwaaaa baper bacanya. jujur aja paling gak bisa baca fanfic yuri sama yang lain begitupun sebaliknya. padahal ini baru chapter awal tapi konflik batinnya udah kerasa bener apalagi detik-detik mau tbc, huwaaaa semoga next chapnya bisa cepet yah, pennasaran banget dan semoga ini happy ending Kyuri. semangat^^

    Liked by 1 person

  4. kok aq ngerasa kyuppa jahat bgt ya, dia kayaknya udh bsa ngelupain yuri dan tunangan sama dasom, kayaknya jg suka aiisshh nyebelin .. yaudah yuri sama myungso aja #efek kesel sama kyuppa hahaha … di tunggu kelanjutannya ya eon dan satu lg, eonni klo update selalu banyakkk daebakk lah 😀

    Liked by 1 person

  5. Hallo thor! Aku reader baru disini, dan ini ff pertama yg aku baca diblog ini hehe. Akhirnya aku nemu ff kyuri lagi. Dannn aku lgsng suka banget sama cerita ini dan siap buat baca ff2 author lainnya. Aku penasaran kyuhyun sm yuri sblmnya punya hubungan kah? Aku tunggu kelanjutannya thor!! Keep writing 🙂

    Liked by 1 person

  6. Eonni aku reader baru disini! Seneng banget nemu ff kyuri lagiiii… Siap untuk baca semua ff2nya!!
    Aku penasaran sebelumnya yuri dan kyu punya hubungan kah?? Pokonya lanjut trs eonni! Keep writing 🙂

    Liked by 1 person

  7. Eonni salam kenal au reader baru di blog eonni. Ijin baca y eon??? Tadi lagi nyari” ff tentang kyuri. G sengaja buka blog eonni. Waww..ceritanya daebak. Berarti ini sequel y eon??? Bolehkah au ijin baca buat ff yg lainnya eon??

    Liked by 1 person

  8. Annyeong eonni???salam kenal au imu readet baru di blog eonni. Ijin baca ff nya y eon?? Au g sengaja nemu blog eonni ketika au mencari ff kyuri. Dan WAAA…ceritanya jeongmal Daebak eon. Berarti ini sequel y eon?? Bolehkah au ijin baca buat ff yg lainnya eonni?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s