Fated (Oneshoot)

Fated - YulHan

Dear,
Kwon Yuri , Xi Luhan

Cover and story,
pure mine

HAPPY READING

“Semua ini merupakan sebuah kesalahan yang sudah lama diperkirakan”

Gelap dan dingin, deskripsi singkat mengenai malam yang berada di antara hembusan angin musim gugur. Dedaunan kian berbelok ke segala arah diiringi terpaan angin yang tengah menciptakan jalur baru. Rembulan enggan untuk menampakkan dirinya di kesunyian malam yang penuh dengan teka-teki. Suara detikan jam dinding menjadi peneman yang setia. Menunjukkan waktu yang mampu menuntun sang pemilik ruangan dengan detikan singkatnya.

Pukul 23.05,

Waktu yang tepat jika ingin menyempatkan diri untuk datang ke alam mimpi. Alam mimpi yang penuh dengan khayalan baru atas hari esok. Ilusi maupun kenyataan, semua akan terungkap dengan sendirinya jika kita telah menapaki hari esok.

Seorang Kwon Yuri bisa saja menyempatkan waktu-nya untuk menilik ke alam mimpi sejenak –jika ia menghendaki untuk terlelap di atas kasur berwarna biru-nya. Gadis itu terjaga dengan menatap ke arah langit malam yang tidak terhiaskan oleh apapun. Baik bintang maupun bulan, sepertinya mereka enggan untuk menyapa para penghuni bumi malam ini –atau mungkin gadis itu yang tidak melihat keberadaan sang bulan beserta pendamingnya.

Gadis itu duduk di sebuah kursi yang mengarah langsung ke arah pemandangan luar dari jendela kamar-nya. Gadis berparas cantik bak putri di negeri dongeng itu memejamkan mata sejenak. Setidaknya 5 menit sebelum ia menggapai benda persegi panjang yang bergetar di nakas tempat tidur.

Gadis itu menggeser sebuah perintah berwarna hijau di ponsel kesayangan. Dengan segenap rasa ingin tahunya, ia mendekatkan ponsel dengan rungu-nya. Setidaknya agar gadis itu dapat mendengarkan suara si penelepon dengan lebih jelas.

“Halo?” Yuri membuka suara. Tepat setelKwonya, sebuah hembusan napas yang tidak beraturan menyapanya. Yuri meliukkan alisnya kala ia tidak mendapatkan jawaban apapun, namun hanya sebuah hembusan napas –yang nampak seperti tengah bertarung di medan perang dengan senapan dan busur panah. Yuri menjauhkan ponsel tersebut dari rungu-nya. Gadis itu menatap nomor si penelepon yang masih tertera di layar ponselnya. Tidak ada nama keterangan atas nomor tersebut. Yang ada hanya beberapa digit angka di layar ponselnya.

“Halo? Yuri?” bertepatan saat itu, si penelepon menyerukan namanya. Yuri mendekatkan kembali ponsel tersebut ke rungu sebelah kanan.

“Yuri, aku mencintaimu…”

Kedua netra gadis itu membulat, ia mengenali dengan baik siapa pemilik suara yang tengah menelponnya. Hembusan napas itu terdengar, terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Sayup-sayup ia mendengar bunyi yang begitu asing untuk didengar. Sebuah dentingan antara kedua benda tajam –mungkin. Dentingan itu kian mengeras kala detik berlanjut. Suara aneh lainnya pun terjadi, suara yang hampir sama seperti meremas kertas yang lembaran-nya lebih dari satu. Hanya saja, suara yang terdengar dari ponsel gadis itu lebih menakutkan.

Yuri berkeringat dingin setelah didengar-nya hembusan napas si penelepon yang semakin cepat –dan semakin panik dari sebelumnya. Manik caramel-nya menilik ke segala arah, seolah turut serta dalam kepanikan yang dialami oleh si penelepon.

Hh… Hh… Hh…

Ia hanya mampu mendengar hembusan napas yang kian memburu dari detik satu ke detik selanjutnya. Angin malam mulai menerpa melalui jendela yang terbuka, membius ke bagian terluar dari kulit. Gadis itu merasa jika temperatur tubuhnya kian menurun. Dingin, dan,

Menggigil di tengah keheningan malam-

Akh!

-yang mencekam.

Yuri menggerakkan tungkainya searah dengan pergerakan angin yang menerbangkan dedaunan kering dari pepohonan sekitar. Manik caramel-nya tertohok pada selajur barisan anak kecil yang berada di samping gereja tua. Sekumpulan merpati putih melintas tepat di atas gereja –seirama dengan dentingan lonceng yang kian berbunyi.

Tungkainya terhenti. Netranya kian menyendu hanya dengan menatap sebuah pusara baru yang telah dikelilingi oleh banyak orang. Ia memejamkan matanya sejenak, menarik napas segar –yang khas aroma pemakaman. Manik-nya menatap nama yang tertera pada nisan baru tersebut.

“Oh Sehun…” gadis itu berujar pelan, sembari mengeratkan jaket hitam-nya. Langkah seorang Kwon Yuri tercipta lagi ketika ia yakin untuk mengikut-sertakan diri dalam upcara pemakaman Oh Sehun,

-sang terkasih.

Yuri berada di samping keluarga Oh dalam diam. Ia tidak ingin mengganggu suasana hikmat upacara pemakaman sang terkasih hanya karena ia membuka suara. Demi bumi dan langit serta seisinya, gadis itu mencintai Oh Sehun lebih dari apapun di dunia ini. Bagaikan negara antah berantah, hati seorang Kwon Yuri tidak kurang dari perumpaan tersebut.

Kehilangan seorang Oh Sehun bagaikan kehilangan sebuah pemimpin dalam suatu negara. Tanpa pemimpin, hidup masyarakat di dalam-nya akan terpuruk. Kwon Yuri tengah berada di siatuasi tersebut. Sebuah situasi yang menggambarkan betapa menderitanya hati kecil-nya itu. Yuririm memejamkan matanya, memohon kepada Tuhan agar sang terkasih mendapatkan yang terbaik disana.

“Bagaimana rasanya kehilangan Oh Sehun?” Yuri membuka matanya perlahan. Suara yang tidak asing dan begitu sering didengar. Ia menoleh ke arah samping kiri-nya. Gadis itu mendesah malas, kemudian kembali berdo’a.

“Bukan saat-nya kau bertanya seperti itu disaat seperti ini,” ujar Yuri yang masih terpejam. Pemuda yang berada di samping-nya menyunggikan sebuah senyum yang tidak dapat diartikan.

“Kau pikir hanya dirimu saja yang merasa kehilangan? Aku juga bodoh, Sehun sudah kuanggap sebagai saudara kandung sejak kecil. Aku hanya ingin tahu perasaanmu ketika kehilangan Sehun”

“Mengapa?” Yuri membuka mata-nya, kali ini ia cukup tertarik untuk mengikuti pembahasan pemuda di samping-nya.

“Aku hanya ingin tahu seberapa besar cinta-mu kepada Sehun. Aku tidak akan ragu untuk membunuhmu jika kau hanya mempermainkan Sehun” Yuri menoleh, gadis itu sedikit melebarkan kelopak mata-nya. Sejemang kemudian, gadis itu tersenyum tipis dan tertunduk pelan. Dan gadis itu menangkap pemandangan tangan kanan Luhan yang terbalut perban.

“Apa yang terjadi dengan tanganmu?” Luhan menatap tangannya, kemudian menggeleng pelan.

“Hanya luka kecil, insiden ketika mempersiapkan properti kelas. Seperti itulah…” Yuri mengangguk mengiyakan. Kemudian gadis itu tertunduk lagi.

“Aku tidak mungkin mempermainkan Sehun, Xi Luhan…” surai Yuri menutupi wajah cantik-nya yang tengah dirundung kesedihan. Gadis itu tidak mampu untuk menahan semua beban ini sendiri. Bahkan disaat sang terkasih hendak menghembuskan napas terakhir, gadis itu hanya termangu di dekat jendela kamar-nya. Pun, gadis itu belum mengatakan jika cinta-nya lebih besar dari apapun kepada Oh Sehun.

Luhan mendegus pelan, tangan kanan-nya mulai terangkat untuk menyentuh pundak gadis itu yang nampak bergetar naik-turun. Seolah begitu rapuh, yang dilakukan Kwon Yuri yaitu menangisi kepergian Oh Sehun.

“Tapi, siapa yang tega membunuh Sehun?” suara Kwon Yuri terdengar begitu parau. Tetesan air mata yang telah membendung pertahanan kelopok mata-nya pun membuat pemuda bernama Xi Luhan tidak tega. Luhan membenci sebuah keadaan dimana seorang gadis tengah menangis.

“Aku mencintainya Luhan, sangat mencintainya…”

Gadis itu kini terjatuh ke dalam pelukan seorang Xi Luhan. Yuri membutuhkan tempat untuk bersandar dan mencurahkan segala kesedihannya di hari ini.

Raut sedih seorang Kwon Yuri terlintas di pikiran seorang Xi Luhan. Sekarang ia tahu seberapa besar cinta seorang Kwon Yuri kepada Oh Sehun. Sungguh, ia begitu iri dengan Oh Sehun yang mampu mendapatkan cinta seorang Kwon Yuri. Tidak ada yang tidak mengenal Kwon Yuri. Gadis cantik berperangai bak putri raja. Memiliki segala yang ia inginkan, serta memiliki kecerdasan yang berada jauh diatas rata-rata. Namun hanya satu yang tidak ia miliki,

Kebahagiaan.

Selama ini, gadis bermarga Kwon itu tidak pernah merasakan makna sesungguhnya dari sebuah kebahagiaan. Ia merasa jika hidup-nya tidak lebih dari orang yang mengalami kekurangan ekonomi di bawah garis standar.

Xi Luhan menggeleng pelan. Seusai pemakaman Oh Sehun, pemuda itu berangsur ke apartemen-nya. Apartemen yang cukup luas, yang biasanya ditempati oleh dua orang. Dirinya dan Oh Sehun. Oh Sehun bagaikan saudara-nya, begitu juga sebaliknya. Kini terasa hampa, tidak seperti hari-hari sebelumnya.

Ketika waktu terus melaju mengakhiri tiap detik yang berlangsung, maka dapatkah bagi-nya untuk memutar waktu kembali ke masa lampau? Akan sangat egois jika ia melakukannya. Apa yang ia lakukan akan menyakiti segala pihak. Baik yang dikenal maupun tidak. Dan baik yang disayang maupun tidak.

Dan semua itu tidak memungkin seorang Xi Luhan membunuh seorang Oh Sehun ‘kan? Xi Luhan masih cukup normal untuk diberi gelar seorang pembunuh.

“Luhan?”

Luhan benar-benar gila, hanya karena ia tengah memikirkan Kwon Yuri, kini pemuda itu berfantasi jika Yuri sedang memanggilnya. Luhan menggeleng pelan, ia kembali memikirkan tentang Oh Sehun.

“Luhan? Luhan?”

Luhan menggeleng kesal, serta berdecak malas untuk mendengar panggilan tersebut. Ia yakin, ia sedang berfantasi.

“Xi Luhan!”

Luhan terlonjak kaget ketika ia mendapati sosok Kwon Yuri yang berseru tepat di indera pendengarannya. Luhan menatap Yuri dengan tatapan tidak percaya. “Kau mengejutkanku Yuri…”

“Aku tidak peduli, itu salahmu jika mengabaikanku!”

Terciptalah sebuah lekukan di kening pemuda itu, “Mengabaikanmu?”

Yuri mengangguk, “Aku memanggilmu selama dua kali dan kau mengabaikannya. Yang kau lakukan justru menggeleng tidak jelas”

Luhan menggaruk tengkuk-nya, “Maaf…”

“Maaf tidak berlaku bagimu, kata maaf hanya berlaku bagi Sehun,” kata Yuri seraya melipat kedua tangan-nya. Senyum Luhan memudar. Haruskan disaat seperti ini nama Oh Sehun perlu untuk disebut?

Percayalah, Oh Sehun telah berada diatas sana dengan damai.

“Luhan, kau harus membelikanku makan. Aku kelaparan, tidak ada orang di rumah. Kau tahu aku tidak bisa memasak ‘kan?” Luhan mencoba untuk tersenyum, kemudian ia berdiri dan mengacak pelan surai Yuri.

“Kau terlalu banyak berbicara! Ayo kita pergi!”

Yuri memasuki halaman sekolah-nya. Tatapannya kosong, tidak mengutarakan apapun yang berada di pikirannya. Meski ia tengah menyimpan berjuta tanda tanya. Entahlah, semenjak ia berada di apartemen sendiri tanpa sang kakak, pikirannya terkabuti atas segala kesedihan. Dan karena kepalanya yang kian memberat, gadis itu menyempatkan diri untuk terlelap lebih awal dari biasanya. Kini, tungkai gadis itu bergerak pelan seiring dengan tatapan murid lain kepadanya.

Jelang langkah berikutnya, ia terhenti. Terdiam sembari menilik seklias ke arah sekitar. Tatapan mereka begitu aneh, sehingga membuat gadis itu gusar dan bergegas pergi ke kelas. Ia lari dengan terbirit, mengabaikan berbagai pandangan yang begitu menganggu.

Hingga gadis itu tersadar, jika seorang tengah menggenggam tangannya erat. Yuri menoleh ke arah samping kirinya, mendapati kehadiran Xi Luhan yang menatap lurus kedepan. “Luhan…”

“Kau tidak perlu mempedulikan mereka. Mereka hanya iri karena kaulah yang menjadi teman hidup seorang Oh Sehun sampai akhir hidupnya. Acuhkan aja mereka…” Yuri tertunduk pelan. Ia menatap genggaman tangan Luhan yang kian mengerat. Dan tanpa ia sadari, ia pun mengeratkan genggamannya.

‘Kenapa aku ingin Luhan menggenggam tanganku lebih erat lagi?’

Bel berdering selama dua kali, menandakan jika waktu istirahat telah tiba. Luhan bergegas mengganti pakaian olahraganya dan berangsur ke kelas Yuri. Pemuda bermarga Xi itu begitu khawatir jika sesuatu tengah terjadi kepada gadis bermarga Kwon tersebut. Lantaran tatapan satu sekolah begitu menghunus kepadanya. Luhan melangkah pelan ke kelas Yuri, serta tidak lupa dengan tatapan kagum dari para gadis. Siapa yang tidak terpesona dengan pesona seorang Xi Luhan? Hanya orang bodoh yang tidak terpengaruh akan pesonanya.

“Akh!”

Samar-samar, pemuda bermarga Xi itu mendengar sebuah rintihan dari toilet perempuan. Ia melangkah pelan serta menatap ke arah sekitar. Setelah memastikan jika tidak ada seorangpun, pemuda itu mendekatkan rungu-nya ke pintu toilet perempuan.

“Hey! Kau pikir kau siapa? Setelah membuat Sehun mati kau mendekati Luhan?” kedua netra Luhan membulat seketika. Pemuda itu memeriksa sekelilingnya lagi. Setelah dirasa aman, ia kembali mendengarkan perkataan beberapa gadis di dalam-nya.

“Ayolah! Kau yang telah membunuh Sehun ‘kan?”

“Katakan saja! Jangan mencoba untuk menutupi kejahatanmu itu!”

“Kau pikir makhluk sepertimu selalu mendapatkan yang terbaik huh?”

“Dan asal kau tahu, kami menyeganimu karena Sehun”

“Sekarang, Sehun telah tiada. Dan kami tidak mempunyai alasan lain untuk tidak memberimu pelajaran”

Luhan kian panik, segera setelah ia mendengar teriakan yang terdengar begitu familiar baginya. Luhan membuka pintu toilet, sekarang ia tidak peduli dengan tempat yang dimasukinya.

“Yuri!” Luhan membelalak ketika didapatinya seorang Kwon Yuri yang berlutut dihadapan empat gadis pengacau di sekolah. Dan salah seorang gadis menarik surai indKwonya dengan begitu keras. Cairan lekat berwarna merah telah tercipta dari uLuhan bibir gadis itu. Membuat gadis itu berada di ambang kehancuran.

Ke-empat gadis yang melingkari Yuri kini menatap Luhan dengan penuh keterkejutan. “Ju-Luhan…”

“Pergi kalian! Dan jangan pernah mencoba untuk menampakkan diri dihadapanku lagi!” tanpa perlu mengucapkan peringatn kedua, ke-empat gadis itu telah pergi dengan terbirit-birit. Luhan menatap Yuri sendu, ia tidak tega melihat keadaan Yuri yang begitu kcau seperti ini. Yuri menundukkan kepalanya secara menitihkn air mata. Ia merasakan perih ketika air mata mengalir tepat di sudut bibir-nya. Gadis itu meringis pelan, “Akh!”

Dan tanpa berpikir panjang, Luhan membawa gadis itu ke ruang kesehatan sebelum ada yang melihatnya berada di toilet perempuan dengan keadaan seperti ini. Mungkin saja beberapa orang di luar sana akan berpikiran aneh tentang ini.

“Seharusnya kau kembali ke kelas, bukan bersamaku disini…” Yuri bergumam sembari menyeka darah yang sedikit mengalir dari sudut bibir-nya. Tidak mempedulikan perkataan Yuri, pemuda itu menatapnya sendu. Tidak pernah hal seperti ini terlintas di benak Luhan. Sejemang kemudian, Luhan mengambil beberapa helai tisu kemudian menyeka keringat yang bercucuran di wajah cantik Yuri.

Yuri menghentikkan kegiatan menyeka-darah-dari-sudut-bibir-nya, lantas terpaku atas perlakuaan Luhan. Rasa takut gadis itu lenyap lantaran Xi Luhan memperlakukan-nya semanis ini. Sekilas, nampak akan sosok Oh Sehun yang berada di dalam diri Xi Luhan.

“Bagaimana bisa aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Aku pasti bodoh jika benar-benar meninggalkanmu” Yuri menatap Luhan bingung, bahkan ia tidak pernah melihat Xi Luhan se-khawatir ini. Yuri terlarut dalam fantasi-nya mengenai sikap Luhan yang berubah drastis. Sejemang kemudian, gadis itu tersadar lantaran menepis tangan kekar Luhan.

“Pergilah! Aku lelah, aku ingin sendiri” dengan cepat Yuri menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan berdalih seolah ia telah terlelap. Luhan menatap gadis itu heran, namun hanya sebuah senyuman yang mampu mewakili berbagai rasa yang dimilikinya sekarang ini.

“Baiklah, aku akan pergi. Pastikan jika kau dalam keadaan baik-baik saja ketika pulang bersamaku” Yuri membuka matanya. Kelopak matanya yang terpejam seolah terbius oleh perkataan Luhan dan membuatnya ingin menatap pemuda itu sekali lagi. Namun disaat berbalik, ia mendapati seorang Xi Luhan tengah menutup pintu dan meninggalkannya sendiri.

Entah mengapa, keheningan kini melandanya. Tapi bagaimana mungkin ia merasa sedemikian jika ia sendiri yang memperintahkan Luhan untuk membiarkannya sendiri? Gadis itu sedikit aneh belakangan ini. Dan entah makhluk apa yang tengah merasukinya kali ini.

Ah, sudahlah… Lebih baik aku tidur”

      –

Yuri mendudukan dirinya di salah satu tempat yang masih tersisa di halte bus. Dengan degusan lelKwonya, gadis itu menyandarkan diri seraya menatap beragai kendaraan yang berlalu-lalang dihadapannya. Hari ini, ia baru saja menjadi pekerja lepas di salah satu kedai minuman yang sering dipadati pengunLuhan. Tidak salah jika sekarang ia sering kembali ke rumah hingga larut malam. Dingin, Kwon Yuri benar-benar tidak menyukai hawa dingin di malam hari.

“Kwon Yuri!” si gadis pemilik nama beralih pandang ke arah samping kanan-nya. Keningnya membentuk sebuah guratan-guratan halus ketika mendapati seorang Xi Luhan yang menghampirinya dengan dua gelas berlabel-kan coffeebay di masing-masing tangan.

“Luhan?” Luhan tersenyum tipis, kemudian mengambil tempat di samping gadis itu. “Eoh! Untukmu!” Yuri menatap gelas yang berada di tangan kanan Luhan. Seolah mengerti akan kebingungan yang dilanda Yuri, Luhan mendekatkan minuman tersebut ke wajah gadis itu.

Ya! Dingin!” Luhan terkekeh, lantas meletakkan minuman tersebut di tangan kanan Yuri yang tengah mengenadah. Yuri menerimanya sembari mengerucut malas. Tidak tahukah jika orang yang sangat dihindari Yuri semenjak insiden di ruang kesehatan adalah Xi Luhan? Bahkan dua hari setelKwonya, Yuri telah bersusah payah untuk menghindar dan tidak menyangkut-pautkan diri mengenai hal yang berbau Xi Luhan. Dan hari ini disaat ia usai bekerja, mengapa ia harus dipertemukan dengan seorang Xi Luhan?

Nampaknya, ia harus bekerja keras untuk menahan gejolak dalam batin yang kian meronta. Dan ia pun harus bersusah-payah mengatur kinerja respirasinya sebaik mungkin. Bahkan saat ini, ia tidak merasakan dingin di sekitar tubuh-nya.

“Kau, kenapa kau harus bekerja hingga larut malam seperti ini?” Yuri menoleh, masih dengan ekspresi tanpa rasa bersalah. Luhan menoleh ke arah-nya dengan senyum meneduhkan bak titipan dari tokoh fiksi tampan Legolas. Namun jika gadis itu mampu untuk berkata, tidak ada hal yang mampu menandingi senyum milik Xi Luhan.

A-a-ah… Aku hanya ingin mempunyai penghasilan sendiri, itu saja” Luhan mengangguk, pemuda itu mulai meneguk minumannya sembari mengedar pandang ke berbagai arah. Yuri tertunduk pelan, sekilas ia berpikir mengapa ia harus bersikap seperti ini.

“Asal kau tahu,” kata Luhan membuat Yuri menatapnya penasaran. “Kau harus pandai dalam menjaga kesehatanmu. Kulihat kau selalu pulang lebih larut malam daripada hari ini”

Yuri mengangguk pelan, “Hmm… Iya terima kasih karena telah mengingatkanku”. Yuri meneguk minuman yang Luhan berikan. Dalam sekejap, ia terpikir dengan perkataannya 5 detik yang lalu. Dan juga ia terpikir akan perkataan Luhan.

“Luhan? Kau tahu jika aku selalu pulang larut malam melebihi hari ini? Darimana kau mengetahui semua itu?” raut wajah Luhan berubah dari sebelumnya. Sejemang kemudian, ia tersenyum dan menatap Yuri penuh arti.

“Karena aku…” Luhan mengelus surai gadis itu pelan, “Aku mengawatirkanmu lebih dari aku mengawatirkan diriku sendiri. Kwon Yuri…”

Seakan tengah memadukan diri bersama dengan jajaran bintang menggunakan jet bekecepatan tinggi melebihi pahlawan fiksi Superman –hanya karangan saja, hal semacam itulah yang tengah dirasakan Yuri kali ini. Bertentangan dengan kecepatan udara yang menekan gaya gesek-nya. Udara dalam paru-paru gadis itu seakan menipis hanya karena perkataan Xi Luhan.

‘Tidak, kenapa aku menjadi seperti ini? Luhan mengawatirkanku, karena kami bersahabat. Tapi ada yang aneh dengan diriku. Tuhan… Apa ini?’

Yuri melangkah pelan ke area pemakaman tempat Oh Sehun tertidur untuk selamanya dalam damai. Hari ini, genap satu bulan setelah Sehun tiada. Hari-hari yang ia hadapi di sekolah sama seperti sebelumnya. Selalu dikucilkan dan dianggap seperti makhluk aneh yang berparas bak putri raja. Namun berkat Xi Luhan, ia tidak begitu menderita. Setidaknya ada seorang yang menemaninya disaat apapun. Ia harus berterima kasih kepada Xi Luhan beribu kali untuk membalas segala kebaikannya.

Dan parKwonya, ia selalu tersenyum tanpa sebab ketika memikirkan apa yang telah Luhan lakukan untuk-nya. Bahkan, ia sering menghabiskan waktu seharian bersama dengan Luhan melebihi ia dan Sehun bersama dulu. Sebenarnya, Luhan sangat ingin menemani gadis itu mengunLuhani rumah baru Sehun. Namun Yuri tidak mengijinkan-nya dan berbohong jika ia akan pergi mengunLuhani rumah paman.

Yuri menghentikkan langkKwonya ketika mendapati seorang gadis berada di samping pusara Oh Sehun dengan sebuket bunga di genggaman-nya. Yuri terdiam, ia menyembunyikan diri di belakang pohon besar yang daun-nya telah berguguran.

“Im… Yoona?”

Gadis yang diyakini pemilik nama Im Yoona itu meletakkan sebuket bunga yang telah dibawa tepat di hadapan nisan Oh Sehun. Seakan Im Yoona tidak memiliki waktu lebih lama lagi, gadis itu berbalik dan hendak pergi. Namun pandangan gadis itu terpatri pada seorang Kwon Yuri yang berada di belakang-nya dengan tatapan menginterupsi.

“Yu-Yuri?”

Yoona menatap Yuri terkejut, kelopak mata-nya mengerjap beberapa kali. Yuri menilik ke arah pusara Sehun dan mendapati sebuket bunga pemberian Yoona telah tertata rapi. Dan, nampaknya gadis bermarga Im tersebut telah menyingkirkan dedaunan yang gugur. Akan sangat tidak mungkin jika selama satu bulan, pusara Oh Sehun masih sangat bersih. Tanpa ditumbuhi oleh rerumputan dan dijatuhi dedaunan kering khas musim gugur.

Yuri menatap Yoona tanpa menyuara sedikitpun. Lagipula, ia tidak tahu harus berkata apa kepada orang yang pernah mengisi hari-hari Sehun sebelum dirinya. Namun sesutu terlihat aneh ketika sorot mata gadis bermarga Im itu menampakkan sebuah kekhawatiran yang kian mendera. Yuri menyerngit heran menatap raut wajah Yoona yang mulai bercucuran keringat.

“Yoona? Ada apa? Kau sakit?” Yoona menggeleng cepat, kemudian ia melewati Yuri begitu saja. Yuri hanya mampu terdiam sembari menatap punggung Im Yoona yang kian menghilang di balik gedung-gedung tua dan kepakan ayap sekumpulan merpati putih yang melintas tepat setelah Yoona pergi.

Yuri mendegus pelan, ia melangkah pelan kerah pusara Sehun. Ia hendak meletakkan sebuket bunga yang telah dipersiapkan, namun kegiatannya terhenti kala iris caramel-nya terhenti pada suatu objek.

“Kertas?” Yuri memungut secarik kertas yang terlindas di bawah sebuket bunga pemberian Yoona. Yuri mengambilnya dengan perlahan, seraya mengedar pandang dan menyakinkan jika Yoona benar-benar telah meninggalkan tempat ini.

Yuri membulatkan netra-nya “Apa benar Yoona yang menulis ini” sesegera mungkin Yuri menyimpan kertas tersebut di saku jaket-nya. Ia memejamkan kelopak mata-nya pelan. Ia mencoba untuk mencerna apa yang dimaksud Yoona tentang isi dari kertas yang dibawanya. Kini ia menatap nisan Sehun sendu, sorot matanya menandakan kebingungan yang tiada beruLuhan. Seolah ia ingin seseorang membantunya menuntun dalam kebigungan tersebut.

“Ada apa dengannya?” gadis itu terdiam, ia tengah memikirkan sesuatu yang cukup membingungkan. Hingga pada akhirnya, hanya sebuah gelengan singkat yang ia berikan sebagai pengakhir dari pemikirannya.

“Sudahlah, mungkin ini hanya lelucon yang Yoona berikan untuk mengecohku”

Netra Yuri meneroka ke beberapa gedung pencakar langit yang telihat dari tempat-nya sekarang. Dengan pandangan yang cukup kabur akibat mata minus-nya, gadis itu sedikit mengeluh. Andai pandangannya baik-baik saja dan normal seperti kebanyakan orang, mungkin ia akan puas memandangi segalanya dari sisi manapun.

Menempuh perjalanan singkat dari rumah ke sekolah tidaklah hal yang cukup buruk. Karena mungkin, kebanyakan orang akan menggunakan kendaraan umum. Namun, disambut dengan tatapan menghunus dari satu sekolah adalah yang paling buruk.

“Yuri?”

Dwimanik gadis itu berbinar kala suara berat milik Xi Luhan menggema di telinga-nya. Lantas, gadis itu berbalik dengan senang serta menunggu langkah ringan Xi Luhan yang menghampirinya.

“Cukup pagi, apa alarm di kamar-mu bekerja dengan baik?” Yuri merengut kesal, dengan Luhan yang terkekeh di samping-nya. Dan pada akhirnya Yuri mendahului Luhan yang masih tenggelam dalam kekehannya.

Ya! Yuri! Tunggu! Kenapa kau meninggalkanku?!”

Yuri terkekeh pelan dengan langkah yang kian dipercepat, sedang Luhan kini tengah mengejarnya bersama dengan seulas senyum yang sangat meneduhkan.

Ya! Jangan meninggalkanku seperti itu! Kau tahu aku tidak akan berguna jika kau meninggalkanku ‘kan?” lantas tungkai Yuri terhenti dengan perasaan yang tak mampu diartikan. Detak jantungnya kian berpacu dari sebelumnya. Kemudian, gadis itu menilik kearah Luhan –yang terdiam menatapnya heran.

“Yuri? Yuri? Kau kenapa?” karena ketidakpahaman Luhan dengan tingkah Yuri, pemuda itu mengikuti arah pandang Yuri –yang sebenarnya mengarah padanya.

“Sebenarnya apa yang kau li-”

“Luhan!” sela Yuri dengan tatapan se-intens mungkin, “Sepulang sekolah, ada baiknya jika kita mengabiskan waktu bersama”

Maka dari itu, Luhan selalu melukiskan seutas senyuman di wajah tampannya –bahkan sampai ia tiba di kelas dan pelajaran berlangsung.

“Untuk apa pergi ke apartemen-mu?” Yuri bertanya kepada Luhan yang tengah memasukkan beberapa digit angka kunci apartemennya. Setelah pintu terbuka, Luhan mengacak surai Yuri pelan.

“Ada sesuatu yang harus ku ambil, kau hanya perlu menunggu dan duduk…” Yuri mengangguk pelan atas perintah Luhan. Sedang Luhan melangkah pelan menuju ke kamar-nya dengan seutas senyuman. Yuri mengedar pandang, ia tersenyum ketika mendapati foto Luhan, Sehun dan dirinya terpampang jelas di atas perapian.

Gadis itu mengulas senyum, ia teringat akan peristiwa menyenangkan yang mereka alami. Gadis itu hendak mendudukkan dirinya di sofa berwarna kelabu milik Luhan, namun ia mengurungkannya. Yuri menatap sebuah foto yang berada di samping televisi besar milik Luhan. Dalam foto tersebut, hanya terdapat dua orang di dalam-nya.

Xi Luhan dan…

“Aku?” gadis itu bergumam pelan seraya menggapai foto tersebut. Dengan perlahan, ia diliputi oleh keheranan yang luar biasa. Mengapa hanya dua orang? Mengapa Sehun tidak terlibat dalam foto tersebut?

Yuri memang ingat kapan foto tersebut diambil, kira-kira satu tahun sebelumnya. Namun, yang membuatnya terkejut ketika ia melihat tulisan yang terdapat di balik foto tersebut. Gadis itu membulatkan mata tidak percaya seraya menutup mulutnya.

Tidak sengaja, Yuri menjatuhkan foto tersebut karena terlalu terkejut. Kenop pintu kamar Luhan telah bergerak –menandakan jika sang pemilik akan keluar. Sebelum Luhan mengetahuinya, Yuri segera mengambil tas-nya dan berlari secepat mungkin.

Berlari dan berlari tanpa menyadari jika arah yang ditempunya tidak menentu. Air mata gadis itu telah terjatuh dengan sendirinya. Seolah air mata-nya telah mengerti perasaannya terlebih dahulu sebelum isi kepalanya. Air matanya kian berjatuhan seiring ia tidak mampu meneruskan berlari lebih jauh lagi. Dan pada akhirnya ia berhenti di halte bus dengan deraian air mata kekecewaan.

Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang mengenai keadaannya saat ini. Berpakaian sekolah, berpenampilan kusut serta menangis sejadi-jadinya. Bahkan banyak yang saling berpendapat jika telah terjadi sesuatu pada dirinya.

“Luhan…”

Langkah gontai Yuri malam ini terlihat di mata elang Xi Luhan. Pemuda itu mencarinya setelah Yuri meninggalkan apartemen Luhan tanpa berpamitan. Dan yang paling mengejutkan ketika Luhan mendapati foto kesayangannya telah berada di lantai. Luhan berfirasat jika Yuri telah mengetahui semua rahasianya.

Kali ini, secepat mungkin bagi Luhan untuk mengikuti Yuri yang memasuki area pemakaman Oh Sehun. Sekalipun malam tiba, gadis bermarga Kwon tersebut tidak peduli. Yang gadis itu inginkan antara lain mengunLuhani Oh Sehun di ‘rumah baru’-nya.

“Sehun… Hiks… Hiks…” isak gadis itu terdengar di indera pendengaran Luhan. Luhan dengan pandainya bersembunyi di balik pohon yang cukup besar bagi dirinya. Tubuh Yuri terperosot jatuh, hingga ia duduk di atas tanah tanpa mempedulikan betapa kotor-nya tanah pemakaman.

“Sehun… Hiks… Mengapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya? Hiks… Aku menderita karenamu… Hiks… Oh Sehun… Jawab aku…” Luhan menatap Yuri sendu dari tempatnya berada. Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu kemudian mendekapnya erat. Namun pemuda itu bisa apa? Justru pemuda itulah yang menyebabkan semua ini terjadi.

“Seharusnya kau mengatakan padaku jika anak kecil yang selalu kutemui itu Luhan, bukan dirimu… Hiks… Dengan begitu aku tidak akan menderita seperti ini… Hiks…” Yuri tertunduk lemas, air matanya masih belum berhenti. Entah mengapa, ia ingin berada di sini lebih lama lagi. Tidak peduli dengan adanya makhluk astral yang seringkali identik dengan pemakaman. Yang ia pedulikan hanyalah kebenaran tentang segala permasalahannya. Bukan yang lain.

“Dan seharusnya, kau berterus terang padaku jika kau bertaruh dengan Luhan saat itu… Tidak tahukah jika selama ini hatiku resah? Tidak tahukah jika selama ini kesedihan dan kebimbangan menyapaku setiap saat? Tidak tahukah jika hatiku selalu bergemuruh ketika berada di samping Luhan? Dan tidak tahukah jika hatiku merasa aneh ketika berada di sampingmu? Tidakkah kau mengetahui itu semua Oh Sehun? Jawab aku Oh Sehun! Jawab aku!” Yuri meneriaki pusara Sehun dengan berbagai pertanyaan. Dan berharap seolah Oh Sehun akan terbangun dari tidur panjangnya kemudian menjawab segala pertanyaannya.

Tungkai Luhan melemas, pemuda itu menyandarkan dirinya di balik pohon serta menatap langit malam tanpa bintang. Gelap dan kosong, tidak terhiasi oleh apapun. Sama seperti hatinya yang saat ini begitu gelap dan kosong. Meski terdapat banyak tempat bagi Kwon Yuri, namun hatinya terlalu kosong untuk mengerti apa arti cinta sesungguhnya.

“Sehun… Kenapa kau melakukan semua ini? Kau telah membohongiku sejauh ini, bahkan disaat napas terakhirmu… Kenapa kau melakukan semua ini? Hiks….

Lantas, keduanya enggan untuk meninggalkan tempat tersebut. Dengan penyesalan yang kian terasa, keduanya meniai diri masing-masing atas apa yang telah terjadi.

Malam itu, pukul 22.56

Dibawah hembusan angin musim gugur serta kegelapan yang menyerang, kedua pemuda tengah beradu pandang di sebuah gang sempit dekat pertokoan kosong. Rembulan tidak memancarkan sinarnya, begitu juga dengan penghiasnya yang entah bertabur ke sisi lain dunia. Xi Luhan dengan peluh yang menetes tidak berniat untuk menyekanya sama sekali. Pemuda itu lantas menyiapkan pecahan kaca di tangan kanannya. Ia menggenggam pecahan kaca tersebut tanpa menyadari cairan kental berwarna merah yang timbul akibat genggamannya.

Dan tepat dihadapannya, berdirilah seorang Oh Sehun dengan tangan kosong serta keringat dingin yang semakin banyak. Xi Luhan dengan wajah menahan amarah serta Oh Sehun dengan wajah sedikit ketakutan. Selangkah Luhan memperpendek jarak dengan Sehun, maka yang dilakukan Sehun merupakan kebalikannya.

“Kau harus menepati janjimu Oh Sehun…” lantas Sehun mengambil sesuatu dari saku jaket-nya. Sebuah ponsel sederhana yang dengan cepat tersambung dengan nomor seorang yang sangat dicintainya.

“Yuri, aku mencintaimu…” dan sesegera mungkin bagi Luhan untuk mencapkan pecahan kaca tersebut pada jantung Oh Sehun. Tanpa mempedulikan sambungan telepon yang masih menyala, Luhan menindas ponsel tersebut dengan sepatunya. Yang pemuda itu inginkan hanya satu.

Sebuah keadilan atas janti-janji seorang Oh Sehun di masa lalu.

2 minggu kemudian,

Yuri melangkah pelan ke sebuah gedung pencakar langit yang begitu menjulang, serta dipenuhi oleh lambang kepolisian Seoul di sisi tertentu. Gadis bermarga Kwon tersebut mendegus pelan, sedetik terpejam kemudian melangkah masuk.

“Ada yang bisa saya bantu nona?” seorang pria menyapa Yuri di balik meja besar informasi. Yuri menunduk pelan untuk menunjukkan rasa hormat, kemudian gadis itu tersenyum tipis.

“Aku ingin bertemu dengan Xi Luhan” pria tersebut mengangguk pelan.

“Baiklah, ikuti saya nona…” maka Yuri mengekori langkah pria tersebut tanpa ragu. Dan pria itu menuntunnya ke sebuah ruangan yang terdiri atas dua bagian. Hanya sebuah kaca transparan yang menjadi pembatas diantara dua sisi tersebut. Sehinga akan sangat mudah baginya unutk melihat seorang di sisi yang lain.

Dan maniknya seketika tertohok pada seorang pemuda yang baru saja tiba dengan pakaian khusus bagi para narapidana. Yuri menggigit bibir bawahnya bergetar, hatinya-pun bergetar hanya dengan melihat pemuda bermarga Xi tersebut. Dan di sisi satunya, Luhan tersenyum tipis atas kedatangan Yuri.

Tidak ingin menghabisan waktu lebih lama lagi, gadis itu bergegas duduk. Begitu juga dengan Luhan yang tidak ingin melewatkan kesempatan berharga ini. Saat itu pun detik berlangsung serta waktu telah dibatasi.

“Luhan, bagaimana keadaanmu?” Luhan tersenyum sarkastik.

“Seharusnya kau tidak bertanya seperti itu, kau pasti tahu bagaimana keadaanmu saat ini” ujar Luhan membuat Yuri tersenyum hambar.

“Kau berhutang penjelasan padaku, Luhan…” ucap Yuri. Luhan menatap gadis itu nanar, mungkin inilah saatnya.

“Kau sudah tahu dari catatan yang berada di balik foto tu ‘kan? Apa lagi?” cibir Luhan.

Yuri menggeleng, “Disana hanya bertuliskan tentang taruhanmu dengan Sehun. Aku hanya ingin kau menjelaskannya lebih dalam lagi”

Luhan mendegus pelan, tidak ada gunanya lagi untuk menyembunyikan segala sesuatu. Terlebih, pemuda itu telah berada di balik dinginnya jeruji besi yang menyedihkan. “Dulu ketika kau berada di taman bermain, seorang anak lelaki menolongmu untuk mencari dimana kedua orang tua-mu. Setelah kau menemukan mereka, kau bertanya kepada anak lelaki itu. Kau bertanya siapa namanya, dan anak lelaki itu bernama Oh Sehun. Tapi tidakkah kau menyadari satu hal jika wajah anak lelaki itu berbeda?”

Yuri terdiam sejenak, ia mengulang kembali memori masa kecilnya. Sejemang kemudian, gadis itu terperangah. Dan ia mengingat ketika Luhan kecil usai membantunya saat itu. Yuri kecil tersenyum manis seraya berterima kasih, kemudian ia bertanya nama anak lelaki tersebut. Saat itu si anak lelaki menatap bingung, kemudian pada akhirnya anak tersebut menjawab.

‘Oh Sehun, namaku Oh Sehun nona kecil…’

Yuri menatap Luhan sendu, “Luhan… Anak lelaki itu…”

“Iya, yang kau tanya pada saat itu Oh Sehun, Tapi yang membantumu pada saat itu… Aku…” Luhan menatap lamat ke dalam iris caramel gadis itu. Sorot kesedihan gadis itu semakin terpancar kala ia melanjutkan permbicaraan.

“Kau hanya mengenal Oh Sehun, bagimu hanya Oh Sehun yang mampu membuatmu bahagia. Tapi tidakkah kau menyadari jika aku lebih menderita dengan takdir yang kejam ini? Kenapa pikiranmu begitu lemah? Kenapa kau tidak bisa membedakan wajah anak lelaki yang membantumu dengan yang kau tanya?” Yuri tertunduk, pelupuk matanya telah digenangi oleh sekumpulan air mata. Dan perlahan, air mata gadis itu jatuh dengan sendirinya. Pelupuk matanya tidak mampu membendung lebih lama lagi. Bahkan Yuri memutar kembali kisah lamanya dalam pikiran perlahan.

“Dan tentang taruhan, aku tidak mampu menahan ketidak-adilan ini lebih lama lagi. Sehun berjanji padaku akan mengatakan yang sebenarnya padamu tentang awal mula pertemuan kita di taman bermain. Selama 3 tahun, aku membiarkan Sehun untuk menjagamu serta melindungimu dengan perasaannya karena aku pergi ke luar negeri pada awal tahun. Tidak mungkin bagiku untuk menjagamu dari jarak jauh, oleh karena itu aku mengijinkan Sehun –hanya dengan syarat, Sehun akan mengatakan yang sebenarnya setelah aku kembali ke Seoul. Tapi, hampir berbulan-bulan setelah kepulanganku, Sehun tidak kunLuhan memberitahu yang sebenarnya. Bahkan pemuda itu hampir melupakan janji yang ia buat sendiri” Yuri tertunduk, ia mendengarkan segala perkataan Luhan dengan seksama. Dan isakannya kian terdengar hingga di sisi Luhan.

“Pada akhirnya aku membunuhnya, karena aku merasa dunia tidak adil kepadaku” bahkan tanpa Luhan sadari, pemuda itu menitihkan air mata untuk yang pertama kalinya.

Yuri mengepalkan tangan kanannya yang telah berisi secarik kertas. Secarik kertas yang ia temukan di pusara Sehun setelah Im Yoona pergi. Yuri membuka kertas tersebut kemudian membacanya lagi. Luhan terhenyak ketika melihatsecarik kertas yang tidak cukup asing, terlebih tulisan yang berada di atasnya terlihat timbul.

“Apa benar kau yang menulis ini?” tanya Yuri seraya menunjukkan isi-nya. Luhan mendegus pasrah, diiringi anggukan dua kali-nya. Yuri meremas kertas tersebut kemudian menjatuhkannya sembarangan.

Gadis itu tertekan, benar-benar tertekan.

‘Membunuh Oh Sehun, kemudian mendekati Kwon Yuri. Itu yang harus ku lakukan jika Oh Sehun melupakan janjinya…’

Haruskah seorang Kwon Yuri mengubur perasaannya –yang baru saja bermekaran kepada Xi Luhan?

Ataukah kesalahan ini merupakan hukuman dari jalan takdir?

Sebuah kesalahan karena telah mencintai orang yang salah…

END

Maafkan dakuh :v yang lagi kena writer blok ini :3
Btw, ini ff sebenarnya buat lomba di salah satu event yang ada di fb
Sebenarnya cast-nya OC sama Jungkook,
But, aku kurang nyaman karena cast-nya bukan Yuri, aku buat versi Yuri-Luhan deh
RCL yah!
Well, berasa banget kalo ane rajanya typo

Bye~ ©Firda©

Advertisements

13 thoughts on “Fated (Oneshoot)

  1. Luhan jadi psikopat. Pertama udah curiga sama luhan. Soalnya dia nanya aneh gitu ke yuri tentang sehun. Tapi liat dia care ke yuri mungkin memang dia sabahat yg cinta sama pacar sahabatnya. Waktu tau luhan yg bunuh sehun.. sumpah gk kebayang mukanya luhan yg angel banget itu ngebunuh sehun.
    Oh iya. ff ini Typo nya banyak ya 😅

    Liked by 1 person

  2. haha banyak typo nya eon …
    tp kasian jg luhan, kasih kesempatan kedua yuleon .. sehun n luhan sama2 cinta bgt sma yuri ya jd pngen kekeke ..

    Like

  3. Kakaa aku pkir yah tentang kata mngunluhani itu emang di sngja, eh typo tpi g ppa ka, ckup ngerti ko hehe

    dan udah curiga sma luhan, dia bilng nya, mngkinkah aku mmbnuh sehun ? Mungkin, karena kamu udah bnuh sehun tau

    perasaan yuri gmna ya ? Komplit kyanya. Hihi fightiing ya ka

    Liked by 1 person

  4. aku suka alurnya…..debak thor ceritanya keren dan banyak typo nya dan mian karna itu aku sempet su’udzon hehe untung ada footnote :v mian thor:*

    dan aku gak bisa nyalahin Luhan maupun Sehun,, hiks,, salahkan Kwon Yuri kenapa mereka bisa jatuh cinta sama gadis yang sama!?!! *ditabokyul gak deng Yuri juga sama2 sakit,, iyalah dikeroyok cewek2 brandal di dlm wc dikucilkan pula 😦 😀 dan makasih deh buat mpok Yoona yg jadi cameo disini..:v

    Liked by 1 person

  5. Karena rasa ketidakadilan itu ngebuat luhan jadi ngebunuh sehun ..

    tapi emang salah mereka bertiga sih .. luhan karena dia memperkenalkan dirinya pake nama oh sehun .. sehun yang gak nepatin janjinya buat ngomong yg sebenernya ke yuri .. dan yuri yang gak bisa bedain wajah mereka berdua

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s