잡아줘 (Prolog)

Dear,
Seo Joohyun & Min Yoongi

Cover and story,
pure mine

Prolog

Hold Me Tight

HAPPY READING

Yang kuinginkan hanya menggenggam tanganmu erat

Sesuatu akan terlihat aneh jika tidak berjalan dengan sewajarnya. Iringan tangis kian menggema di rungu, dengan sorot mata kesedihan yang mendalam. Sahutan kedamaian memenuhi batinnya, namun jurang kesedihan membuatnya jatuh lebih dalam. Kedua obsidan yang tertutup itu mulai terlihat. Menampakkan jurang kesedihan yang telah berada pada tempatnya.

Dengan sekali hentakan, seolah memberi komando pada otak. Kinerja tubuh kian tersalur melewati dendrit-dendrit kecil yang membuatnya bersiap. Tegap, menghadap kearah peraduan sang surya. Obsidiannya tertohok pada jingganya langit sore hari yang lantas menghilang.

“Yoongi! Kau harus membersihkan kamarmu terlebih dahulu jika ingin pergi!”

Menerima sebuah getaran pada rungu-nya, pemuda tersebut tertunduk dengan hembusan napasnya. Lengan panjangnya menggapai sebuah jaket hitam di dekat lemari pakaian. Diam, enggan untuk mengatakan sesuatu bahkan disaat ia begitu gelisah pada suatu hal.

Kenop pintu kamar bernuansa laut tersebut terbuka, dengan sang pemilik yang memiliki warna mint –kesukannya pada surainya. Lengan kanannya telah berada pada sisi lengan jaket yang dikenakannya, begitu juga dengan lengan kirinya. Digapainya sebuah kunci bergantungkan miniatur rubah hitam sekali coba.

Eh, Yoongi? Sudah membersihkan kamarmu?”

Langkah cepat Yoongi terhenti, suara nyaring bagaikan lonceng menghentikannya. Terhentinya langkah Yoongi membuat ia menoleh kearah samping kanan. Tatapan menanti-nanti tercipta dari si pemilik suara nyaring.

“Sudah, aku sudah dewasa hyung! Jangan buat aku kesal! Lagipula kau bukan keluargaku” dipengakhir kalimat terdapat sebuah decakan kecil menandakan jika Yoongi acuh dan malas, melanjutkan kembali langkah cepatnya kearah basement di asrama baru Yoongi yang telah tempati selama 5 hari.

“Aku berjanji, aku akan menemukanmu”

Kelam, sunyi, dan gelap.

Semuanya tertata rapi di dalam kehidupan gadis yang duduk di samping jendela kamar kecilnya. Sorot mata-nya menunjukkan kesedihan tiada berakhir yang perlu untuk dihilangkan. Roda kehidupannya tidak pernah mendapat angka terbaik, semua terlalu aneh untuk dilakukan dan diingat –kelam. Tiada berbagai macam sahutan kehidupan dan kedamaian dlm hatinya, tidak ada yang mampu ia jelaskan dalam buku cerita maupun diary hariannya –sunyi. Ketika ia melangkah, sorot matanya hanya mampu memandang sebuah kegelapan yang tiada berujung, membawanya jatuh bahkan membuat kinerja otaknya berimajinasi lebih banyak –gelap.

Netra teduhnya menelusur setiap objek yang berada di pandangan, baginya sebuah keramaian hidup sama dengan kegelapan hidup yang tidak akan pernah berakhir. Sekalipun ia mencoba untuk membuka pintu baru pada jalannya, semua akan terasa sama.

Helaan napasnya terdengar begitu menyanyat ketika ia mengingat kisah yang telah terlewatkan 2 tahun lamanya. Netranya memejam sejenak, diiringi detakan jantung yang berpacu semakin cepat. Bahkan teraasa sakit ketika ia mengingatnya.

“Aku harus bertemu denganmu, entah bagaimana caranya…”

TBC

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s